
"Lilias!!"
Tanpa memperdulikan mama yang sedang marah, aku pergi begitu saja ke kamar mandi dengan perasaan kacau.
'Aaah, bajuku berantakan.' Aku yang melihat baju bekas terkena pedang taiga.
Melihatnya membuatku teringat kejadian yang telah terjadi, bajuku berlubang besar bahkan perutku tadinya bolong karena ulah sahabat sendiri.
'Kenapa harus seperti ini? kenapa aku terlahir menjadi vampir? kenapa harus menjadi musuh bagi sahabatku sendiri? papa, tolong aku.'
Aku terus bertanya tanya tanpa mengharap jawaban, tanpa sadar aku mulai meneteskan air mata, semakin memikirkanya membuat air mata semakin deras mengalir.
"Hek hek heee." Suara tangisan terdengar dari dalam kamar mandi, yang tanpa aku sadar suaraku semakin keras, hingga terdengar dari luar.
"Lilias"
Mendengar panggilan dari luar, aku melebarkan mata, berpikir keras dengan apa yang terjadi.
'Aku tidak seharusnya begini, aku membuat mama khawatir.'
"Maaf ma, ada banyak bawang di sini."
Tanpa perkataan berkelanjutan, aku meneruskan apa yang harus kulakukan sekarang.
Melepas semua pakaian, mengisi bak mandi air hangat, kemudian menyiram tubuh terlebih dahulu, setelah selesai bersih bersih tubuh baru masuk berendam.
'Mmm, aku belum melakukan misi harian.' Batinku ketika melihat brinjilan datar.
Mengawali aksiku, aku memegangi daerah brinjilan dengan telapak tangan, unyel unyel sedikit lama, kemudian dua jariku mencubit pelan brinjilan.
"Mmh, hek hek." Suara dalam yang imut keluar dari mulutku.
Aku yang masih tersedu-sedu karena habis menangis, aku melakukan rutinitas yang ingatannya membekas di tubuhku.
Setelah kejadian hukuman yang lalu, kini tubuhku menjadi lebih sensitif, membuatku lupa kalau aku pernah hidup sebagai seorang pria.
Begitu asik memainkan brinjilan, tanpa sadar misi harian telah selesai, meskipun tubuhku ingin melakukan lebih lama, tapi aku segera menghentikan aksiku, karena takut jika akan kebablasan.
"Aah, bahkan dengan kondisiku sekarang, aku masih melakukan rutinitas ini."
Gadis kecil yang imut ini melupakan kenyataan bahwa dia telah menangis sambil bermain, setelah mengingatnya kembali pipi ini menjadi merah matang, seperti minta digigit.
Berendam menikmati air hangat sambil memejamkan mata sangat baik untuk meringankan pikiran.
'Munkin sedikit lebih lama lagi.'
.
"Mmm"
.
.
1 Jam berlalu.
"Zzz Zzz Zzz." Suara dengkuran begitu merdu karena terjadi di kamar mandi.
"Dok dok dok, Lilias Chan, kenapa kamu lama sekali." Teriak seorang di balik pintu.
"Dok dok dok." Tanpa adanya jawaban, suara kedoran pintu semakin keras.
Suara gedoran begitu menggema di kamar mandi, membuatku yang tertidur terkaget dan bangun dengan cepat.
"Lah, bukanya aku tadi sedang tidur." Ucapku bingung melihat sekeliling.
"Dok dok dok, Lilias, apa kamu baik baik saja." Terdengar suara di luar semakin khawatir.
"Iya maa, ini sudah selesai aku mandi."
Dengan gugup aku segera berpakaian kembali, dan pergi keluar.
Terlihat tiga orang menunggu di depan pintu, aku yang masih berpakaian minim hanya terheran dengan yang kulihat.
"Apa kamu baik baik saja." Ucap mama melihatku dengan khawatir.
"Iya ma, aku akan ganti pakaian dulu." Ucapku.
Meninggalkan ketiga orang dibelakang, aku menuju kamarku untuk mengganti pakaian yang lebih enak dipakai.
Baru selesai berpakaian, masuk mamaku tanpa mengetuk, dia langsung menutup pintu kembali.
Mama duduk di kasur dengan wajah banyak pikiran, aku yang sedikit merasa bersalah karena mencampakanya, mengikuti mamaku dan duduk di sebelahnya.
"Jadi, bisakah sekarang kamu ceritakan apa yang terjadi." Ucap mama menatapku dengan serius.
'Terjadi kah, aku harus memulai dari mana, lebih baik aku ceritakan semuanya saja, dia orang yang paling menyayangiku.'
Aku seorang yang benci menyembunyikan sesuatu, aku memantapkan pikiranku, merancang kata kata yang indah.
"Eghm." Cek sound.
"Sebenarnya ma, aku mengingat kehidupanku sebelumnya, aku dulunya manusia biasa." Ucapku sedikit melencengkan kata kata.
"Eeeeh, benarkah, hebat." Ucap mama yg mukanya terlihat berbeda.
"Aku bertemu dengan teman lamaku." Lanjut ceritaku.
"Terus terus." Angguk mama.
Bersiap melanjutkan cerita, aku kembali meneteskan air mataku.
"Dia adalah orang yang ikut dalam pembunuhan papa, kami tadi bertemu dan saling membunuh." Ketika kataku terucap, cahaya dimataku kian memudar dengan air mata yang mengalir.
"Maafkan mama sayang, mama tidak tau apa yang terbaik buatmu."
"Tidurlah, jangan memaksakan pikiranmu, lebih baik kamu lupakan tentangnya." Lanjut mama yang mengelusku.
"Mmm."
Aku tidur di pelukan mamaku, keluargaku tidak suka dengan banyak percakapan, hanya dengan pelukannya saja sudah cukup untuk menenangkanku, membuatku tidur dengan nyaman.
***
Hari berganti, dengan perasaan yang lebih baik, aku membuka mataku, menyambut pagi yang cerah dengan senyuman kembali.
"Selamat pagi, apa tidurmu nyenyak." Ucap mama disampinku.
"Mmm." Anggukku dengan senyuman.
"Bangunlah, sudah pagi."
Kami melakukan kegiatan hari seperti biasa, tanpa memperdulikan apa yang sudah terjadi, sebagai makhluk terkuat di dunia akan sangat memalukan jika kerjaanya menangis.
Ketika sedang sarapan aku sembari melihat lihat quest yang ada.
'Seingatku aku memiliki quest utama yang belum selesai.'
___________________________________
Quest harian:
Membunuh 3 monster . Rewd: 50 poin
Memijat payudara. Rewd: 50 poin
Quest sampingan:
-Belum terpicu-
Quest utama:
Menaklukkan dungeon cebretan.
Batas waktu 1 tahun.
Hadiah skill dimensi.
Hukuman gagal 7 hari ruang sistem.
[Status]. [Quest]. [Shop]. [Inventori].
___________________________________
'Ah ini terlalu mudah bagiku, sekarang munkin sangat sedikit yang bisa mengalahkanku, kekuatanku sekarang setara rank S meskipun aku belum ingin menaikkan rank.'
'Sistem, apakah memang quest ini selalu ringan.' Ucap dalam benakku.
'Sebenarnya itu setara dengan perjalanan anda tuan, hanya saja dengan doubel exp anda bisa lebih kuat dengan cepat.'
'Dan, hadiah skill dimensi, itu sangat ingin kumiliki, aku bisa berpindah tempat tanpa menghawatirkan waktu, hehe, munkin aku akan segera menjelajahi dunia ini.'
Aku yang melihat deskripsi skill dimensi mengetahui kemampuan dari skill ini, skill ini sangat mengerikan, karena jika kemampuanku meningkat, aku suatu saat bisa bebas berpergian ke dunia lain, munkin kembali ke bumi juga, jika membeli skill ini sendiri munkin membutuhkan 10 juta koin, tapi bisa kumiliki dengan quest rank S ini.
'Seingatku aku sudah sampai lantai 20 ya, aku munkin bisa menaklukkan dungeon ini dengan santai tidak sampai sebulan.'
Setelah banyak berpikir tentang misi, tanpa sadar makanan di depanku sudah habis, kini semua orang di rumah pergi ke tempat kerja masing masing.
Sebagai pedagang, mamaku pergi paling awal untuk bersiap dengan dagangannya, kemudian paman yang sedikit memiliki kecepatan dalam bergerak, dan Akira pergi ke guild bersamaku dengan santai.
Seperti biasa aku dan Akira hanya bersama sampai guild, setelahnya aku pergi menuju ke dungeon dengan kecepatan maksimal.
Sekarang aku tau jika taiga biasanya akan pergi ke dungeon di waktu sore hari, aku tak kuasa membunuhnya, jadi untuk menghindari pertemuan dengannya, aku harus pulang lebih cepat dari biasanya.
Hanya pertempuran sebentar di dungeon itu sudah cukup bagiku karena memiliki batas waktu misi yang lama.
'Munkin seharusnya misi ini untuk level 35nan, siapa yang bodoh memberi misi mudah seperti ini.' Batinku mengejek.
***
Di suatu tempat gelap terdapat seorang berambut biru muda, berbaju biru dan selendang pink di belakangnya, dia duduk di kursi sedang memakan ciki ciki.
"Haccu." Suara bersin dari si rambut biru yang sedang memantau Lilias.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Maaf ygy, lagi ada acara, jadi up tengah malam.
Dan, untuk misi kali ini aku skip aja, krena kurang berkesan, munkin nanti aku loncat latar waktu ke umur 13, waktu awal gadis pubertas.