
Di depan gedung yang tinggi, bersama banyak orang kami mengantri untuk pendaftaran, bangsawan, orang kaya, orang miskin di sini tiada beda, semua mengantri tertib.
"Lihat orang itu, aku harus berteman denganya." Beberapa pendaftar laki laki memperhatikan seorang gadis imut cantik berambut perak, mereka tau kecantikannya meskipun dia menutup dengan masker di setengah wajahnya, ya gadis itu aku sendiri.
'Belum juga mendaftar, aku sudah ditandai ya, memang repot menjadi cantik.'
Antrian memiliki ujung berada dalam ruangan, jadi dari luar tidak terlihat apa yang dilakukan di dalam, yang pasti antrian berjalan cepat, dan banyak juga yang keluar bersama dari ruangan itu.
"Banyak sekali yang mendaftar, semoga kita bisa satu kelas ya Akira, munkin kemungkinannya sedikit, tapi jika kita satu kelas kan lebih enak, dan juga kita bisa berangkat pulang bersama, dan juga kita bisa ngobrol bersama ketika istirahat, dan juga jam latihan kita sama, dan juga kita akan dapat teman yang sama, munkin dalam ujian tertulis kita bisa saling mencontek ya." Ucapku.
"Mmm." Angguk Akira.
'Aduh ni anak, bikin matahari makin naik aja.' Pikirku.
Dengan tertib kami mengantri, belum sampai merasa kepanasan kami hampir sampai di dalam ruangan.
'Meskipun antrian panjang tapi ini berjalan cepat.' Pikirku.
Setelah melewati puluhan atau bahkan ratusan orang, akhirnya kami sampai di dalam ruangan.
Dalam ruangan terlihat antrian menjadi bercabang, ternyata di dalam terdapat ada puluhan orang yang mengurus antrian, pantas jika ratusan pendaftar dijadikan di hari yang sama.
Aku dan Akira pergi berjalan bersama untuk jalur yang sama, sampai kami berada di hadapan petugas.
Petugas laki-laki berumur muda, sepertinya dia petugas paling muda di sini, daripada disebut guru, dia lebih pantas disebut senior, dia berambut hitam pendek, memakai jas hitam dan kemeja putih, pakaian yang mirip pekerja kantoran di bumi.
'Ganteng juga, munkin dia banyak wanita di sisinya.' Pikirku.
Pertama yaitu Akira yang di depanku, Akira ditanya mengenai nama, umur, tujuan ke akademi, dan Akira bisa menjawabnya dengan mantab.
"Uang pendaftaran 10 koin emas." Ucap petugas.
Mendengar perkataannya, tiba-tiba Akira terkejut .
'Eh, papa tidak bilang kalau harus bayar, gimana ini, aku tidak bawa uang segitu.'
{1 Perunggu\=seribu rupiah,1 perak\= 10 ribu rupiah, 1 Emas\= 100 ribu rupiah. }
Misi rank C yang biasa Akira kerjakan biasanya bergaji pulihan ribu, sedangkan gaji dari misi Rank B sudah pasti disimpan oleh Akira, karena terlalu banyak untuk gadis kecil membawanya, jadi kali ini Akira tidak bawa uang banyak.
'Dasar papa bodoh, dia membiarkan kami mendaftar tanpa diberi uang, apa dia pikir aku membawa uang kemana saja.' Pikir kacau Akira.
.
.
"Lilias??" Ucapnya dengan mata berkaca menghadapku.
'Eh, padahal dari kemarin dia cemberut mulu padaku, tapi sekarang mau nangis di hadapanku.' Pikirku melihatnya kasian.
Aku juga baru tau kalau harus bayar segitu, tapi aku masih ingat kalau poin sistem bisa ditukar dengan uang, dengan poin yang masih jutaan aku bisa menukar banyak emas.
"Tenang saja, aku bawa banyak kok." Ucapku memberikan senyum ketenangan untuk Akira.
Aku menukar 20.000 poin untuk 20 emas, dan aku berikan kepada petugas untuk membayar pendaftaran kami sekaligus.
"Ini pak, untuk dua orang." Ucapku.
"Baik, kemudian." Lanjut petugas.
Setelah Akira selesai, giliran aku untuk didata, aku ditanya mengenai pertanyaan yang sama seperti Akira tadi.
"Nama Lilias, umur 13 dan ingin belajar banyak sihir." Ucapku.
Ya aku memang mengatakan demikian, sihir memang bisa dibeli dengan poin, tapi jika dengan belajar saja bisa mendapatkannya ngapain harus keluar uang kan.
"Lilias??" Ucap petugas, ia menatapku dengan cermat.
"Ada apa pak."
'Eh, apa dia kenal aku? apa aku ketahuan?.' Pikirku.
"Tidak, lanjutkan saja, nanti kalian pergilah ke gedung latihan untuk dites kemampuan kalian, di sini ada denahnya." Ucap petugas memberikan sebuah buku berjudul 'akademi lienan' dan juga kertas pendaftaran kepada kami.
'Lienan? cina sekali, haha.' Pikirku melihat buku itu.
"Terimakasih pak, kami segera pergi."
"Iya."
Setelah selesai dalam pendataan, kami segera keluar dari ruangan.
Aku membuka buku baru, di dalam terdapat berbagai panduan mengenai keakademian, mulai dari denah, peraturan akademi, panduan nilai, panduan ujian, panduan kelulusan dan berbagai event semesteran.
Mengikuti denah di buku, kami berjalan menuju gedung latihan atau gedung olah raga.
.
.
Sesampainya di gedung yang luas, kami melihat banyak orang sedang melakukan tes, ada yang sedang menonjok samsak yang terdapat angka kekuatan, ada yang menembakkan sihir pada sebuah lingkaran.
"Kalian, kemari."
Banyak alat yang di gunakan untuk tes, jadi tanpa antrian kami bisa tes dengan cepat, petugas membawa kami untuk tes kekuatan.
"Berikan kertas pendaftaran kalian." Pinta petugas.
Kami memberikan kertas yang di dalamnya terdapat data tentang kami yang telah ditulis oleh pendata sebelumnya, hanya saja bagian kekuatan fisik dan sihir dan masih kosong.
"Akira ya, silahkan tonjok samsak ini sekuatmu." Ucap petugas.
"Baik pak."
Pertama Akira yang maju, dia menojok samsak dengan kuat, dan layar di atasnya muncul angka 120.
"Wah hebat, kamu masuk 10 besar." Ucap kagum petugas.
Banya orang di sekitar memperhatikannya dengan kagum, Akira seketika menjadi pusat perhatian, dan banyak pria yang menandainya.
Akira sejak dulu sudah banyak latihan untuk pedang, jadi fisiknya juga pasti ditingkatkan, apalagi dia sering berlatih denganku.
"Lanjut Lilias."
Kemudian giliranku untuk maju.
'Bahkan Akira sudah termasuk hebat ya, jika aku mengeluarkan kemampuan asliku, bahkan kepala sekolah akan tunduk padaku, pasti merepotkan.' Pikirku.
Aku menekan kekuatan, aku menyamakan kekuatanku seperti Akira, aku menduga kalau tes ini untuk membagi kelas, jadi agar kami tidak terpisah kelas aku harus sama denganya.
Dan juga aku memukul samsak ini tanpa banyak gerak, karena telingaku hanya kututpi dengan rambut, jika bergerak aktif bisa ketahuan.
"wiing dok." Suara samsak yang menunjukkan angka 130.
'Aduh meleset.'
"Wah sangat hebat." Kaget petugas, dia mencatat angka di kertas pendaftaran.
"Ini kertasnya, bawa ke bagian sihir." Ucapnya.
"Baik pak."
.
.
Menuju tes sihir, bertemu petugas baru, dan kamu menyerahkan kertas pendaftaran kami padanya.
"Mm kalian hebat dalam fisik, kali ini kalian incar lingkaran dari kayu itu, melesat, mengenai atau menghancurkannya akan berbeda nilainya." Ucap petugas.
Seperti biasa, Akira yang duluan maju, agar aku bisa menyesuaikan kekuatanya, dan benar Akira menembakkan bola air dan menghancurkan target.
Masih menjadi pusat perhatian, karena hanya sedikit yang bisa menghancurkannya, tentu saja karena meskipun muda tapi Akira sudah menjadi petualang di saat anak lain sedang bermain rumah.
'Sasuga xiao Ki chan, adik didikku sayang, haha.' Pikirku dengan bangga.
Seperti rencana awal, aku menyesuaikan ukuran kekuatanku, dan menembakkan bola air untuk menghancurkan papan.
"Wah hebat, kalian pasti bisa masuk kelas S." Ucap petugas.
Kali ini kertas kami tidak kami bawa, karena kertas pendaftaran dibutuhkan oleh pihak akademi untuk hal kedepanya seperti pembagian kelas maupun fasilitas lain.
Di situlah pendaftaran berakhir, kekuatan fisik dan sihir sudah mencerminkan pengetahuan, jadi di akademi tidak perlu tes pengetahuan.
Setelah semua proses pendaftaran selesai, kami segera pergi, rencananya kami ingin keliling akademi mengikuti denah, tapi menjadi pusat perhatian membuat sesak nafas.
***
Pergi dari akademi, dan kini kami sampai di kota.
"Te terimakasih." Ucap Akira dengan lirih.
"Apa, kurang jelas."
"Terimakasih uangnya, nanti pasti kukembalikan." Ucap Akira yang memalingkan muka dengan pipi merah.
"He~ lucunya, kemana perginya muka yang lesu itu." Ucapku dengan senyum nakal.
Akira semakin menjadi malu dengan perkataan kami, dia masih memalingkan wajahnya.
"Apaan si kamu." Ucap Akira.
"Tenang saja, tidak usah kamu kembalikan, anggap saja sebagai permintaan maaf dari onee-chan untuk adik tersayang." Ucapku merangkul Akira dari belakang.
"Siapa yang kamu panggil adik ha!? Lilias bodoh."
"Iya iya ah, selagi belum sore kita beli makan yok, aku yang traktir." Ajakku.
"Hmm, baiklah, kamu yang traktir kan."
Meskipun Akira masih terlihat jengkel, tapi karena dia sudah berbicara padaku, aku jadi merasa lega. kami berjalan keliling kota, mencari tempat makan yang enak.
"Lilias, aku mau itu." Akira menunjuk toko kue.
"Iya."
"Lilias, aku mau itu." Akira menunjuk martabak terang bulan.
"Iyaa."
"Lilias, aku mau itu." Akira menunjuk warung seblak.
"Iyaaa."
"Lilias, aku mau itu." Akira menunjuk bakso pentol.
"Iyaaaa."
"Lilias, aku mau itu." Akira menunjuk warung rujak.
"Iya dah, beli aja semua, biar gemuk sekalian." Ucapku dengan tenang.
"Lah kok gitu, katanya mau trak....."
Sebelum aku sempat menjawabnya, datang seorang yang kami sangat kenal.
"Paman, apa paman juga sedang jalan jalan." Ucap Akira dengan senyum bodoh.
Aku melihat arah yang dilihat Akira, dan benar ada taiga di sana yang membawa banyak makanan yang tebungkus plastik.
"..." (emot batu.)
'Kalau ada taiga, baru kau tersenyum ya, dan kenapa taiga selalu di sini, apa dia benar meninggalkan kerajaanya.'
"Iya ni, aku habis cari makan, kalian dari mana?" Ucap taiga.
"Kami habis mendaftar dari akademi, mau cari makanan, apa paman mau ikut?" Ajak Akira.
'Hah, apa.' Kagetku dibuatnya.
Sebelum terdengar jawaban, aku menatap tajam taiga, mengarahkan tekanan padanya, membuat taiga terkejut.
Akira terlihat heran ketika melihatku menatap taiga dengan sinis.
"Lain kali aja, aku masih ada urusan, haha." Ucap taiga dengan senyum canggung.
'Kenapa denganya, apa perkataanya ketika di hutan itu bohong, .' Pikir taiga.
"Katanya mau jajan, ayok lah nanti keburu sore." Aku menarik lengan Akira.
"Sampai jumpa paman." Lanjutku.
"Sampai jumpa paman." Akira juga.
"Iya, kalian hati-hati ya, akhir-akhir ini banyak penculikan."
Tanpa banyak peduli, kami pergi meninggalkannya.
"iya."
'Paling tidak aku masih tau lokasinya, jadi aku bisa tau keadaanya.' Pikir taiga yang tertinggal.
.
.
.
.
Bersambung......