
Di suatu bangunan istana yang megah dan mewah, memiliki ruangan yang luas, dalam ruangan memiliki meja yang besar, dikelilingi oleh beberapa kursi dan orang yang mendudukinya, di kursi utama yang menjadi sorotan terdapat seorang raja yang memakai jubah merah dan mahkota emas.
"Rapat kita mulai." Ucap raja.
"Kita tidak bisa terus-terusan bermusuhan dengan negara tetangga, berurusan dengan mereka hanya membuat kita berada jalan buntu, menang kalah kita tetap rugi, untuk saat ini kita harus fokus terhadap anak yang diramalkan akan menghancurkan negara kita, apa ada informasi terbaru?"
"Ya tuan, saat ini sudah dipastikan, bahwa anak yang ada di ramalan adalah iblis Coksumbar, karena dari semua yang dicurigai, hanya dia yang masih hidup, dan ramalan masih berjalan."
Para hadirin angguk-anggukan.
"Ijin bicara tuan, beberapa pasukan Intel kita tidak ada yang menemukanya, tapi ada yang menarik tuan, yaitu regu yang bertugas menyusup di kerajaan Tanjun, beberapa di antara mereka ada yang tertangkap, tapi ada juga yang pulang membawa informasi, mereka tidak menemukan iblisnya tapi menemukan ibu dari iblis ini, dia bersama seorang yang membantu keluarga Coksumbar terakhir kali." Seorang kepala kesatria angkat tangan.
"Hohoo, jika ibunya ada di sana, pasti anaknya juga di sana, terus dimana ibunya ini." Ucap raja.
"Maaf tuan, pasukan kami yang selamat cuma satu, dia tidak berani menyerang." Lanjut kepala kesatria.
"Bodoh!! Seharusnya kirim pasukan khusus yang kuat, segera kerahkan tim khusus untuk menangkap ibunya, dia akan menjadi sandra yang cocok." Raja menabok meja.
"Iya tuan segera."
"Maaf tuan menyela, munkin kita bisa memancingnya, tapi dia sangat kuat, dia memiliki skill dosa besar, aku bahkan susah menghadapinya beberapa tahun lalu." Seorang penyihir kerajaan angkat bicara.
"Mmm, begitu ya, itu memang mengerikan, tpi ini bisa menjadi kesempatan." Raja menyeringai.
"Maksud tuan?"
"Jika musuh kita memiliki skill dosa besar, berarti dia target bagi seluruh manusia, kirim surat untuk kerajaan Tanjun, kita harus mengesampingkan permusuhan, bujuk mereka agar mau bekerja sama menangkap iblis ini." Lanjut raja.
"Siap laksanakan!"
"Terus dimana pahlawan taiga?"
"Ituu......"
***
"Klotak klotak klotak..." Suara sepatu di koridor.
'Hari ini aku akan mengajar praktik di kelasnya Lilias ya, hmmm.' Taiga berjalan menuju kelas.
Sampainya di depan kelas khusus, taiga membuka pintu dan masuk, taiga disambut dengan banyak harapan dari para siswa, khususnya siswi.
"Selamat pagi kawan-kawan, langsung saja kita ke lapangan." Taiga yang baru masuk belum sampai duduk.
"Okee!!!"
Taiga membawa semua muridnya ke lapangan tempat latihan, taiga menyuruh muridnya untuk berbaris dan kemudian menyampaikan pendahuluan.
"Sebelum pelajaran lebih lanjut, saya ingin mengetahui dulu sampai mana kemampuan kalian, memang kalian sudah dites sebelumnya di pendaftaran, tapi sebagai guru saya berhak mengetahuinya." Taiga yang berdiri di depan.
"Siap pak, jadi apa yang akan kita lakukan." Ketua kelas, Mega chan.
"Oo pertanyaan yang bagus, kalian akan bergantian untuk bertarung denganku selama 15 menit, berusahalah, jika kalian bisa mengalahkanku akan kuberi hadiah spesial." Taiga meringis.
"Heeeeeh, mana munkin kami bisa mengalahkan guru." Ucap para murid bersama.
'Xixixi, memang tujuanku supaya Lilias akan serius melawanku.'
"Dah, pokoknya kalian nanti akan saya panggil satu persatu, kalian ambillah pedang kayu untuk latihan di sana, dan pilihlah yang ukuranya cocok untuk kalian." Taiga menunjuk keranjang berisi banyak pedang kayu.
Para siswa berenjak menuju keranjang, Taiga mengamati lilias yang sedang berjalan menuju keranjang, kemudian terlihat Lilias yang memilih sebuah pedang.
'Hmm, dia memilih pedang satu depa ya, oke oke.'
"Oke, kalau sudah saya panggil satu persatu, pertama Akira." Taiga sambil melihat daftar hadir.
"Baik." Akira maju menghadap taiga sensei dengan gembira, entah apa yang dipikirkan olehnya, ini akan bertarung oke.
"Yang lain amatilah dari jauh." Setelah mengatakannya, para murid menjauh dan duduk menonton pertarungan.
"Serang aku jika kamu sudah siap." Taiga menoleh ke Akira."
Wajah Akira yang awalnya tersenyum bodoh kini dia memasang wajah yang sedikit serius.
'Aku harus mendapatkan hadiah dari paman.' Pikir Akira yang sebenarnya aku tidak tau waktu itu.
Akira menggunakan kuda-kuda yang pernah Lilias ajarkan, karena Akira menyadari jika tekhnik yang di ajarkan Lilias lebih baik daripada tekhnik yang diajari sandi.
'Sepertinya dia belajar dari Lilias.' Taiga dengan senyumnya.
Akira memulai seranganya, dia mengayunkan pedangnya dari atas mengarah kepala taiga, ayunanya cepat dan kuat, namun taiga bisa menangkisnya.
"Toakkk." Benturan kayu mengakibatkan suara yang kencang, namun kayu ini masih kuat.
Meskipun kebanyakan di kelas khusus ini terdiri dari murid yang sudah memiliki pengalaman pertempuran, namun mereka tidak sekuat sampai bisa menghancurkan kayu khusus latihan dengan kekuatan fisiknya.
Akira berpura-pura mundur dan menyerang dengan kejutan, tapi masih saja taiga bisa menangkisnya dengan mudah.
Akira tetap melanjutkan seranganya dengan cepat, serangan dari Akira sebenarnya tidak ada yang percuma, namun taiga lebih cepat dari Akira.
Adu pedang ini membuat beberapa siswa kagum dengan Akira, meskipun Akira tidak bisa membuat taiga kewalahan sampai waktu berakhir.
Setelah Akira selesai, taiga melanjutkan panggilanya untuk siswa selanjutnya, itu terus berlanjut sesuai urutan absen sampai hampir semua.
'Kenapa aku tidak dipanggil.' Pikir Lilias.
"Eh ada yang kelupaan, Lilias ayo maju." Taiga dengan senyumnya.
Lilias maju menghadap taiga.
"Sengaja kan?" Tanya si cantik Lilias.
"Te hee." Taiga dengan suara datar dan tanpa ekspresi, tidak mencerminkan guru yang berwibawa.
Lilias tanpa aba-aba apalagi kuda-kuda langsung menyerang taiga, taiga sedikit terkejut, taiga pikir bisa menangkisnya, namun...."Prak." Kedua pedang kayu patah.
Para murid yang melihatnya terkejut, karena hanya Lilias yang bisa menghancurkan sebuah pedang yang terbuat dari kayu khusus yang kuat, Lilias bisa menghancurkannya hanya dengan fisik gadis umur 13 tahun.
"Oke ini berakhir." Ucap Lilias dengan wajah datar.
"Ooh ternyata pedang kayu tidak cukup, kita harus menggantinya dengan pedang asli." Ucap taiga.
"Oyy, bukankah itu sudah cukup." Lilias sambil membuang potongan kayu.
"Lilias Chan, semangatlah, keluarkan pedang aslimu." Beberapa siswa bersorak dengan semangatnya.
"Apaan, males ah."
Melihat Lilias akan meninggalkannya, taiga mengeluarkan sebuah buku.
"Jika kamu bisa mengalahkanku, aku akan memberikan ini." Taiga mengeluarkan sebuah buku yang memiliki cover bertulis "Reinkarnasi sang Roger samudra."
Lilias menoleh dengan malas, "I i i, ituuu." Lilias yang terkejut setelah melihatnya.
"Dari mana kamu membawa itu." Ucap Lilias.
"Jika kamu ingin tau, kamu harus mendapatkannya dulu." Taiga dengan senyumnya.
Taiga dan Lilias berdiri sambil berbincang, para murid yang melihatnya hanya memasang wajah heran, karena kedua orang ini terlihat saling kenal.
"Ada apa dengan mereka." Begitulah kira-kira yang diucapkan para murid.
Karena Lilias sudah lama tidak melihat novel, dia segera mengeluarkan pedang miliknya, pedang asli namun juga terbuat dari kayu, pedang Toyaku bokuto, tidak munkin untuk mengeluarkan sabitnya yang imut.
Taiga yang melihatnya juga merespon, taiga mengeluarkan pedang asli miliknya, taiga tau kekuatan pedang Lilias, namun tidak dengan para siswa.
"Kenapa Lilias memakai pedang kayu." Beberapa siswa yang mengamati dengan bingung.
Taiga dan Lilias mengambil sikap bertempur, dan slep tang ting tung, meskipun tanpa sihir namun gerakan keduanya sangat cepat, bahkan para siswa melongo.
Jika mengamati dengan mata siswa, pertarungan taiga dan Lilias seperti tidak memakai tekhnik, karena sangking cepatnya.
Jika adu kekuatan penuh tentu kemenangan bagi Lilias, jika adu tekhnik munkin keduanya imbang, namun jika adu fisik, ternyata Lilias memang seorang gadis.
Lilias adalah orang yang baik adil dan jujur, jadi dari awal dia mematikan skill regenerasi staminanya, pertempuran sengit selama 15 menit itu membuatnya kelelahan.
Lilias tidak bisa mengalahkan taiga, begitu juga sebaliknya karena waktu habis, namun tidak seperti taiga yang ekspresinya biasa, Lilias sangat kencang bernafas, Lilias ngos-ngosan dengan keringat mengalir deras.
"Haah, aku kalah." Lilias yang sedikit kesal mengaktifkan kembali regenerasi stamina.
Lilias memasukkan pedangnya kembali ke penyimpanan dengan wajah lesu.
'Sial, aku ingin novel.'
Taiga sekejap mengamati lilias, kemudian dia maju mendekatkan mulutnya ke telinga Lilias.
"Sebenarnya buku ini milik aji." Taiga berbisik.
Lilias melebarkan matanya.
"Kamu sialan, kembalikan buku itu padaku." Bisik Lilias sambil menginjak kaki taiga.
***
"Pahlawan telah kabur tuan, dia meninggalkan surat di kamarnya." Ucap penyihir kerajaan.
"Ka kA kA kamu gila ya, dia kan muridmu, kenapa kamu bisa ceroboh begini." Raja semakin marah.
.
.
.
.
.
Bersambung.....