Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 29 Paman taiga.


POV Taiga


Pada pagi hari menjelang siang taiga pergi mencari pakaian untuk digunakan harian dan petualangan, karena taiga tidak membawa banyak pakaian.


Taiga keliling kota dan melihat banyak sekali toko berjejer, membuatnya bingung mau masuk kemana.


Hari menjelang siang semakin banyak orang yang berdatangan, entah kenapa disekitar sini lebih banyak orang mengumpul padahal tidak ada acara apapun, ketika taiga sedang bingung di tengah keramaian, terdengar seorang gadis yang memanggilnya.


"Hey paman...." Taiga menoleh, "Apa kabar." Taiga melihat gadis yang sedang melambaikan tangannya dari kejauhan.


"Aa~ Akira...." Melihat gadis di sebelahnya taiga terkejut.


"Ajii?"


'Jadi mereka bersama, aku harus mengejarnya.'


Ketika taiga hendak mengejar, gadis itu menarik Akira pergi, dan taiga mengejarnya.


Meraka tidak sampai lari cepat jadi taiga bisa mengejarnya, tapi ketika kedua gadis itu masuk pada sebuah toko bernama citra, taiga bingung.


'Eeh ini toko khusus wanita, apa aku boleh masuk, akan memalukan jika seorang pria masuk sendiri.'


Taiga banyak perpikir di depan toko, membuat orang melihatnya kebingungan dan terlihat aneh.


'Bagaimana ini, mereka bisa-bisa menghilang.'


Setelah banyak berpikir, taiga memberanikan diri untuk masuk ke toko itu.


Benar saja, banyak orang yang memperhatikannya, membuat taiga merasa malu.


"Anoo apa ada yang bisa saya bantu, apa anda akan membeli sesuatu untuk istri anda?" Ucap salah satu pegawai.


"Aa, iya, aku akan melihat-lihat dulu." Ucap taiga dengan senyuman terpaksa.


Taiga berkeliling mencari aji dan Akira, sudut demi sudut ia lalui.


'Toko ini luas sekali, aku sampai kehilangan jejak mereka, aku tidak bisa merasakan kehadiran mereka.' Pikir taiga.


Taiga berkeliling sampai siang, membuatnya sedikit putus asa.


'Ah mereka menghilang, paling tidak aku tau kalau aji tinggal di kota ini, aku bisa mencarinya lain kali.'


Taiga menyerah dan ingin pergi, tapi pergi tanpa membeli apapun akan lebih memalukan, jadi dia mencari barang yang masuk akal dia beli.


'Mmm ini cocok untuk aji yang sekarang, lain kali aku akan memberikan ini padanya.' Pikir taiga melihat baju hitam dengan motif berwarna putih.


Taiga merasa hanya itu yang bisa ia lakukan karena di dunia ini dia tidak memiliki wanita di sisinya.


POV aku Lilias


Setelah kami masuk toko, aku merasa aman dari kejaran taiga, karena aku melihat taiga yang kebingungan di depan toko, jadi aku bisa membeli barang dengan nyaman.


Lebih tepatnya cuma Akira yang membelinya, karena aku merasa tidak membutuhkan, Akira memilih barang dengan cepat, dan ketika itu aku melihat taiga sedang masuk toko.


'Eh dia masuk.' Pikirku.


"Akira, cepat bayar itu, cepaaat." Desakku.


"Eh, ah iya." Ucap Akira dengan bingung.


Sesudah Akira membayarnya, aku membawa Akira ke tempat yang tidak terpandang orang lain, kemudian mengaktifkan skill langkah bayang, dan menggunakannya juga pada Akira agar kami tidak terdeteksi, setelah itu aku membuka portal.


Portal terbuka, aku menyeret Akira dengan cepat, dan dibalik portal kami tiba-tiba sampai di rumah.


"Eeh, kenapa kita sampai di rumah." Ucap Akira bingung.


"Dah, yang penting kita sudah membeli apa yang kita butuhkan." ucapku meyakinkan Akira.


"Tadi kenapa kamu membawaku kabur dari paman itu, padahal kita sudah bertemu?" Lanjut Akira.


"..." Aku memalingkan muka.


"Apa kalian saling kenal?" Ucap Akira dengan menatapku.


"Tidak tidak, hanya seja kita tidak perlu bertemu denganya." Ucapku yang masih memalingkan muka.


"Ciiii."Wajah jengkel terlihat di wajah Akira.


"Dah lah, aku mau menyiram tanaman." Lanjut Akira.


Dengan perasaan sedikit kecewa, Akira tidak lagi bertanya ketika melihat wajahku, Akira pergi menuju kamar untuk menyimpan barang yang telah ia beli, kemudian keluar dengan pakaian yang sudah berganti.


Aku cuma mengikuti apa yang dia lakukan, kami merawat tanaman bunga yang pernah kami tanam dulu, bunga-bunga itu sudah banyak menjalar, terlihat begitu indah, haha.


Setelah merawat tanaman, tidak banyak hal yang kami lakukan, munkin hanya bermain gitar karena Akira minta di ajarin, kami lakukan sampai sore, setelah itu hanya kegiatan rutin seperti biasa sampai malam.


.


.


.


'Ketika malam datang, semangatku lebih meningkat, tapi aku bingung apa yang akan kulakukan, apalagi aku dilarang pergi keluar malam, apa aku semalas itu?' Pikirku.


'Master memang pemalas, apalagi skill dosa besar anda yang mempengaruhi mental anda.' Terdengar suara seperti seorang pramugari di kepalaku.


'Eh sistem, tumben kamu bersuara lagi, jadi skill dosa besar berpengaruh pada mental ya.'


"..."


'Coba kulihat, skill dosaku ada rakus, malas, nafsu.'


"..."


'Pantas saja mentalku ini tidak baik baik saja, ketika makan atau minum darah aku selalu merasa kurang meskipun aku menahanya, dan aku jarang mengambil misi guild, apalagi sekarang belum ada misi utama dari sistem, dan yang terakhir..."


"..." Aku yang mengingat rutinitas sebelum hari menstruasi dengan wajah memerah.


Waktu malamku kali ini banyak kugunakan untuk berpikir, itu membosankan.


'Lebih baik aku tidur.'


***


Pagi datang, aku membuka mata dengan malas, karena seperti biasa aku tidak memiliki rencana kegiatan.


'Ee sistem, kapan ada quest utama lagi?' Benakku.


'Queat utama berada pada jalur peristiwa besar, jadi jarang ada.' Jelas sistem.


'Yah, paling tidak aku mendapat misi sampingan meskipun itu tidak menarik.'


Aku bangun dari tidur, mengikuti mama yang sudah bangun lebih awal, menurut ruang tengah kami disambut Akira dan paman yang sudah pulang entah kapan, kemudian aku menyiapkan makanan.


Aku menyiapkan makanan dibantu oleh Akira, mulai dari memasak sampai menata di meja makan.


"Nee Lilias, selagi belum masuk akademi nanti bantu aku misi ya, sebentar lagi aku akan naik rank B" Ucap Akira.


"Okee, nanti kubantu." Ucapku.


'Semoga Akira tidak akan kesal setelah aku menyeretnya kemarin.' Pikirku.


'Semoga nanti aku bisa bertemu paman itu.' Pikir Akira dengan senyum sendiri.


Kami makan seperti biasa, makanku tenang tanpa memikirkan kebutuhan apapun.


Setelah selesai makan, semua pergi menuju urusan masing-masing, mama yang pergi ke toko, sandi yang istirahat, aku dan Akira yang pergi ke guild.


Berjalan santai menuju guild tanpa tergesa, karena nanti aku bisa membuka portal membawa Akira, kami berjalan sampai gulid ketika matahari mulai hangat.


Sesampainya di guild, kami melihat sesuatu yang tidak biasa, biasanya jam segini guild sudah sepi karena banyak orang yang sudah berangkat untuk misinya, tapi kali ini orang-orang terlihat sedang membicarakan sesuatu, dan hal yang tidak biasa lagi adalah seseorang yang sudah menunggu kami di dalam.


"..." Wajahku dengan emot batu.


"Paman, selamat pagi, apa paman akan melakukan misi." Ucap Akira dengan gembira.


'Biarlah, munkin memang takdir kita untuk bertemu lagi, munkin aku akan menyapanya.'


"Selamat pagi xiao Ki, dan......Etooo.." Ucap taiga melihatku.


'Aku tidak tau nama aji yang sekarang.' Bingung taiga.


"Paman, kenalkan dia namanya Lilias, saudaraku." Ucap Akira memegang pundaku.


'Eh saudara.' Pikirku.


"Sa salam kenal, Li Lilias, aku taiga."


"Salam kenal, PAMAN, aku Lilias kakaknya Akira, aku dengar dari Akira kalau PAMAN telah menyelamatkanya." Ucapku mengejek.


'Haha.'


Taiga tersenyum pahit ketika mendengar perkataanku.


'Eh ka kakak?' Pikir Akira.


.


.


.


.


.


Bersambung.......