Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 68 Sayang.


"Huuuh." Setelah proses evolusi berhasil, aku mengambil nafas panjang.


"Aku tidak akan dapat mencapai level ini tanpa mamaku, mama, sayangnya aku tidak punya kemampuan kebangkitan."


Aku berdiri tegap menatap tajam arah seranganku, debu yang menghalangi pandangan kini menghilang, dan memperlihatkan tujuh pahlawan yang sedang berjuang untuk bangkit.


"Cuma tujuh, Aiya aku lupa, yang membunuh mama kan bukan pengguna skill kebajikan."


Aku menoleh kanan kiriku, di jarak ratusan meter aku melihat taiga dan tiga musuhnya yang sedang istirahat dari pertempurannya.


'Itu mereka.'


Aku menyimpan kembali sabit, dan menggantinya dengan dua pedang, satunya pedang yang memiliki gagang dan sarungnya yang berwarna merah, dan memiliki gambar bunga putih.


Dan satunya lagi aku mengeluarkan Toyaku bokuto, aku membawa dua pedang panjang di kedua tanganku.


"Aku akan membunuh mereka dengan pedang pemberian ayah dan papaku." Ucapku sambil berjalan menghampiri mereka.


"Lilias?" Ucap taiga yang melihatku berjalan mendekat.


"Ada apa sayang." Ucapku dengan datar dan polos.


'Entah kenapa Lilias menjadi seperti beda orang.' Pikir taiga ketika melihatku yang tubuhnya bersinar dan tidak banyak ekspresi.


"Kamu? kamu?" Tiga pahlawan setelah melihatku menyerang para pengguna skill kebajikan dengan kuat, membuat mereka berkeringat hanya melihatku menghampirinya.


"Kalian tidak berpikir aku akan mengalahkan mereka kan, jadi kalian santai-santai saja, tapi aku juga akan membunuh kalian, berterimakasihlah." Ucapku menatap ketiga pahlawan.


"Ya, terimakasih." Mereka bertiga berlutut dengan pasrah.


Dengan kedua pedang di tanganku, aku menebas mereka satu persatu dengan menyilang, tubuh mereka terbelah dan memuncratkan darah.


"Aaah, indahnya." Ucapku yang terkagum.


"Lilias?" Ucap taiga dengan keringatnya.


"Ya sayang, kenapa cuma panggil-panggil." Aku dengan senyum lembut kepada taiga.


"Itu, sedikit........" Taiga bingung untuk kelanjutannya.


"Sedikit......." Aku memiringkan kepala.


"Baiklah kalau tidak mau bicara."


Aku meninggalkan taiga, dan kembali menuju tempat ketujuh pahlawan.


"Giliran kalian, bertobatlah sebelum kutebas." Aku terus berjalan mendekati para pahlawan, sambil mengeluarkan aura pekat.


"Tolong tunggu!" Tiba-tiba terdengar teriakan dari jauh.


Aku menoleh tempat teriakan bersumber, disana aku melihat seorang laki-laki yang sedang berlari menuju kemari.


'Kazuya, kenapa dia kemari.' Aku yang melihat dia berlarian.


'Eh, tunggu, dulu aku tidak merasakan apapun darinya, tapi ketika kedua dariku telah bersatu, aku mengetahui sedikit tentangnya.' Aku setelah mengamati Kazuya.


"Tolong jangan bunuh mereka." Ucap Kazuya.


"Anda?" Para pahlawan terkejut melihat kedatangan Kazuya.


"Mm." Aku tidak peduli dengan kedatanganya, aku melanjutkan aksiku.


Para pahlawan juga membuat persiapan, mereka kembali kepada posisinya masing-masing.


Aku mengganti pedang dengan sabit kesayangan kembali, sabit kuisi dengan banyak aura kegelapan, kemudian mengayunkannya pada para pahlawan.


"Jangan." Lanjut Kazuya.


"Ting!!! duarrr" seranganku ditangkis oleh suatu benda bercahaya putih, dan membuat ledakan yang keras.


Terlihat ternyata Zhi Zhou mengeluarkan perisai putih bercahaya, di tengahnya terdapat gambar kelelawar merah.


"Apa kamu melihatnya." Aku menatap Kazuya.


"I itu, perisai itu." Kazuya dengan wajah yang terkejut.


"Hahaha, ketika aku mengeluarkan ini, tidak ada yang bisa mengalahkanku, karena ini adalah perisai terkuat yang dulu dimiliki oleh dewa di zaman kuno." Teriak Zhi Zhou dengan bangganya.


"Kenapa perisai itu ada padanya, kebodohan apa ini." Aku menatap Kazuya dengan wajah kesal.


"I itu..." Kazuya bingung.


"He iblis, serang lagi kalau mampu." Lanjut Zhi Zhou dengan angkuhnya.


"Perisai, kemarilah." ucapku.


Tiba-tiba perisai yang dipegang Zhi Zhou terbang dengan sendirinya, dan menghampiriku, kemudian aku menangkapnya.


"Ya ampun, kalian terus berteriak aku iblis, beastman, elf darah atau apapun, tapi aku bukan di antara mereka." Ucapku dengan lembut.


"Haah, Okedah aku tidak akan membunuh mereka untuk sekarang, bawa mereka ke kekaisaran dan didik mereka, jika berulah lagi aku yang akan membunuh mereka." Lanjutku Sabil menatap Kazuya.


"Eh, aaah sebenarnya kekaisaran manusia telah berakhir, kini banyak kerajaan yang berselisih." Lanjut Kazuya dengan garuk-garuk kepala.


"Haah, apa yang orangmu lakukan si, dalam waktu satu tahun, kekaisaran harus sudah berdiri kembali, atau aku sendiri yang akan menghapus mereka." Ucapku dengan wajah serius.


"Eh Lilias, sebenarnya kamu siapa." Kazuya dengan bingungnya mendengar perintahku.


"Hmm, sampaikan saja ucapanku pada orang tuamu, atau kakekmu, atau leluhurmu jika masih ada, yang jelas mereka akan tunduk ketika melihatku." Aku dengan wajah datar.


"Graa!!" Tiba-tiba naga merah kecil yang terikat terlepas dari ikatanya, dia bangun dan mengamuk.


Naga membuat api besar di mulutnya, dan menembaknya secara acak menuju pahlawan, namun hampir mengenaiku.


"Oy oy oy, apa kamu ingin bermain dengan onee-chan, sepertinya kamu sangat membenciku ya." Ucapku melihat naga yang menggila.


"Graa!!" Naga terus mengamuk.


"Ayo kita pindah tempat." Dengan sangat cepat, aku menuju naga, dan memeganginya, kemudian memindahkan kami berdua ke tempat yang jauh.


***


Tepatnya kami terbang di atas bangunan yang besar, yang terdapat di tengah-tengah kota, waktu hampir pagi, namun masih gelap, dan masih banyak Lampur bersinar terang.


"Hahaha, bukankah kalian mengatakan aku akan menghancurkan kerajaan kalian, baiklah aku turuti kemauanya." Ucapku dengan keras.


"Naga, itu ada naga di atas istana kerajaan." Para penduduk yang tidak dapat tidur melihat kami dari kejauhan.


Suara terus bersambung, hingga semua penduduk kota keluar untuk melihatnya.


"Apa dia yang membuat gempa."


"Jadi kehebohan itu dari mereka ya."


"Iya, tadi juga ada ledakan dahsyat, pasti dari mereka."


"Kami sampai tidak bisa tidur gara-gara mereka."


Tentu saja, meskipun pertarungan sebelumnya jauh dari pemukiman kota, namun efeknya menjangkau berkilo-kilo meter.


"Graa!" Naga kembali mengaung.


"Haha, kamu tidak sabar ya, kamu ingin menghajar kakakmu ini ya, baiklah." Ucapku melihat naga di depan, ya aku juga sudah mengetahuinya siapa naga itu.


***


Di suatu tempat.


Di sebuah kandang kuda, terlihat dua orang yang sedang berbaring di atas tumpukan jerami, satu laki-laki memakai pakaian olahraga, dan satunya memakai baju berwarna biru.


Si baju biru membuka mata sambil menatap atap kandang.


'Lilias, aku kangen masa-masa dulu, dulu kita suka bermain, tapi kamu palah terbunuh dan aku menjadi dewi bawahan orang itu.'


'Kamu memutuskan untuk bereinkarnasi, dan meminta bantuanku untuk memisahkan kekuatan dari jiwamu.'


'Aku tidak menyangka setelah kamu terlahir menjadi manusia biasa apalagi sebagai laki-laki baji engan, kamu melupakan aku, untung saja kekuatanmu perlahan memiliki kesadaran, dan masih bisa kuajak bicara.'


'Dan ketika aku sedang bermain dengan dirimu versi kekuatan, tiba-tiba kamu mati lagi, dan minta Reinkarnasi dan sistem agar memiliki Harem, apaan itu, padahal dulu kamu perempuan, hanya 18 tahun hidup sebagai laki-laki saja kamu sudah menjadi baji engan, tidak punya pilihan aku hanya bisa mentertawakan mu.'


'Yah untung saja aku memasukkan sedikit dari kekuatan lamamu, sehingga tubuhmu yang sekarang menjadi perempuan yang mirip dengan dirimu dulu, haha, itu sangat lucu ketika melihat dirinya kecewa.'


Sambil menatap langit, ia terus mengenang masa-masa yang telah terjadi.


"Aqua, apa kamu sudah bangun." Ucap seorang laki-laki di sebelahnya.


"Mana munkin aku bisa tidur di sini, bodoh."


*Sebenarnya yang dibayangkan Aqua, rencananya mau kubuat chapter flashback, tapi lama, jadi kubuat hanya sebagai ucapan batin Aqua.*


.


.


.


.


.


Bersambung......