
POV Taiga
Setelah lama tidak bertemu denganya, taiga sadar kalau kekuatanya masih kurang untuk bisa mengejar gadis yang dia anggap teman lamanya.
Hari hari yang dia jalani banyak dilakukan untuk berlatih, terutama berlatih teknik gerak cepat agar bisa mengejar kecepatan.
'Saat itu aku ingin mengejarnya, tetapi dia bisa hilang dalam sekejap.' Pikir taiga.
Karena dia tidak memiliki sesuatu yang membuatnya mendapatkan skill gerak cepat, yang dia lakukan adalah lari larian mengelilingi lapangan, dan menfokuskan sihir pada kakinya agar lebih kuat.
'Hari ini aku baru mencapai 100 putaran, aku harus menambah beberapa putaran lagi.'
Ketika taiga akan berenjak berlatih, taiga sejenak melihat langit langit jauh tepat arah rumah yang pernah dia serang.
'Aku harus bisa mengejarmu.'
"Duur duuur duur." Suara tembakan sihir terlihat di mata taiga.
'Itu, itu kan kode dari para kesatria, apa aji pulang ke rumahnya, aku harus mengejar secepat munkin.' Pikir taiga.
Taiga mengetahui rencana yang dilakukan raja, raja tau dari bawahanya kalau seseorang yang sangat dicari itu setiap tahunya pulang ke rumah lamanya, dan kali ini raja membuat rencana untuk membuat jebakan berupa anti sihir, karena sihir adalah senjata utama bagi iblis.
Taiga menfokuskan mana sihir di kakinya, kemudian dia lari terkencing kencing menuju arah sinyal tembakan.
'Semoga kamu baik-baik saja, aji.'
"Whuus, tak whuus tak." Suara langkah panjang dari taiga membuat gempar bangsa semut di tanah.
Tanpa waktu yang lama, taiga sampai pada kediaman yang dikenalinya, mansion besar yang biasanya kosong kini ramai oleh para kesatria.
Taiga dengan cepat membuka pintu besar mansion.
"Brak." Suara keras dari taiga yang tergesa-gesa.
Baru masuk, taiga disuguhkan pemandangan yang mengejutkanya, kesatria yang dia pikir akan menangkap sang pemilik mansion, ternyata sedang diserap habis, bahkan tubuhnya sampai mengering.
"Taiga!?" Ucap pemilik mansion, si gadis vampir yang imut namun dengan aura yang mengerikan.
"Hentikan!" Teriak taiga yang melihat bawahannya ketakutan.
"Apa? hentikan? apa setelah itu kalian akan membunuhku dan keluargaku?" Ucap gadis vampir heran.
Mendengar perkataanya taiga hanya diam membisu, dia tau kesalahannya, dia menyerang orang yang tidak bersalah hanya karena ramalan yang belum pasti baginya.
"Tuan, tolong selamatkan kami, bunuh monster itu!!" Teriak kesatria ketakutan.
Para kesatria lari mencari perlindungan dari taiga, namun sebelum itu terjadi, tiba tiba semua kesatria berhenti bergerak.
"Kenapa kalian kabur, bukanya kalian ingin bermain?" Ucap gadis vampir imut ini.
Setelah mengatakannya, gadis imut ini menangkap kembali kesatria atau prajurit yang akan kabur, dia merangkul prajurit dari belakang, lidahnya mengelus leher prajurit yang berkeringat, dan menunjukkan taring panjangnya.
"Ajii!!"Teriak taiga.
Teriakanya seakan membuat hati gadis imut ini meloncat, membuat dia menghentikan aksinya.
"Nani? aji? makanan apa itu?" Senyum si imut ini mencibir.
"Aku tau itu kamu, jadi maafkanlah kami" Harap taiga.
"Anone taiga, apapun yang kamu lakukan, tidak akan merubah rencana kerajaan ini untuk membunuhku, jadi untuk apa aku memaafkan mereka." Ucap si imut dengan tangan bersilang.
"Tuan pahlawan, tolong kami." Teriak prajurit yang tidak bisa bergerak.
Taiga bingung apalagi yang akan dia lakukan, dan saya juga bingung apa yang mau saya tulis untuk melanjutkan (emot batu).
"Kau tau, ibuku adalah manusia biasa yang tidak bisa bertarung, tapi tadi hampir saja terbunuh oleh mereka, apa pendapatmu?" Ucap si gadis imut ini.
"...."
"Maafkan aku, kamu adalah orang yang berarti bagiku, tapi aku terperdaya oleh mereka." Ucap taiga menundukkan kepala.
"Apa kamu tau perasaanku, ketika aku tau kalau orang yang membuat ayahku mati dan yang hampir membunuhku adalah orang yang kuanggap sahabat."
"Apa kamu pikir aku bisa begitu saja melupakannya?! Haa!!" Lanjut gadis ini.
Keduanya di kehidupan lalu merupakan sahabat dekat, meskipun aji seorang yang pendiam, namun kebersamaanya membuat taiga merasa tidak kesepian.
"...."
Taiga yang tidak berkata apa apa, hanya menundukkan kepala, membuat semua kesatria mengeluarkan keringat dinginya.
"Tuan, apa tuan akan membela monster ini."
".."
Keheningan berlangsung lama, tanpa ada seorang pun yang memulai pembicaraan.
Di bumi taiga akan segera menikah, namun dia tiba-tiba di pindahkan ke dunia yang berisi pertarungan, minim perdamaian, terpaksa keadaan taiga hanya mengikuti alur dari kerajaan, terlanjur dipanggil dia harus secepatnya membantu kerajaan kemudian kembali ke bumi.
Namun orang asing yang akan dia bantu sebenarnya adalah orang yang memusuhi mantan sahabatnya, sahabat yang sangat ia kenal, taiga berpikir keras untuk itu.
"Apa yang harus kulakukan agar kamu memaafkanku?" Ucap taiga.
Berdiam sesaat, si gadis mendengarnya hanya membuat hatinya menjadi kacau.
"Seperti yang kamu dengar sendiri, aku itu monster, kenapa kamu mau membelaku?"
"Tidak, kamu adalah sahabatku, jadi bisakah kita berteman seperti dulu?" Ucap taiga dengan keyakinannya.
'Aku tau kalau taiga yang ku kenal adalah seorang yang baik suka membuatu orang lain, karena itu taiga berniat membantu kerajaan dari kehancuran, tapi kenapa kenapa....ha!!!!' Pikir gadis semakin kacau.
Si gadis yang terlihat kacau, dia melempar kesatria yang ia pegang, dengan emosinya kesatria membentur keras ke tembok.
"Dah lah, aku muak." Ucap gadis ini.
Gadis itu berjalan ke arah pintu, membuka pintu dan keluar dari mansion.
"Tunggu aku."
Taiga mengejar mengikuti di belakangnya, namun apa yang dia lihat di balik pintu tidak ada seorang pun di sana, gadis yang ia kejar tiba-tiba menghilang entah kemana.
"Tuan!! kenapa!?" Ucap salah satu kesatria.
"Maafkan aku." Taiga membalikkan badan dan pergi meninggalkan para bawahan yang terlihat kecewa.
'Saat ini tugasku sebagai pahlawan, sangat membatasi gerakanku, karena aku tidak bisa bebas untuk pergi ke kerajaan lain, mengandalkan para inteljen saja tidak cukup, aku harus mencarinya sendiri.'
Setelah membulatkan tekad, taiga terlebih dahulu pulang menuju mansionnya yang ada di ibu kota, tentunya dengan kecepatan yang dia miliki, dia tidak akan lagi membuang waktu sedikitpun.
Sesampainya di kamar, taiga melepas semua pakaian yang menjadi identitas kebangsawanannya, menggantinya dengan pakaian kasual, meletakkan armor dan pedang yang biasanya ia pakai, sebagai tanda dia melepaskan diri dari tanggung jawabnya.
Kini yang ia pakai hanya barang yang ia bawa dari bumi, dengan sebuah novel di tanganya, ia pergi meninggalkan kediamanya.
'Yang penting saat ini aku harus pergi dari kerajaan Sambac ini.'
Terdapat beberapa kerajaan yang menjadi musuh kerajaan Sambac, jadi akan sulit untuk mencari informasi dari kerajaan itu, taiga yang selama ini pencarianya mengandalkan intelnya masih belum menemukan posisi aji, munkin level para Intel tidak bisa mencapainya.
Taiga yakin jika aji pergi ke kerajaan yang sulit di masuki Intel Sambac, untung saja taiga selama ini sering memakai helm, jadi masih jarang orang yang mengetahui wajahnya, taiga yakin dia bisa bebas berkeliaran di kerajaan lain, apalagi dia telah melepaskan tanggung jawabnya sebagai pahlawan.
.
.
.
.
Bersambung....