
"Eh."
Di tempat yang terang namun kosong, aku terkejut melihat seseorang yang duduk di kursi di depanku.
Seseorang yang kukira Aqua, karena suaranya yang mirip, ternyata bukan dia.
Didepanku, aku melihat seorang gadis sedang memakan cemilan, badanya tidak terlalu besar, gunungnya pas dengan ukuran badanya, rambutnya perak dengan kuncir twintail, matanya merah, telinganya panjang dengan anting , memakai rok hitam dan baju putih motif merah.
"Eh, kamu? kamu? kamu?" Aku bingung dengan apa yang akan ku ucapkan.
"Hai, akhirnya kita bertemu juga, ahaha, jadi malu melihat diriku sendiri." Ucap dia yang ada di depanku dengan tersipu.
Suaranya yang sebelumnya mirip dengan Aqua, kini menjadi sama persis dengan suaraku.
"Diriku sendiri? kenapa aku ada dua?" Bingungku dibuatnya.
"Nanti saja kuceritakan, main dulu yok, akhir-akhir ini aku kesepian, karena temanku pergi." Lanjutnya sambil mengeluarkan dua buah benda kecil berbentuk persegi panjang.
"Eh, handphone!" Ucapku.
"Yah, ni." Dia memberikan handphone padaku.
Aku menerima handphone darinya, sebuah handphone gaming yang dulu selalu kudambakan, dari kelihatanya sepertinya memiliki ram setidaknya 24 GB dan Rom munkin satu TB, memegangnya saja membuat wajahku bersinar.
"Oy oy oy, apa yang akan kita mainkan." Aku membuka handphone, dan menggesek-gesek layar, terlihat di dalamnya memiliki sebuah aplikasi game.
"Kenapa cuma ada satu?" Ucapku.
"Eeh, ini sedang populer kok, pemainnya ramah-ramah dan sopan, munkin kita cuma dua orang, tapi nanti kita dapat tiga tim yang akan saling membantu." Lanjutnya.
"Gas lah, login."
Kami duduk bersebelahan menghadap beberapa cemilan sambil memainkan game.
Aku memakai akun lama kesayanganku, yang pertandingan dari adik kesayangan sudah ada ribuan main.
"Aku pakai Lylia ya." Aku ketika menyebutkan nama adik kesayangan.
"Eh, aku laah, dia adikku." Ucap dia yang di sebelahku.
"Aku lah, aku lebih jago." Lanjutku.
"Aku." Lanjutnya.
"Aku."
"Aku."
"Aku!!" Aku meninggikan suara dengan muka merah.
"Hey! ini handphoneku, jadi kamu harus ngalah." Dia juga meninggikan suara dengan muka yang merah.
"Kamu selama ini sudah banyak bermain, harusnya giliranku." Lanjutku.
"Heleeh, baiklah." Dia akhirnya mengalah dengan wajah kecewa.
Akhirnya kami melanjutkan permainan, aku menggunakan lylia dan dia menggunakan Nana gajah dengan retrinya, sedangkan tiga lainya adalah chang'e, Ruby dan Johnson, aku tidak yakin tapi tetap melanjutkan.
Permainan berlangsung, seperti biasa aku agresif di tengah, dan membuat banyak kill, aku suka ketika musuh berkumpul, sedangkan dia yang di sampingku sedang asik dengan beberapa monster.
"Map map maaap!!" Teriakku.
"Brisik kelelawar mesum."
Kami kembali fokus pada permainan.
"Enmy haslin salen."
"Enmy doble kill."
"Enmy Triple kill."
"Enmy maniac."
"Enmy savage."
"Wape out."
Setelah suara dari handphone terakhir berbunyi, muncul chat di sebelah kiri.
Ruby: Nana bab 1.
Johnson: dasar yatim.
Chang'e: Lylia lon +
"Gimana si kamu mainya." Aku kesal dengan orang di sebelahku, tapi aku tidak ingin memukul diriku sendiri.
"He kau lon +, jangan salahkan aku ya." Ucap dia di sebelahku.
"Hey! siapa yang kamu panggil lon +." Aku kesal dibuatnya.
"Siapa lagi, yang menggoda taiga di kamarnya." Lanjutnya.
Kami kembali fokus pada permainan, jari-jari dengan cepat kumainkan, mataku bergeser kanan kiri.
"Defeat."
"Haaaa!! .......prak!" Aku melempar handphone yang kupegang.
"Hey! itu barang pemberian, bodoh." Teriaknya.
Aku tidak peduli dengan ucapanya, aku hanya ingin makan cemilan yang ada di hadapanku, bermacam ciki-ciki kumakan, cemilan ini rasanya enak, ada berbagai rasa di dalamnya, namun ada satu hal yang baru kusadari.
"He, ini kok tulisannya Jepang, kamu dapat dari mana." Ucapku ketika melihat bungkus keripik.
"Seperti yang tadi kukatakan, aku biasanya bermain dengan teman, dan dia yang membawakannya padaku, tapi sekarang dia sudah pergi, jadi itu cemilan terakhir, untung saja kamu kesini." Ucapnya dengan senyum lembut.
"Teman? siapa dia, apa dia sudah mati." Aku sedikit tersentuh mendengar ceritanya.
"Dia masih hidup kok, kamu munkin tau dia, namanya Aqua, aku mendengar cerita dari juniornya, katanya dia sedang mereinkarnasikan seseorang, tapi Aqua ikut terseret dan terjebak di dunia barunya, siapa ya namanya, Kazu..kazuu, apalah." Lanjutnya.
"Waa, kasian sekali, hehe." Aku dengan bibir terangkat.
.
.
"Jadi, kenapa aku ada di sini, apa aku mati." Aku kembali pada topik pertama.
"Belum, kamu belum mati, dan di sini adalah alam bawah sadarmu." Lanjutnya.
"Alam bawah sadar? jadi kenapa disini ada dua dari aku." Lanjutku.
"Eghm."
Aku terkejut mendengar suara seperti seorang pramugari yang biasanya kudengar, tapi kali ini suaranya keluar dari orang yang terlihat mirip denganku.
"Oy oy, jadi kamu itu sistem." Ucapku.
"Ahaha, aku bukan sistem, sistem itu bekerja otomatis, sedangkan aku cuman pengisi suara saja, dan seperti yang tadi kukatakan, aku dan kamu itu satu orang." Lanjutnya.
"Jadi jiwaku ada dua." Aku berpikir sambil menghadap atas.
"Bukan, jiwa yang sebenarnya ada padamu, sedangkan aku hanya kesadaran lama dengan kekuatan besar." Jelasnya.
"Kenapa bisa begitu? kenapa kita terpisah? dan kapan kita akan menyatu kembali" Lanjutku.
"Lah banyak nanya, nanti ketika kita bersatu kembali kamu juga akan mendapat ingatan yang ada padaku, tugasku mengisi suara sistem agar kamu mau berlatih menjadi kuat, dan bisa menampung kekuatanku." Ucapnya dengan sedikit kesal.
"Ooh, jadi gitu ya, ketika aku menjadi lebih kuat, kita akan bersatu kembali, baiklah aku akan berusaha agar bisa lebih kuat." Ucapku dengan mengangguk.
Tiba-tiba tubuhku perlahan menghilang, sedangkan tubuh dia disampingku bersinar, aku terkejut melihatnya, sedangkan dia memasang wajah cemas.
"Terlambat, sudah terlambat, sepertinya aku sudah ketarik sebelum tubuhmu menjadi kuat." Ucapnya dengan khawatir.
"Lah jadi gimana ini."
Akhirnya tubuh kami berdua menghilang bersama.
***
Di kedalaman paling dasar labirin cebretan, terlihat seekor naga besar berwarna merah yang sedang tertidur, dan tiba-tiba dia membuka mata dengan cepatnya.
"Ini?" Sang naga merasakan perasaan yang familiar.
"Meili, apa kamu merasakanya?" Tiba-tiba terdengar suara yang menggema di kepala sang naga, sontak ia berdiri.
"Iya tuan, aku merasakan keduanya, tapi apakah ini suatu kebetulan?" Ucap meili sang naga.
"Aku juga tidak tau, lebih baik kamu coba selidiki, munkin saja ada masalah." Lanjut suara di dalam kepala naga.
"Baik tuan." Angguk meili dengan senyumnya.
Perlahan tubuh besarnya meili mengecil, dari seekor naga menjadi seperti manusia yang memiliki rambut berwarna merah dan pupil garis vertikal, ia menggunakan baju ala tiongkok tradisional berwarna emas.
Meili menghadap ke atas dengan wajahnya yang terlihat gembira.
"Akhirnya kita akan bertemu lagi ya, Akira."
.
.
.
.
.
Bersambung......