
"Pagiku cerah matahari bersinar kugendong tas merahku di pundak, selamat pagi semua kunantikan like dan komenanmu."
Hari ini hari bahagiaku, kenapa? Karena badanku sudah baikan, aku bernyanyi dengan riang sambil berputar-putar di depan cermin, sambil menggendong tas merah, untuk apa? Ya agar terlihat lebih anggun.
Kalian para laki mah kagak tau kenapa kami para wanita membawa tas, selain untuk aksesoris, tas juga tempat membawa make up, hp, persiapan roti bulanan (pembalut), tisu dan lainya.
.
.
.
.
*Tas dapet dari Sophie*
.
.
"Hehee~
Aku terkaget karena tiba-tiba terdengar suara dibelakangku, sontak aku menoleh ke belakang.
"Na nana! Se sejak ka kapan kamu disitu!!" Ucapku ketika melihat sorang gadis manusia kucing di depanku.
Ya, dia adalah resepsionis yang selama dua hari ini membantuku, selama dua hari aku hanya istirahat di kamar dan Nana adalah yang selalu merawatku.
"Pagiku cerah matahari mene nene nee nee ne like komen." Nana bernyanyi aneh dengan berputar-putar, munkin dia melihatku bernyanyi tadi.
Sebenarnya ketika nana menyanyikan lagu tadi meskipun salah, terlihat imut, tapi entah kenapa aku merasa kesal melihatnya menirukanku, mukaku terasa semakin panas.
"Berhenti!!" Ucapku sedikit keras, karena aku merasa malu.
"Hehe, lilias, kamu sangat imut tadi." Muka nana terlihat bersemangat ketika mengatakanya.
"A a apa yang kamu katakan bodoh, kerja aja sonoo."
Yah, dia sekarang adalah temanku, jadi aku memberitahukan nama asliku, tetapi aku memintanya agar tetap memanggilku sylphie ketika di depan umum.
"Iya iya, ini aku bawakan makanan nyaa."
"O oke, terimakasih."
Setelah dibawakan makanan oleh nana, aku segera memakanya, karena aku ingin segera pergi.
***
Setelah selesai makan, aku mengambil semua barangku kemudian turun untuk menemui resepsionis nana temanku.
"Nana, aku pamit ya." Ucapku sembari senyum manis.
"Kamu yakin ingin ikut turnamen, kan kamu baru saja sembuh nyaa." Nana terlihat khawatir mengingat keadaanku sebelumnya.
"Tenang nyaa, kau lihat, aku sangat kuat sekarang." Aku sambil pose binaragawan.
"Yaudah ayok, tunggu sebentar ya."
"Eh, emang kamu mau ikut?" Tanyaku.
"Yaiyalah, aku khawatir sama kamu nyaa, tunggu sebentar." Setelah mengatakanya, nana pergi masuk entah apa yang dilakukanya.
.
.
Setelah beberapa menita nana keluar, aku terkaget melihat nana sudah berganti skin, dia menggunakan kostum gajah, dan membawa bintang di tanganya.
"Eeee siapa sangka!!!" Kagetku ketika melihatnya.
"Apa maksudmu nyaa?" Nana memiringkan kepalanya.
"Nggak, ayo berangkat."
Aku masih tidak menyangka, kalau nana ini adalah nana yang itu, oo, apa munkin cuma mirip aja ya, lagian kemarin aku bertemu juga dengan ayaka.
"Berangkaaat!!"
'Aduh, kenapa aku jadi ekspresif banget ya, kek anak kecil, apa karena aku sedang bersama anak kecil, entahlah.' Aku yang merasa ada yang mulai aneh pada diriku.
Kami berdua berjalan menuju tempat turnamen dilaksanakan, yaitu di stadion atau lapangan atau colosseum, apapun itu yang penting mirip.
Di perjalanan, kami menjadi pusat perhatian orang, tentu saja karena di sebelahku ada orang bodoh yang berjalan di tempat umum memakai kostum gajah, kan ini bukan acara cosplay.
"Hei lihat mereka, lucu sekali melihat mereka berdua." Beberapa orang berbisik tentang kami.
"Iya, yang satu pakaianya lucu sekali, dan satunya hehe, dia membawa tas yang ukuranya lebih besar dari tubuhnya." Mereka masih melanjutkanya.
"Iya, bro ada karung gak, gua pengen ngarungin salah satunya."
'A apa, kenapa aku kena si, padahal dulu ketika aku melihat gadis SMA memakai tas seperti ini menjadi terlihat keren, tapi kenapa aku yang memakainya masih aja dikira anak kecil, memang si badanku bisa dibilang loli munkin, tapi kan oppaiku seukuran gadis SMA.'
Pikiranku berkecambuk mengingat harapan tak seindah kenyataan, aku terlalu memuji tas ini, tas sialan, sebenarnya isinya apa si.
Seperti yang kalian tau, aku sudah cantik meski tanpa make up, aku juga tidak punya hp, dompet juga ada di sistem jadi sebenarnya aku tidak menaruh barang apapun di tas, dan juga aku tidak tau kenapa, sudah beberapa minggu aku telat menstruasi, apa aku terkena suatu penyakit.
Lama lama aku kesal menjadi perhatian banyak orang, mereka memuji tidak sesuai harapanku.
Setelah kami berjalan melewati badai dan api, akhirnya kami sampai pula di colosseum, segera kami mendaftar untuk menjadi peserta.
Melihat kami yang terlihat imut, petugas di sini terlihat tidak yakin dan khawatir, tapi dengan banyak negosiasi akhirnya kami bisa ikut juga.
"Mari kita berjuang nyaa." Ucap nana sambil mengangkat kepalan tangan.
"Nyaaa." Entah kenapa aku terpengaruh.
**
Setelah pendaftaran selesai, semua peserta menunggu di sekitar lapangan, ketika melihat sekeliling, terlihat tempat penonton bertingkat, dan paling mencolok berada di paling atas yaitu VIP, aku kenal dia, yaaa nephi phelia!
'Ayyaa sepertinya dia sedang mengamatiku.' Mata kami bertemu.
Aku hanya melihatnya sekilas karena seorang MC mengumumkan dimulainya turnamen.
"Baiklah, perhatian pada seluruh peserta, turnemen kali ini peraturanya sedikit berbeda dari biasanya, kali ini tidak menggunakan pertempuran PvP namun menggunakan sistem brawl, jadi semua peserta langung saja menuju ke lapangan dan bertanding, yang dapat bertahan paling lama dialah pemenangnya, ini dilakukan agar mempersingkat waktu." MC berbicara melalui pengeras suara.
"Woooo!"
Semua peserta berteriak dengan semangatnya, tidak terkecuali aku dan nana.
Karena menggunakan sistem brawl, aku dan nana memiliki kesempatan untuk bekerja sama, nana mage suport, sedangkan aku fighter teruris, ya teruris, aku tadi mengecek tas dan isinya adalah bom, kami akan meratakan lane of dawn.
"Unyaaaa!!!" Aku berteriak dengan semangat, tapi sepertinya aku kebablasan.
"He lihat, bukanya itu nona sylphie, kenapa nona sylphie ikut turnamen." Beberapa ora yang pernah melihatku mulai berbisik-bisik.
"Iya, bukanya nona sylphie seharusnya tidak perlu ikut bersaing untuk hadiah."
"Bagaimana ini, kita pasti akan kalah."
"Hm, hanya karena dia saudari ratu, bukan berarti kita kalah."
Beberapa orang menyadari identitasku, awalnya mereka hanya berbisik-bisik, namun suara itu terus menjalar, hingga semua orang mengetahuinya dan menjadi heboh.
"Waduh, gimana ini, kebohonganku tersebar." Aku mulai panik.
Pikiranku blank, aku tidak tau ada apa denganku, aku merasa seperti bukan diriku, biasanya di momen seperti ini aku akan tenang kemudian mempunyai solusi, tapi sekarang perasaanku telah mendominasi otakku.
Aku menoleh ke arah nephi yang duduk di tempat VIP, terlihat dia sedang melihatku sambil tersenyum, melihat senyumanya aku kembali tenang.
"Oy oy oy, betapa bodohnya aku sampai panik seperti ini, aku kan dewinya dunia ini, kenapa sampai lupa astaghfirullah, kalau ada yang tidak suka samaku tinggal lawan, gitu aja repot, ngapain aku peduli sama identitas."
Aku memantapkan hatiku, aku bersiap mengeluarkan bom bom dari tasku, aku mengamati lawan-lawanku dengan wajah seringai, hingga membuat mereka takut.
"Hey kakak, apa yang kamu lakukan disitu, jangan mengacau acaraku ya." Terdengar sang ratu nephi berteriak padaku.
Banyak orang dari penonton bahkan pemain terkaget mendengar teriakan sang ratu.
.
.
.
Bersambung..