
Di suatu tempat yang rumnyam karena cahaya begitu redup untuk menyinari malam yang gelap, terdapat beberapa pria berotot yang membawa seorang gadis imut nan cantik, gadis ini masih pura-pura pingsan, dare ka Sono kanojo, so ,watashi desu, Lilias.
Aku di bawa oleh beberapa orang sampai di tempat gudang yang tidak terawat.
'Aduh, tubuhku semakin aneh, obat itu sedikit berefek padaku.' Pikirku mengingat obat yang kukira obat bius.
"Bos, aku membawa gadis yang dibicarakan sebelumnya." Ucap pria yang memanggulku, pria itu menaruhku di atas meja dengan sopan.
'Hmm sudah sampai ya, munkin aku segera membunuh mereka saja.' Pikirku.
"Haha bagus bagus." Bos penculik mendekat ke arahku.
"Hmm dia? memiliki telinga panjang? dia bukan manusia." Ucap bos itu dengan kaget.
"Apa? ..... iya bos." Penculik yang baru saja sadar.
"..." Aku dengan emot batu.
Karena telingaku hanya kututupi dengan rambut, itu bisa terlihat jika aku banyak bergerak, aku baru saja menyadarinya, sepertinya penculik yang membawaku juga tidak memperhatikannya.
Mendengar perkataannya, aku sudah tidak punya pilihan lagi selain beraksi, karena ternyata sudah ketahuan, aku kemudian bangun dengan tubuh yang semakin panas.
"Haaah, kalau sudah ketahuan, aku tidak punya pilihan lain selain membunuh kalian." Ucapku yang terbangun di hadapan mereka.
"A apa? dia bangun." Kaget penculik yang membawaku.
Aku bersiap bertarung, aku mengeluarkan sabit gutemalaku dari sistem, keajaiban ini membuat para penculik waspada, namun sebelum aku beraksi, tiba-tiba datang seseorang yang mendobrak pintu dari luar.
"Lilias !?" Ucapnya.
"Taiga? kenapa kamu ada di sini?" Bingungku melihat taiga yang datang tanpa diundang.
"Siapa kamu, apa kamu mau cari mati ha?" Bos penculik yang melihat taiga dengan mata sinis.
"Kamu baik-baik saja, syukurlah." Lanjut taiga tanpa peduli perkataan penculik.
"Sebenarnya aku tinggal di sekitar sini, aku melihatmu berkeliaran dan dibawa oleh beberapa pria, aku khawatir dan mengejarmu." Lanjut taiga.
'Khawatir? yah taiga memang orang yang selalu baik padaku.'
"Aku baik-baik saja, lebih baik kamu coba telusuri gudang besar ini, munkin ada seseorang yang mereka culik, karena mereka penculik yang baru-baru ini jadi berita." Ucapku menoleh ke taiga.
"Ooh jadi ini markasnya, baiklah, mereka kuserahkan padamu." Ucap taiga yang percaya padaku, taiga sadar jika kekuatanku lebih baik darinya.
Taiga hendak bergerak menelusuri gudang, namun dicegat oleh para penculik, taiga berhenti sejenak.
Aku yang merasa mereka abaikan, aku tak Tinggal diam, dengan cepat aku memotong beberapa orang yang menghadang taiga, para penculik yang tidak memiliki kesempatan untuk bergerak mereka hanya terkejut.
Mereka sangat terkejut dengan gerakanku yang cepat membuat kepala temanya tiba-tiba terjatuh dari lehernya.
"Aiyya, bukankah kubilang kalau lawan kalian adalah aku, kalian sangat tidak sopan untuk mengabaikanku....seep." Aku menjilat darah yang menempel di sabitku.
"Hmm, darah kalian lumayan juga ya." Ucapku dengan senyum manis.
"Ha, apa? kenapa mereka tiba-tiba mati." Ucap penculik dengan keringat dingin, dan bosnya juga menanggapi dengan decakan lidah.
Taiga yang masih berdiri melihat aksiku dia hanya tersenyum masam, namun taiga melihat kesempatan dan segera bergerak menelusuri gudang.
Kini di ruangan ini hanya tinggal bos penculik dan beberapa bawahanya, mereka semua terdiam memikirkan apa yang akan terjadi, tapi dengan sedikit ketenangan mereka, mereka membuat posisi menyerang dengan pedangnya.
"Kepung dia...hajar bersama-sama." Perintah bos.
Dengan perintahnya, para bawahan itu menyeraku secara bersama, namun hanya dengan putaran sabitku, mereka semua terbelah bersama.
"Aduh, kenapa sangat lemah, munkin kamu bisa menghiburku." Ucapku dengan senyuman menoleh ke bos yang tinggal sendirian.
"Ba bagaimana munkin, mereka petualang rank B lho, sebenarnya siapa kamu." Ucap bos terbata.
"Aku? kamu kan tau kalau telingaku panjang."
Aku kembali menjilat sisa darah di sabitku, dan tersenyum menunjukkan taring panjangku.
Bos itu yang melihatnya terkejut dan berkeringat.
"Telinga panjang itu? taring itu? ka kamu elf darah?, tapi seharusnya mereka sudah punah, bagaimana munkin masih ada di sini." Ucap bos ketakutan.
"..."
"Elf darah? kamu menyebutnya seperti itu ya."
.
.
'Aduh, ini bermasalah.'
Setelah sedikit mengulur waktu, tiba-tiba aku merasakan tubuhku semakin memanas, semua area sensitifku terasa gatal, aku membungkukkan tubuhku, aku memeluk diriku sendiri.
"Haah, haaah."
'Sistem, apa yang harus dilakukan.' Ucap dalam batinku ketika nafasku terengah-engah.
Melihatku yang terlihat aneh, bos penculik itu melihat kesempatan, dia segera menyerangku dengan pedangnya.
"Hiyaa, matilaah." Namun serangan Darinya masih bisa kuhindari.
"Berani-beraninya ya kamu mengambil kesempatan."
Dengan sedikit marah dan wajah yang merah, aku dengan cepat menebas tubuh dari musuhku, namun karena aku kurang fokus, aku hanya merobek perutnya dan memotong satu tanganya.
"Aaa, tanganku." Teriak bos ketika darah mengalir deras darinya, bos ini kesakitan sampai dia sulit untuk melanjutkan pertarungan.
Aku yang sudah merasakan kemenangan, maju ke arahnya dengan berjalan pelan.
"Jangan, ampuni aku."
Tanpa peduli denganya, aku masih maju dan memegangi kepalanya.
"Berteriaklah yang keras, supaya darahmu mengalir lebih cepat."
"Ampuun..."
Aku mengelus lehernya, dan menancapkan taringku padanya, mengisap darahnya sampai kering.
"Haah, selesai juga."
Setelah aksiku selesai, aku menyimpan kembali sabitku, dan duduk bermeditasi untuk menenangkan tubuhku.
.
.
.
Tak lama kemudian, akhirnya tubuhku mulai normal kembali tepat dengan kedatangan taiga yang membawa lima anak kecil.
Anak yang dibawa taiga sepetinya anak orang kaya, pakaiannya terlihat seperti seorang bangsawan, namun aku tidak terlalu peduli.
"Apa kamu baik-baik saja." Tanya taiga setelah kedatangannya.
"Aku baik-baik saja, lebih baik kamu antar mereka ke rumahnya, aku mau pulang." Aku mengatakannya sambil berenjak pergi.
"Tunggu." Ucap taiga.
"Ada apa." Aku menoleh arah taiga yang sedang menyipitkan matanya.
"Hmm, kenapa tidak sekarang saja, ini sudah malam lho." Lanjutku.
"Iya aku tau, tapi biasanya kamu bersama Akira, jadi aku tidak bisa mengatakannya, apalagi kamu selalu seperti menghindariku." Ucap taiga dengan wajah serius.
"Eh?...... baiklah ayo kita pergi." Ucapku dengan terpaksa.
'Aku akan malu jika menghindarinya lagi, lebih baik aku turuti kemauannya.'
"Nee, rumah kalian ada di mana." Aku menanyakan tempat tinggal kepada anak yang menjadi korban, tentu dengan senyuman agar tidak menakuti mereka.
"Ano kak, rumahku tidak dibawa." Ucap salah satu anak, umurnya sekitar 10 tahunan.
"Yasudah, kalian pulanglah sendiri saja, karena kami tidak tahu alamat kalian, oke?" Ucapku dengan sedikit kesal.
"Baiklah kak."
"..." Taiga memasang emot batu.
***
Setelah meninggalkan para anak yang diculik, aku mengikuti kemana taiga berjalan, kami saat ini hanya berjalan di pinggir jalan di bawah rembulan malam, dan aku cuma diam menunggu sampai taiga berbicara.
"Etoo, Lilias, apa kamu masih menyimpan dendam padaku?" Ucap taiga membuka perbincangan.
"Tidak."
"Apa kamu masih ingin berteman denganku?" Lanjut taiga.
"Iya."
"Tapi kenapa kamu selalu menghindariku?" Lanjut taiga.
"Tidak kok."
"Lah, setiap aku bertemu kamu yang sedang bersama Akira, kamu selalu membawa Akira menjauh." Lanjut taiga.
"Tidak, itu perasaanmu saja."
"Lilias, tolong jawablah dengan serius, apa kamu sebenarnya memaafkaku." Ucap taiga yang wajahnya semakin serius.
"..."
Wajah taiga sangat serius, membuatku tak tega untuk mengabaikanya.
"Haah."
"Bagaimana aku bisa memaafkanmu, kamu melubangi perutku sangat besar, baju kesayanganku harus kubuang, bahkan hatiku hancur, dan kamu cuma minta maaf." Ucapku yang masih berjalan.
"Ketika di hutan dulu kamu bilang sudah memaafkanku." Lanjut taiga.
"Ya karena kamu cuma mengucapkan kata maaf, masa aku harus meminta-minta sesuatu padamu, kan kamu yang minta maaf, harusnya kamu yang inisiatif dong." Ucapku dengan menyilangkan tangan.
"E, yaa, baiklah, lain kali aku akan memberikan sesuatu padamu, tapi kamu jangan menghindariku terus lah, padahal dulu kita sering bermain berdua." Lanjut taiga.
'Hmm, iya dulu tiga seperti kakaku sendiri.' Pikirku mengingat masa lalu.
"Iya iyaa, aku tidak sampai segitunya banget."
.
.
.
Kami hanya berjalan tanpa arah, sambil mendengar ocehan taiga hanya membuatku lelah, jalanku juga semakin malas.
"Mumpung masih ada warung yang buka, kita jajan dulu yok, aku yang traktir." Ajak taiga.
'Traktir? traktiiiiiir!!'
"Ayo, sudah lama kita tidak makan bersama." Anggukku.
"Kamu mau makan apa?" Tanya taiga.
"Terserah dah."
"Kalau begitu kita beli kue krim, kulihat kamu sangat suka." Lanjut taiga.
"Masa malam-malam begini makan krim, perutku lagi dingin nii."
Taiga sedikit memikirkanya, setelah malam-malam bertarung, memang membutuhkan makanan hangat.
"Kalau begitu beli mie saja."
"Haaah kamu bodoh ya, kalau sebelum tidur makan mie bisa-bisa badanku gemukan."
'Iya juga.' Mendengar jawabanku, taiga sedikit nyengir di bibirnya.
"Kalau begitu kamu mau makan apa?" Lanjut taiga bertanya.
"Terserah."
'Apaan dah taiga ini, kenapa dia tidak peka, beda sama dulu.' Pikirku kesal dibuatnya.
Kami masih berjalan belum menemukan tujuan, sampai aku melihat sesuatu yang menarik.
"Oyy taiga, ternyata di dunia ini ada es krim, beli es krim yok." Aku segera menuju penjual es krim tanpa menunggu jawaban dari taiga.
'Bocah ini!! apa benar dia dulunya aji.' Kesal taiga yang terpendam.
Dengan suka cita, akhirnya taiga membeli es krim bersamaku, kami mencari tempat duduk di pinggiran jalan, sambil duduk berdampingan kami makan bersama.
'Ya, yang duduk di sebelahku memang bukan aji, tapi lilias, dia sangat imut ketika makan es krim dengan tenang.' Pikir taiga yang melihat gadis imut di sampingnya.
"Nee, kenapa kamu meninggalkan kerajaan sambac, kamu kan pahlawanya mereka?"
"Eghmeh." Taiga tersedak setelah tersadar dari lamunanya.
"Bagiku, dunia ini adalah tempat asing, yang kukenal di sini cuma kamu, bagaimana munkin aku membantu kerajaan yang akan menyakitimu." Ucap pakem taiga.
'Kenapa dia masih peduli padaku, padahal kan aku sudah menjadi orang yang berbeda.'
"Terus apa istrimu kamu tinggal?" Aku bertanya mengingat umur taiga yang sudah bukan remaja, jika aku menghitungnya munkin dia sudah tiga puluhan tahun.
"Eek, se sebenarnya aku belum menikah, aku tidak punya waktu untuk itu." Ucap taiga dengan rasa malunya.
"Ha! hahaha, kamu jadi bujangan tua ya taiga, makanya belajar merayu cewek, teman cewek pun kamu tidak punya pasti ya, haha." Ucapku dengan tertawa lepas.
"Hee, punya kok, kamu kan cewek."
"o_o"
'Aku cewek? katanya aku cewek?' Pikirku yang tanpa sadar pipinya merah.
.
.
.
.
.
Bersambung......