Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 41 Apa lagi ini.


Di Sebuah ruang bertulis kamar ganti wanita, terdapat seorang gadis yang sedang sendirian mengganti pakaian.


Setelah membuka yukata bermotif bunga merah, kini hanya dua kain kecil yang menutupinya, dan terlihat kulit putih bersih yang sedikit basah, gadis ini mengelapi tubuhnya yang basah menggunakan handuk yang tiba-tiba muncul di tanganya.


Setelah mengeringkannya, baru ia mengganti pakaian baru yang masih di kantong yang tadinya ia bawa.


"Munkin dia ingin mengganti pakaianku yang ia rusak, tapi aku harus tetap berterima kasih." Ucap gadis ini dalam kesendirian.


***


"Paman, kenapa paman tiba-tiba memberi baju ke Lilias, apa jangan-jangan......." Akira bertanya setelah mereka berdua ditinggal oleh Lilias.


"I itu itu, sebenarnya ketika aku mengejar kalian di toko khusus wanita aku bingung sendiri, akan malu jika pergi tanpa membeli apapun, jadi aku terpaksa membeli pakaian itu, ahaha." Taiga mencoba menjelaskan kejadian lalu.


"Tapi paman hanya memberikan untuk Lilias, padahal saat itu ada aku juga lho." Akira menoleh ke arah taiga.


"Mencurigakan."


'Apa dia berpikir aneh, seharusnya aku membeli untuknya juga.'


"Eh, aku tidak bermaksud begitu kok, kalau begitu nanti aku belikan untukmu, jadi jangan berpikir yang aneh-aneh."


"Benarkah, nanti aku ikut, biar aku yang memilih." Ucap Akira.


"Eh, tapi itu......" Ketika taiga melihat Akira, Akira memasang wajah memelas, matanya berkaca, membuat taiga terketuk.


"Baiklah." Lanjut taiga.


"Oyee." Sorak Akira.


***


Setelah aku selesai mengganti pakaian, aku memasukkan yukata ke dalam penyimpanan sistem, kini aku memakai pakaian yang seperti biasanya, karena taiga memilih yang seperti itu, dan bandana di kepalaku juga menambah keimutanku.


Aku keluar dari kamar ganti, dan akan menuju ke kelas, namun aku melihat ternyata Akira masih menungguku.


"Kamu masih di sini."


"Iya, yok ke kelas bareng." Ajak Akira.


Kami bersama menuju kelas, karena kami berangkat tidak terlalu mepet waktu, jadi kami bisa sampai kelas sebelum terlambat.


Waktu masuk jam pelajaran, semua murid menunggu kedatangan guru yang akan mengajar kali ini, tidak sampai lama datanglah seorang pria masuk dengan buku di tanganya.


"Woooo, guru kita ganteng." Ucap beberapa murid wanita di kelas.


"Benar saja, dia yang akan jadi guru ya." Ucapku dengan senyum mencibir.


"Selamat pagi semua, namaku taiga, untuk hari ini kita tidak dulu ke lapangan, kita hari ini akan berkenalan dulu dan belajar teori tentang teknik pedang." Ucap taiga si guru.


"Woooo." Sorak beberapa gadis di kelas.


"Brisik banget si mereka." Kesalku mendengar teriakan para gadis.


Kalas hari ini masih mirip seperti sebelumnya, guru dan murid saling memperkenalkan diri, dan setelah itu guru taiga mulai menjelaskan pelajaranya.


"Bagi kita manusia, sihir itu sangat langka, kebanyakan dari manusia tidak bisa menggunakannya, hanya orang terpilih atau keturunan bangsawan saja yang memilikinya, seperti kalian yang sanggup masuk kelas khusus ini." Jelas taiga.


'Yah aku tau itu, memang di kelas ini semua terlihat seperti bangsawan, ngomong-ngomong aku tidak tau ibunya Akira, apa dia juga bangsawan.' Pikirku.


"Tapi untuk tekhnik pedang, semua bisa belajar, maka dari itu semua orang berlatih keras untuk ini, dan kalian tentunya juga harus serius." Lanjut taiga.


Kemudian ia menjelaskan tentang teknik pedang, mulai dari pengertian, sejarah awal mulanya, macam-macam teknik dan masih banyak yang ia bicarakan.


'Memang pantas untuk seorang mantan pahlawan.' Anggukku setelah mendengar penjelasan taiga.


.


.


Waktu terus berjalan, hingga pada waktunya kami untuk pulang, setelah kepergian taiga dari kelas, semua murid berdiri untuk menuju aktivitas masing-masing, termasuk kami.


"Yok kita pulang." Aku berdiri mengajak akira.


"Kamu duluan saja ya, aku masih ada urusan." Ucap Akira.


"Duluan gimana, apa kamu mau berlari sendiri sampai rumah." Lanjutku.


"Jangan khawatirirkan aku, aku masih ada urusan sebentar, nanti aku bisa pulang sendiri kok." Lanjut Akira.


"Yang benar saja, tidak biasanya kamu seperti ini, apa yang akan kamu lakukan." Aku semakin bingung dengan tingkah Akira.


"Sudahlah, sana pulang, jangan pedulikan aku." Akira menjauhkanku dari hadapannya.


"Hmmm, baiklah, nanti jangan pulang terlalu sore, kamu ingat, di rumah kita cuma berdua sekarang."


"Iya iya, kamu bukan ibuku, jadi jangan ngatur."


"..."


'Dasar Lilias, dia selalu membuatku menjauh dari paman, apa yang dia pikirkan sih.' Pikir Akira ketika melihat punggungku menjauh.


Aku keluar kelas namun tidak langsung menuju ke luar akademi, aku masih memikirkanya, jadi aku pergi ke perpustakaan.


'Dasar, kamu pikir aku akan meninggalkanmu sendiri di akademi, lebih baik aku ke perpustakaan dulu, nanti aku akan memantau kamu.' Pikirku.


Aku terus berjalan mengikuti arah yang ada di denah, namu sebelum sampai di perpustakaan, terdapat seseorang laki-laki yang menghadangku.


"Anoo, bisakah kita bicara sebentar." Ucap pria di depanku, dia terlihat ramah dan juga ganteng, jadi aku tidak mempermasalahkannya.


"Siapa ya." Ucapku.


"Aku Kazuya, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Kazuya dengan wajah serius.


'Lagian aku memang ingin masih di akademi, tak pa lah.'


"Hmmm." Anggukku.


"Ikutlah denganku."


Kazuya berbalik berjalan, aku mengikutinya dari belakang, dia membawaku ke sebuah taman kecil yang tidak banyak orang, dia menoleh kanan kiri memastikan keadaan kemudian membuka mulutnya.


"Namamu Lilias kan, apa kamu juga orang Jepang." Ucapnya.


Aku sedikit terkejut dengan perkataanya, aku tidak pernah memikirkan ini, memang aku tau taiga juga dipanggil kemari, aku juga bereinkarnasi, harusnya tidak aneh jika ada orang lain, tapi dia dari Jepang ya.


"Sudah aku duga." Ucap Kazuya yang melihatku terkejut.


"Tidak tidak, kamu salah, aku bukan orang jepang." Aku yang menggelengkan kepala.


"Tapi aku lihat tadi kamu memakai yukata kan, itu tidak ada di dunia ini, dan juga tadi kamu terkejut mendengar perkataaku." Lanjut Kazuya ngeyel.


"Tidak, benar dah aku bukan orang Jepang, aku memakai yukata cuma kebetulan, aku orang Indonesia, kau tau."


Mendengar perkataanku, Kazuya hanya mengangguk angguk tidak jelas.


"Indonesia, di mana itu." Ucap Kazuya.


"..."


'Aku paling benci ini.'


"Dah lah, aku masih ada urusan." Aku pergi meninggalkan Kazuya yang masih diam berdiri.


"Lain kali ceritakan lebih banyak ya." Ucap Kazuya di belakangku, dia bediri tanpa mengejar.


Aku masih terus berjalan tanpa menjawabnya, hanya saja aku masih memikirkanya.


'Orang itu, Kazuya kah, sebenarnya aku juga ingin tau tentangnya, hanya saja baru pertama bertemu dia sudah bikin kesal saja.'


Aku semakin jauh dari pandangan Kazuya, dan sepertinya Kazuya juga sudah pergi, jadi aku bisa melanjutkan ke perpustakaan.


Tapi sebelum sampai perpustakaan aku disambut oleh tiga orang wanita, mereka menatapku dengan tajam.


"Hey kamu, apa yang tadi kamu bicarakan denganya." Ucap salah satu dari mereka.


'Haah, datang lagi orang tak kukenal, bikin kesal saja.'


Aku melihat mereka bingung, aku tidak pernah mengenalnya, tapi jika dilihat jelas, sepertinya mereka bukan anak baru, dan aku merasakan niat tidak baik dari mereka.


"Bukan urusan kalian." Aku meninggalkan mereka dengan wajah datar.


"Hey, beraninya kamu!" Dia yang di tengah menarik tanganku dengan kasar.


Aku yang dibuat kesal, melemparkan tanganya menjauh, kemudian menatap tajam mereka.


"Maaf senior, jika kalian membuatku kesal munkin akan ada kepala yang putus dari lehernya." Ucapku dengan sedikit mengeluarkan aura membunuh.


Mereka hanya melihatku dengan takut dan kesal karena tidak berani maju, jadi mereka membiarkanku pergi.


.


.


.


.


Bersambung......


Kalian suka cerita bucin di akademi, apa cerita perang antar kerajaan ygy...atau dua duanya tapi jadi lama.