
Taiga berjalan pulang ke rumahnya sambil mengendong Lilias yang tidak sadarkan diri, rok yang dipakai Lilias tidak terlalu pendek jadi taiga bisa menggendongnya di belakang.
'Uh, gunungnya terasa.' Taiga yang merasakan dua buah tonjolan di punggungnya.
Ketika ada orang lain yang melihatnya, mereka bertanya-tanya dalam bisikan, namun taiga tidak memperdulikannya.
Meskipun rumah taiga cuma rumah kontrakan, namun sudah cukup untuk kehidupannya.
Setelah sampai di rumah, taiga menuju tempat tidurnya dan membaringkan Lilias di tempat tidur.
"Haah, lumayan berat untuk anak seumuran ya." Ucap taiga sambil meluruskan bahunya.
"Ammmm, panas." Lilias dengan matanya yang tertutup.
'Eh, apa dia bangun.'
"Ah tidak, ternyata cuma mengigau."
Setelah membaringkan Lilias, taiga menuju dapur untuk menyiapkan makanan dan juga minuman, agar ketika Lilias bangun tinggal memakanya.
Seorang pria yang hidup mandiri sudah terbiasa dengan dapur, meskipun dia tidak tau apakah masakanya cocok untuk lidah orang lain.
Setelah selesai dengan masakanya, taiga membawa ke kamar tempat Lilias berbaring.
Taiga membuka pintu dan meletakkan makanan dan minuman di meja, sebelum meninggalkan ruangan, taiga sebentar menengok Lilias.
"Eh."
Taiga terkejut dengan apa yang ia lihat, Lilias masih berbaring tanpa sadar, namun bajunya sudah lepas, dan kacamata tanpa kaca Lilias terlihat jelas berwarna putih berenda bermotif bunga.
"Glk." Taiga menelan ludah sambil menatapnya.
'Dasar Lilias, dia mengatakan kalau dia laki-laki dan juga anak kecil, tapi apanya yang anak kecil, tidak ada darinya yang terlihat seperti laki-laki maupun anak kecil, cuma otaknya saja yang tidak berkembang.'
Taiga sedikit kesal melihatnya, taiga menatap sementara gunung Lilias kemudian menarik selimut untuk menutupi Lilias yang terbuka.
'Tidak tidak, aku masih memiliki tunangan yang menungguku di bumi, munkin dia masih menungguku, aku harus mencari cara agar bisa kembali.' Taiga memantapkan hatinya.
"Taiga."
"Kamu bangun....oh tidak ternyata masih mengigau."
"Mmm, panas." Lilias menyingkirkan selimut yang menutupinya.
"Eh dasar kamu ini." Karena taiga pasrah, dia memutuskan untuk meninggalkan Lilias.
Namun sebelum menjauh, taiga merasakan tanganya ditarik, taiga terkejut dan menoleh kebelakang.
"Taiga, mau kemana?" Ucap Lilias yang membuka matanya sambil menarik tangan taiga.
"Mau kemana? sebelum itu pakailah bajumu, dan pulanglah ini sudah malam." Ucap taiga.
"Naani, apa kamu mengusirku, kemarilah taiga." Lilias menarik taiga dan merangkul pundaknya.
"Hey sadarlah, apa yang kamu lakukan." Taiga panik dibuatnya.
"Taiga, aku mencintaimu, apa kamu mencintaiku." Lanjut Lilias dengan wajahnya yang merah.
"Sadarlah, kamu itu sedang mabuk." Taiga yang masih panik.
"Aku sadar kok, apa kamu masih memikirkan kekasihmu itu." Lilias mendekatkan mukanya ke taiga.
Taiga terdiam memikirkanya, Lilias tau taiga di dunia ini tidak pernah mendekati perempuan seperti orang jomblo, Lilias berpikir munkin taiga masih menjaga perasaanya.
'Aku memang sedikit menyukai Lilias, karena selama di dunia ini hanya dia yang kutemui, namun sejak mengetahui adanya portal darinya, aku kembali berharap untuk pulang ke bumi.' Pikir taiga.
"Maafkan aku taiga." Lilias semakin mendekatkan wajahnya ke wajah taiga, Lilias hendak menuju bibir taiga, namun dengan cepat taiga menjaga jarak.
"Apa yang kamu lakukan." Taiga mendorong Lilias, hingga Lilias terbaring kembali.
Lilias terkejut dengan sikap taiga, dengan berat hatinya, ia tanpa sadar matanya berkaca dan mengeluarkan air, kemudian menutupinya dengan tangan.
"Yah aku memang anak kecil, hiks, tapi apa segitunya aku tidak menarik, taiga, hiks."
"Lilias?" Taiga menurunkan pandanganya.
"Kukira kamu juga menyukaiku, jika akhirnya begini kenapa kamu terus mengejarku?kenapa kamu membiarkan aku menyukaimu? bukankah lebih baik kamu meninggalkanku, hiks."
"Maafkan aku." Taiga dengan berat hatinya.
"Kamu tau kan aku ini perempuan, harusnya kamu tau kita tidak bisa akrab seperti dulu, kamu pikir kekasihmu bakal percaya jika mengetahui kamu membawa seorang gadis ke kamarnya dan kamu mengatakan hanya sebatas teman."
.
.
"Hiks." Lilias masih menangis, dan keduanya masih dalam diam.
Sebelum suasana menjadi canggung, lilias lebih dulu bertindak.
.
.
"Tidak, aku tidak akan membiarkannya." Lanjut Lilias.
"Ha."
Lilias dengan kekuatan fisiknya kembali menangkap taiga dan membaringkan taiga di tempat tidur.
"Lili...." Taiga tidak sanggup melanjutkan ucapanya.
"Maafkan aku taiga, kamu harus tanggung jawab atas perasaanku."
Lilias memegangi kedua tangan taiga dengan kuat, kemudian mencium bibir tanga.
Lilias mencium taiga cukup lama, dan taiga tidak bisa menolak kekuatan Lilias meskipun Lilias masih menonaktifkan kekuatannya.
"Maafkan aku Lilias, aku sebenarnya juga mencintaimu, namun aku juga berharap untuk kembali ke bumi." Ucap taiga setelah bibirnya mulutnya terlepas.
"Yah, aku senang jika kamu menyukaiku."
Lilias sambil mencium taiga, juga meraba dada taiga yang berotot, lututnya juga menyodol.
"Lilias, jangan, kita tidak bisa melakukan ini, kamu masih terlalu dini."
"Hmm, apa, di dunia ini bahkan perempuan berumur 13 sudah banyak yang menikah, dan aku sudah lewat 14, kenapa kamu masih khawatir, bukanya tubuhku cukup menarik." Lilias melepaskan tanganya dari taiga.
"Itu....." Taiga hanya memalingkan pandangan dengan diam.
Keeheningan membuat suasana sedikit canggung.
"Dahlah, maafkan aku taiga, karena sudah memaksamu." Lilias mengambil bajunya kemudian berdiri dari tempat tidur.
"Tunggu." Sebelum lilias pergi, Taiga lebih dulu menarik dan membaringkan Lilias, dan mengambil tempat di atasnya.
"Taiga?" Lilias bingung melihatnya.
"Dasar kamu ini, seenaknya saja seperti anak kecil, kamu memang seorang gadis yang cantik lilias, tapi otakmu juga kecil." Taiga memegangi kedua tangan Lilias.
"Apa kamu bilang." Lilias kesal dengan ucapan taiga.
"Haha, kamu imut kalau marah." Lanjut taiga.
"Hmp." Lilias memalingkan mukanya yang merah.
Taiga semakin senang melihat tingkah Lilias, taiga mendekatkan mukanya dan mencium Lilias, Lilias sedikit terkejut senang.
"Terimakasih telah menerimaku." Senyum Lilias, hingga senyumanya semakin lebar.
Lilias mengambil alih kepemimpinan.
*...SKIP...( scene ini udah banyak yang kupotong, karena vulgar.)*
"Aaah sakit." Suara Lilias pecah, seketika sinar putih keluar dari badan Lilias.
"Apa kamu baik-baik saja." Taiga terkejut melihatnya.
"Se sepertinya ada sesuatu yang lepas dariku." Ucap Lilias.
'Sepertinya skill kesucian meninggalkanku, dasar skill gak guna.' Pikir Lilias yang tidak terlalu peduli.
*...SKIP... (potong" scene)*
Karena taiga kesal, taiga mengambil alih kepemimpinan.
*...SKIP...(potong scene)*
"Tu.....aaah."
Setelah suara terakhir keluar, taiga lemas dan membaringkan badannya.
"Taiga!" Teriak Lilias dengan mata sinis.
"Ah, maaf kelepasan, hehe."
"Haah."
Mereka berdua membaringkan badannya, Lilias kembali meraba otot-otot milik taiga yang membentuk jelas sixpage.
"Eh kok sudah gelap, gawat pasti mama mengkhawatirkanku." Lilias sontak berdiri, dan menarik pakaiannya kembali, sedangkan taiga menarik selimut dan masih berbaring.
"Hey, mulutmu masih bau alkohol." Ucap taiga.
Lilias menghadap ke langit.
'Aku tau apa yang kamu pikirkan tentangku, munkin kamu membenciku, munkin kamu akan menghujatku, tapi entah berapa lama pun aku menangis karena kamu melarangku, aku masih tetap mencintainya.' Wajah Lilias dengan penuh arti.
Lilias hendak melanjutkan mengenakan pakaian, namun sebelum Lilias selesai dari pakaiannya, tiba-tiba pintu mengamuk.
"Brak!!" Dobrakan pintu kamar dengan keras membuat keduanya terkejut.
Lilias melihat seseorang yang baru datang, mereka saling memandang dalam keheningan.
"Akira." Ucap Lilias dengan kringat dingin muncul di wajahnya.
"Haah haah haaah haah." Akira yang masih ngos-ngosan hatinya semakin berontak dengan apa yang ia lihat.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Jika kalian menemukan plot mesu* tolong lapor, bakal aku revisi, mksudny yg vulgar vulgar,