
10 hari berlalu setelah pertempuran.
POV Akira
Keluar dari asrama putri seorang gadis berambut merah, dengan persiapannya ia akan berangkat menuju akademi.
Dari asrama ia berjalan menuju akademi yang jaraknya tidak jauh, di perjalanan ia berpapasan dengan seorang wanita yang juga memiliki rambut merah mirip denganya.
"Akira, apa kamu akan berangkat ke akademi." Ucap si wanita dengan senyuman.
"Iya ma." Ucap Akira juga dengan senyumnya.
Wanita itu memeluk sang gadis dengan erat.
"Akira, aku kembali dulu ya." Lanjut si wanita sambil mengelus kepala sang gadis.
"Iya ma, hati-hati di jalan, setelah aku selesai dengan urusan akademi, nanti aku ikut mama." Lanjut akira.
Setelah itu sang wanita pergi meninggalkan gadis kesayangannya, dan si gadis melanjutkan perjalannya menuju akademi.
Setelah sampai di akademi, ia bertemu dengan seorang laki-laki.
"Kazuya senpai....." Ucap Akira.
"Akira, kalau boleh tau, sekarang Lilias ada di mana, kenapa aku akhir-akhir ini tidak melihatnya." Ucap Kazuya.
"Lilias....aku juga tidak tau, dia pergi saat aku tidak ada." Akira dengan wajah sedih.
"Ooo, baiklah."
'Lilias, sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan.'
***
POV Taiga
Di lapangan latihan, terlihat seorang guru yang sedang melihat para muridnya sedang melakukan latihan tanding.
"Oke, pemenangnya Tukiman, lanjut Mega melawan hiruzen." Ucap sang guru.
"Baik." Angguk kedua murid dengan semangatnya.
Kedua murid itu maju ke tempat pertandinganya, kemudian bersiap untuk memulai.
"Gasss." Teriak guru.
Mendengar aba-aba dari guru, kedua murid langsung mengeluarkan jurusnya masing-masing, si laki-laki memanggil seekor monyet besar yang membawa tongkat, sedangkan si murid perempuan memanggil monster banteng.
Keduanya bertarung, monyet melawan banteng.
.
.
"Pemenanya adalah Mega." Ucap sang guru yang tidak lain adalah Taiga.
"Hey kamu hiruzen, sudah berapa banyak uang rakyat yang kamu makan." Lanjut sang Taiga melihat si murid laki-laki.
"Tidak pak, cuma semangkok ramen bertoping Naruto, hehe." Hiruzen sambil garuk-garuk kepala.
'Haah, si banteng menang lagi.' Taiga mengambil nafas panjang.
'Andai saja kelelawar kecil itu ada di sini, tapi aku harus bagaimana....Lilias, maafkan aku, aku tidak tau, apa kamu memang di sana.' Batin Taiga ketika mengingat banyaknya bangkai manusia akibat efek pertempuran Lilias, dan teringat wajah tersenyumnya yang berlumuran darah itu.
***
POV Lilias.
Di jalan yang sekitarnya memiliki banyak lahan pertanian, terlihat seorang gadis yang sedang berjalan di bawah matahari yang terik, dia terus berjalan dengan perasaan rumit yang dibawanya.
Gadis ini memiliki rambut perak yang dikuncir twintail, memakai pakaian berwarna coklat yang memperlihatkan bahanya, ia juga memiliki topi bundar yang lucu.
Ia menghilang dari pandangan masyarakat, namun namanya terus disebutkan dari mulut kemulut, karena kehebohan yang dibuatnya setelah menghancurkan istana kerajaan, dia yang tidak lain adalah Lilias yang memakai kostum Hu Tao.
Setelah berjalan beberapa hari keluar dari wilayah manusia, akhirnya Lilias sampai di pinggiran hutan yang terdekat dengan benua tengah.
"Ghoeek!!! ghoeek!!" Tiba-tiba Lilias mengeluarkan makanan yang sebenarnya hanya sedikit ia makan dari mulutnya.
"Haah, kenapa aku mual sekali, kapan terakhir aku mengalami ini ya." Ucap Lilias sambil memegangi perutnya.
"Ghoeek.....ghoeek."
"Huuh, dan dadaku juga rasanya semakin berat, munkin nanti aku akan mencari BH baru yang lebih besar." Lanjutnya sambil menatap ke bawah.
Lilias berdiri sambil menoleh kanan kiri.
"Ah itu, ada desa, lebih baik aku mampir ke sana dari pada masuk ke hutan dengan keadaan seperti ini, haah sial."
Ia berjalan menuju pedesaan yang rumahnya masih bisa di hitung oleh jari.
***
POV Solaya.
Di tempat yang terang, namun seujung pandang tidak ada apapun selain kekosongan, terlihat seorang wanita yang berdiri dengan kebingungan.
"Di mana ini, bukanya tadi aku sedang melihat pertempuran di depan mansion lama." Ucap si wanita itu yang tidak lain adalah Solaya sambil menoleh kanan kirinya.
Tiba-tiba datang seorang gadis berbaju emas yang memiliki sayap di punggungnya, ia menghampiri solaya.
"Selamat datang di pelabuhan nyawa, aku adalah pemandu orang mati yang akan membawamu ke alam lain." Ucapnya.
"Jadi aku sudah mati ya, padahal aku sedang mengandung, dan belum sempat melahirkanya." Solaya tak kuat menahan kesedihannya.
"bagaimana dengan Lilias anakku, apa dia baik-baik saja." Lanjut Solaya dengan wajah khawatir.
"Yah, dia sedang berjuang untuk hidup."
"Tolong kembalikan aku ke sana, aku ingin bertemu dengan putriku." Pinta Solaya.
"Hm, jadi kamu ingin bereinkarnasi ya, baiklah, aku akan mereinkarnasikan kamu di dunianya Lilias, selamat menikmati hidupmu."
Tiba-tiba tubuh Solaya bersinar, semakin bersinar semakin pula tubuhnya menghilang.
tib.
Akhirnya Solaya sepenuhnya menghilang.
*
Di suatu kediaman yang tidak terlalu besar, hanya rumah gubuk yang di dalamnya terdapat dua orang yang sedang berjuang.
Salah satunya berbang sambil mengejan, dan satunya lagi berdiri membantu.
"Ayo, doroong lagi."
.
.
.
"Oe oe oe." Teriakan bayi terdengar di ruangan.
.
.
.
'Eh di mana ini, apa aku terlahir kembali.' Batin sang bayi yang membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya.
Sang bayi membuka mata, dan melihat seseorang perempuan yang sedang memeluknya.
"Aaa, anakku sayang, hiks, aku sangat senang kamu terlahir sehat." Ucap seorang wanita yang tadi mengejan dengan air mata kebahagiaan yang mengalir.
"Selamat, anak anda terlahir dengan sehat, siapa namanya." Ucap bidan yang membantunya.
"Aku akan beri dia nama lista, yea lista, lista sayang." Lanjut si wanita dengan senyumnya.
Bayi itu yang tidak lain adalah Solaya setelah bereinkarnasi terkejut melihat seorang yang sedang memeluknya.
'Eh, Lilias?! apa aku terlahir menjadi anaknya Lilias, ya aku memang ingin kembali untuk menemui Lilias anakku, tapi kenapa aku menjadi anaknya.' Batin Solaya.
'Aaa!!! keabsurdan apa ini.' Solaya terus berteriak di benaknya.
'Lilias!! sejak kapan kamu membuat anak, awas saja mama akan menghukummu.'
"Oee oee oee." Teriak Solaya dengan kemarahanya.
"Ahahaa, anakku semangat sekali."
.
.
.
.
.
END.