
Masih di desa yang sedang dilanda kekacauan.
Banyak rumah yang runtuh karena amukan dari monster banteng di depanku.
Aku mengeluarkan sabit besar gutemala dan bersiap dalam pertempuran.
'Cuma rank S awal mana munkin aku yang rank legenda bisa kalah denganya, haha.'
Aku menyalurkan banyak energi gelap ke dalam sabit, membuat sabit terlihat seperti bergetar hebat.
Dengan kelincahanku, aku bergerak cepat menuju arah monster, menebas tanganya yang membawa palu dan langsung menghindar.
"Sinkkkk." Tidak sampai satu detik tanganya terpenggal dengan sempurna dan jatuh ke tanah.
"Graaa!!!" Monster merang dengan amarahnya.
"Ottoo, sepertinya aku berlebihan."
Munkin aku terlalu kuat baginya.
"Hey lihat! ada yang bisa melawan monster itu!" Teriakan manusia yang sudah jauh dari lokasi.
Dari kejauhan para manusia itu melihat pertempuran yang sederhana ini, mereka melihat sebuah harapan ketika tangan dari monster terpenggal dengan mudahnya.
'Aku akan mencoba seberapa kuat fisikku.' Pikirku sambil menyimpan kembali sabit kesayangan.
Aku maju dengan pelan, kemudian menendang monster itu dengan sekuat tenaga, membuat monster mundur beberapa langkah, tapi saat itu juga dia memukulku dengan tanganya yang masih utuh.
Aku menangkisnya dengan tanganku juga, namun ternyata pukulannya berlanjut sampai mengenai tubuhku dan membuatku terhempas lumayan jauh.
"Uuh, memang fisik tidak cocok untukku yang imut."
Luka ringan yang kudapatkan dengan cepat pulih kembali.
Aku melanjutkan seranganku, kini aku melakukanya dengan cepat, aku berlari dan terbang menuju kepalanya, dan memukul tepat di matanya.
"Grah." Monster itu karena badanya yang besar dia menjadi lambat dalam pergerakannya, sehingga dia tidak bisa mengikuti pergerakanku.
"Hebat juga kamu manusia, karena bisa melawanku." Ucap monster itu.
"Graaa." Dia melanjutkan seranganya, dengan tanganya dia hendak memukulku, namun aku bisa bergerak cepat dan menghindarinya.
"Ooh, kamu ternyata bisa berbicara ya." Aku sambil tersenyum.
Kami lanjut melakukan adu pukulan, meskipun pukulanya tidak ada yang mengenaiku, dan saat itu juga para manusia yang tadi menjauh kini mendekat untuk menonton pertempuran.
"Hebat!! Ayo nona kecil, kalahkan dia." Ucap beberapa manusia dengan semangatnya.
'Kenapa Meraka mendekat, bodoh, eh tidak, munkin ini kesempatanku.'
Sambil adu mekanik, aku mencoba membuka percakapan kembali.
"Heyy, kamu itu bukan makhluk bodoh, tapi kenapa kamu menyerang desa dengan berutal." Ucapku sambil menghindari seranganya.
"Hah!! Kenapa kamu bertanya, aku sudah lama ditawan oleh para manusia, aku tidak tau kenapa kali ini aku dilepaskan di sini, untuk melepaskan kemarahanku jelas aku menyerang manusia terdekat." Ucapnya.
"Heheeeh."
Aku kembali memukulnya tepat di kepala, kali ini pukulanku dilapisi oleh aura kegelapan, membuat mukanya bonyok.
"Bagaimana manusia sepertimu bisa memiliki energi kegelapan." Si monster kaget dengan kekuatanku.
'Otto, aku lupa kalau para manusia sudah mendekat.'
Kekuatan fisikku memang perlu ditingkatkan, jika tanpa energi sihir pukulanku tidak terlalu merusak untuknya, jadi aku mengeluarkan pedang baru yang kudapat dari ayah baru, pedang dengan sarung dan gagangnya yang berwarna merah, memiliki gambar bunga berwarna putih, iya, itu kebalikannya dari yang dimiliki Akira.
"Aku tidak tau apa masalahmu, yang kutahu kamu sudah membuat kerusakan, jadi aku akan membunuhmu." Ucapku dengan senyum manis.
"Dasar sombong."
Aku dengan cepat menyerang leher monster itu dengan pedang, namun dia bisa melindungi lehernya, dan bukan leher yang terpenggal, namun tanganya yang terpotong.
"Aiyya, kenapa kamu ingin tersiksa, lihatlah tanganmu habis." Aku masih dengan senyuman.
"Aku tidak tau, kenapa aku bisa kalah oleh manusia sepertimu, sepertinya manusia sekarang sudah lebih kuat." Ucapnya dengan wajah serius.
Aku menggunakan langkah bayang dan bergerak cepat, aku berpindah ke pundaknya tanpa ia sadari.
"Aku bukan manusia, aku vampir." Aku berbisik ke telinganya.
"A apa! Va......" Dia tersipu dengan bisikan imutku, namun sebelum dia selesai dengan perkataannya, kepalanya sudah lebih dulu terpisah dari badanya.
"Semoga kamu tenang di alam sana." Aku mengibaskan pedangku yang terkena darah, pedang kembali bersih.
"Pedang ini, aku suka desainya." Aku kembali menyarangkan pedang dan menyimpannya ke Inventori.
"Yee!!!!! Monster itu sudah mati." Para manusia yang menonton bergembira melihat kemenanganku, eh bukan, tapi kekalahan monster banteng.
Aku tidak peduli, dan meninggalkan mereka menuju ke tempat Yuli berada.
Berjalan santai, dan melihat Yuli yang ternyata sedang duduk sendirian sambil melihat pertempuran dari jauh.
"Waah master hebat, bisa mengalahkanya dengan mudah." Ucap Yuli dengan senyuman.
"Ahaha, apa yang kamu katakan, aku jadi malu." Aku tersenyum canggung sambil menggaruk kepala.
"Eeeh, harusnya orang kuat sepertimu memiliki banyak bawahan, kenapa malu, haha."
Aku bingung apa yang akan kukatakan.
"Ternyata kamu menyembunyikan banyak kemampuan ya, padahal kamu di guild masih rank B, tapi kamu bisa membunuh monster rank S dengan mudah, tidak heran karena kamu dari ras mitos." Lanjut Yuli.
"Mitos??" Aku kembali bingung.
"Iya, apa kamu tidak tau, hanya sedikit orang saja yang mengetahui adanya ras vampir, itu saja mereka mengatakan kalau vampir hanya mitos, dan di wilayah iblis saja sudah tidak pernah ditemukan ras vampir, aku saja tidak akan percaya denganmu jika kamu tidak mengubahku menjadi vampir." Jelas Yuli.
"Oooh jadi begitu ya." Aku yang tidak banyak berpikir, karena aku menjadi vampir dengan alasan khusus.
Setalah kami sebentar bercakap-cakap, datanglah taiga yang dari tadi tidak terlihat.
"Lilias." Panggil taiga yang baru datang.
"Oh, kamu datang" Ucapku.
"Aku tidak melihat Yuli di manapun, jadi aku mencari orang yang membutuhkan bantuan." Lanjut taiga.
"Oh baguslah, tapi kamu tidak cermat saja, padahal Yuli di sebelahku lho." Aku menunjukkan Yuli.
"Eh." Taiga mengamati orang di sebelahku.
Dari pandangan taiga, terlihat seorang wanita yang wajahnya mirip seperti Yuli, namun memiliki kulit putih, rambutnya juga berwarna perak, matanya merah, dan telinganya panjang.
"Cantik." Ucap taiga dengan lirih.
"Ah, itu, maksudku dia cantik sepertimu, ahaha." Taiga canggung.
'Cantik, aku cantik.' Aku sedikit merasa senang, pipiku juga memerah.
"Tapi dia sangat berbeda, apa jangan-jangan kamu....." Taiga yang melihatku.
"Iya, tadi Yuli hampir mati, ramuan sudah tidak berefek, jadi aku mengubahnya menjadi seperti itu, agar dia punya regenerasi." Jelasku.
"Iya, terimakasih juga taiga, sudah mau menolong desa ini, tapi maaf rumahku hancur dan tidak bisa menerima tamu." Yuli dengan senyum ramah.
"AA iya, ahaha." Taiga dengan senyum canggung.
"Hmmm." Aku kembali melototi taiga.
"Eh." 'Kenapa dah dengan Lilias.' Taiga berhenti tersenyum ketika melihatku melototinya.
"Fufuffu." Yuli menutupi mulutnya yang tersenyum dengan tanganya yang sudah tumbuh kembali.
Aku berpikir sejenak dan membeli barang di toko sistem, sebuah bandana hitam yang memiliki gambar kelelawar merah.
"Ini, untuk menutupi telinga panjangmu." Aku memberikan bandana kepada Yuli.
"Terimakasih, Lilias-sama." Yuli dengan senyumannya.
"E." Aku masih tidak terbiasa dengan panggilan itu.
"Ayo kita pulang, ini sudah terlalu gelap." Ajakku sambil membuka portal.
Aku masuk portal meninggalkan Yuli dan menuju gang sempit tempatku landing di kota dan juga diikuti oleh taiga.
Sesampainya di kota aku bisa menghirup udara segar kembali.
"Ah, Lilias, mau jajan dulu gak, aku yang teraktir." Ucap Taiga.
"Traktir? Traktir! Oke ayo."
Aku memang memiliki banyak uang, tapi jika ada yang geratis kenapa tidak, iya kan.
"Aku tidak butuh pendapatmu, jadi aku yang pilih tempatnya aja ya." Taiga dengan senyumnya.
"Oke dah, aku ikut kamu saja."
'Apa dah, taiga aneh sekali.' Pikirku.
Aku mengikuti taiga pergi, aku tidak tau kemana, karena sudah gelap aku harap dia membawaku ke tempat makan yang enak.
Setalah sebentar berjalan akhirnya kami sampai di sebuah caffe.
Kami mengambil tempat duduk kemudian datang seorang pelayan.
"Silahkan pilih pesanan anda." Pelayan memberikan daftar masakan.
"Aku mau kue stroberi sama minumnya jus stroberi juga." Ucapku.
Aku tidak tau apa yang biasanya orang lain makan atau minum di cafe, jadi aku memesan demikian, hanya saja taiga melihatku dengan penuh makna.
"Kalau aku minumnya kopi hitam kupu-kupu." Ucap taiga.
"Baik, silahkan ditunggu sambil makan singkong goreng, ini geratis." Ucap pelayan, kemudian dia pergi dari meja kami.
'Aduh, aku tidak terpikir kalau akan berdua bersama taiga, bagaimana ini.' Aku sedikit merasa panik.
Kami menunggu hidangan dalam diam, taiga masih dengan ketenanganya, hanya aku saja yang menoleh kanan kiri karena gugup.
"Lilias?" Taiga bingung dengan tingkahku.
"Yaa!" Oh kaget.
Namun taiga tidak melanjutkan perkataanya, kami terus diam sampai datang pelayan yang membawa pesanan kami.
"Silahkan." Pelayan memberikan pesanan kami kemudian pergi lagi.
Aku melihat hidangan di depanku, terasa lebih senang karena minuman yang kupesan terlihat seperti darah.
Aku memakan kue, gigitan pertama buat kalian.
"Hmm, enak." Rasa gugup menghilang dariku.
'Sepertinya Lilias sangat suka, dia sampai senyum-senyum sendiri.' Taiga yang tersenyum melihatku.
Aku tidak memperdulikan taiga, jadi aku cuma menikmati hidanganku, gigitan demi gigitan kunikmati sampai gigitan terakhir, sehabis kue, aku berpindah ke minuman.
"Mmm, enak juga."
Cukup lama aku menikmati hidangan, sampai aku lupa dengan siapa aku sekarang, setelah aku tersadar kembali, aku menoleh ke arah taiga.
Taiga sedang minum kopi, wajahnya tenang menghadap ke luar, wajahnya terlihat seperti cahaya di malam hari, silaunya membuatku tidak melihat selain dia, padahal dia bukan malaikat maupun dewa.
"Dik dug dak." Jantungku sepertinya butuh ke bengkel.
Ketika aku mengamatinya, taiga menoleh ke arahku.
"Mmm, Lilias?" Ucap taiga.
"Eh." 'Apa dia melihatku.' Aku tersadar dari lamunan, merasa sangat malu.
"Memang tidak ada sisa dari dirimu yang bisa disebut sebagai laki-laki ya." Ucap taiga.
"Eh, apa yang kamu katakan, kenapa kamu membahas itu lagi." Ucapku.
"Lilias, apa kamu menyukaiku?" Ucap Taiga sambil menatap mataku.
"Bdum."
"Eh.."
.
.
.
.
.
Bersambung........
Woy lah, aku upload udah 4 jam masih review aja, lama banget.
Jadi aku ubah lagi, barang kali ada kesalahan.