
Di dalam ruang makan, terlihat empat orang yang membuat makanan di meja terbengkalai, makanan terlihat tidak dihargai ketika sang pemilik hanya ngobrol.
"Memangnya ada apa pa, kok serius banget." Ucap Akira menanggapi sandi.
'Yah, aku dah tau si.' Batinku.
"A apa kalian akan merestui, jika kami menikah." Sandi yang mengucapkannya dengan gugup.
Mama yang hanya menunggu jawaban juga terlihat gugup di wajahnya.
"..."
Bahkan Akira terdiam cukup lama melihat tingkah dua orang tua di hadapannya, kami sudah berumur, bahkan gadis bangsawan sering menikah di umuran kami, jadi kami sudah paham dengan masalah ini.
Melihat aku dan Akira hanya diam, dua orang tua menjadi panik berkeringat.
'Apa Lilias akan menolak, maaf Lilias Chan, padahal munkin baru kemarin kamu kehilangan papamu.' Pikir Solaya.
'Bagaimana ini, mereka cuma diam.' Pikir sandi.
"Anoo." Sandi meminta jawaban.
"Kenapa kalian baru mau menikah, padahal hidup serumah sudah lama." Ucap Akira.
"So Soo, padahal aku dan Akira sudah lama menjadi saudara.... payah." Ucapku sambil menyilangkan tangan di bawah dada.
"Eeeeh." Terkejut dua orang tua.
'Kasian, padahal munkin mereka sudah gatal, tapi takut tidak mendapat restu dari kami.' Pikirku.
"Jadi kalian setuju ?" Ucap sandi memastikan.
"Iyaa~." Ucap aku dan Akira bersama.
"Terimakasih Lilias Chan, Akira Chan." Ucap mama, dilanjutkan sandi meniru mama.
Dengan sedikit percakapan, akhirnya dia orang tua ini menjadi lega, mereka merasa senang dengan apa yang mereka dapatkan.
"Jadi kapan kalian akan menikah, dan bagaimana prosedurnya, kan mama bisa saja ketahuan." Ucapku.
"Munkin tidak lama lagi, dan tenang saja, yang mengurus pernikahan adalah temanku, apalagi hubungan kerajaan Tanjun dan Sambac semakin tidak baik, jadi kemungkinan informasi bocor sangat sedikit." Jelas sandi.
"Ooh, sukurlah kalau begitu, sekarang kita lanjut makan dulu." Ajakku.
Setelah selesai berbincang, kami bisa makan dengan nyaman sambil membahas apa yang akan dilakukan kedepanya.
Setelah makan, semua mengambil minum untuk melancarkan tenggorokan, tidak terkecuali aku, namun beda air yang kami minum, aku mengambil kantong darah dari penyimpanan, dan meminumnya dengan gelas.
Orang tua yang melihatku terlihat belum terbiasa dengan pandangan ini, kecuali Akira yang sudah sangat sering melihatku meminum darah, bahkan aku pernah meminum darahnya.
"Gluk gluk gluk, Aah." aku yang minum tanpa beban.
"Mama, paman, di antara aku dan Akira, siapa yang akan jadi onee-chan?" Tanyaku untuk memastikan.
"Eh itu."
Akira yang mendengar perkataanku dia tiba-tiba tersadar, kami berdua merasa khawatir untuk sebuah posisi, sebelumya juga kami pernah berdebat untuk siapa onee-chan.
"Akira lahir pada tanggal 30/12." Ucap sandi.
"Kalau Lilias 12/12, jadi duluan Lilias, apalagi Lilias sudah pubertas duluan, sepantasnya dia jadi onee." Jelas mama.
"Ooh."
"Kau dengar itu, Akira CHAN." Ucapku menoleh Akira.
"Hmph." Akira membuang muka dengan pipi merah.
"Aiyya, kalian lucu sekali." Mama yang tersenyum lebar.
"Haha." Sandi.
Karena hari sudah malam, aku pergi ke kamar untuk tidur, saat ini mamaku masih tidur denganku.
.
.
.
Matahari menampakkan dirinya yang menggantikan bulan, semangat mulai berkobar mengiringi indahnya pagi.
Hari indah datang, karena setelah mendengar kabar gembira, dan juga ini waktuku untuk mendaftar akademi, tentu dengan Akira.
Aku berenjak pergi dari kamar hendak menuju dapur untuk menyiapkan makanan, aku dan Akira secara bersama sampai di dapur dan disambut mama yang sudah mengurus makanan sendiri.
"..." (Emot batu).
'Apa ini? mode pengantin baru?' Pikirku.
"Kalian harus segera mendaftar akademi kan?" Lanjut mama.
"Iya, kami harus berangkat pagi, karena belum tau aturan akademi." Ucap Akira.
Hari ini kami memang cuma mau mendaftar, hari ini kami munkin akan diberi tahu kapan masuk pembelajaran dan apa saja aturan akademi.
"Kalau begitu biar cepat kita mandi bersama saja yok." Ajakku.
Mendengar ajakanku, Akira memasang wajah sinis, terlihat seperti seseorang yang melihat musuh bebuyutannya, namun seketika wajah itu hilang setelah aku membalasnya dengan senyum ramah.
Akira akhirnya sepakat untuk mandi bersama, seperti biasa kami melucuti pakaian sendiri, mulai dari luar sampai dalam.
"Mmm, sepertinya ini sudah berhenti." Ucapku melihat darah di bawah.
"Ada apa Lilias?"
"Ini, masa bocorku sudah berakhir." Jelasku.
"Oooh." Akira yang belum pernah merasakannya.
Tanpa percakapan berkelanjutan, kami hanya mandi dalam diam, mandi lebih cepat karena tanpa berendam, dan kami langsung keluar ketika sudah selesai.
Kami bersiap di kamar masing masing, aku bersiap dengan cepat, tidak dengan Akira yang sepertinya sudah bisa berdandan.
selesai berpakaian, tepat ketika mama selesai memasak, kami menuju mama dan sarapan pagi bersama.
setelah selesai, aku dan Akira berangkat mendahului mama, berjalan santai menuju akademi, santai membuat suasana nyaman, apalagi ketika melihat pagi yang cerah di pinggiran jalan, tapi ada yang sedikit mengganggu, sejak kemarin Akira diam mulu sama aku, sambil berjalan aku membuka suasana.
"Akhirnya kita beneran jadi saudara ya, munkin sebentar lagi kita akan punya adek ya, Akira." Ucapku membuka suasana.
"Mmm." Angguk Akira.
"Amm emm amm emm, apa kamu masih marah samaku?" Lanjutku mengingat wajahnya selalu lelah di hadapanku.
"..." Diam Akira, cuma pipinya yang merah.
'Eh, aku terlihat seperti itu.' Pikir Akira.
"Akira??" Bingungku dibuatnya.
Si Akira ditanya, palah buang muka, ini anak ngeselin banget, setelah membuatku kesal, dia baru membuka suaranya.
"Tidak kok tidak, haha, iya, semoga adik baru kita nanti laki-laki ya, haha." Akira yang terpaksa membalas dengan senyum canggung.
"Iih, bohongnya jelas banget."
Aku tidak tau apa yang ada di pikirannya, apa dia memang marah, atau hanya lelah, atau sedang banyak pikiran, itu sangat menggangguku karena wajahnya.
"Jangan murung mulu la, tidak enak dipandang, sangat." Ucapku.
"Iya iya." Ucap Akira yang tanpa senyuman.
Di sepanjang jalan, kami tidak banyak ngobrol, cuma suara langkah kaki yang jelas, dan akhirnya kami sampai pada keramaian.
Di sebuah tempat yang sedikit berjarak dari pemukiman, ada banyak gedung tiga lantai yang bentuk mereka semua sama, tentu ini adalah akademi.
Di depan gerbang sudah banyak orang yang berkumpul, namun kami tidak peduli dan langsung masuk ke akademi.
"Luasnyaa."
Terdapat lapangan luas, seperti tempat untuk oleh raga atau latihan, dan gedungnya juga tertata, sepertinya tukang bangunan di sini sudah jago.
Pada salah satu gedung, terdapat banyak orang mengantri, ada yang sendiri, ada yang sama temanya, dan banyak yang sama orang tuanya.
'Bahkan mendaftar saja Mengantri, apa mereka kekurangan petugas.' Heranku dibuatnya.
Kami berdua segera mengikuti orang di depan untuk ikut mengantri panjang.
.
.
.
.
.
Bersambung......