Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 27 Kodok menjijikan.


POV Akira


Hari biasa, setelah Lilias mencapai rank B dia sudah jarang mengambil misi di guild, Lilias dulu sering pergi ke dungeon, tapi dua tahun ini dia mengambil misi hanya untuk membantu Akira, itu pun kadang-kadang.


Akira sebagai seorang yang cukup pendiam, dia sering mengambil misi sendirian, membuatnya kadang merasa kesepian, dia ingin membuat parti dengan orang lain, tapi tidak berani untuk mengatakannya.


Karena Lilias dan Tante Sri pergi untuk menjenguk makam ayahnya, jadi kali ini juga Akira akan mengambil misi sebagai solo player.


"Onegaisimachu." Akira menunjukkan misi yang akan diambil kepada responsis guild.


"Okee, apa kamu akan sendiri Akira Chan." Ucapnya.


"Iya." Angguk Akira.


Biasanya Akira mengambil misi berburu ke hutan hanya ketika dibantu Lilias, dan mengambil misi yang tidak berbahaya ketika sendiri, karena dilarang oleh sandi, namun kali ini berbeda.


'Aku ingin cepat menjadi kuat agar tidak tertinggal dari Lilias, apa daya dia palah sering nganggur.' Akira yang tak tau lagi, cuma dia ingin mencoba ke hutan sendirian.


Akira pergi berjalan menuju hutan bisma, dengan sedikit bekal yang dia bawa dia tidak akan kalah dari cuaca yang akan segera panas.


Dari sudut pandang orang lain, akan sangat mencolok bagi gadis kecil berjalan sendirian ke hutan, jika ada bandit pasti Akira sudah dikarungin.


'Semoga tidak ada bandit atau om pedo.' harap Akira.


Dengan aman dan nyaman, Akira sampai di tempat tujuannya, dengan pengalamanya Akira masuk ke hutan melihat sekeliling mencari monster atau sesuatu yang berharga.


Akira terus berjalan, sampai dia berhenti karena melihat sesuatu yang berharga di depan kakinya.


"Eh ada eek monster, untung gak keinjak." Ucap Akira yang hampir menginjak sebuah petunjuk.


Ya, jika ada eek monster itu bisa menjadi petunjuk bahwa di sekitar sini terdapat monster, Akira segera menyiapkan pedangnya.


Karena suara ucapannya tadi, terdapat monster yang mendekatinya, monster kodok yang seukuran akira, monster berlendir yang membuat risih untuk menyentuhnya.


"Hiiiiiii, a apa ini." Akira yang geli melihat kodok.


Kodok tanpa pikir melompat mendekati Akira, dan menyerang menggunakan lidahnya.


"Haaaa, menyingkirlaah." Akira kabur-kaburan dibuatnya.


kejar kejaran terus berlanjut, sampai Akira tidak punya pilihan lain selain menyerang, sambil menjaga jarak Akira menembakkan bola api andalannya.


"Groook." Elmen api menjadi kounter bagi kodok, membuat kodok berhenti sejenak.


"Hehe, serangan ini berguna."


Kodok tak diam lama, kodok membalas dengan serangan yang sama, hanya melompat menendang dan menjulurkan lidahnya.


Akira sambil menghindar dia menyerang dengan bola api beruntunya, membuat kodok semakin kewalahan.


"Aku tidak mau mendekatinya, tapi kalau ini terus berlanjut aku pasti akan kelelahan." Ucap Akira sendiri.


Akira melanjutkan seranganya, kali ini dia mengumpulkan lebih banyak mana di tanganya, dan sebuah bola api yang besar muncul, dengan tangan lainnya Akira melempar batu untuk membuat kodok membuka mulutnya dan akira menembakkan bola api ke dalam mulutnya.


"Buum." Serangan lumayan kuat sampai membuat suara keras.


Seketika kodok mati dan asap keluar dari mulutnya.


"Haah, akhirnya, tapi bagaimana aku membedahnya, hii."


Dengan perasaan jijiknya, Akira meninggalkan kodok yang habis ia bunuh, kini Akira berenjak mencari mangsa lain.


"Bung."


"Bung."


"Bung."


"Ha, apa lagi ini, suaranya keras." Ucap Akira dengan keringat mengalir di mukanya.


Dengan rasa was was, Akira mencoba mencari tau apa yang menjadi sumber suara itu, tak sampai lama datang juga monster yang membuat mata Akira melebar.


"gwrooowk."


Monster kodok yang lebih besar, tingginya melebihi manusia dewasa, kodok yang warnanya terlihat lebih gelap, dan sebuah cerutu di mulutnya.


"Aa apa, kenapa aku sial sekali hari ini." Ucap Akira mengutuk dirinya.


Akira sadar akan sulit untuk membunuhnya, meskipun bisa itu akan sia-sia karena menjijikan untuk membedahnya, karena dari kodok Akira tidak melihat keuntungan, Akira segera lari menjauh.


Kodok yang melihat juniornya hangus tak tinggal diam, dia mengajar Akira dengan lompatan kencangnya.


"Ampuuun!! bukan akuu." Akira kini cuma bisa lari dan teriak.


"Bung..bung..bung." Suara lompatan menghantui Akira.


"Haaaaa tolong." Jerit Akira.


'Aku harus keluar dari hutan.'


Akira terus berlari keluar hutan, sampai akhirnya dia melihat cahaya, namun sebelum dia sampai keluar hutan, kaki Akira terpleset oleh genangan air.


"Bug."


"Aduuuh, bokongku sakit sekali."


Akira habis pikir, dia tak tau lagi apa yang harus dia lakukan ketika dia melihat kodok telah sampai di sisinya.


"Tolong!" Jerit Akira yang mulai menangis.


Kodok mendapat kesempatan, lidah panjang kodok mencapai tubuh Akira yang terlambat bergerak, lidah basah melilit tubuh Akira.


"Ghooeeek." Akira yang merasa jijik campur takut, dia memuntahkan sarapan pagi dari mulutnya, Akira mulai lemas, sampai tiba seorang pria yang datang membunuh kodok dalam sekejap dengan tinjunya.


"Haa, apa itu." Bingung Akira dengan muka kacau.


Akira melebarkan matanya, dia melihat kodok telah mati, dan terdapat seorang pria yang terlihat sedikit lebih muda dari ayahnya.


.


Setelah selesai berbenah di kamarnya, taiga mengendap pergi keluar menuju kota pinggiran.


'Untung saja wajahku sedikit orang yang tau, jadi aku bisa bebas membuat identitas baru.' Pikir taiga.


Taiga menuju kantor wali kota untuk membuat identitas palsu dengan alasan identitas lama hilang, membuat di kota pinggiran akan lebih aman daripada di ibu kota.


"Siapa namamu?" Tanya bagian pendataan.


"Giyan."


Dan seterusnya.


Kartu identitas ini akan digunakan taiga untuk masuk keluar kerajaan, sebagai tanda bukan seorang kriminal.


Setelah selesai dengan identitas barunya, taiga pergi keluar kerajaan, langkah pertama menuju kerajaan tetangga melewati jalur pinggiran hutan bisma.


Karena tida terburu-buru taiga berjalan cukup santai, langkah demi langkah ia lewati sambil melihat pemandangan yang indah, udara di pinggiran hutan sangat sejuk.


"Andai saja ada gitar aji, pasti menambah estetika suasana."


.


.


.


"Tolong!!!" Teriakan terdengar di mata taiga.


"Eh, sepertinya ada yang minta tolong." Ucap taiga.


Suara hilang begitu saja, membuat taiga menjadi lebih khawatir, apalagi yang dia dengar adalah suara seseorang gadis.


Taiga lari kencang menuju sumber suara, tak sampai lama ia melihat kodok besar hendak memakan gadis kecil, kodok terlihat seperti memiliki kekuatan rank B.


Dengan cepat taiga sampai pada kodok, dan memukulnya dengan keras tepat di kepalanya, seketika kodok tumbang begitu saja, dan gadis yang hampir dimakanya terlihat berantakan.


Air mengalir dari matanya, bubur mengalir dari mulutnya, gadis ini terlihat ketakutan.


"Ee, gadis kecil, kenapa kamu bisa sendirian di sini, di mana orang tuamu?" Ucap taiga melihatnya kasian.


"A aku kesini sendiri." Ucap si gadis dengan wajah kacaunya.


"Eee, di sini kan bahaya, lain kali jangan pergi sendiri lagi, kamu tenangkan diri dulu, ini air." Lanjut taiga memberikan botol air minum.


Gadis ini segera menerimanya, dan ia habiskan untuk membersihkan badanya yang lengket, juga mengambil air minum miliknya untuk membersikan sisa kotoran di badan.


"..."


Setelah terlihat cukup tenang.


"Namamu siapa, dan Kamu dari mana?" Tanya taiga.


"Akira, dari sana." Akira menunjuk arah.


"Akira Chan Sekarang pulang saja, ayo aku antar sampai kota." Ajak taiga.


"Mmmm, terimakasih." Angguk Akira.


Karena merasa cukup sial, Akira hanya bisa memilih untuk mengikuti apa yang di katakan pria di depannya.


Berjalan pelan, keduanya sampai kota dengan lancar di sore hari.


"Apa paman seorang petualang? tapi aku tidak pernah melihat paman." Ucap Akira.


"Yaa, aku baru saja mau mendaftar."


"Oooh, kalau begitu kita sekalian saja ke guild bersama." Ajak Akira.


"Oye." Begitu saja.


Keduanya menuju guild bersama, Akira yang badanya compang camping membuatnya mencolok, namun dia tak memperdulikanya.


Sampainya di gulid, keduanya menuju responsis Yuli.


"Akira Chan, badan kamu kok sampai berantakan sekali." Ucap responsis.


"Aku bertemu kodok besar, untung saja aku terselamatkan."


"Yang penting kamu selamat, lain kali jangan sendirian, memangnya Lilias ada di mana." Lanjut Yuli.


"Lilias sedang ada urusan." Lanjut Akira.


"Lilias?" 'Sepertinya aku pernah mendengarnya.' Pikir taiga.


"Aah, itu nama sahabatku, Biasanya kami melakukan misi bersama." Akira yang di wajahnya mulai terlihat ceria.


"Eeh, kamu tidak tau? padahal dia sering dibicarakan lho, banyak yang mengagumi kecantikannya, hanya saja dia jarang terlihat." Ucap Yuli menghadap taiga.


"Ah saya baru di sini, saya baru saja mau mendaftar sebagai petualang." Lanjut taiga.


"Ooh, begitu ya."


.


.


.


.


.


.


Bersambung.......