Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 56 Konspirasi global


"Apa kamu menyukaiku." Ucap taiga sambil menatapku.


"Bdum." Detak jantungku semakin menjadi-jadi.


'Apa dia menyadarinya, bagaimana ini.' Aku terlalu gugup menanggapinya.


"A apa yang kamu katakan taiga, ahaha." Ucapku dengan perasaan khawatir.


"Aku sering memperhatikanmu lho, jangan kamu pikir aku seorang anak kecil." Taiga yang masih menatapku.


Aku tidak tau apa yang ia pikirkan tentangku, namun aku merasa khawatir.


'Apa dia menganggapku aneh, seorang mantan laki-laki yang menyukai laki-laki.' Keringat dingin keluar dari wajahku.


Aku memang menyukai taiga, aku ingin terus bersama taiga, tapi ejekan Akira masih membekas di hatiku, aku khawatir jika itu akan membuat dia melihatku aneh dan membuatnya meninggalkanku.


"I itu hanya perasaanmu saja." Lanjutku.


"Lilias, aku mau mengatakan sesuatu padamu." Taiga menjulurkan kedua tanganya hendak meraih tanganku.


"Aku...." Lanjut taiga namun terpotong dengan perkataanku.


"Ma maaf taiga, aku harus segera pulang." Aku dengan cepat pergi meninggalkan taiga yang masih duduk di kursinya.


Keluar dari cafe dan berlari menuju gang sempit.


'Maaf taiga, munkin aku memang orang yang aneh.' Aku berlari sambil meneteskan air mata.


Setelah sampai di gang sempit aku membuka portal dan menuju halaman depan rumah.


'Aaah, ada apa denganku.' Aku mengusap air mata yang menetes.


Setelah merasa lebih baikan, aku membuka pintu dan masuk ke rumah.


Suara pintu membuat orang di dalamnya tergerak, setelah masuk, aku melihat tiga orang yang sedang makan malam, dan dua perempuan di antara mereka melototiku.


"Lilias, jam berapa ini, kenapa kamu baru pulang." Ucap mama.


"Hehe, maaf ma, tadi ada masalah di jalan." Ucapku yang masih dengan wajah sedih.


'Ada apa dengan anakku.' Pikir mama.


"Huuh, kamu itu seorang gadis, jadi harus bisa jaga diri ya." Mama kemudian tersenyum padaku.


'Mama?' Aku tersenyum ringan mendengar ucapannya.


Karena mereka masih makan, jadi aku mengikuti mereka untuk makan malam bersama.


"Bagaimana tadi dengan tokonya." Mama kembali dengan ucapannya.


"Ooh, baik ma, aku bisa mengatasi pelanggan dengan nyaman, bahkan seorang ibu-ibu tidak berani menawar." Ucapku dengan bangganya.


"Wah, kamu berbakat." Mama dengan senyum lebar.


"Haha." Sandi tertawa lepas.


"Baguslah jika tidak ada masalah." Lanjut mama dengan kelembutannya.


'Masalah?' Aku terpikir kembali kejadian sebelum menutup toko, kemudian aku menoleh ke Akira.


"Hmp." Akira memalingkan muka.


"Hehe~"


Aku meneruskan makan malam dengan nyaman tanpa halangan suatu apapun, dan setelah makan seperti biasa kami minum.


"Baiklah, aku mau tidur, kalian bersihkan sisanya ya." Ucap mama.


"Mmm." Anggukku.


"Mama, aku ikut" Sandi dengan senyum bodohnya.


"Ara-ara, kemarilah papa." Mama juga dengan senyum bodohnya.


'Enak sekali ya kalau sudah menikah.' Aku terheran melihat tingkah orang tuaku.


Setelah kepergian kedua orang tua, kini di ruang makan hanya tinggal aku dan Akira.


Aku memperhatikan akira, namun dia masih terlihat seperti sebelumnya.


Untuk menghiburnya aku mengeluarkan gitar dari sistem untuk mencoba bernyanyi.


"Jreng." Petikan pertama gitarku.


Dengan intro: Bm Em D G A D aku mengeluarkan suara dengan sepenuh hati.


Tak pernah kurasakan


Rasa yang telah lama hilang


Kini hadir kembali


Saat melihatmu


Mendengar nyanyianku, Akira memasang wajah penuh makna, sambil melihat wajahnya aku melanjutkan ke bait selanjutnya.


Memiliki dirimu


Namun semua hanya mimpi indah bagiku


Ketika aku menyanyikan bait itu, wajah Akira kembali terlihat kesal.


Aku terus melanjutkan nyanyian tanpa memperdulikan Akira hingga lagu berakhir.


Sekian lagu Tersimpan dari our story.


"Byurr." Akira melemparkan air minum dari gelasnya ke arahku.


"Aah, aku jadi basah, terimakasih atas apresiasinya." Ucapku dengan senyuman.


Setelah menyiramku, Akira pergi ke kamar tanpa sepatah katapun.


"Baiklah, aku sendiri saja yang mencuci piring."


Aku memasukkan kembali gitarku, dan berenjak mencuci piring.


***


Istana kerajaan Tanjun.


Dalam suatu ruang pertemuan, terdapat banyak orang berkumpul, raja Tanjunlah yang memimpin pertemuan.


"Hadirin sekalian, para perwakilan dari kerajaan lain yang saya hormati, dan juga kepada enam pahlawan yang kami hormati pula, mari kita mulai rapat dengan mendengar informasi dari informan kami." Ucap raja tanjun.


"Baik tuan, saya akan memberikan informasi terbaru yang kami dapat." Ucap seorang informan.


"Ayolah, jangan sampai kami dikumpulkan hanya untuk melawan bocah ingusan." Ucap pahlawan sang pemegang skill dilligence (ketekunan).


"Iya tuan, dulu kami pernah menyegel monster kuat karena kami tidak mampu membunuhnya, dan sore tadi kami melepas monster itu, meskipun dengan sedikit pengorbanan namun kami mendapatkan informasi yang bagus." Lanjut informan.


"Pengorbanan? jangan-jangan kalian membuat monster itu mengamuk." Ucap pahlawan sang pemegang skill mercy (belas kasih) dengan mata sinis.


"Tenanglah tuan."


Sang informan melanjutkan pembicaraanya, dia menceritakan semua informasi yang ia dapat, mulai dari kekacauan desa.


Informan juga menjelaskan apa yang mereka lihat dari kejauhan, yaitu Lilias sang gadis yang mereka curigai dengan mudahnya mengalahkan monster besar, tidak cuma itu, Lilias juga membuat manusia yang sekarat pulih kembali namun dengan wujud yang berbeda.


"Apa?" Para hadirin terkejut ringan.


Informan melihat seseorang yang digigitnya berubah, telinganya panjang rambutnya perak dan matanya merah darah.


"Apa!" Para hadirin semakin heboh.


"Apakah itu benar, bagaimana munkin ras itu masih ada di dunia ini." Ucap pahlawan sang pemegang skill temperance (Kesederhanaan).


"Iya itu benar, kami juga heran, kenapa ras vampir yang kita yakini hanya sebagai mitos kini muncul di wilayah manusia, dan juga sepertinya dia memiliki skill dosa besar." Lanjut informan.


Pertemuan semakin memanas, pembahasan yang di bawa cukup berat bagi para manusia.


"Tidak hanya seorang vampir, namun dia juga memiliki skill dosa besar ya, memang kita harus bekerja sama." Ucap pahlawan sang pemegang skill perseverance (kegigihan).


"Memangnya kenapa dengan ras vampir." Pahlawan sang pemegang skill amal.


"Kamu masih muda ya jadi tidak tau, menurut mitos ras vampir adalah ras pertama di dunia ini, dan dewa yang membuat dunia ini juga dari ras vampir, dikabarkan dia memiliki semua kekuatan yang ada di dunia ini dari berbagai ras yang ada sekarang, namun sekarang tidak pernah terdengar tentang mereka." Lanjut sang pemegang kegigihan.


Semua hadirin yang mendengarnya bertekat bersama.


"Kita memang harus bersatu mengalahkanya." Ucap raja tanjun.


"Iya."


"Tapi ngomong-ngomong kenapa pahlawannya hanya ada enam, bukanya skill kebajikan ada tujuh, harusnya dia dari kerajaan Sambac kan." Lanjut raja tanjun.


"Kami memang memiliki pahlawan yang sudah menghilang, namun dia tidak memiliki skill kebajikan." Ucap sang perwakilan dari kerajaan Sambac.


"Iya, kami juga sudah lama tidak mengetahui siapa sang pemegang skill terakhir." Ucap sang pemegang skill kegigihan.


"Memangnya skill apa itu." Sang raja tanjun bertanya.


"Itu adalah... Chastity (kesucian)."


"Lilias ini adalah keberadaan yang tidak wajar, jadi kita tidak boleh meremehkanya, karena kekuatan kita tidak lengkap kita harus menggunakan cara licik untuk menjebaknya." Lanjut raja tanjun.


"Ayo kita lakukan."


.


.


.


.


.


Bersambung.........