
Hari berganti, pagi yang cerah aku sambut dengan senyuman, hari ini aku lebih semangat dari biasanya, munkin karena kemarin habis makan banyak.
'Tidak apa-apa kan, lagian mereka jahat si.'
Meskipun tidak lapar, aku masih ingin sarapan, karena sarapan bersama itu sangat menyenangkan.
"Lilias Chan, Akira Chan, nanti kalian pulang dari akademi jam berapa?" Ucap mama ketika sarapan.
"Munkin tengah siang, tidak sampai sore, memangnya kenapa ma?" Ucapku.
"Bisakah kalian membantuku membuka toko, mama tidak ingin mengecewakan pelanggan setia, tapi sekarang mama tidak bisa bergerak banyak." Solaya sembari mengelus perutnya.
"Siap ma, serahkan pada kami."
Aku selesai dengan sarapanku.
"Iya ma, yang penting adiknya baik-baik saja." Akira juga selesai dengan sarapanya.
Aku berdiri, berjalan menuju arah mama, kemudian mengelus perutnya.
"Sehat-sehat ya adekku." Sambil mengelus perut mama, mama juga mengelus kepalaku.
"Xixixi." Mama tawa ringan.
"Yaudah, kami berangkat ya." Aku dan Akira berpamitan sedangkan kedua orang tua mendoakan.
Seperti biasa perjalanan kami menuju akademi hanya beberapa langkah saja, tidak ada kenikmatan dalam perjalanan, karena setiap pergi jauh aku menggunakan portal, kebetulan saja setiap aku menggunakan portal tidak ada orang lain yang mengetahuinya.
***
Kami berjalan memasuki akademi bersama beberapa anak asrama, karena akademi dan asrama tidak satu gedung.
"Wah Lilias selalu terlihat cantik." Ucap beberapa murid perempuan yang melihatku.
Bisikan dari beberapa orang terdengar olehku, membuatku merasa bangga.
Tentu saja, terutama selain paras yang cantik para perempuan biasanya menyukai yang dingin, seperti aku yang jarang tersenyum ketika di akademi, memang bandana yang kukenakan membuatku semakin imut, namun aura wibawaku membuat orang lain kagum.
"Dia sangat cantik, katanya dia belum pernah menerima satupun pernyataan dari seseorang yang menembaknya." Ucap beberapa anak Laki-laki.
'Benar, puji aku terus, haha.' pikirku sambil berjalan santai sambil menyembunyikan wajah banggaku.
"Iya, tapi dari gerak geriknya, sepertinya dia pengocok handal." Mereka masih bisik-bisik tentangku.
'Oy oy oy, aku dengar apa yang kalian bisikkan lho.' Aku yang tetap stay cool.
.
.
Setelah melewati beberapa rintangan, akhirnya kami sampai di kelas tepat waktu, bel telah berbunyi hanya tinggal menunggu guru datang.
"Klotak klotak klotak." Dua Guru berjalan memasuki ruang kelas.
"Selamat pagi semua, apa kabar, semoga baik." Sang guru kesatria, yaitu taiga.
"Hari ini kita akan melakukan praktik perburuan di hutan, karena ini pertempuran langsung yang menggunakan fisik dan sihir, jadi anggap saja sebagai pelajaran gabungan." Ucap guru sihir, yaitu Yun Xia.
"Baiiikk." Para murid bersemangat, karena hanya beberapa dia antara mereka yang sudah berpengalaman.
"Kalian tau hutan milik akademi kan, itu adalah hutan khusus untuk pelatihan, tenang saja di sana hanya ada monster rank C dan D, nanti kalian pergi sendiri kesana." Yun Xia menjelaskan.
"Untuk syarat keberhasilan, masing-masing dari kalian harus membawa satu monster rank C atau Sepuluh rank D." Taiga mengeluarkan daftar monster di hutan dan ranknya.
"Apa, rank C, bagaimana aku mengalahkanya, dulu saja aku cuma bisa menangkap rank D tidak mudah."
"Sekarang munkin kita kalau menangkap yang rank D akan lebih mudah."
"Iya tapi aku tetap tidak ingin bertemu rank C." Keramaian muncul di antara beberapa murid di kelas.
"Haaooh." Aku yang menjadi ngantuk.
"Perhatikan semua." Taiga memecah suasana.
"Kalian nanti bebas bekerja sama dengan teman kalian, tetapi syarat keberhasilan harus tetap terpenuhi." Lanjut taiga menjelaskan.
"Ooh." Para murid yang tadi gaduh kini terlihat tenang.
'Wajahnya tenang, sepertinya dia sudah berpengalaman.' Pikirku ketika melirik hiruzen dan Mega chan.
"Baiklah semua boleh pergi sekarang, lebih cepat lebih baik, go go go semangat." Guru mengusir para murid dari kelas.
Para murid langsung berenjak pergi dari tempat duduknya, mereka bersama berjalan keluar menuju hutan yang dimaksud.
.
.
.
Setelah satu jam perjalanan, tanpa didampingi guru kami sampai di tempat yang banyak pepohonan, tempat ini tidak semengerikan hutan lain, karena ini memang hutan budidaya monster milik akademi.
"Teman-teman, aku sarankan lebih baik kita membentuk kelompok agar lebih mudah menghindari bahaya, bagaimana." Sang ketua kelas Mega chan aktif berbicara.
"ya, oyy, hmm." Para murid menyetujui usulan dari ketua.
"Karena ada 40 orang kita bagi 8 saja, per kelompok 5 orang, dan setiap kelompok berarti memburu 5 monster rank C, lebih mudah kan." Mega chan yang masih dengan semangatnya.
"Oyy bagus itu."
Ketua kelas membagi temanya menjadi 8 kelompok, untuk anak yang berteman tidak dipisahkan oleh ketua, karena anak yang berteman akrab mudah bekerja sama.
Setelah membagi kelompok, aku dan Akira berada di kelompok yang sama, beserta tiga orang lainya, kami berpencar ke berbagai arah.
Kelompokku berjalan memasuki hutan, semakin dalam hutan semakin rimbun, kami berjalan sambil mencari lokasi monster.
Setelah satu jam penelusuran.
"Kricit kricit kricit." Suara di atas.
"Hm, sebelum kamu membunuh mereka, aku sudah lebih dulu menghajarmu." Aku memandangi Akira dengan tajam.
"Hehe, tidak tidak." Akira garuk-garuk kepala.
'Kenapa siang-siang begini kelelawar beterbangan, apa memang di dunia ini kelelawar aktif di siang hari sepertiku, aneh sekali.'
Kami melanjutkan penelusuran, tidak sampai lama akhirnya kami bertemu lima Roger yang sedang menghadang.
"Wah kebetulan sekali jumlahnya pas." Ucapku.
"I i itu, kita harus kabur, bagaimana munkin rank C itu berkelompok." Teman kelompok kami panik, terlihat di wajahnya.
"Tenang saja jangan panik, karena ada Akira." Aku mencoba menenangkan mereka.
"Lho kok aku."
"Iya lah, siapa lagi, cuma Roger rank C kamu pasti bisa."
"Hmm." Akira memantapkan pikirannya.
Akira mengeluarkan pedang yang ia miliki dari penyimpanan, pedang dengan sarung dan gagangnya yang berwarna putih, dan ada gambar bunga merah di sarungnya.
"Wooh, pedang baru." Aku berkomentar.
Akira bersiap-siap kemudian maju menghadap para Roger, sampainya dihadapan Roger, Akira tanpa basa-basi langsung menebas Roger pertama.
Tebasan Akira mengenai perut roger membuat roger kesakitan.
"Wah, Akira Chan hebat." Anak di sekitarku terkagum dengan Akira.
Dengan cepat Akira melanjutkan aksinya, dia membiarkan roger yang sedang kesakitan lalu langsung menyerang Roger yang lain, dan Akira melukai roger itu, namun roger juga memiliki tekat bertahan hidup.
Roger mempunyai pergerakan yang cepat dan kuku yang tajam, dia menyerang Akira tepat di kepala, serangan itu mendarat di pipi akira, sampai membuat Akira berdarah.
Akira mundur untuk menjaga jarak sambil memegangi pipinya yang berlumuran darah.
"Eh Akira terluka, kita tidak bisa hanya menonton, kita harus membantunya." Tiga orang di sekitarku hatinya tergugah oleh Akira.
"Iya, ayo kita bantu." Tiga orang ini dengan sedikit takut akhirnya membantu Akira menyerang Roger itu.
Ketiga orang ini menyebar, mereka menembaki Roger dengan sihir kecil milik mereka, ketika Roger teralihkan perhatiannya baru Akira kembali maju menyerang satu-satu dari Roger itu.
Meskipun serangan dari mereka hanya membuat roger sibuk, namun cukup membantu bagi Akira untuk fokus dengan penyerangan.
Masih ada tiga Roger yang mengejar tiga teman ini, ketika mereka dikejar, mereka berlari mencari perlindungan dari Akira, dan Akira bisa mengatasi satu Roger lagi.
Namun ada Roger lain yang berhasil mengejar mangsanya, ketika salah satu teman kami diserang, dengan cepatnya Akira menembakkan sihir api miliknya, meskipun tidak sampai membunuhnya namun roger itu menjadi waspada.
"Tolong aku." Teman terakhir yang sedang digigit oleh Roger merasa ketakutan.
Akira bergerak cepat menolongnya, dan bisa menebas Roger terakhir.
Aku sedikit terhibur melihat pertempuran mereka.
'Dasar manusia, suka memanfaatkan sesama rasnya untuk keperluan dirinya sendiri.' Pikirku yang sebenarnya masih memiliki sisi manusia.
Setelah para Roger tidak bisa bertarung, Akira bisa menghabisi mereka dengan mudah.
Setelah roger teratasi, aku akhirnya maju.
"Aiyya, kalian sampai terluka, ini obatnya." Aku memberikan potion dari sistem untuk yang terluka.
"Hmph." Entah bagaimana Akira terlihat kesal.
.
.
.
Setelah Selesai dengan roger, kami duduk istirahat sebentar sambil ngobrol, namun itu tidak bertahan lama.
"Kyaaaaaa!!!" Teriak seseorang dari kejauhan.
"Tolooong!!" Suara terus berlanjut, sampai terdengar beberapa teriakan.
"Ada yang berteriak." Ucap salah satu teman di kelompok kami.
[Ding, misi sampingan baru, selamatkan murid dari monster yang mengacau]
"Iya, ayo kita kesana." Ajak teman di kelompok kami.
Aku diam mengamati, dengan kemampuanku merasakan kekuatan yang dimiliki monster itu.
"Jangan, kalian tidak boleh kesana, lebih baik kalian mengawasi jika ada yang mendekat." Ucapku sambil berdiri.
"Tapi..."
"Kalian tidak akan sanggup." Aku dengan wajah serius.
'Kenapa ada monster setingkat itu di hutan ini, bahkan ini mendekati rank A, sepertinya ada konspirasi di sini.' Aku yang merasakan kekuatan monster itu.
"Ayo akira, kita pergi."
.
.
.
.
.
Bersambung......