Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chap 4. Emosi Jiwaku.


Di sebuah kamar penginapan, terlihat manusia kucing yang berdiri di depan cermin, ah tidak, sebenarnya dia vampir, karena vampir bisa berubah menjadi kelelawar, jadi dia bisa berubah menjadi manusia kelelawar juga, tidak seperti biasanya yang berubah adalah menumbuhkan sayap, tapi kali ini dia hanya menumbuhkan telinganya saja sehingga orang lain mengira dia adalah manusia kucing.


Tentu orang lain tidak tau, karena manusia kelelawar dan vampir itu berbeda, manusia kelelawar adalah manusia yang memiliki sayap, gigi dan telinga kelelawar, sedangkan vampir adalah ras yang bisa berubah seutuhnya menjadi kelelawar atau berubah sebagian saja.


"Hehe Imut." Gadis itu masih menatap bayangan dirinya di cermin.


Siapakah gad.... "Alah bacod." Ucap author terpotong oleh gadis itu karena kesal dengan monolog berulangnya, dia lilias oke.


"Uh, aku lapar, lebih baik aku cari makan sekalian cari informasi, hehee~." Ucapnya sambil tersenyum dengan wajah cerah.


"Sayaang, cuaca dingin, tolong burungnya dimasukin, aku keluar ya, di dalam aja sayang, plok plok plok." Terdengar suara samar dua orang dari kamar sebelah.


Tiba-tiba wajah lilias yang cerah menjadi gelap.


"Siapa lagi ini, yang bawa burung ke penginapan, apa mereka gila, dia tepuk tangan hanya karena wanitanya melarang pasanganya keluar." Ucap lilias dengan wajah datar.


"Tapi sayang, nanti kalau kamu hamil suamimu bakal tau, gak papa sayang hari ini aku aman kok, lagian kemarin aku juga bermain sama suamiku."


Masih terdengar dua orang yang sedang bercakap, mendengar kedua suara tersebut tiba-tiba lilias mengeluarkan aura membunuh.


"Aku benci ini, aku benci." Ucap lilias dengan tatapan dingin.


Tanpa sepengetahuan dua pasangan gila yang sedang bermain burung, lilias sudah berada di kamar mereka, lilias mengeluarkan cakar dari tanganya, lilias menyerang salah satu dari mereka hingga target tak sadarkan diri.


Sebelum pasanganya bertindak, lilias lebih dulu menggigit lehernya, ini bukan gigitan biasa, didalamnya terdapat sihir introgasi, yang membuat lilias mengetahui semua informasi yang dimiliki tubuh target.


"Oooh, jadi nanti akan ada sayembara tahunan ya." Ucap lilias setelah mendapat informasi dari target.


Informasi tersebut sangat penting baginya, jadi di benua beastman akan diadakan sayembara setiap tahunan, kebetulan itu akan diadakan sebentar lagi, banyak orang kuat bersaing dengan kekuatan mereka untuk memperoleh hadiah berharga, kebetulan juara satu akan memperoleh kesempatan untuk berkultifasi di kolam darah.


"Sial, siapa yang mengizinkan kolam darahku sebagai hadiah perlombaan mereka." Mod lilias yang sebelumnya terganggu menjadi semakin kesal.


"Informasinya kurang lengkap, munkin aku akan ikut perlombaan mereka." Ucap lilias dengan kepalan erat.


Tersadar kembali dari emosinya, lilias mengamati dua mayat beastman di depanya, tidak menyianyiakan makanan, lilias hanya mengambil darah mereka kemudian membakar tubuh target.


"Ahaa, akhirnya aku punya persedian, hm darah beastman kurang enak, tapi okelah."


Setelah ucapan terakhirnya lilias menyimpan darah ke infentori sistem kemudian kembali ke kamarnya.


"Aduh, aku lupa tubuhku akan sakit jika menggunakan sihir." Lilias memegang kepalanya, yang terasa mulai tidak enak.


Karena tidak kuat menopang tubuhnya, lilias merobohkan diri ke kasur, karena merasa semakin lemah, lilias mencoba istirahat, berharab keadaanya akan membaik setelah ia bangun di esok hari.


.


.


.


POV aku lilias.


"Kukuruyuuk.""


Suara ayam jago menjadi tanda datangnya pagi, sinar matahari mulai masuk menuju kamarku.


"Aduh." Aku hendak merentangkan tangan, namun tubuhku masih sakit, aku tidak menyangka akan masih merasa sesakit ini, aku menyesal karena tadi malam berlebihan menggunakan sihir.


Semakin lama, rasa sakit yang kurasakan semakin terasa, keringat mulai mengucur dari tubuhku, aku mengeratkan gigi karena menahan sakit, air mataku mulai mengalir.


"Hiks.. Hiks, andai saja taiga menemaniku, padahal kalau aku bisa masuk kolam darah urusanku akan beres, tapi ada apa denganmu taiga, hiks hiks." Karena masih merasa sakit aku meringkukan badan tanpa bangun dari kasur.


"Kenapa bisa sesakit ini, taigaa hiks, akiraa, mama hiks." Aku bergumam sambil memegangi perut.


Aku mngeluarkan sebotol darah dari sistem, mencoba meminum darah yang kudapatkan semalam itu, barharab bisa meringankan sakitku.


Benar saja, memang sakit menjadi lebih ringan namun masih tetap terasa sakit.


Saat aku masih memikirkan tubuhku yang sakit, tiba-tiba datang ketokan pintu dari luar.


"tok tok tok."


"tok tok tok." Ketukan masih berlanjut.


"Nona, apa kamu belum bangun."


Aku masih menangis dalam diam, berharap suara di luar akan segera berakhir dan meninggalkanku disini.


"Mohon maaf nyaa, sebenarnya waktu batas sewa hanya sampai siang, karena anda hanya menyewa satu malam jadi saya harap anda segera bangun dan berkemas nyaa."


Perkataan di luar masib terus berlanjut, aku terkaget dengan maksud kedatanganya, aku tidak sadar kalau aku ternyata cuma menyewa satu malam.


Melihat kondisiku, tak munkin aku mau keluar sambil menahan rasa sakit, lebih baik sekarang memperpanjang jangka sewa.


Aku duduk di kasurku sambil menahan rasa sakit, kemudian menyeka air mata yang masih membasahi wajahku.


"Masuklah." Ucapku sambil membuat wajah tersenyum.


Mendengar jawaban dariku, orang yang diluar pun membuka pintu yang tidak terkunci dan kemudian masuk ke kamarku.


Benar saja seperti dugaanku, dia adalah manusia kucing yang bertugas sebagai resepsionis kemarin.


"Anoo...."


"Eh, nona apa kamu baik-baik saja, anda terlihat seperti sedang sakit nyaa." Ucap gadis resepsionis yang terkejut setelah melihatku.


"Aku baik-baik saja, dari pada itu, aku ingin memperpanjang waktu sewa, munkin dua hari lagi, ini uangnya." Ucapku sambil mengeluarkan uang yang kuambil dari sistem.


"Tidak, jangan bohong nyaa, mata kamu bendul, kamu pasti habis nangis nyaa." Ucap dia sambil mendekatiku.


"Eh, tidak tidak, aku tidak nangis." Aku mencoba menyangkal ucapanya, aku merasa malu karena ketahuan menangis oleh gadis kucing yang sepertinya seumuran denganku.


Gadis itu tiba-tiba menempelkan punggung tanganya di dahiku, sontak aku terkaget dan wajahku pun merah.


"Eh."


"Waduh badan kamu panas sekali nyaa, berbaringlah, akan aku ambilkan obat." Ucap si gadis kucing kemudian pergi meninggalkanku.


Selang berapa menit, gadis kucing kembali membawa beberapa obat dan makanan.


"Sebelum makan obat makan ini dulu nyaa." Ucapnya sambil menyodorkan semankok bubur.


Aku hendak menerimanya, namun dia tidak jadi memberikanya setelah melihat tanganku yang gemetar.


"Waduh sepertinya sakitmu parah nyaa, aku suapin saja ya." Lanjut gadis kucing menyendok bubur dan memberikanya padaku.


Aku yang malas menolak pun menerima bantuanya dengan senang hati.


Mendapat kebaikan dari gadis di depanku membuatku teringat orang yang sedang di rumah, mama, akira, taiga, andai saja yang menyuapiku adalah orang yang kusayang.


Andai saja yang mengurusku adalah orang diantara mereka.


Tanpa sadar air mata kembali mengalir dari mataku.


"Eh kenapa kamu menangis lagi nyaa, apa buburnya tidak enak." Ucap gadis kucing dengan khawatir.


Aku menggelengkan kepala.


Mendengar ucapan dari gadis kucing yang sering ada tambahan kata 'nyaa' aku jadi teringat kalau aku sedang menyamar menjadi manusia kucing, jadi aku tetap memainkan peranku.


"Ini enak, hiks, terimakasih nyaa, padahal kita tidak saling kenal, hiks." Ucapku yang masih tersela isak tangis.


"Tidak, kamu kan pelangganku nyaa, lagian aku jarang bertemu gadis kucing yang seumuran denganku, jadi aku senang ketika bertemu denganmu nyaa." Ucap si gadis kucing dengan senyum manisnya.


.


.


.


Bersambung nyaa....