
Hari semakin gelap, di saat orang malas bangun dari tidurnya, orang pekerja keras pergi tidur, dan kami baru selesai makan malam.
Seperti biasa, setelah makanan habis, minumku beda dengan yang lainya, dan untuk tugas mencuci piring tentu saja aku dan Akira, meskipun yang masak sekarang mamaku.
'Ah benar juga, itu bisa jadi alasan.' Pikirku mengingat agar bisa keluar malam dengan bebas.
"Ma, aku ingin tidur sama Akira, bagaimana jika mama tidurnya sama paman saja." Ucapku dengan wajah sok polos.
Dua orang tua yang mendengarnya, tiba-tiba menelan ludah, dan mereka saling menatap satu sama lain, dan Akira tidak peduli apa yang kukatakan.
"E eh, kami masih terlalu dini untuk tidur bareng, kami kan belum menikah." Ucap mama yang menolehku dengan tersipu.
"Tak pa lah maa, lagian kan kalian sudah memutuskan, aku ingin tidur sama Akira." Aku mengatakannya dengan memasang mata berkaca.
Mama kembali menoleh ke arah sandi, dan sandi menanggapinya dengan senyuman, munkin sandi juga ingin berlatih mental.
"Ba baiklah, jika kamu sangat menginginkannya." Ucap mama dengan tersipu.
'Hehe.' Pikirku.
'Uwaah, Lilias sangat mendukung kami.' Pikir sandi.
'Apa yang sebenarnya Lilias pikirkan.' Pikir Akira.
'Apa yang bakal terjadi nanti, aku belum siap.' Pikir Solaya.
Setelah mendapat persetujuan, akhirnya kami mematikan lampu dan menuju kamar yang akan kami tempati, mama mengikuti sandi, dan aku membawa Akira ke kamarku.
.
.
Setelah masuk kamar, kami langsung berbaring di kasur, namun belum ada rasa kantuk di antara kami.
"Kenapa kamu tiba-tiba minta tidur denganku." Ucap Akira membuka kata-katanya.
"Hehe, aku sebenarnya ada urusan di luar, biasanya aku tidak keluar malam karena takut jika mama terbangun di tengah malam tanpaku di sisinya." Ucapku tanpa dosa.
Biasanya mama akan melarangku untuk keluar malam, munkin aku bisa pergi dengan portal dimensi, tetap saja aku khawatir jika mama bangun di tengah malam dan mencariku yang tidak ada di rumah.
"Apa! jadi kamu cuma akan pergi dan mengorbankanku sendirian di sini." Ucap Akira dengan kesalnya.
"Maaf ya, kumohon, aku janji akan membawakan oleh-oleh untukmu." Ucapku dengan kedua telapak tangan bertemu.
"..." (Akira emot batu)
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan." Lanjut Akira.
"Kamu dengar kan kata tai... paman taiga sore tadi, katanya ada penculik berkeliaran di kota, aku sangat geram terhadap penindas orang lemah." Kataku mengepalkan tangan dengan semangat.
"..."
"Terserah kamu lah, dan juga aku tidak butuh oleh-oleh, makanan yang tadi sore beli juga belum habis."
"Iya kah, tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya."
"Iya santai saja, aku mau tidur." Ucap Akira tidak peduli.
"Hehe terimakasih, uummm...."
Aku membuka toko sistem, mencari mainan yang munkin akan Akira suka, karena di kerajaan ini manusia begitu kaku, sangat minim hiburan, yang mereka tau cuma berlatih dan bertarung, aku tidak tau untuk kerajaan lain seperti apa, aku tidak percaya jika bahkan di kerajaan lain juga tidak ada hiburan.
'Adaa, aku beli ini.' Sebuah boneka beruang besar seharga 1000 poin.
"Ini, untuk menemanimu tidur." Aku memberikan boneka beruang yang besarnya seukuran akira.
"Waa, apa ini, lucu sekali, kamu dapat dari mana." Ucap Akira terkagum.
"Aku buat sendiri, sudah ya, aku pergi dulu."
"Iya iya, hati-hati di jalan." Ucap Akira dengan gembiranya.
Menggunakan portal dimensi, aku berpindah tidak jauh dari rumah, aku tidak langsung menuju kota karena ingin terbang menikmati pemandangan malam yang jarang kutemui.
Aku memilih berubah menjadi kelelawar hitam kecil, karena dengan bentuk manusia apalagi menumbuhkan sayap pasti sangat mencolok, aku terbang tidak terlalu tinggi, namun sedikit cepat, dan bisa melihat pemandangan di bawahnya.
Setelah cukup lama terbang, akhirnya aku melintas di atas kota, aku melihat banyak cahaya rumah gemerlap di bawahku.
'Waaa, ini mengagumkan, kenapa aku tidak pernah berpikir untuk melakukan ini sebelumnya.' Aku yang terbang dengan terkesan.
Tepat di atas gang yang sepi, aku mendarat di sana tanpa masalah, kemudian kembali ke bentuk asliku dengan memperlihatkan wajah cantik dan imutku.
'Sampai juga, tapi dimana aku bisa menemukan penculik itu ya.' Pikirku bingung.
Aku belum pernah mengenal apalagi menandai para penculik ini, sehingga akan percuma jika menggunakan skill deteksi.
Aku berjalan menelusuri semua tempat yang terlihat sepi di kota, berharap akan ada penculik yang membawaku ke markasnya, sehingga bisa membasmi mereka sekaligus.
Memang masih ada beberapa toko atau warung yang buka, dan masih ada orang yang belanja juga, tapi aku menghindari keramaian, Sampai aku merasa ada yang mengikutiku.
Aku berjalan menuju ke tempat yang lepas dari pandangan orang, dan benar saja, terdapat dua orang yang tiba-tiba muncul di hadapanku.
'...., Sepertinya mereka terpancing, waktunya ganti mode.' Pikirku.
Keduanya terlihat mencurigakan, mereka menatapku dengan tatapan yang menjijikan, membuatku berhenti berjalan, namun mereka menuju arahku.
Aku berjalan balik arah, dan melihat dua orang yang yang tadi mengikutiku.
"..." Aku berdiri di tempat ketika orang-orang ini menuju arahku.
Aku lari pelan menghindari mereka, dan lari mereka lebih cepat dariku, mereka segera menangkapku.
"Hehe, mau kemana nona kecil, kamu seharusnya tidak berjalan sendirian di malam hari." Ucap salah satu dari mereka.
"A apa yang kalian lakukan, bi biarkan aku pergi." Ucapku memasang wajah panik.
"Oyy, kebetulan sekali, gadis ini adalah gadis yang di incar oleh bos, jika kita membawanya bos pasti senang." Ucap salah satu dari mereka.
'Dia? tapi dia kan harusnya anak jenius yang kuat, tapi aku tidak salah lagi memang gadis ini sangat mirip dengan gadis yang kulihat kemarin.' Pikir salah satu penculik.
"A apa, membawaku?...... jangan, aku mau pulang." Lanjutku dengan memasang wajah panik.
"Haha, larilah jika mampu."
Aku berlari dengan kecepatan gadis normal dan memperjelas nafasku, agar terlihat sedang terburu buru.
"Iyaaa." Dan benar saja, mereka kembali menangkapku.
"Tolong! tolong!" Teriakku tidak terlalu kencang untuk menambah suasana, sambil teriak aku memberontak dengan tenaga gadis normal.
Khawatir ada orang yang mendengar, akhirnya penculik itu membungkamku dan memaksaku meminum obat bius, aku yang sedang menjalankan rencana pun cuma mengikuti alur.
"Jangan."
'Paling obat bius belaka, tidak munkin berefek padaku.'
Setelah obat masuk ke tubuhku, aku berpura pura lemas, agar mereka membawaku ke markasnya, dan aku pun dipanggul oleh salah satu mereka.
'Eh, kenapa tubuhku rasanya aneh, apa aku bisa kalah sama obat bius.' Pikirku yang heran.
Tanpa banyak pikir, aku cuma menjalankan alur dan berpura-pura tertidur dengan memejamkan mata.
"He bro, kenapa dia tertidur, apa yang kamu berikan padanya." Ucap penculik lain.
"Eh iya juga, aku tau dia sebenarnya kuat, dan berpura-pura lemah di hadapan kita, jadi aku memberi obat perangsang dengan dosis yang banyak." Ucap penculik yang memanggulku.
"Wah dosisnya pasti berlebihan, sampai dia pingsan." Lanjut penculik lain.
'A apa!! O o o obat perangs aaang.' Teriak dalam pikirku.
Namu karena mereka terlanjur tertipu, aku melanjutkan akting pingsanku.
***
Di sebuah penginapan, terdapat pemuda yang sedang makan sendirian.
'Hmm, ini enak, padahal tadi aku ingin makan bersama mereka, tapi tak apa lah.' Pikirnya ketika makan, dia taiga.
"Tolong, tolong." Terdengar suara di luar.
'Eh sepertinya ada yang meminta tolong.' Pikir taiga.
Dia membuka jendela penginapan, den melihat beberapa orang di tempat sepi, taiga melihat seseorang yang seperti ia kenal sedang bersama beberapa pria.
'Eh, bukanya itu Lilias, apa yang sedang dia lakukan malam-malam begini.'
Awalnya taiga tidak khawatir karena Lilias adalah gadis yang kuat, tapi setelah taiga pikir pikir, dia memutuskan untuk menuju ke tempat Lilias berada.
.
.
.
.
.
Bersambung......