
Setelah aku naik rank B, aku langsung berangkat, di guild kerajaan Tanjun meskipun jauh dari dungeon, namun mereka tetap menerima penjualan meterial dari perburuan dungeon, meskipun jarang yang melakukanya.
Aku dan Akira berbisah di guild, karena aku yang akan menuju dungeon dan Akira yang masih di wilayah kota Watuma seperti biasa.
Tempat yang kutuju adalah ujung Utara benua selatan, Aku berlari di setiap pinggiran kerajaan yang kulewati agar tidak mencolok, dari kerajaan Tanjun aku melewati beberapa kerajaan tanpa mampir dan sampai tujuan pukul 12.
Dungeon terdapat di hutan, dan hutan ini tidak dimiliki oleh kerajaan manapun, jadi aku masuk ke wilayah hutan tidak memerlukan ijin, kecuali untuk manusia biasa yang membutuhkan penginapan dan makanan harus berhenti di kerajaan lain.
"Hoss hosss hoss." Aku yang berhenti sejenak di pinggiran hutan karena habis maraton selama 5 jam.
'Hah, kalau aku manusia biasa pasti sudah mati.'
'Sistem.'
___________________________________
Nama : Lilias Coksumbar.
Ras : vampir.
Level : 70.
HP : 6000/6300 [90%]
MP : 7000/12600 [90%]
SP : 7000/12600 [90%]
Skill :
-kesucian (sharity) [90%]
-kemalasan (sloth) [90%]
-kerakusan (gluttony) [90%]
-nafsu (lust) [90%]
-Manipulasi darah. [90%]
-Manipulasi elmen. [90%]
-Atlit bumi. [90%]
-Pencak Silat. [90%]
-Deteksi. [90%]
-Langkah bayang. [90%]
-Transformasi kelelawar. [90%]
Element:
air,kegelapan.
koin : 2.057.700
[Status] [Quest] [Shop] [Inventori]
___________________________________
'Wow, sistem, tiba tiba koinku melonjak.'
'Banyak misi dan pembunuhan yang telah master lalui, hanya saja master tidak memperhatikan notifikasi.'
'A, hehe.'
{Sebenarnya author lupa nulis,maaf, sama salah perhitungan}
'Oo, yang penting aku kaya.'
Setelah sejenak mengambil nafas, meskipun masih sedikit lelah aku menuju ke dungeon, aku mengetahuinya melalui skill deteksi.
Aku berjalan menuju titik dimana aku yakin bahwa tempat itu adalah dungeon.
Terlihat sebuah gua yang besar dari batu, di bawah tertancap plang tertulis dungeon cebretan.
'Akhirnya aku sampai, aku harus cepat cepat, karena aku hanya punya waktu satu jam di dungeon.'
Aku masuk ke pintu gua besar, terlihat banyak jejak disini, tentunya karena beberapa petualang dari beberapa kerajaan banyak yang kemari.
monster disini lumayan kuat, banyak monster rank C berkeliaran meskipun banyak petualang yang masuk, sepertinya monster di dungeon bisa recall recall, atau munkin ada penyihir yang mensumonya, pantas jika disayaratlan rank B untuk masuk dungeon.
Tapi siapa yang memberi syarat itu?, apa munkin cuma syarat tidak tertulis, tapi siapapun yang memiliki anak pasti melarangnya masuk sebelum kekuatanya setara petualang rank B.
Jika kalian hanya rank C, munkin hanya bisa membunuh satu monster, setelah itu tubuh kalian akan jadi perayaan untuk mereka.
Karena di dungeon terdapat petualang lain, aku tidak ingin ada yang melihatku sebagai seorang petualang yang membawa sabit monster, jadi aku menunjukkan wujudku bahwa aku memang bukan manusia.
Aku membuka penyamaranku, membuka masker yang biasa kukenakan, dan mengikat rambutku yang biasanya mengganggu jika tidak diikat, kemudian aku mengeluarkan sabitku.
"Uwaah, inikah kebebasan." Ucapku.
Setelah aku melepaskan aura vampirku, terlihat monster lemah sedikit ketakutan.
"Xixixi, makhluk bodo ini." Tawa ringanku.
Tiba tiba datang beberapa orang dari pintu gua, aku yang baru saja masuk pun berpapasan dengan mereka.
"Di dia, dia seperti si anak itu, anaknya Coksumbar." Ucap salah satu pengikut.
Mendengar sebuah perkataan mereka, aku sedikit mengamatinya, dan kagetku setelah melihat orang kesatria berfull armor berlapis emas dan beberapa pengikutnya.
Melihatnya membuatku bergidik dan melebarkan mataku, dan aura kemarahan memancar dari tubuhku, membuat pengawal lawan ketakutan, tidak dengan pemimpinya.
"Yoo, pahlawan, sudah lama kita tak bertemu." Ucapku mengacungkan sabitku.
"Haha iya, sudah 3 tahun aku bolak balik di dungeon ini, kebetulan sekali sekarang bisa bertemu denganmu." Ucap pahlawan, ia memasang kuda kuda dengan pedang.
Terlihat dari kuda kuda, dia membuat gerakan tidak asing.
'Munkin cuma mirip.' Gumamku.
Dengan kesabaranku mencapai batas, aku menyerangnya secara acak dengan sabitku, tapi ditangkis olehnya.
"Kamu memang kuat ya." Ucap pahlawan yang sedikit terdorong.
Pahlawan berganti menyerangku dengan tekhniknya, dan aku menangkis dengan tekhnik yang mirip dengan apa yang tadi dilakukan pahlawan.
"Hmm." Gumam pahlawan.
Sejenak kami berdua berpikir, dengan apa yang terasa tidak asing.
Kami melanjutkan pertukaran senjata kami, teknik tebasan, teknik menghindar ,dan bertahan kami lakukan sampai cukup banyak.
"Dari mana kamu belajar tekhnik itu?" Tanya pahlawan di jeda serangan.
"HM, seharusnya aku yang bertanya."
'Sial, kenapa susah sekali mengalahkanya tanpa skill kuat, tapi staminaku sedang tidak baik baik saja setelah maraton 5 jam.'
"Aku akan membuatmu mengatakannya." Lanjut pahlawan menyerangku.
Kami berlanjut bertukar senjata dengan gerakan yang sama tanpa ada yang kalah.
'Kenapa pahlawan ini punya tekhnik yang sama denganku, siapa sebenarnya dia, aku ingin membuka topengnya.' Gumamku kemudian menargetkan kepalanya.
Pahlawan yang menyadarinya mengambil jarak dariku, setelahnya dia menggunakan skill yang membuat pedangnya memancarkan aura.
'Sepertinya dia mulai serius, aku tidak akan kalah.' Aku kemudian mengalirkan banyak aura ke sabit besarku.'
Andai saat ini aku tidak kelelahan, pasti sudah bisa mengalahkanya, tapi apa daya.
Kami terus bertukar senjata, terlalu banyaknya pertukaran, aku sedikit merasa nostalgia.
Pertukaran seperti ini terakhir kali ketika aku dan teman lamaku sedang berlatih silat bersama di kehidupan dulu, entah kenapa pertarungan ini membuatku mengingatnya kembali.
Tanpa sadar aku terlalu asik melakukan pertarungan, sampai sampai aku baru menyadari, pertukaran kami telah berlangsung lama.
'Gawat, karena asik bermain pedang, aku sampai kurang serius menghadapinya, sepertinya aku telat pulang, tapi bagaimana dengan misinya.'
Teringat wajah khawatir mama, dan wajah marahnya di pagi tadi, membuat hati tak kuasa untuk menolak permintaannya.
'Hukuman sistem hanya satu hari, paling tidak aku tidak membuat mamaku marah lagi.'
"Pahlawan, ketika kita bertemu kembali, itu adalah pertemuan terakhir kita." Ucapku yang sedang bersiap dengan skill langkah bayangku.
Skill ini sedikit memakan stamina dan mana, jadi aku menggunakannya ketika aku sedang sembunyi.
Aku memasukkan skill langkah bayang dan maraton, sehingga bisa pergi melewati bahlawan, aku harus segera kembali pulang dengan cepat.
"Whuss"
"Whuss." hanya suara angin yang terdengar dari pelarianku.
Seperti yang kulakukan waktu berangkat, aku cuma berlari menghindari kerajaan.
Sampai aku tiba di depan rumah dengan cepat dan ngos ngosan, aku melihat akira sedang menyirami tanaman yang dulu kami tanam.
"Lilias Chan, ada apa kenapa kamu heboh sekali."
"Ah tidak, aku akan mandi dulu." Ucapku.
"Iya sana, ntar ajarin aku masak ya." Akira yang sedang menyiram bunga.
"Iya." Aku masuk rumah belum ada siapapun di rumah, sepertinya orang tua belum pulang, menengok jam.
"Haaa, masih jam 5:30." Kagetku melihat jam dinding.
'Sial aku sangat butuh jam, agar lain kali tidak tertipu lagi, biarlah.' Gumamku.
Seperti janjiku, aku masak makan malam sembari mengajari Akira, masakan biasa yang biasa kami makan cukup mudah membuatnya.
Kami menyiapkan makanan di atas meja, dan tepat sekali setelah kami selesai memasak, paman dan mama bilang di waktu yang sama, kami berempat pun makan bersama.
Aku cukup lelah, malam hari tidak ada yang bisa kulakukan, apa kamu mengharapkan aku memburu Manusia, tentu tidak, aku menyukai mereka.
'Lebih baik aku tidur cepat.'
"Ma, aku tidur duluan ya." Ucap lelahku menuju kamar.
"Iya , nanti mama nyusul." Ucap mama masih di meja makan.
.
.
Malam aku tertidur lelap, sebuah penanda waktu ber energi batu sihir menunjukkan pukul 00:00.
[Ding, waktu selesai, misi gagal, user akan di pindahkan ke ruang hukuman].
.
.
'Eh, bukanya tadi aku sedang tidur, dimana ini?.' Batinku terheran.
Melihat sekeliling, aku telah berada di ruangan aneh.
Tangan, kaki dan leherku terikat dan duduk tanpa bwusana disebuah kursi.
Di depanku terdapat mesin yang juga aneh, mesin itu memiliki benda mirip terong yang bergerak sendiri bergetar dan maju mundur.
Ada juga makhluk tentakel berlendir yang bergerak menggeliat di sampingku.
Terdapat makhluk seperti slime berbentuk manusia yang membawa jambuk.
[Hukuman akan dimulai]
"Apaaa!!!!"
.
.
.
.
.
Bersambung....
Entah apa motivasinya, ceritanya sampai begini, mwehehehe.