Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 57 Akira lepas.


Kamar kembali terang dengan bukti munculnya matahari, kini terlihat seorang gadis yang berbaring sedang mulai membuka matanya dengan anggun.


"Oaaam."


"Eh, Akira sudah bangun ya." Aku yang melihat sekeliling tanpa ada Akira.


Setelah bangun, aku pergi mencuci muka kemudian memakai pakaian seperti biasanya, tidak lupa bandana yang ikatanya ada di atas membuatnya seperti telinga kelinci untuk menambah keimutan.


'Mmm, aku ingin segera mendapat kostum Hu Tao, munkin lebih imut, hehe.' Aku dengan senyum bodoh.


Setelah berpakaian aku ke bawah untuk sarapan, di bawah aku melihat kedua orang tua yang baru saja hendak sarapan juga.


"Ma, di mana Akira." Aku yang sejak bangun tidak melihat Akira.


"Lho, bukanya dia tidur denganmu." Ucap Solaya yang sedang menyiapkan sarapan.


"Iya, aku tidur dengan Akira, tapi bangunya sendiri." Aku yang bingung.


"Dia sudah besar, pasti ada yang sedang dia lakukan, yuk lah sarapan." Ucap sandi.


"Mmm." Anggukku.


Sarapan pagi kami lumayan berat, bukan roti bakar dan selai, namun singkong bakar dan teh pahit, makanan favorit orang desa.


"Apa kalian sedang ada masalah?" Mama memperhatikanku.


"Ehehe." Aku dengan senyum canggung.


"Heleeh, kalian ini, kamu sebagai onee-chan harus bisa menjaganya, padahal hadiah istimewa dari mama nanti sudah jadi, mema tidak akan memberikan sebelum kalian baikan." Ucap mama.


'Benar kata mama, aku harus mengatakan sesuat pada Akira, lagian dia aneh si menyukai om-om....... ah aku juga.'


"Lilias?" Lanjut mama yang melihatku terdiam.


"Ah, iya ma, segera." Aku dengan senyumku.


Setelah selesai sarapan, waktunya untuk berangkat ke akademi.


'Dasar Akira, pasti dia berangkat sendiri ke akademi, apa dia tidak sadar akan jaraknya yang jauh, munkin dia belum sampai, selagi masih banyak waktu aku harus cepat-cepat mencarinya.'


Kini aku berangkat tanpa portal, hanya dengan modal skill deteksi dan lari cepat sambil mencari Akira.


Aku melewati jalan yang munkin akan Akira lalui, sesampainya di kota aku berhenti sejenak di pinggir jalan.


'Huuh, menggunakan skill deteksi cukup membebani otakku.' Pikirku yang kelelahan karena banyak informasi yang masuk ke kepala.


Saat aku sedang duduk di bangku pinggir jalan, aku melihat seseorang yang sedang berjalan sendiri, tampilanya mirip denganku, rambutnya berwarna perak, matanya merah dan telinganya yang ditutupi dengan bandana.


"Yuli-san, apa kamu mau ke guild." Ucapku.


"Aah Lilias-sama, iya aku harus kerja." Yuli duduk di sebelahku.


"E, hentikan itu, aku bukan majikanmu." Lanjutku dengan emot batu.


"Fufuffu."


"Kamu kan sedang hamil, kenapa tidak mengandalkan suamimu saja."


"Ituu, sebenarnya suamiku belum lama meninggal, jadi aku harus kerja sendiri, apalagi rumahku sudah hancur." Yuli dengan wajah yang rumit.


"Ah maaf tentang itu."


Aku berpikir sejenak, melihat di dalam sistem aku masih memiliki sekitar 50 juta poin.


'Uh, banyak juga.' Aku yang tidak terlalu peduli dengan sistem, karena merasa sudah cukup dengan apa yang kumiliki sekarang.


Aku menukar sejuta poin sistem menjadi seribu koin emas, jika dirupiahkan sekitar 100 juta, dan mengeluarkannya dari sistem.


"Ini untukmu, secepatnya kamu harus berhenti bekerja, aku merasa ada yang tidak beres, lebih baik kamu sembunyi dari pandangan umum." Aku memberikan kantong besar berisi seribu emas.


Yuli menerima dengan bingung, kemudian dia membukanya.


"A a apa ini, banyak sekali, tolong tarik kembali, aku tidak butuh uang sebanyak ini." Yuli dengan wajah panik.


"Dengar, sekarang aku merasa ada yang tidak beres di sekitarku, dan kamu sekarang menjadi orang sepertiku, jadi kamu sebaiknya berhenti bekerja." Aku mendekat ke muka Yuli dan menatap tajam matanya.


"Eh eh eh, tapii....." Yuli dengan keringatnya yang mengalir.


"Baiklah, hari ini aku akan ke guild untuk berpamitan dengan master guild, tapi ini uangnya banyak sekali." Lanjut Yuli.


"Tidak apa-apa, kalau kurang pergilah ke rumahku."


'Lagian aku tidak mau dia mati karenaku.'


"Baiklah aku mau berangkat ke akademi, sampai jumpa Yuli-san." Aku melambaikan tangan sambil menjauh.


"Iya sampai jumpa nona,xixixi." Yuli yang juga melambaikan tangannya dengan senyuman.


'Dasar Yuli, memanggilku seenaknya saja,' Aku yang terlalu canggung dengan panggilan kehormatan.


'Ini berat sekali.' Yuli membawa kantong berisi emas.


Aku kembali melanjutkan perjalanan, aku berlari terbirit-birit sambil mengaktifkan skill deteksi, kota terlalui, desa demi desa juga aku lewati, sampai akhirnya aku menemukan Akira yang sedang duduk di bawah pohon sambil ngos-ngosan.


Aku berhenti kemudian mendekati Akira yang sedang istirahat, Akira terkejut melihat kedatanganku.


"Aiyya, sepertinya kamu sedang joging, asiknya, aku jadi ingin ikut, tapi kita sudah terlambat ke akademi lho." Ucapku sambil memberinya senyuman.


"Kalau sudah tau kenapa kamu kemari." Ucap Akira.


"Mana munkin aku membiarkan adikku terlantar di pinggir jalan kan, yok lah kita harus cepat." Aku membuka portal.


"Memang ini salah siapa, bodoh." Lanjut Akira yang terlihat kesal.


"Apa ini salahku." Aku masih tetap memberinya senyuman meskipun dalam hati aku masih sakit.


"Tentu saja salahmu, Lilias bodoh, hmp!" Akira dengan pipinya yang mengembung memalingkan wajahnya.


"Araa, adikku malu-malu anjing, fufufu." Aku sambil menutup mulut dengan tangan.


"Berisik bodoh!" Akira dengan wajahnya yang matang masuk portal mendahuluiku.


Aku juga masuk ke portal mengikutinya, menuju akademi aku berjalan di belakang Akira yang berjalan cepat.


'Untunglah, sepertinya Akira tidak terlalu membenciku.' Hatiku menjadi lebih tenang, tidak sadar aku tersenyum ringan.


Sesampainya di kelas, kami tidak dihukum meskipun terlambat, karena orang pintar selalu mendapat kehormatan, munkin guru berpikir kalau kami memang ada urusan, jadi guru tetap membiarkan kami belajar seperti biasa.


.


.


.


"Zzz Zzz Zzz."


.


.


.


Waktu akademi berjalan lancar dan membosankan, aku lupa apa saja yang kulakukan di akademi, yang penting sekarang waktunya pulang.


"Yey pulang, kamu tidak akan berlari sendiri lagi kan." Tanyaku pada Akira yang duduk di sebelahku.


"Mmm." Angguk Akira.


'Aku ingin pulang sendiri, tapi kakiku sakit untuk berlari jauh, haduuh.' Pikir Akira.


"O iya, kita harus ke toko kan."


Setelah kelas tidak ada orang lain, aku langsung membuka portal untuk menuju gang sempi di kota.


Kami masuk portal dan sampai di gang sempit, untung saja sekarang tidak ada orang lain yang melihat.


Kami berjalan santai menuju toko, setelah sampai, aku mengeluarkan kunci dan membuka lebar toko.


"Kamu jaga sendiri lah, aku mau pulang saja." Akira langsung pergi dengan cepat tanpa menunggu persetujuanku.


"Eh, kenapa akira." Aku tidak tau lagi apa yang harus kulakukan.


Aku menurunkan pandanganku dengan perasaan berat, kemudian kembali menoleh ke Akira yang berlari menjauh.


"Lilias?" Panggil seseorang di belakangku.


Aku terkejut mendengarnya, kemudian menoleh ke belakang dengan perasaan gugup.


"Ta ta taiga?"


.


.


.


.


.


Bersambung.......