
Ketika baru saja membuka toko, aku terkejut melihat kedatangan orang yang tidak kusadari, kedatangannya sungguh tidak kuharapkan, aku ingin segera pergi namun aku harus menutup toko dulu.
"Tunggu." Taiga yang menghentikanku ketika aku hendak menutup toko.
"A ada apa."
Taiga tiba-tiba masuk kedalam toko ketika aku masih di luar, karena tidak ada pilihan lain, aku pun masuk mengikutinya dengan gelisah.
"Lilias, aku minta maaf jika perkataaku tidak berkenan di hatimu, tapi tolong jangan terus kabur dariku." Taiga dengan wajah serius.
'Haah, dia masih membahas itu lagi.' Aku cuma menoleh kanan kiri, pura-pura tidak dengar saja.
"Lilias?" Lanjut taiga.
"Haah, apaan sih taiga, keras kepala kali kamu ini kaya anak kecil."
Taiga memalingkan wajahnya yang memerah.
'Bagaimana aku harus mengatakannya, sangat memalukan.' Pikir taiga.
"Kamu itu sudah tua! lebih baik kamu cari perempuan untukmu! daripada bermain pertemanan dengan anak kecil sepertiku!" Aku menggerakkan gigi dengan kuat.
"Lilias, apa yang kamu katakan." Taiga bingung dengan ucapanku.
"Apa kamu tidak malu ha! manusia seumuranmu sudah menikah semua, kamu tidak akan pernah menikah jika cuma bermain denganku!" Aku semakin meninggikan suaraku.
"Lilias, sebenarnya aku, aku....." Taiga masih bingung dengan ucapannya.
"Ini tidak adil, kenapa aku harus terlahir sebagai perempuan, dan kamu masih tetap seperti dulu."
Aku mulai meneteskan air mata, taiga yang melihatnya hanya terdiam membuat wajah penuh makna.
"Taiga, kita tidak bisa berteman seperti dulu lagi, lebih baik kamu menjauhiku agar kamu bisa mencari pendamping hidupmu."
Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan demikian, aku sangat ingin tetap bersama taiga, namun aku tidak ingin membuatnya terlihat aneh karena dekat denganku, apalagi perasaan ini yang sangat menganggu.
"Dah kamu pulanglah, aku juga mau pulang." Aku membalikkan badan dan akan segera menutup toko, namun taiga masih juga menarik tanganku.
"Tunggu Lilias." Ucapnya.
"Apa lagi si taiga! jika kamu cuma membisu lebih baik pergi dari sini." Air semakin deras mengalir dari mataku.
Aku tidak tau kenapa aku mengatakan ini, aku cuma terbawa emosi yang mengendalikanku.
"Lilias..."
"Kamu mengatakan apa aku menyukaimu? apa apaan itu, kamu mengatakan seperti seorang pengecut, ya aku mengakuinya, aku menyukaimu, aku mencintaimu, kita yang sudah berteman sejak dulu munkin terlihat aneh tapi ini aku yang sekarang, hiks."
Taiga terkejut dengan apa yang kukatakan, namun dia semakin bingung untuk menjawab perkataanku, aku semakin kesal dengan dia yang membisu.
"Haah, kamu membiarkanku mengatakannya, dasar bodoh."
Aku meninggalkan taiga dan berlari sambil meneteskan air mata.
"Tunggu, Lilias." Taiga yang tidak bisa mengejarku.
Aku tidak tau mau kemana aku pergi, aku hanya berlari meninggalkan si bodoh taiga.
Aku terus berlari, tidak sadar aku sampai di depan guild, karena tidak ada yang perlu kulakukan, aku masuk guild membawa perasaan kacau.
Karena hari sudah sore, di dalam guild kini banyak para petualang yang sudah pulang dari pekerjaannya, mereka sedang bersantai sambil minum dengan anggota partynya.
Aku mengambil tempat duduk di meja yang kosong, melihatku yang masuk guild dengan wajah kacau, Yuli mendekatiku.
"Lilias-sama, ada apa denganmu." Yuli yang terheran melihatku.
"Tidak ada, biarkan aku sendiri."
Yuli terlihat prihatin melihatku.
'Aaah, kenapa perasaanku kacau seperti ini, apa karena aku anak kecil yang mentalnya labil.'
Aku melihat sekeliling, banyak para petualang yang gembira sambil minum-minuman, mereka tertawa lepas seperti orang bodoh, bahkan mereka tidak melihatku yang harusnya mencolok.
'Munkin aku juga akan ikut.'
Guild adalah tempat para petualang berkumpul, mereka selain mengambil misi, juga istirahat dari misinya, tentu saja guild memiliki kantin, dan yang paling digemari adalah bir mereka.
"Yuli-san, bawakan aku lima gelas besar bir." Pintaku pada Yuli yang masih berdiri di hadapanku.
"Eh, kamu belum boleh meminumnya." Ucap Yuli.
"Berisik, tolonglah, kamu kan tau aku itu kuat."
Yuli menuju tempat minuman, dan kembali padaku dengan lima gelas bir yang ia bawa, kemudian dia meletakkan di atas mejaku.
'Aku harus menonaktifkan kekuatanku, agar birnya lebih terasa.'
Setelah aku menonaktifkan kemampuan, baru aku meminum segelas pertama, sedangkan Yuli duduk mengawasiku.
"Glk glk glk." Telgukan demi telgukan kunikmati.
"Aaah, ternyata rasanya enak, hik." Ucapku dengan cegukan.
"He lihat itu, lilias-chan meminum bir, apakah dia serius." Para petualang yang tadi tidak peduli, sekarang memperhatikanku dengan heran, Yuli juga terlihat gelisah.
Aku tidak memperdulikan mereka, gelas Demi gelas kukosongkan, bahkan ketika lima gelas sudah habis, aku masih meminta tambah pada Yuli.
"Hik." Wajahku merah, dan aku banyak cegukan.
"Lilias, apa kamu baik-baik saja." Yuli khawatir melihatku.
"Haaa, hik, apaa, hik, apa yang kamu katakan Yuli." Aku masih terus menenggak minuman dengan berutal.
"Lilias, apa yang sedang kamu lakukan." Tiba-tiba terdengar suara dari belakang, ketika aku menolehnya....
"Aaa, siapa, hik." Mataku buram jadi tidak bisa melihatnya dengan jelas, aree kenapa semakin gelap.
"Bruk." Kepalaku jatuh ke meja.
POV Taiga
Taiga berdiri ditinggal oleh Lilias, sedangkan tokonya masih terbuka, sehingga sebelum mengejar Lilias, taiga lebih dulu menutup toko.
Setelah menutup toko, taiga berlari menuju arah yang dituju oleh Lilias, taiga terus menelusuri jalan yang ia tau, hingga taiga sampai di depan guild.
'Apa Lilias pulang? tapi tidak munkin, dia kan cuma berlari tanpa tujuan, dan hanya tempat ini saja yang sangat munkin ia tuju.' Pikir taiga menatap guild.
Setelah memastikan, taiga masuk dan terkejut melihat dua orang kembar, satunya sedang menonton kembarannya yang minum dengan berutal.
"Lilias, apa yang kamu lakukan." Taiga yang melihat Lilias minum berutal.
"Haa, siapa, hik." Ucap Lilias.
"Apa kamu mabuk." Taiga menghampiri Lilias.
"Bruk." Namun sebelum sampai, Lilias sudah dulu jatuh ke meja.
Taiga yang melihat Lilias kacau, wajahnya terlihat memprihatinkan.
"Taiga, sebenarnya ada apa dengan Lilias." Ucap Yuli yang duduk didepan Lilias.
"Yaah, itu...." Taiga bingung karena tidak berani mengatakannya.
"Di sini banyak yang memperhatikannya dengan mesum, lebih baik kamu bawa dia pulang ke rumahnya saja." Lanjut Yuli yang menoleh kanan kiri.
"Ah, iya."
Tanpa pikir panjang taiga menggendong Lilias dan pergi keluar guild begitu saja.
'Kalian berdua sama-sama bodohnya, lebih baik kalian selesaikan urusan kalian.' Pikir Yuli ketika melihat taiga menjauh.
Setelah keluar dari guild, taiga berjalan beberapa meter, kemudian dia berhenti.
'Eh, aku memang pernah ke rumah Lilias, tapi kan aku tidak tau jalanya.' Pikir taiga.
Taiga dulu pernah sekali ke rumah Lilias, tapi waktu itu taiga masuk melewati portal, sehingga tidak tau jalan menuju kesana.
'Lebih baik aku bawa dia ke rumahku, daripada di guild akan bahaya.'
Setelah taiga berpikir sejenak, taiga memutuskan mengendong Lilias ke rumahnya.
.
.
.
.
.
Bersambung......