
Beberapa bulan yang lalu.
Aku setelah pulang dari perburuan menuju guild untuk menyerahkan hasil dari perburuan dan mengambil uang.
"Yuli-jiejie ini hasil perburuan hari ini, tolong." Aku menyerahkan hasil perburuanku.
"Iya, terimakasih." Yuli menerima.
"Ah, sekalian aku titip undangan ya." Yuli menyerahkan satu kertas.
"Kamu dan keluargamu semuanya, datanglah." Lanjut Yuli dengan lembut.
"Waah Yuli juga akan menikah ya, selamat, tapi mama dan ayah sandi sedang keluar untuk waktu yang lama, jadi mereka tidak bisa datang." Ucapku.
"Aiyya, tidak apa-apa, aku tau kok,xixixi , yang penting kamu dan Akira datang ya." lanjut Yuli.
"Iya, tapi di mana, aku tidak tau alamat kakak."
"Di desa kancar, Letaknya ada di selatan kota, dari pada ke kota desaku lebih dekat ke akademi, jika kamu berjalan ke sana nanti banyak orang yang bisa kamu tanyakan."
"Ooh, oke."
Beberapa hari setelah itu aku dan Akira pergi ke desa kancar Untuk menghadiri pernikahan Yuli.
Kembali di waktu sekarang.
Aku setelah menutup toko bersiap untuk pergi, eh sebentar.
"Taiga, jika kamu khawatir sama Akira kamu kejarlah dia sendiri, aku ada urusan yang lebih penting." Ucapku dengan wajah serius.
"Memangnya kamu mau ke mana."
"Yuli yang bekerja sebagai responsis gulid, desanya sedang dalam bahaya, aku harus ke sana." Aku berlari menuju gang sempit tempat ku landing.
"Aku ikut kamu saja." Taiga yang juga ikut berlari.
'Aaah, biarlah, munkin dia bisa membantu jika aku tidak bisa mengatasi sendiri.'
Kami sampai di gang sempit dan secepatnya aku membuka portal menuju tempat yang pernah kutuju.
Sesampainya di seberang portal, kami langsung dikejutkan oleh suasana yang mencekam.
Banyak rumah yang hancur, dan banyak manusia berlarian, mereka sedang diobrak-abrik oleh monster yang mirip dengan monster yang kutemui kemarin, hanya saja monster ini lebih mengerikan, sepertinya ia memiliki rank A yang sudah tengah perjalanan menuju rank S.
"Apaan ini, konspirasi apa lagi, aku yakin keduanya tidak kebetulan, karena mereka tidak wajar untuk monster mengerikan keluar ke perumahan." Ucapku melihat kekacauan.
"Ini, sangat berlebihan." Ucap taiga dengan wajah yang rumit.
"Taiga, kamu atasi makhluk itu dulu, aku mau ke rumah Yuli." Ajakku.
"Iya." Angguk taiga.
'Aku harus memastikan rumah Yuli terlebih dahulu.'
Aku meninggalkan taiga dan berlari menuju tempat yang kukenal.
Sesampainya di tempat itu, aku dikejutkan oleh rumah Yuli yang sudah runtuh.
"Yuli san !! Apa kamu di sana."
"Hari sudah mau gelap, aku yakin Yuli juga sudah pulang dari guild."
"Deteksi aktif."
Aku mencoba mendeteksi Yuli dengan skill ku, tidak sampai lama akhirnya aku menemukan seseorang yang tertimbun di rumahnya.
"Yuli?"
Aku dengan cepatnya mencoba mengorek reruntuhan, memindahkan puing bangunan dengan kekuatanku, dan akhirnya aku melihat seorang yang tergeletak tanpa kesadaran.
Matanya melotot mengeluarkan darah, telinganya juga mengeluarkan darah, sepertinya kepalanya kejatuhan puing-puing rumah, tangan kanannya putus tertimbun bangunan, kedua kakinya juga remuk dan mengeluarkan banyak darah, hanya saja secara ajaib tangan kirinya masih kuat melindungi perutnya dari jatuhnya puing-puing.
"Yuli-san apa kamu baik-baik saja?"
"..."
"Ah tidak, maksudku apa kamu masih hidup?" Lanjutku.
"..." Masih tidak ada jawaban.
"Gawat dia sepertinya terluka parah."
Aku mencoba mendeteksi jantung Yuli, ternyata dia masih hidup, tapi dia sepertinya tidak akan lama lagi.
Aku mencoba mengeluarkan banyak potion dari sistem, ada potion penyembuh dan juga potion setamina, aku meminumkannya ke Yuli.
Satu kuberikan, sepuluh kuberikan, ternyata Yuli tidak sembuh juga, sepertinya potion sudah tidak berguna.
"Ughuk-ughuk." Yuli terbatuk meskipun keadaanya sangat memprihatikan.
"Yuli, kamu sadar?"
"Yuli-san, aku akan segera menyelamatkanmu." Aku kembali mengeluarkan banyak potion.
Aku kembali meminumkannya ke Yuli namun tangannya yang sudah terpisah masih tidak bergerak juga.
"Lilias Chan, terimakasih, tapi sepertinya aku sudah tidak tertolong." Air mata Yuli mengalir deras.
'Aduh, bagaimana ini, potion mahal tidak berguna, apalagi aku tidak punya sihir penyembuhan, yang ada cuma itu, ya hanya itu yang bisa kulakukan.'
"Yuli san, aku bisa menyelamatkanmu dan munkin juga anakmu, tapi apa kamu bisa menerima jika hidup tidak lagi sebagai manusia?" Ucapku dengan wajah serius.
Mendengar ucapanku, Yuli terkejut dan matanya semakin melebar, Yuli melihat harapan.
"Apapun itu, asal aku bisa melahirkan anakku, aku bersedia apapun resikonya."
Aku memantapkan diri sebelum naywa Yuli menghilang.
Aku mendekat ke arah Yuli, mendekati lehernya, aku mengeluarkan taring panjang dan menancapkanya ke leher Yuli.
Sambil menyedot darahnya, aku juga memberikan sedikit kekuatanku, kulakukan dengan harap agar dia juga bisa memiliki sedikit dari kekuatanku.
"Ahh~." Yuli merintih keenakan.
Tidak lama setalah kulakukan, akhirnya Yuli membuat tanda-tanda kehidupan, darahnya berhenti mengalir, kakinya yang hancur terlihat lebih baik, tanganya yang putus terlihat seperti akan tumbuh yang baru.
Yang paling membedakan yaitu rambutnya perlahan menjadi perak, telinganya memanjang, dan matanya menjadi merah darah, terlihat seperti melihat diriku versi dewasa.
"Yuli san, bagaiman keadaanmu?" Ucapku.
"Eh, kenapa tiba-tiba aku merasa membaik kembali, terimakasih Lilias Chan." Yuli yang masih dengan wajah yang heran.
"Terus bagaimana dengan bayi di perutku?" Yuli kembali khawatir dengan bayi di perutnya.
"Dia juga pasti baik-baik saja, karena dia memiliki seorang ibu yang hebat." Aku memberikanya senyuman.
"Benarkah? terimakasih Lilias, aku sangat berterima kasih, aku tidak tau apa yang harus kulakukan untuk membalasmu." Yuli meneteskan air mata kebahagiaan.
"Yaah, tapi, aku minta maaf, sebenarnya aku seorang vampir, dan aku menjadikanmu seorang vampir juga, munkin anakmu juga akan menjadi vampir karena terlahir dari ibu vampir." Aku merasa sedih dengan kenyataan yang akan terjadi.
"Kenapa kamu minta maaf, justru aku berterimakasih karena kamu sudah menyelamatkan kami." Yuli dengan senyumannya.
"Tapii, apa yang kukatakan benar, kamu menjadi vampir karenaku, munkin kedepanya lama-kelamaan kamu akan melihatku sebagai tuanmu, dan munkin hidupmu akan terbatasi." Aku dengan wajah yang resah.
Yuli masih dengan senyumannya bangun dari tidurnya, kemudian dia membuatku berdiri, dan kami berdua berdiri berhadapan.
"Yuli-san?" Aku bingung dengan apa yang ia lakukan.
"Tidak perlu menunggu lama, terimakasih karena telah menyelamatkan kami, Lilias-sama."
Yuli berlutut di hadapanku.
"Eh?"
"Tadi aku pikir hidupku sudah berakhir, karena kamu penyelamatku, aku akan melakukan apapun yang kamu minta." Yuli yang masih berlutut di hadapanku.
"Bangunlah Yuli-san, ahaha sepertinya aku salah ucap, mari kita bicarakan nanti, karena masih ada yang harus kulakukan." Aku menoleh ke tempat monster berada.
"Baiklah." Angguk Yuli.
Aku pergi meninggalkan Yuli yang kembali sibuk dengan perutnya, aku berlari menuju taiga berada.
Sesampainya di sana, aku melihat taiga yang sepertinya kewalahan melawan monster itu, dan monsternya masih baik-baik saja.
"Taiga, bagaimana denganmu." Ucapku.
"Lilias, dia sangat kuat, sepertinya dia bukan lagi monster rank A, tapi sudah rank S, padahal aku juga Rank S tapi masih susah melawanya, tipe element kami berbeda." Ucap taiga.
"Baiklah, serahkan saja padaku, tolong kamu jaga Yuli saja, atau periksa orang lain yang membutuhkan bantuan, kalau yuli dia ada di sana." Aku menunjuk tempat Yuli berada.
"Oke, kamu pasti bisa." Taiga mundur dari pertarunganya.
'S kah? aku semakin yakin dengan konspirasi ini, lain kali aku akan menyelidikinya, tapi untuk sekarang aku sangat berterima kasih karena diberi hadiah.' Aku melebarkan senyuman.
Aku mengeluarkan sabit kesayangan, sabit gutemala, dan bersiap untuk pertemuan.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Ternyata momen ini mengeluarkan banyak kata-kata juga, aku kira cuma 500 kata, ternyata cukup untuk satu chapter, hehe berarti penantian semakin panjang.