
Di sebuah rumah sederhana, terlihat rica-rica kelinci di meja makan beserta tiga orang yang sedang mengelilingnya, mereka adalah seorang ibu dan dua anaknya.
Suara benturan sendok dan piring tergantikan dengan suara sang ibu.
"Ji gimana kabarmu sekarang? mama belum pernah lihat kamu bawa cewek."
"Apaan sih ma, aku kan baru lulus SMA, gausah buru-buru juga napa." Dia menjawabnya dengan tanpa minat, tidak lain dia adalah aji yang duduk di sebelah adiknya.
"Iish kamu ini, kalau anak perempuan seumuranmu sudah banyak yang menikah lho, kapan mama gendong cucu kalau kamu seperti ini, andaikan saja kamu perempuan, pasti sudah aku jodohkan." Wajah sang ibu sedikit lesu dengan pernyataanya.
"Pwfft uhuk uhuk."
'Benar kata mama, ayah kami sudah meninggal, jadi kalau bisa aku tidak mau membebani ibuku.' Gumam Aji di lamunanya.
"Yaah, terima kenyataan saja bu, aku itu putramu, kalau anak laki-laki itu menikahnya lebih tua, munkin sekitar umur 25." Lanjut aji sambil ngeteh.
"Iya iya, tapi paling tidak kan kamu bawa pacar kerumah biar bisa bantu ibu." Ibu samil memainkan kedua jari telunjuknya.
Sang adik tidak puas hanya mendengar keduanya bicara, diapun mencoba bertanya "Apa mama ingin punya anak perempuan?"
"Yaah, andai saja kakakmu itu perempuan." Lanjut sang ibu sambil melirik aji.
"Apa ibu menyesal karena aku laki-laki." Aji sedikit khawatir dengan ucapan ibunya.
"Iish mana ada, tapi awas aja lho kalau kamu tidak mau cari pacar ibu sumpahin kamu jadi cewek." Entah apa yang dipikirkan sang ibu, tapi tidak terlihat keraguan pada wajahnya.
"Lah bu, kok ngeri amat main sumpahin aja." Aji sedikit kaget dengan ucapan ibu.
"Sudah sudah sana, kamu bantu ibu buat beres-beres." Lanjut ibu berenjak dari kursinya.
"Iya iya."
'Ngeri amat dah ibuku, main sumpah-sumpah aja, lagian siapa juga yang mau cari pacar, males amat.'
Aji pun mengikuti ibunya, karena dalam keluarganya tidak ada perempuan selain ibunya, aji sebagai kakak sering membantu ibunya mulai dari bersih-bersih rumah, memasak, ombah-ombah, menjadikan aji seperti anak rumahan, karena kurangnya hiburan alasan itulah membuatnya menjadi wibu.
.
.
.
Hari pun berganti.
Esok pagi yang cerah sangat nyaman dan damai, terlihat seorang ibu sedang memasak dengan gembiranya, sampai tiba-tiba terdengar sebuah teriakan.
"Kyaaa!! Apa ini!!."
Sebuah teriakan mengagetkan seisi rumah, sang ibu yang khawatir langsung menuju sumber suara dengan panik, ia merasa aneh karena mendengar teriakan perempuan di kamar anaknya.
"Siapa itu, apa sebenarnya aji membawa cewek tapi diam-diam."
Sesampainya di depan kamar aji, sang ibu berdebar kencang, sebelum akhirnya ia membuka pintu kamar itu.
"Ajii....eh? Siapa? Dimana aji?" Kaget sang ibu karena di kamar anak laki-lakinya ia tidak melihat sang anak, tapi tergantikan dengan gadis yang sedang panik.
"Bu, Ibu, Ini aji bu, kenapa aku menjadi seperti ini? Burungku terbang kemana bu?" Ucap si gadis dengan wajah paniknya.
"Eh? Apa maksudmu?."
Mereka semua bingung dengan apa yang terjadi, namun tercerahkan setelah si gadis menceritakan apapun yang hanya si aji yang tau, untuk membuktikan bahwa ini memang dirinya.
"Aaah, bu, ini gara-gara ibu pasti, ibu ngomongnya aneh-aneh aku jadi seperti ini, kembalikan aku seperti semula bu."
"..." Hening.
"Ayyaaaa, sekarang aku punya anak perempuan!!." Teriak ibu degan wajah berbinar.
"Iiiiiiiih, Apaan si bu, kenapa ibu kegirangan?" Si gadis cemberut dengan kenyataan yang terjadi didepanya.
"Iiiiiih, imutnya putriku kalau ngambek, putriku sayaang, sini mama peluuuk." Si ibu dengan cepat mengambil tubuh si gadis.
"Iiiiih, Bu! Aku ini aji putramu." Ia yang sedikit kesal menghentakkan kakinya kelantai kanan kiri bergantian.
"Apa yang kamu katakan, kamu sekarang putriku, okelah, karena kamu sekarang gadis, namamu sekarang adalah jihan nanti aku jodohkan kamu dengan putra temanku oke." Si ibu mengedipkan matanya.
"Nggak!! Mana ada, aku laki-laki normal bu, apaan sih, lagian kan ibu tidak punya teman."
"Eee mana ada, aku punya teman kok, kebetulan anaknya itu ganteng, namanya taiga."
"Nggak! Nggak! Nggak!."
.
.
.
"Taiga sayang coba ini usap perutku, bayi kita menendang, hihi." Sang gadis sedang mengusap perutnya yang buncit.
"Iya sayang, nakal sekali dia menendang perut mamanya hihihi." Pria disampingnya mengusap perut buncit istrinya
"Kita beri nama siapa ya?" Terlihat senyuman di wajah sang ibu ketika menoleh.
"Lilias, bagaimana kalau kita beri nama dia lilias?"
"Siapa?"
"Lilias."
"Siapa?"
"Lilias."
"Siapa?"
"Lilias!!"
.
"Lilias!!"
.
"Lilias!!!"
"Woy, bangun lilias."
"Waaaaa!."
"Haah haah haah, eh?....ma maaf aku ketiduran."
'Mimpi apaan tadi, tiba-tiba aku dikutuk jadi perempuan, ngeri amat seperti nyata, eh, tapi memang sekarang aku perempuan.'
"Baiklah, cepat bangun, katanya kamu mau ke wilayah beastman."
"O iya, aku sebaiknya melanjutkan perjalananku ke sana, aku tidak mau menunda waktu lagi."
'Haah, tiba-tiba aku ingin pulang ke bumi, bagaimana reaksi ibuku kalau dia sudah punya seorang putri cantik sepertiku, hihi, eh, apa aku masih bisa dianggap anaknya, aku kangen mereka, aku meninggal ketika adikku baru umur tiga tahun, eh berarti dia sekarang lebih tua tiga tahun dariku, apa munkin adikku sudah menjadi pria tampan, ahaha, aku tidak sabar untuk kembali ke wakanda.'
"Eghem, sebelum lanjut lebih jauh mari kita monolog lebih dulu." Ucap seorang gadis yang baru bangun dari mimpinya, ia menggunakan pakaian cosplay hu tao.
Gadis ini sedang duduk di samping kereta kuda, ia baru saja istirahat melalui perjalanan panjang, karena baru saja keluar dari wilayah manusia ia harus istriahat terlebih dahulu.
Gadis ini sedang menyambut indahnya pagi dengan senyumanya, meskipun indahnya pagi tak seindah senyumanya, cerahnya matahari tak secerah matanya, hitamnya malam tak sehitam muk..Rambutnya, siapakah gadis tersebut yang bahkan membuat alam minder, yah, itu aku, lilias.
"Hehe."
Kenapa harus mengenakan kreta kuda, bukanya aku kuat? ya aku memang kuat, tapi dengan kondisiku yang sekarang aku merasa sakit jika menggunakan sihir.
Terus bagaimana dengan fisik? fisikku memang kuat, tapi berlarian ke benua beastman hanya dengan fisik? helloo, aku seorang gadis oke, bukan otak otot, ampun dah, mending menikmati perjalanan dengan kreta kuda.
"Ayo nona lilias, malah bengong." Ucap seorang di sampingku, dia adalah pemilik kreta kuda yang tadi berteriak membangunkanku.
"Pelan-pelan lah pak sopir." Aku berdiri kemudian berenjak melanjutkan perjalanan.
***
Di sebuah tempat yang di kenal dengan sebutan benua tengah, sering terdengar sebuah suara seseorang yang menggema.
Tepatnya jauh didalam tanah, sangat jauh di dalam, bahkan mustahil bagi manusia untuk bisa mencapainya.
Suara dari dalam itu terus menggema sampai bisa terdengar ke permukaan.
Suara tersebut menjadi misteri yang sering di perbincangkan oleh banyak orang.
"Puuh"
"Tolong aku puuh."
"Aku ingin menjadi kuat."
"Ajarin aku dong puuh"
"Puuh sepuuh"
"Tingki wingki dipsi lala, puuuh."
Suara menggema tanpa henti sepanjang tahun.
Berita tersebut cepat menyebar ke berbagai daerah, ada yang mengatakan terdapat penjara di bawah tanah, namun ada juga yang mengatakan itu adalah suara penduduk inti planet.