
Aku yang masih merasa habis maraton, samar samar mendengar kericuhan, mulai membuka mataku.
"Ugh, hahh hahh." Suara tak karuan mengundang dua orang mendekat.
"Kamu sudah bangun Lilias Chan." Ucap mamaku, mukanya terlihat begitu menyedihkan.
Kini aku melihat dua orang yang berada di sekitarku.
"Mama, paman, dimana papa?" Tanyaku yang khawatir penasaran.
"Kamu duduk dulu ya, kamu masih sangat lelah, nanti kamu bisa bertemu papa." Ucap mama dengan senyum terpaksa.
"Baiklah." Aku pun duduk, dan bersandar di tembok.
Aku merasa sangat lelah dan lapar, apalagi ketika mencium bau darah bekas pertempuran, aku memainkan lidahku.
'Eh, taringku keluar.' Seketika aku keringat dingin, aku meraba kupingku.
'Eh panjang.' Aku sangat khawatir dilihat oleh mama, aku yang masih ngos ngosan melihat mamaku.
'Bagaimana ini, dia melihatku begini, apakah aku bakal dibuang, aku terus ngos ngosan sambil melihatnya.
Dia menyadari kekhawatiranku, hanya tersenyum.
"Aku tidak mengetahui apa yang terjadi padamu, tapi Lilias Chan tetap anakku tersayang." Ucapnya yang kemudian memelukku.
Hatiku terdetak keras, apa dia tidak marah, dia tidak akan membuang ku kan.
akupun memeluk erat mamaku.
"Aku, aku, tidak akan dibuang kan ma." Ucapku khawatir.
"Ngomong apa kamu, tentu tidak akan, kamu kan anak kesayangan kami." Ucap mama, dia menangis sambil memelukku.
"Terimakasih maa, aaa aaa." Selamat tinggal kekhawatiran, aku sangat senang mamaku tetap menyayangiku.
"Tapi, papa dimana ma."
Dia tidak menjawabnya, dia melepas pelukanku, aku melihat wajahnya yang serius, dia membawaku ketempat papa berada.
"Pa, papa." Aku melihat seseorang tertutup kain tergeletak di lantai, aku mendekatinya, membuka kain penutup di wajahnya.
Seketika amarah menyelimuti hatiku, aura mematikan memancar dariku, membuat orang di sekitar ketakutan melihatku.
Aku mengepal tangan keras, air mata mengalir tak karuan.
"Tunggu saja, aku akan datang sendiri." Ucap lirihku dengan amarah.
"Apa kamu akan balas dendam." Ucap paman Sandi di belakangku.
"Ahh paman, kenapa kamu masih bertanya di saat begini." Wajah seringai menakutkan yang masih menetes air mata.
"Kemarilah." Ucap paman Sandi berjalan entah mau apa.
Aku mengikutinya dibelakang, melihat mukanya yang serius.
Dia membawaku ke ruangan sebelah, aku melihat beberapa kesatria yang terikat.
"Le lepaskan aku.!!" Teriak beberapa kesatria itu.
"Aku menangkap mereka yang ditinggal oleh pemimpinya, aku serahkan padamu untuk balas dendam sendiri." Ucap paman Sandi dengan wajah serius.
'Apa ini, apa dia berharap aku melakukan sesuatu pada tawanan ini.' Ucap batinku kaget.
'Master, saranku gunakan saja mereka untuk kekuatanku, karena anda tidak perlu untuk menyembunyikan identitas anda.' kata sistem.
Setelah banyak pertimbangan, aku jadi terpikir demikian, juga entah kenapa, setelah mencium bau darah, aku sangat lapar.
Memastikan, aku melihat mamaku dan paman, mereka tidak bereaksi apapun.
'Sepertinya memang harus melakukanya.'
Aku berjalan mendekat pada tawanan itu, dengan aura yang masih terpancar membuat mereka ketakutan.
"Ja jangan, tolong lepaskan aku!!" Teriak kesatria ketakutan.
Aku tidak memperdulikannya, aku mendekat ke tubuh salah satu kesatria, rasa laparku sudah tidak bisa dibendung, aku mengingat beberapa film vampir di duniaku, aku mengikutinya.
Aku menancapkan taringku pada leher salah satu kesatria itu.
'Uhh, apa ini, enak sekali, manis asam dan lebih kental.'
Aku tanpa sadar menyedotnya sampai kering.
[Level up 4.] koin+500 ]
'Hmm hanya setara goblin besar terakhir kali yaa.' Batinku mengomentari notif
"Aahh, tapi ini enak sekali, tapi rasanya masih kurang." Ucapku sambil menyeka darah yang berceceran di mulutku.
Aku menatap tawanan selanjutnya dengan tatapan memangsa.
"Hehe, bukankah kalian menginginkan kematian." Ucapku tersenyum.
"Ja jangan!, dasar monster!!!." Mereka kelojotan ingin kabur, tapi terikat sangat kuat.
"Monster??, aah begitu kah."
Aku tersenyum seringai, kemudia melanjutkan makanku dengan bahagia.
"Aaaaaaa." Teriak kesatria kesakitan.
Mendengar teriakan mereka, entah kenapaembuatku senang, aku terus melanjutkan makananku sampai puluhan dari mereka tidak ada yang tersisa.
[Level up.] koin+500]
[Level up.] koin+500]
[Level up.] koin+500]
Notifikasi sistem yang kurang ku pedulikan berlanjut sampai puluhan kali.
Pikiranku tercerah kembali ketika mendengarnya.
Aku menoleh ke dua orang yang sedang melihatku dengan keheranan.
"Ma maafkan aku ma, aku memperlihatkan adegan memalukan." Ucapku malu.
"Lilias Chan, sebenarnya apa yang terjadi padamu, kenapa mama tidak tau."
bisa begini."
"A apa, Vampir." Keduanya kaget mendengar perkataan tersebut.
"Sebenarnya aku sedikit tau tentang vampir, tapi aku baru pertama kali melihat, karena aku tidak pernah keluar wilayah manusia." Ucap paman Sandi yang seorang petualang.
Kami hanya tunduk terdiam, karena bingung apa lagi yang akan kami bicarakan.
"Jadi, apa yang akan kalian lakukan setelah ini, kerajaan Sambac pasti akan mengincar kalian lagi." Ucap paman melanjutkan pembicaraan.
"Papa." Ucapku dengan wajah sedih.
"Sebaiknya kita segera menguburkannya dulu, serta para penjaga yang gugur." Ucap mamaku mendekati papa yang tergeletak.
Kami pun membawa papa beserta mayat para penjaga keluarga kami keluar untuk melakukan pemakaman sesuai tradisi yang ada, kami melakukan pemakaman diluar rumah, kami berdoa untuk ketenangan arwah mereka, tertulis disebuah batu pemekaman, Coksumbar, dan satu Agus Coksumbar.
"Sebaiknya kalian ikut pulang ke rumahku dulu ke kerajaan Tanjun, sekarang di kerajaan ini sudah tidak aman bagi kalian, nanti kalian bisa memikirkan masalah kalian kedepanya." Ucap paman.
Setelah mendengarnya, mama melihat ke arah rumah, kemudian melihat ke arahku.
"Terimakasih Sandi, munkin kami akan merepotkanmu." Ucap mama mengangguk.
"Tentu saja tidak, Akira pasti akan senang banget jika kedatangan Lilias." Ucap sandi tersenyum.
"Ciiiii" Aku melirik paman yang tersenyum.
"Ada apa Lilias Chan." Ucap paman yang ditatapku.
"Tidak apa, aku ikut mama."
"Baiklah, sebaiknya kita bersiap siap dulu, tentu ada barang yang harus kami bawa." Ucap mamaku.
"Iya, tapi sepertinya pihak kerajaan tidak akan langsung menyerang, sebaiknya kita bermalam disini dulu, karena sudah sore." Ucap paman meyakinkan.
"Emm." Si mama dan anak.
Kami mengikuti instruksi paman Sandi, kembali kerumah untuk persiapan, banyak yang harus kulakukan untuk persiapaanku.
"Sebaiknya kita mandi dulu Lilias Chan, keringat kita sangat banyak." Ucap mama dengan hidung naik.
"Iya ma."
Kami pun masih bersama seperti biasa, sedangkan paman Sandi sedang minum sendiri.
Sambil mandi aku membuka sistem, aku sangat penasaran karena telah mendapat beberapa notifikasi.
'Sistem'.
___________________________________
Nama : Lilias Coksumbar.
Ras : vampir.
Level : 15.
HP : 1350/1350 [90%]
MP : 2700/2700 [90%]
SP : 2700/2700 [90%]
Skill :
-kesucian (sharity) [90%]
-kemalasan (sloth) [90%]
-kerakusan (gluttony) [90%]
-nafsu (lust) [90%]
-Manipulasi darah. [90%]
-Manipulasi elmen. [90%]
-Atlit bumi. [90%]
Element:
air,kegelapan.
koin : 14000
[Status] [Quest] [Shop]
___________________________________
'Wah statusku naik, jika seperti ini aku bisa lebih lama menggunakan skill dosa besarku, mempunyai skill dosa besar memang sangat abnormal, munkin hanya sebentar aku bakal tak terkalahkan, hehe.'
'Eh, sudah 90% kah, pantas saja aku sekarang kadang lupa kalau dulu aku laki laki.'
Aku menyelesaikan mandiku, kemudian pergi membuat makanan.
Kami makan bersama dengan paman, karena sudah tidak ada papa, aku hanya bisa makan dengan kemurungan, mama yang melihatku hanya bisa ikut sedih.
Merasa kemurungan, mama mencairkan cuaca.
"Sandi, nanti kamu bisa gunakan kamar tamu di sebelah sana." Ucap mama menunjukkan arah.
"Oke Sri." Angguk paman Sandi.
Setelah makan, aku dan mama tidur di kamarku, mempersiapkan tenaga buat besok, karena pindahan kami lumayan jauh.
.
.
.
Bersambung....
(maaf klo dikit uyy, itupun harus malam,hehe.)
(Aku sadar cerita ini masih kurang siratan, jadinya kurang memuaskan, dan pembaca sulit mengimajinasikan kedepanya bakal ku usahain buat menambah kata.)