
"Aku adalah vampir, dan aku akan memakanmu hwaaaa." Ucapku menunjukkan taringku tersenyum, dengan pose tangan menerkam.
"Hiii papaa, Lilias aneh." Ucap Akira yang bersembunyi di belakang sandi.
"Pft, xixixi, Akira sangat lucu." Ucapku menutup mulut dengan tanganku.
Aku berpindah memandangi kota kembali.
'Maaf Akira Chan, ini belum saatnya.'
"Yuk ah lanjut, kita harus nyerahin hasil buruan kita." Ajakku.
"Iya, aku tidak sabar." Ucap Akira semangat.
Kami lanjut jalan santai berenjak ke guild, karena misi ini lumayan jauh dan kita hanya berjalan santai, jadi kita sampai guild sudah hampir sore.
"Yuli san, misi kami telah selesai." Ucapku menyerahkan telinga ogre.
"Araa, di misi kalian yang langsung ambil rank B, kalian sangat sukses." Ucap Yuli menerima bukti penyelesaian.
"Ini uang kalian." Lanjut Yuli menyerahkan 1 koin emas.
"Terimakasih Yuli san." Ucapku menerima.
"hehe." Aku menunjukkan uang pertama kepada Akira.
"Itu uang pertama kalian, simpan kalian saja." Ucap paman tersenyum kepada kami.
"Benarkah, terimakasih pa." Balas Akira.
"Kalian pulanglah dulu, aku nanti pulang sore." Lanjut paman.
"Baik." Jawab kami.
Lilias dan Akira kini berenjak keluar guild meninggalkan sandi yang munkin masih ada urusan.
"Nee Lilias Chan, mumpung masih ada waktu, apa kita jalan jalan dulu saja." Ajak Akira.
"Ayo, sekarang kita punya uang juga, ngapain di simpan kan, nanti busuk."
Aku dan Akira saling menatap, kemudian senyum nakal muncul di wajah kami.
"Hehe."
Kami berjalan menulusuri jalan jalan kota, melihat lihat banyak toko dengan bingung apa yang akan kami beli, satu koin emas hanya setara 100.000 , membeli pakaian hanya munkin hanya mendapatkan yang kualitas buruk untuk kami berdua.
"Nee Lilias Chan, sepertinya pakaian disini bagus bagus, munkin kita bisa melihatnya dulu." Ucap Akira menunjuk toko pakaian.
"Ayo."
Kami berdua masuk toko untuk melihat lihat, munkin jika ada yang cocok kami bisa membelinya kapan kapan.
Hanya saja, menurutku yang seorang mantan era moderen, pakaian disini terlihat biasa biasa saja, tanpa variasi yang cantik, apalagi untuk laki-laki.
Aku hanya mengikutk Akira yang mondar mandir kebingungan, sampai menarik pemilik toko.
"Araa, kenapa kebetulan sekali kalian ada di sini." Ucap seorang dari samping kami.
Kami menolehnya, dan mulut lebar terlihat di wajah kami.
"Mama!!" Kagetku dibuatnya.
"Tante!!" yaa yaa.
"Kenapa mama ada disini ?." Ucapku melihat.
"Kenapa?, ini adalah toko mama lhoo." Balas mama dengan senyum hehe.
"Lah mama tidak pernah bilang bilang kalau toko mama ada disini, padahal sudah 3 tahun lho." Ucap wajahku cemberut.
"Ah ha ha, sebenarnya ini toko baru, sebelumnya mama hanya seorang pegawai di toko lain." Jelas mama Sri.
Sri Solaya Coksumbar, seorang mantan desainer terkenal yang memiliki banyak toko di kerajaan Sambac, turun menjadi pegawai di kerajaan lain munkin memukul mentalnya.
Apalagi dulu yang tokonya dikelola oleh suaminya yang sudah meninggal.
"Kalian tiba tiba datang ke toko pakaian, apa pakaian yang kuberi kurang." Lanjuta Sri.
"Ahh tidak kok, sebenarnya cuma ingin jalan jalan." Ucapku.
"Yaudah, kalian lanjutkan saja jalan jalanya, aku harus layani pelanggan." Lanjut Masri.
Sebelum kami sempat menjawabnya, tiba tiba datang orang masuk toko, yang sangat kami kenal, yang membuat kami terheran.
"Eh, kalian kok belum pulang." Pria yang baru masuk toko.
"Papa, kukira papa masih mau kerja, kenapa kemari." Ucap Akira terheran.
"Pa papa rencananya mau beli baju buat kamu, hehe." Ujar sandi melirik arah lain.
"Apa papa tau ini toko milik Tante Sri." Ucap Akira dengan menyipitkan mata.
"A ah, Sri i ini tokomu ya, kukira kalian sedang belanja bersama, ahaha." Ucap sandi menggaruk kepala.
"Be begitulah, ini kan keahlianku." Ucap mama Sri dengan senyumannya.
"Sebelum monyet menggaruk, kita pindah tempat yok." Ajaku menarik tangan Akira.
"Aku tak tau apa maksudmu, tapi ayok."
'Apa apaan mereka, yang kutahu cuma mereka sering pulang telat dengan kerjaanya.'
Aku dan Akira melanjutkan jalan jalan kami, kami sampai pada sebuah tempat makan, terlihat kue disana menarik.
"Setelah misi, mang enaknya nongkrong, xixixi." Cengirku.
"Iya nih, laper."
.
"Mmm enak." Duo loli memegang pipinya sambil mengunyah sendok.
Begitu saja lah, gak asik.
Habis makan lanjut pulang, kami pulang sedikit cepat, karena sambil olah raga, sesampainya rumah masih belum ada orang, padahal sudah sore.
"Akira Chan, kamu mandi dulu aja, aku mo masak."
"Eeeeh, yoah mandi bareng, dah lama kan kita gak mandi bareng." Ucap Akira dengan mata berkaca.
"Tapi kamu kan gabisa masak." Aku yang telah lama masak hampir tiap hari.
"Kan bisa masak bersama, sekalian ajarin aku."
"Iya iya."
'Sekali kali gapapa kan ya.'
Kami pun melucuti badan kami sendiri, sambil mengisi bak mandi kami membasuh di shower dan sabunan dulu, baru masuk bak bersama.
Aku melihat Akira yang menatap brinjilanku, kemudian melihat punyanya sendiri secara bergantian.
Aku melihat wajah Akira yang memasang wajah mengejek.
'Sial, sepertinya dia cuma mau pamer.'
"Apaa??." Tanyaku dengan wajah datar.
"Perlukah aku menggigit punyamu?" Lanjutku.
"Hahaha, Lilias mengerikan." Ucapnya yang sedang kabur meninggalkanku di kamar mandi.
'Hadeeh, anak ini, awas aja ntar.'
[Ding, misi utama baru, bunuh bos labirin lantai 1 Labirin cebretan, batas waktu 7 hari, gagal, kurungan sistem 1hari ]. Notif.
'Apaan dah, kesana aja belum pernah, tapi sudah diberi misi membunuh bos, sistem ini terlalu memaksaku untuk menjadi OP.'
Aku segera menyelesaikan mandiku, kemudian setelahnya, aku dan Akira berencana memasak untuk menyambut orang tua yang sedang bekerja.
Setelah berpakaian, aku menuju dapur, disana sudah ada Akira yang menunggu.
"Lama beut kamu mandinya, Lilias Chan, cepat gih mempung mereka belum pulang." Sesak Akira.
"Iya iya."
Aku memberikan instruksi untuk Akira yang masih belum bisa memasak, aku menyuruhnya memotongi bahan, aku yang menakar dan oseng oseng, kali ini kami masak oseng oseng celeng, makanan yang banyak digemari di dunia ini.
"Nee Akira Chan, aku ingin segera rank B agar bisa masuk labirin, bagaimana denganmu?." Ucapku sambil oseng oseng bumbu.
"Aku juga ingin beut." Ucap datar Akira yang sedang memainkan kepala celeng.
"Bagaimana kalau besok kita ambil banyak misi, Seminggu harus sudah rank B." Ajakku.
"Menarik, Goo."
Kami lanjut masak, kami menyelesaikan masakan kami sebelum orang tua datang, kami kemudian menyiapkannya di atas meja.
"Krieer." Suara pintu menjerit.
"Aku pulang."
"Mama selamat datang, apa paman juga pulang." Tanyaku melihat mama di depan pintu.
"Sepertinya dia akan pulang malam, lebih baik kita makan dulu saja." Angguk mama.
"Baiklah ,ayooo."
Makanan, sampai kembung, aku menantikan hari esok, aku harus farming habis habisan, aku tidak ingin menyelinap lagi, aku trauma kejadian lalu, aku harus capai Rank B supaya dapat persetujuan.
.
.
.
.
Bersambung......