
Akademi adalah tempat bersaing, meskipun Jam pembelajaran akademi libur, tapi masih banyak orang yang belajar mandiri maupun unjuk kemampuan bertarung, dan juga para tetua yang rapat.
Tepatnya di kantor tetua.
Terdapat beberapa tetua akademi, mereka melingkari meja dengan wajah serius
"Hari ini aku mendapat kabar, baru saja kerajaan kita kedatangan utusan dari kerajaan Sambac, mereka berkata kalau ada penguasa iblis yang menyusup ke wilayah manusia, tepatnya di kerajaan kita, jadi mereka mengusulkan menunda masalah bilateral." Kepala akademi membuka pembicaraan.
"Kenapa kita harus percaya pada musuh kita, munkin mereka cuma membuat alasan." Audiens.
"Karena mereka sudah mengumpulkan kekuatan dari beberapa kerajaan, dan kita mau tidak mau harus mengikuti rencana, agar tidak dicurigai sebagai komplotan iblis." Lanjut kepala akademi.
"Ha, tapi kenapa kerajaan Sambac bisa mengetahuinya jika iblisnya ada di kerajaan kita." Audiens.
"Aku mencurigai sesuatu.........." Kepala akademi menyipitkan matanya dengan wajah gelap.
.
.
.
.
***
Dalam tepian dungeon, terdapat tiga orang yang sedang duduk istirahat setelah berburu monster.
Satu orang bermain gitar satu orang bernyanyi dan satunya melongo.
"Kuingin saat ini engkau ada di disini
Tertawa bersamaku seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar Tuhan tolong kabulkanlah
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati Ini hanya rindu."
Sekian hanya rindu dari andmesh Cover taiga, ya begitulah taiga memintaku memainkan gitar untuknya.
"Haha, untuk siapa lagumu taiga." Ucapku.
"Bukan untuk siapa-siapa kok, haha." Taiga dengan wajah rumit.
Akira yang melihatnya merasa sedih, terlihat di wajahnya.
'Apa paman memiliki seseorang di hatinya.' Pikir Akira.
"Pulang yok ah, sudah sore." Ajak taiga.
"Yok."
Aku memasukkan kembali gitarku ke Inventori sistem, berdiri mengusap rok yang terkena tanah kemudian merenggangkan badan.
Setelah menghirup nafas panjang, aku membuka portal dan memasukinya, diikuti kedua yang lainya.
.
.
"Ini..." Taiga bingung.
"Kenapa kerumah, terus bagaimana aku menjual material buruan." Ucap Akira.
"Besok saja, kamu sudah lapar kan, sekalian taiga juga." Ucapku.
"Iya juga si." Akira menepuk perutnya.
"Jadi ini rumah kalian ya." Taiga menoleh sekeliling.
"Iya, jadi....... Akira, siapa yang akan masak kali ini." Aku menoleh Akira.
"Aaa!!..........Kamu aja lah, aku mau mandi dulu." Akira yang akan semangat sebelum tergantikan dengan perasaan rumitnya.
Aku melihat Akira yang pergi menuju kamar mandi dengan bingung, setelah Akira hilang dari pandangan, aku menuju dapur untuk membuat masakan, aku mencuci tangan dan langsung mengolah bahan.
"Tidak pakai celemek." Taiga komentar.
"Ho hoo, kamu punya fetish celemek ya." Aku dengan senyum nakal.
"Mana ada, aku cuma tidak mau pakaian dariku kamu nodai."
"HM."
Tanpa percakapan berkelanjutan, aku melanjutkan memasak, dan taiga duduk menunggu di ruang makan.
.
.
Setelah cukup lama, akhirnya Akira selesai dari mandinya, dan dia bisa membantuku menyelesaikan masakan, dan juga membantu menyiapkan makanan di atas meja.
"Waah hebat, tak kusangka anak pemalas sepertimu bisa memasak." Taiga termelongo melihat masakanku.
"Hoo, aku tidak seperti dulu." Aku dengan bangganya.
"Dulu??" Ucap Akira.
"Eh, aaa, dulu aku kan masih kecil, haha haha..........dah ayo makan." Aku mengambil makanan dengan jantung berkeringat.
'Apa Lilias menutupinya dari akira.' Pikir taiga sambil menatapku, kemudian ikut mengambil makanan.
"Nee, sepertinya kalian membunyikan sesuatu dariku, apa sebenarnya kalian kenalan lama." Akira melihat taiga kemudian menatapku.
"Hmm, enak."
"Apa kalian sebenarnya pacaran." Lanjut Akira.
"Bruuffff." Aku dan taiga menyemburkan makanan yang sedang dikunyah.
"Ahaha kamu perlu belajar masak lagi, Lilias." Ucap taiga yang juga dengan senyum canggung.
Akira semakin menatap kami dengan mata tajam.
"Dulu ketika di hutan aku mendengar kamu berkata kepada taiga 'Apa kamu akan menikahiku' apa itu benar?" Lanjut Akira.
"Apa yang kamu bicarakan Akira, kamu cuma salah dengar, iya kan taiga." Ucapku.
"Iya, kamu cuma salah dengar Akira, mana munkin aku menikah dengan anak kecil." Ucap taiga.
"Ciiii." Akira masih curiga.
"Benar kok, kami tidak ada hubungan seperti itu." Aku sambil memejamkan mata.
"Lebih baik kita lanjutkan makanya." Lanjutku.
Akhirnya kami bisa melanjutkan makan, meskipun dengan suasana canggung.
Setelah selesai makan kami cuci mulut dengan air minum, aku dengan minuman darah dari kantong.
"Ini sudah mau gelap, aku pulang dulu ya." Ucap taiga.
"Ah iya iya, maaf menyesatkanmu." Aku membuka portal untuk taiga.
Taiga Diam melihat portal.
"Aku membuat portal menuju tempat yang biasanya sepi di kota kok."
"Oh, oke."
Taiga setelah memastikan, ia masuk portal dan menghilang dari pandangan kami, setelah itu aku mematikan kembali portal itu.
Kini hanya tinggal aku dan Akira, aku masih dengan rasa canggung.
"Nanti akan kuceritakan sebuah kisah, tapi aku mau mandi dulu." Ucapku.
"Hmm." Akira dengan wajah serius.
Aku berdiri dan berjalan meninggalkan Akira yang masih duduk di kursinya.
Aku menuju kamar untuk mengambil handuk, dan menuju kamar mandi.
"Haah, akhirnya aku bisa mengambil nafas."
Aku melepaskan semua pakaianku, kemudian mengisi bak dengan air hangat, sambil menunggu penuh, aku membasuh terlebih dahulu badanku, menyabun kemudian membilas.
Setelah bak terisi penuh aku berendam di air hangat.
"Perasaan, hari ini aku belum melakukan misi harian."
Aku menatap tubuhku sendiri, kemudian sedikit memainkan gununganku.
'Mmm aku tidak akan pernah bosan dengan ini.'
Permainan gunung cukup lama sampai membuat tubuh semakin panas.
"Aahh."
Tanganku menjalar ke bawah, dengan wajahku yang semakin merah.
'Aku ingin itu.'
Dengan tangan kanan aku menyentuh bagian bawahku dengan pelan, dan tangan kiri masih berada di gunung, skill nafsuku semakin mengambil tempatnya.
"Aahh." Ini terasa semakin enak, aku samakin melayang, dan ingin segera menyelesaikannya.
"Apa kalian pacaran." Ucapan Akira menggema di ingatanku, seketika aku mengingat taiga.
'Taiga.'
"Aahh." Aku yang masih bermain.
'Menikah, dan melakukan itu denganya.'
'Tai......Haaaaaa!!!' Seketika aku berhenti dengan jantung yang masih bergejolak.
"Tidak tidak tidaaak."
'Sial, gara-gara Akira aku jadi kepikiran yang tidak-tidak.' Aku dengan wajah merah.
"Tidak tidak, aku harus menghentikan ini." Aku berdiri di bak mandi.
"Sial akiraaaa."
Aku menyelesaikan mandi, kemudian mengeringkan badan dengan handuk, setelah itu aku keluar dari kamar mandi.
Aku menuju kamar, membuka pintu dan melihat Akira yang duduk menatapku, aku membuat senyum pahit.
Tanpa percakapan, aku melepas handuk dan memakai pakaian, melihat ke cermin.
'Uuh aku semakin cantik.'
Setelah selesai berpakaian, aku berbalik arah dan melihat Akira yang masih menatapku, aku kembali dengan senyuman pahit.
"Iya iyaa, akan ku ceritakan dan membuatmu bingung, tapi cukup kamu simpan untuk dirimu saja."
"Hmm hmm." Angguk Akira.
.
.
.
.
Bersambung......