Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 19 Trauma.


"Haaah, haaaah, tolong hentikan."


.


.


.


'Ada apa ini, tubuhku goyang sendiri.' Batinku yang sedang merasa panas luar dan dalam.


"Lilias Chan, bangun, bangun Lilias." Ucap seorang menggoyangkan tubuhku.


Aku dengan susah payah sedikit membuka mataku, melihat mama yang sedang berdiri disampinku.


"Haah, ma mama." Ucapku dengan nafas terenggeh.


Saat ini aku terlihat kacau, keringat mengalir deras, tubuhku panas, nafas terengah-engah.


"Bangunlah, apa kamu habis mimpi buruk." Ucap mama khawatir.


Sistem ini telah berbuat kejam kepada gadis berumur 10 tahun, jika di bumi masih kelas 4 SD, bagaimana aku tidak mengingatnya, kejadian semalam sedikit membekas di mentalku.


"Maa, aku tidak mau mengalaminya lagi." Aku memeluk mama dengan mata berkaca.


"Iya iya." Dia mengelus palaku.


"Apa kamu merasa sakit, kamu sepertinya demam."


'Demam? vampir juga demam? tidak! ini pasti karena seharian aku disiksa.'


"Mmh." Aku yang bingung mau jawab apa.


"Yaudah kamu berbaring saja, mama bawakan makanan kesini dulu." Ucapnya melepaskan pelukanku.


Entah itu pria maupun wanita, entah itu dewasa maupun anak anak, ketika bersama orang tua itu menyenangkan, bedanya apa yang mereka lakukan saja.


Mengikuti perkataan mama, aku kembali mbaringkan tubuhku di kasur, sambil teringat kejadian semalam yang bagiku terasa satu hari penuh.


Lain kali, lebih baik aku memohon kepada mama untuk misi, daripada harus dihukum di ruang sistem.


Ketika berada di ruang hukuman, aku merasa semua kekuatan yang telah ku kumpulan di dunia ini telah lepas, hanya tersisa gadis loli biasa, itu sangat sulit untuk menahannya, karena aku bukan M.


Mengingatnya kembali membuat bulu kuduk bergetar.


Selang beberapa waktu, mama kembali bersama Akira dengan membawa makanan di tanganya.


"Lilias, kamu sedang sakit." Ucap Akira melihatku.


"Aa ,Umm." Mataku berputar, 'Sebenarnya mentalku yang kena.' Lanjut dalam batinku.


Akira menghampiriku yang masih berbaring, dia menempelkan tanganya di dahiku.


"Tante, tante berangkat kerja saja, biar Akira yang menemani Lilias." Ucap Akira menoleh ke mamaku.


Mama berfikir sejenak, menoleh padaku.


"Apa tidak apa apa mama tinggal?" Ucapnya.


"Tidak apa apa ma, mama bisa kerja dengan santai, aku cuma butuh istirahat sebentar kok." Ucapku dengan santai.


"Baiklah, kutinggal ya."


Setelah mengucapkannya, mama berbalik pergi untuk bekerja seperti hari biasa, melihat punggungnya dari belakang membuatku berpikir yang tidak tidak.


Aku berfikir sejenak, menoleh ke Akira.


"Apa tidak apa apa kamu menemaniku?." Ucapku.


"Percayalah, bukanya waktu aku sakit dulu ,kamu yang Nemani aku." Ucap Akira dengan senyumnya.


"Oo, baiklah aku mau makan terus tidur, Sini." Ucapku meminta makanan yang dibawa Akira.


"Tidak, kamu cukup duduk saja, biar ku suapin." Akira mengaduk aduk makanan di makok.


Sebenarnya aku yang masih sedikit kesemutan, kalau memegang makanan panas dikasur bisa bisa tumpah, lebih baik aku menerima tawaran Akira.


"Iya dah."


Tidak ada yang menarik bagiku ketika di suapi oleh orang yang seperti saudara, malah aku sedikit merasa kesal karena harus bergantung padanya, makanku pun habis dengan cepat.


"Ternyata vampir juga bisa meriang ya." Akira yang setelah menyuapiku.


"Merindukan kasih sayang, dah lah aku mau mandi dulu, badanku lengket semua."


Aku membuka slimutku, dengan perjuangan, aku berenjak berdiri dari tempat tidurku, e eh, aku hampir terjatuh tapi ditangkap oleh Akira.


"Apa kamu butuh kabel untuk terbang." kata Akira.


"Nggak, aku darat aja cukup kok."


Setelah sedikit membiasakan diri dengan kekuatanku yang melemah, akhirnya aku bisa berdiri tegak, dan berjalan meski harus dibantu Akira, karena jika tidak, jalanku akan terlihat aneh.


Setelah sampai di kamar mandi, Aku masuk meninggalkan Akira yang terlihat masih khawatir.


"Nee Akira, kamu tidak mengintip kan." Ucapku yang tau Akira masih dibalik pintu.


"Nggaklah, aku akan pergi."


'Untunglh, dia pergi.'


Kusuk kukusuk selesai, masuk bak panas.


"Aaah, ini sangat nikmat."


'Oh, misi harian, munkin sekalian kulakukan sekarang.'


Aku melihat brinjilanku yang masih datar, tanganku dengan susah kuangkat, memegang brinjilanku dan.


"Uuh." Suara dalamku keluar.


'Ini masih sangat sensitif, aku tidak bisa melakukannya sekarang, aku khawatir nanti kebablasan.'


Menunda misi harian, aku saat ini hanya diam berendam di bak mandi air panas.


.


POV Sri Solaya.


Aku sedikit khawatir dengan keadaan anakku, tidak seperti biasanya, baru kali ini aku melihatnya demam, tubuhnya panas, dia sampai mengigau di tidurnya, sepertinya dia habis mimpi buruk.


Tapi aku harus bekerja untuk kebutuhan kami, aku berjalan sendiri menuju kota tempat tokoku berada.


Berangkat jam 7 sampai toko setengah 8, di toko aku istirahat sebentar, kemudian bersiap menata jualanku sendiri, karena aku tidak memiliki pegawai yang membantu.


Aku mengingat toko di kerajaan Sambac yang dikelola mantan suamiku, apakah mereka masih berjalan, sudah lama sang pemilik tidak memantaunya, munkin pegawainya pindah pekerjaan atau munkin toko disita pihak kerajaan aku tidak mengetahuinya.


Jam dinding menunjukkan pukul 8, waktunya membuka toko.


"Tik tak tik tak." Menjaga toko sambil mendengarkan suara jam berdetak.


Selang beberapa waktu, datang seorang ibu ibu yang lebih tua dariku, sepertinya dia sudah punya dua atau tiga anak.


"Selamat datang di tokoku, semua jenis pakaian mulai dari dalam sampai luar ada, silahkan dipilih." Ucapku seperti pegawai profesional.


Ibu ibu itu keliling memilih milih pakaian, sampai dia terfokus pada baju seperti seragam JK, itu adalah senjata tokoku, pakaian itu adalah pakaian yang didesain oleh anakku sendiri, dia jenius sampai memintaku membuat pakaian seperti itu.


"Boleh dicoba dulu, ruang ganti ada disana." Ucapku menunjukkan ruang tertutup.


Ibu ibu itu dengan cepat keluar dari tempat ini coba.


"Ini berapa harganya." Ucap ibu ibu membawa JK.


"Itu harganya 10 perak saja Bu." Ucapku dengan senyuman.


"3 perak boleh lah ya, aku beli dua pasang." Ucapnya tanpa dosa.


'Ampun dah si ibu ini.' "Uang ibu buat beli pipa ruchika saja bu."


Setelah aku menolaknya, ibu ibu itu pergi begitu saja.


Setelah kepergiannya, datang seorang yang kukenal.


"Sri, boleh bicara sebentar." Ucap dia yang baru datang.


"Sandi, kamu sering datang kemari, apa lagi yang mau kamu bicarakan." Ucapku heran.


Saat ini toko masih belum ada orang, jadi dalam toko hanya kami berdua.


"Sri menikahlah denganku, kita sudah tinggal serumah cukup lama kan."


'Hm, aku tidak terlalu kaget dengan perkataannya, mengingat tingkahnya akhir akhir ini, dia memang berniat menuju kesitu.'


"Maaf san, aku tidak bisa."


"kita kan sudah sangat dekat, kita sering berpergian bersama, bahkan kita tinggal bersama, tidakkah kamu mencintaiku." Ucapnya tetap menatapku.


"Yaaah, bagaimana ya bilangnya." Ucapku melirik arah lain.


"Apa kamu, belum bisa melupakan Agus." Lanjutnya.


"Mmmm." Anggukku.


"Jika bisa, aku ingin segera membuat rumah, maaf aku cuma merepotkanmu."


Di kebanyakan kerajaan di dunia ini, membuat rumah juga harus membuat sertifikat, jadi harus menunjukkan identitas asli dengan sihir, menggunakannya sudah pasti kami akan ketahuan.


"Baiklah, setidaknya kamu masih memberiku kesempatan." Ucap sandi menoleh arah lain.


Aku mengingat masa lalu bersama Agus, kami sangat bahagia ketika waktu kelahiran Lilias, jika bisa aku ingin kembali ke waktu itu.


Tanpa ada lagi sebuah perkataan, sandi pergi meninggalkan toko dengan perasaan yang dibawanya.


'Yaah, berjuanglah, aku mengharapkan sesuatu darimu akan datang.' Ucapku dengan tersenyum ketika melihat punggung sandi menjauh.


.


.


.


.


Bersambung.....


Makasih buat yg telah mendukungku uyy, tak nyangka aku dapat apresiasi, hehe.


Tetap pantau terus ye, barang kali ada saran bakal saya pertimbangkan.