
POV Taiga
Dari balik jendela kamar, terlihat seorang pria yang sedang memegang sebuah buku, buku itu berjudul reinkarnasi sang Roger samudra, dia mengamati pemandangan sore dari balik jendela dengan buku di tangannya.
'Sudah 3 tahun sejak kita berpisah, aku sudah mencarimu kemana mana, tapi kamu tidak pernah kutemukan, sebenarnya kamu dimana?' Ucap batin pria ini, taiga.
Terakhir pertemuannya adalah ketika mereka berdua di kereta kuda, saat itu taiga tidak mengetahui siapa identitas aslinya, yang pasti taiga tau kalau gadis yang bertarung dengannya adalah teman lamanya yang telah meninggal.
'Dulu aku mengikutinya, tetapi dia terlalu cepat dan menghilang.' Benak taiga.
Dari semua teman peseni beladiri taiga, tidak ada wanita di antaranya, dan hanya satu yang sudah meninggal.
Selama satu tahun penuh taiga berfikir tentangnya, dia mengetahui identitas gadis itu melalui petunjuk novel di tanganya.
'Novel ini dulu selalu kusimpan, entah kenapa setelah berpisah dengan gadis itu, terlintas di pikiranku untuk membaca novel ini.' Pikir taiga.
Novel itu adalah milik sahabatnya yang ia bawa ke makam, taiga membawa novel kesukaan sahabatnya untuk diletakkan di makam, tetapi ketika taiga berpindah dunia novel ini ikut terbawa.
'Reinkarnasi kah, aji sudah meninggal sekitar 13 tahun, seperti umur yang dimiliki gadis itu, itu kamu kan?'
"Aji."
.
"Srupuut." Taiga be like: ngeteh bro.
"Aku cuma bertemu denganmu ketika di dungeon, tapi kenapa selama 3 tahun ini kamu tidak pernah lagi kesana, sebenarnya di mana kamu tinggal?" Ucap taiga dalam kesendirian.
"Srupuut, ahh."
Taiga hari harinya banyak memikirkan apa yang telah terjadi, membuatnya merasa bersalah telah menyakitinya, selama pertemuannya hanya ada pertempuran, bagaimana tidak khawatir, taiga yang tau sifat sahabatnya, tapi dia membuatnya tertekan.
"Kamu pria yang anti sosial, bagaimana hidupmu sekarang? apa yang sedang kamu lakukan?, aji."
***
POV aku Lilias.
"Emh, emh." Suara erangan dari kamar mandi.
"Haaah."
Selama beberapa tahun ini, karena aku disuguhkan quest harian untuk pijatan, ini membuat gunungku semakin menjulang, itu cukup besar untuk gadis seumuran 13 tahun.
'Eh, sudah 3 menit, kok cepat sekali, aku masih ingin melakukanya.' Pikirku.
Memiliki tubuh remaja, aku semakin merasa nyaman ketika melakukan misi harian, sistem hanya memberi waktu 3 menit, tapi ketika aku melakukanya selalu melebihi batas.
'Hmm, yang di bawah sana mulai gatal.' Pikirku semakin jadi.
Selama ini aku tidak melakukanya karena suatu alasan, tapi karena aku selalu menahanya, itu membuat pikiranku kacau ketika melakukan misi harian sambil menahanya.
'Apa aku boleh membelai yang di bawah ya.'
[Ding, quest sampingan terpicu, mainkan bibir bawah sampai muntah, hadiah 1000 koin]
'Eeeeh, padahal aku tidak bermaksud seperti itu.' Kagetnya karena notifikasi sistem.
Setelah menghadap langit langit kamar mandi memikirkanya, aku mulai memantapkan pikiran.
'Setidaknya ini bukan quest harian.'
Aku mulai melanjutkan aksi yang tadi tertunda,
"Emh emh"
"Suuuur." Air mancur semangat.
{Dah, imajinasi ini tidak perlu berlebihan.}
[Quest sampingan berhasil, Selamat anda mendapat 1000 koin]
'Cuma 1000 koin? bahkan koin jutaan yang sudah ada, aku bingung kugunakan untuk apa.' Batinku mengingat sebagai makhluk terkuat, meskipun pemalas.
'Tapi, misi ini enak juga.'
Eghm, setelah berendam sambil bermain cukup lama, aku mengangkat diri dari bak mandi, kemudian keringkan pake handuk, dan menuju kamar untuk berganti pakaian.
Karena penghuni lain belum ada yang pulang, jadinya aku bebas di rumah hanya dengan handuk yang melilitku.
Setelah berpakaian yang nyaman, aku berbaring sebentar mengingat apa yang telah terjadi selama ini, setelah misi utama dungeon cebretan selesai, aku jarang keluar rumah karena belum ada misi utama yang baru, selama ini jadinya aku nganggur di rumah atau cuma jalan jalan di kota atau membantu mama di toko, tentunya dengan penyamaranku.
'Sudah 13 tahun kaah, akhir akhir ini mamaku selalu ngeyel dengan apa yang kulakukan, karena dulu aku yang bisa dibilang tomboi.' Batinku mengingat perkataan mama.
*
"Lilias, pakailah ini, brinjilanmu semakin menonjol, jangan sampai ada pria yang melototimu." Ucap mama memberikan kacamata tanpa kaca.
"Lilias, rokmu sudah kependekan, pakailah yang lebih panjang, jangan sampai ada pria yang mengintipmu." Ucap mama menunjuk Rok yang kukenakan.
"Lilias, nanti jangan terlalu banyak kontak dengan pria, karena semua pria sama aja."
"Lilias, bersikaplah yang sopan, jangan sampai kamu ternodai." Ucap mama dengan wajah seriusnya.
*
'Munkin dulu aku seperti Ronaldo.'
'Haah, kalian tau kenapa mama seperti itu? yah karena di umur 13 tahun ini aku dan Akira berencana mendaftar di akademi, munkin sebentar lagi.'
Aku berencana pergi ke akademi bukan karena ingin belajar atau mencari ijazah, tapi untuk asik asik aja, karena aku sudah terlalu kuat semenjak menyelesaikan misi utama menaklukkan dungeon.
"Ah, aku harus memasak sebelum mereka pulang." Ucapku mengingat hari sudah sore.
Selesai berpikir banyak, aku berenjak keluar dari kamar dan akan menuju dapur.
"Aku pulang." Ucap tiba-tiba dari orang yang baru datang.
"Aaa, selamat datang Akira, aku mau masak ni, kamu mau ikut gak?" Ucapku melihat Akira yang baru pulang.
"Iya, tunggu aku, aku mandi dulu." Ucap Akira.
"Iya cepatlah."
Setelah sebentar menunggu Akira mandi, kami berdua langsung mulai memasak, karena Akira sudah lumayan jago, jadi yang kami lakukan lebih natural tanpa aba aba.
Masakan sederhana dibuat dengan sederhana pula, setelah kami menyelesaikan masakan kami, kedua orang yang belum hadir baru saja pulang dari kerjanya, kami langsung makan bersama seperti hari biasa.
"Klunting klunting, nyam nyam. gheeeek."
Habis makan kami berbincang sebentar, kecuali paman yang mandi duluan, karena disini hanya terdapat tiga wanita, mamaku mulai lagi mengulang ceramah kepada kami.
Tiba tiba.
"Aduh."
'Ada apa ini, kenapa perutku tiba tiba sakit seperti ini, seperti ada petir yang menyambar di dalam perut, baru pertama ini aku merasakanya.' Ucapku sambil memegangi perut.
"Sayang, kamu kenapa." Ucap mama ketika melihatku terlihat kesakitan.
"Ini ma, tiba tiba perutku sakit." Ucapku ketika memegangi perut.
"Apa kamu salah makan." Bingung mama.
[Ding, SELAMAT!!, jiwa sang gadis telah sempurna 100%, user mendapat hadiah berupa status yang meningkat 2X lipat dan skill pasif pesona wanita, buka deskripsi skill pada status untuk melihat keterangan lebih lanjut].
'A, APA?!'
'Status.'
___________________________________
Nama : Lilias Coksumbar.
Ras : vampir.
Level : 90.
HP : 18000/18000
MP : 36000/36000
SP : 36000/36000
Skill :
-kesucian (sharity)
-kemalasan (sloth)
-kerakusan (gluttony)
-nafsu (lust)
-Manipulasi darah.
-Manipulasi elmen.
-Atlit bumi.
-Pencak Silat.
-Deteksi.
-Langkah bayang.
-Transformasi kelelawar.
-Regenerasi HP.
-Regenerasi MP
-Regenerasi mana
-Dimensi
-Pesona wanita:
Penampilan user mulai dari kebersihan sampai kecantikan, akan selalu dalam kondisi sempurna tanpa berdandan.
Element:
air,kegelapan.
koin : 12.038.000
[Status] [Quest] [Shop] [Inventori]
___________________________________
"Aaa!! Apaa iniii!!" Tanpa sadar teriakku sambil berdiri dari kursi.
Setelah cukup lama aku bergulat dengan pikiranku, aku mulai sadar kembali dengan perutku yang sakit, dan merasa ada sesuatu yang mengalir di bawah, sedikit bau amis.
"Lilias sayang, kamuuu?" Ucap mama melihatku dengan senyum-senyum nakal.
"Ma ,mama, ada apa denganmu, aku lagi sakit lho, kepalaku mulai pusing." Ucapku kesal melihatnya.
"Iya iya, sini ayo ikut mama." Ajak mama sambil berdiri.
Tapi sebelum menjawabnya, tiba tiba pandanganku mulai memudar, terlihat semakin gelap, tubuhku lemas, tapi sebelum hilang kesadaran, mama menangkapku yang hampir jatuh, dan.........lep.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......