
Dalam ruangan VIP di dalam kapal, terlihat dua papan cucian yang sedang berhadapan, si rambut putih kebiruan sedikit kesal terlihat di wajahnya yang mengkerut, sedangkan satunya si rambut hitam kecoklatan sedang menyilangkan tanganya di bawah dada, sedikit membusungkan badan dengan wajah seringai menghadap rivalnya.
"Heh." Ucap sicoklat dengan bangganya.
Ya, entah si biru sadar atau tidak, karena si coklat sama sekali tidak terlihat seperti papan cucian lagi, karena si coklat sebenarnya bukan seperti yang dimaksud oleh sibiru, tetapi aku sendiri, ya, aku Lilias.
"Hey, ada apa denganmu, sudah lama aku tidak melihatmu, sekarang begini sikapmu." Ucap sibiru dengan kesalnya, yah dia adalah ayaya.
Munkin kalian tidak tau kapan ayaya pernah bertemu hutao asli, sini kuberitahu, dulu keduanya pernah menjadi party membantu babu tyvat.
"Nanii, apa kamu minder karena tidak ada kemajuan, ayaya." Ucapku dengan bangga.
"Ayaka! Kamisato a ya ka!." Tagasnya.
"Iya iyaaa, jadi bisa kamu ceritakan, kenapa kamu bisa ada di sini." Aku mencoba membuat pembahasan serius.
Menjawab pertanyaanku, Ayaya menceritakan kejadian yang dialami olehnya, bermula dari waktu itu ayaya membantu babu tyvat untuk mencari saudaranya yang hilang, ketika kedua saudara telah bertemu, mereka ada sedikit permasalahan yang membuat mereka bertarung, setelah mereka entah bagaimana berdamai, datang masalah baru yaitu seorang yang disebut emergancy food tiba-tiba berubah menjadi dewa jahat, terjadi pertarungan hebat dan dia kembali memisahkan kedua saudara, ayaya yang berada di sekitarnya ikut terkena imbasnya, ayaya terlempar jauh entah kemana hingga ayaya pingsan, ketika sadar dia sudah ada di dunia ini.
"Oooh jadi begitu, sepertinya itu bukan sepenuhnya salah dewa emergancy food, kemunkinan ada kaitanya dengan dewa dunia ini." Jelasku padanya.
"Kamu memungut kesimpulan dari mana?" Ayaya memiringkan kepalanya.
"Dunia ini sedang lepas dari pengawasan dewa, karena dewa dunia ini sedang vakum, kemunkinan sistem transmigrasi dunia ini menjadi kacau, yang menyebabkan kamu tersedot kemari, apa kamu melihat orang lain selain aku(hutao)?"
"Aku tidak tau, tapi kenapa kamu yakin dengan itu?" Ayaya mencoba bertanya.
"Ya, karena aku masuk dunia ini melalui orang dalam, tidak sepertimu, kamu tenang saja, tidak lama lagi dunia ini akan setabil." Aku mencoba menenangakn ayaya.
"Apanya yang sebentar lagi, aku disini sudah bertahun tahun." Ayaya mengerutkan keningnya.
"Waa emang berapa tahun, tapi masih kek papan cucian aja kamu, ooohoho." Jari-jari tanganku yang mekar kugunakan untuk menutup mulutku.
"Heh." Mata ayaya terlihat berapi api ketika menatapku dengan tajam.
Aku telah menggali beberapa informasi, sekarang aku sedikit memahami situasi ini, jika kebenaranya memang seperti itu, kemunkinan bukan hanya warga tyvat saja yang masuk dunia ini, munkin dari berbagai dunia yang beruntung bakal masuk dunia ini.
Yang jelas ini terjadi karena saluran transmigrasi dunia ini yang tidak terkendali dan ketika di dunia lain terdapat kekuatan yang menyebabkan distorsi ruang waktu, keduanya bisa terhubung.
Dalam kasus ini, kekuatan besar dari pertempuran babu tyvat vs emergancy food menyebabkan distorsi ruang waktu, yang membuat celah di dunia tyvat, ketika ayaya memasuki retakan dimensi, ayaya akan terombang ambingkan di dimensi kekosongan, setelah itu tersedot ke dunia ini.
'Aku harus segera berkultivasi kembali, kemudian memperbaiki situasi, sekalian untuk pergi ke bumi, hmmm.'
Perjalanan untuk mencapai benua beastman membutuhkan waktu lima hari dengan kapal, selama di kapal aku sering berinteraksi dengan ayaya.
Banyak yang kulakukan bersama ayaya, karena kami sendiri masih kurang akur, jadi aku mencoba banyak aktifitas bersamanya, seperti bermain, memancing, membakar ikan dan mengamati pemandangan ketika on the way.
Kadang kami juga bertarung di atas laut yang dibekukan oleh ayaya dengan kekuatan esnya, pertarungan kami menjadi hiburan banyak orang, ayaya dengan pedangnya sedangkan aku menggunakan tombak, meski tombak yang kukenakan cuma tombak murahan, karena habis kalah rate off di banner senjata.
Selama itu pula aku tidur di kamar ayaya karena VIP, meskipun ayaya selalu tidak memperbolehkan, aku tidak peduli, Ayaya selalu marah ketika aku masuk ke kamarnya, meskipun ketika bangun ternyata ayaya sedang memelukku sangat erat.
"Ayaya, bangun ayaya." Aku sedikit lelah karena dekapanya.
"Hmm, namaku a ya ka." Ayaya mulai membuka matanya, akhirnya dia sadar kalau dia sedang menganggapku sebagai gulingnya, bahkan dia membenamkan wajahnya di dadaku.
.
.
.
"Tooooot tooooot." Suara klakson kapal menandakan kami telah landing di setasiun beastman.
"Bukan urusanmu, hmph!" Ayaya membuang muka dariku dengan pipinya yang mengembung.
"Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu ya, janeee." Segera aku pergi meninggalkan ayaya.
"Eh, tunggu jangan tinggalkan aku." Ayaya mencoba menghentikan lilias namun ternyata tidak sampai.
'Kenapa begitu mudahnya kamu meninggalkan aku, kupikir hubungan kita istimewa.'
Aku sebenarnya tidak tega melihat ekspresi ayaya setelah kutahu dia ke dunia ini cuma sendirian, tapi apa daya, diriku bukanlah warga tyvat asli, aku cuma seseorang yang menyamar.
'Maafkan aku ayaka, tapi tenang saja, sebentar lagi kamu akan pulang, aku janji demi akun sepuhku yang level max id 80.'
(id 80 \= id pertama peluncuran genshin).
Aku pergi meninggalkan ayaka, pergi meninggalkan dermaga dan sampailah diriku di sekitar gerbang perkotaan terdekat.
Wilayah dermaga pelabuhan memang banyak penduduk dan perumahan, namun tidak seramai perkotaan yang megah, sehingga aku meninggalkanya.
Sebelum memasuki kota aku sedikit membuat persiapan, aku tidak mau orang lain ada yang melihatku sebagai hutao, karena aku tidak mau kerepotan didalamnya.
Aku membuka topi bundarku dengan anggun, dan terlihat di kepalaku tumbuh dua buah telinga kucing, kucing? Bukan, tapi telinga kelelawar, keduanya hampir sama.
Aku berubah menjadi kelelawar sebagian, karena aku memang manusia kelelawar, namun biasanya aku menumbuhkan sayapku, kini aku hanya menghilangkan telinga manusiaku dan tergantikan dengan telinga kelelawar, orang lain tidak bisa membedakanya, munkin mereka mengira aku itu manusia kucing.
Ahaha, tentu mereka akan menyadari perbedaanya jika mereka membuka celanaku dan tidak menemukan ekor, tapi siapa yang berani, sebelum mereka membukanya mereka sudah kehilangan tangan.
Setelah menumbuhkan telinga kuc..kelelawar, aku mengembalikan warna rambutku kesemula, yaitu putih, yeeey kini aku menjadi shiro neko.
"Nyaa, meaww, maoww." Aku membuat pose tangan kucing.
"Ahaha aku ingin segera bercermin, tapi nanti saja dipenginapan." Ucapku dengan penuh kebahagiaan.
Setelah dirasa cukup, aku masuk melewati gerbang kota, karena aku terlihat sebagai beastman sehingga mudah bagiku melewati para penjaga gerbang, cukup berpura-pura kehilangan kartu identitas kemudian membayar beberapa koin.
"Yosha, lancar."
Karena baru pertama kali ini aku masuk wilayah beastman, hal pertama yang akan kulakukan adalah membuat kartu identitas, karena aku adalah petualang, maka aku membuat kartu identitasnnya di guild perualang, ya aku yakin wilayah manapun ada guild petualang, kecuali hutan.
Aku mengetahui letak guild petualang setelah bertanya pada penjaga gerbang.
Sambil berjalan menuju guild petualang, aku menoleh kanan kiri, memperhatikan perbedaan antara wilayah manusia dan wilayah beastman.
"Uwaaa, jawa coy."
.
.
.
Bersambung...
ada typo lapor uyy
Maaf jika twrlalu banyak narasi ato bnayak monolog, sbwnarnya aku juga kesel sama narasi, kek novel translitan cina, gabisa dipahami, ahaha