
POV Taiga.
Setelah kepulangan Akira dari guild, taiga melanjutkan pendaftarannya, taiga di kerajaan ini tidak begitu terkenal, apalagi wajahnya, sehingga dia tidak perlu menyembunyikan nama dan kekuatannya.
Taiga mengecek kekuatanya di bola kristal, dan tentu saja kekuatanya setara rank S, tapi kenaikan Rank S perlu prosedur khusus, jadi saat ini dia masih rank A, setelah melalui banyak prosedur, taiga pun selesai dengan pendaftarannya.
Karena hari sudah sore, taiga tidak memulai mengambil misi sekarang, dia pergi mencari penginapan dan makanan.
Sebenarnya taiga punya banyak uang di kantong penyimpanannya, tapi taiga tetap mengambil beberapa misi di guild, sekalian Mecari informasi tentang gadis yang dicarinya.
Taiga berjalan-jalan di pinggir jalan mencari alamat, sampai taiga melihat sebuah plang bertulis penginapan di sebuah rumah bertingkat.
Taiga memasukinya, dan di dalamnya terdapat seorang wanita penjaga seperti pekerja-pekerja lain.
"Mohon, satu kamar satu malam sekalian makan malam." Ucap taiga.
"Baik, harganya 15 perak." Ucap si wanita.
'Mahal.' Begitulah yang dipikir taiga.
Setelah melakukan pembayaran, taiga menuju kamar yang diterima, sebuah kamar yang tidak terlalu sempit dan nyaman untuk istirahat.
"Hmm besok aku harus beli baju Beru untuk urusan berpetualang."
***
Beberapa jam yang lalu.
Setelah pergi dari rumah lama dengan portal, aku pulang dengan cepat agar tidak sampai membuat mama khawatir, namun ketika aku sampai rumah, aku melihat mama duduk dengan wajah yang terlihat cemas.
"Lilias, apa kamu baik baik saja sayang." Ucap mama.
"Aku baik baik saja kok ma." Ucapku dengan senyum manis.
"Syukurlah kalau begitu."
Melihatku tanpa luka sedikitpun, wajahnya terlihat lebih nyaman dan lega.
Sekarang.
Mama hari ini libur kerja, dia hanya berdiam di rumah untuk menenangkan hatinya, jadi ketika sore kami bisa membuat masakan bersama.
Menunggu yang lain pulang, aku menyempatkan diri untuk mandi dulu, kerana hari ini aku masih bocor jadi aku tidak bisa melakukan rutinitas harian, karena itu tidak nyaman sama sekali, jadi aku cuma mengganti pembalut.
Setelah selesai mandi, aku berpakaian dan menunggu yang lain pulang, duduk sendiri di ruang tamu.
'Hmm di sini sangat membosankan, hiburanku cuma gitar, andai saja teknologi disini maju, aku pasti senang.' Aku yang memiliki banyak kemauan.
Waktu luang hanya di isi dengan lamunan, membayangkan hal hal menarik sedikit mengurangi waktu, tanpa sadar beberapa orang yang di tunggu pun pulang.
"Aku pulang." Suara gadis masuk membuka pintu.
"Selamat da.... iiiiiiiih." Ucapku terputus karena kaget.
"Akira, kamu bau sekali, apa kamu habis main comberan." Ucapku melihat Akira yang berantakan.
"Apa-apaan dengan tatapan itu, aku juga tidak menginginkan ini." Akira dengan wajah sinis.
"Iuuh, cepat mandi, makanan keburu dingin." Lanjutku dengan memegangi hidung.
"Brisik."
Tanpa banyak berkata lagi, Akira segera menuju kamar mandi, Akira mandi cukup lama tidak seperti biasa, aku cuma menunggu di ruang makan, disusul mama.
Cukup lama menunggu, makanan hampir dingin dan Akira baru selesai dengan urusannya, kami pun langsung makan bersama.
"Eh Akira, paman dimana? kenapa belum pulang?" Sambil makan aku memulai membuka suara.
"Sedang pergi ke dungeon, jadi munkin pulang besok." Ucap Akira.
"Mmm, terus tadi apa yang terjadi denganmu, sampai badanmu berantakan?" Lanjutku.
Mama saat ini hanya diam makan, karena tadi tidak melihat keadaan Akira sewaktu baru pulang, cuma bingung dengan percakapan kami.
"Aaa, tadi aku ketemu monster kodok besar yang banyak lendir di lidahnya, dia hampir memakanku." Ucap Akira dengan wajah pucat ketika mengingatnya.
Mendengar ucapan Akira, aku dan mama melebarkan mata kami bersama, dengan kompak terlihat seperti anak dan induk.
"Hahahaha, kamu sangat beruntung, terus terus apa yang terjadi." Ejekku dengan mulut penuh.
"Terus, ketika aku hampir putus asa, datang seorang pangeran yang menolongku, dia membunuh kodok dengan sekali serang, ketika aku akan jatuh dia menangkapku seperti seorang putri, ketika aku melihat wajahnya, aawww ganteng sekali, terus terus dia bertanya padaku 'Hay cantik, apa kamu baik baik saja' aaa... aku ingin bertemu lagi dengannya, hanya saja dia terlalu jauh umurnya dariku." Ucap Akira yang melupakan makananya.
"..."
"Tentu." Mama yang memberikan tambahan.
"..."
"Heyy, kamu dengar gak si, padahal kamu sendiri yang nanya." Akira yang cemberut mengembungkan pipinya.
"Iya iyaa, terus siapa namanya?" Tanyaku yang sebenarnya tidak peduli.
"Mmm, aku lupa bertanya, munkin besok kami akan bertemu, karena dia mendaftar di guild." Lanjut Akira.
"Bukankah kalian sebentar lagi akan masuk akademi? lebih baik kalian beli alat-alatnya dulu. Ucap mama Sri.
"Eh iya, tapi apa yang harus kami beli ma?" Tanyaku.
"Kalian perlu alat tulis untuk mencatat pelajaran teori, terus belilah makeup karena wanita harus selalu menjaga pesonanya." Ucap mama dengan bangga, memang pengalaman.
"..."
'Tidak perlu, aku sudah cantik.'
Setelah melewati banyak perbincangan, makan kami pun sudah selesai, karena tidak ada hiburan yang menarik, kami semua pergi tidur.
"Mm besok sekalian beli darah lagi ah."
***
Malam berakhir, matahari sudah menunjukkan keperkasaannya, kami bertiga setelah sarapan berkemas untuk urusan masing-masing, aku dan Akira akan belanja.
Karena toko biasanya buka sedikit siang, jadi kami perginya pun sedikit siang, kami pergi beberapa jam setelah mama berangkat.
Berjalan santai dari rumah sampai ke kota, kami hanya butuh waktu yang tidak lama, cuma sejam, sesampainya di kota, toko-toko sudah mulai ramai.
Benar saja, di keramaian banyak orang yang memperhatikanku, padahal aku sudah pakai masker, repotnya jadi orang cantik.
"Akira, temani aku beli darah dulu, nanti kalau siangnya panas sekali bisa-bisa aku gila kehausan." Ajakku.
"A, baiklah." Angguk Akira.
Kami pergi ke tempat dulu aku pernah membeli darah, seperti biasa aku hanya membeli 10 kantong, harga darah di sini cukup murah, munkin karena darah jarang ada yang butuh donoran.
Setelah membeli darah, aku pergi ke gang sempit yang sepi dulu untuk minum minum, cukup 1 kantong sudah banyak.
Melanjutkan perjalanan, terlebih dahulu kami pergi mencari alat tulis, aku tidak tau apa buku memang diperlukan, karena biasanya akademi banyak prakteknya daripada teori, dan juga teori tidak mengharuskan mencatat seharusnya, tapi kami tetap membelinya.
Yah mencari toko buku sangat mudah, karena disini ilmu terbilang maju, kami hanya membeli alat tulis berupa buku dan tinta.
Setelah selesai dengan alat tulis, aku tidak merasa ada lagi yang kubutuhkan, jadi aku akan mengikuti Akira saja.
"Selanjutnya mau kemana." Ucapku.
"Kemana yah." Pikir Akira.
Kami bingung cukup lama, jadi hanya berjalan muter-muter di kota, sampai kami bertemu seseorang yang membuat jalan kami berhenti.
"Eh, i itu........ Hay paman, apa kabar." Ucap Akira ketika melihat pria yang baru saja terlihat.
"Aa, Akira Chan... Ajiiiii?" Ucap pria ketika melihatku.
"Aji?" Bingung Akira.
'Sial ini taiga nongol mulu.'
"Eh, bukanya kita mau beli makeup ya Akira, ayo kita pergi ke toko citra." Aku dengan cepat menarik Akira.
Akira yang kena tarik olehku membuat wajah penuh harap, entah apa yang dia harapkan.
"Eeh tunggu." Ucap taiga mengejar kami.
Taiga terus mengejar kami, namun ketika sampai di tempat tujuan kami, taiga berhentai, karena toko yang kami tuju, toko citra adalah toko khusus wanita.
.
.
.
.
Bersambung.....