Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 11 Akira.


Kami berjalan cukup jauh melewati hutan, bernama hutan bisma, berangkat sekitar pukul 6 pagi, dan sekarang sudah pukul 3 sore, di bawah terik matahari musim panas yang menyengat, kami di sejukkan dengan terlihatnya sebuah gerbang yang besar.


Sesampainya di gerbang kerajaan Tanjun, kami tetap membunyikan identitas kami menyamar sebagai barang, karena kedua kerajaan memiliki hubungan diplomatik, meskipun hanya di permukaan, kami menghindari masalah sedikit munkin.


Kami berjalan ke sebuah pedesaan, berada di pinggiran ibu kota, seperti kebanyakan di dunia ini, setiap di antara kedua kota terdapat ladang pertanian, dan sebuah desa berada di antara ladang dan kota, karena orang pedesaan biasanya bertani.


Kami sampai di sebuah rumah yang sederhana jika dibandingkan rumahku, tapi di desa itu termasuk rumah besar dengan dua lantai.


"Papa!!" Teriak gadis kecil yang menunggu, dia Akira Chan dengan pakaian piyama tipis.


Ya, saat ini sandi yang nyetir, karena setelah masuk kerajaan Tanjun, sopir sebelumnya pulang ke Sambac.


"Papa, selamat datang."


"Aku pulang, Akira Chan." Ucap sandi menuju Akira dan mengelus kepalanya.


Aku yang baru keluar kereta, terdiam sebentar melihat pemandangan itu, teringat kejadian yang belum lama.


Setidaknya aku masih memiliki mamaku di sampingku, ketika aku menoleh ya, aku melihatnya tersenyum padaku.


"Ayo." Ucap mamaku.


"Mmm." Anggukku.


"Eh kenapa Tante Sri Solaya di sini, dan siapa dia." Ucap gadis yang sedang melihat ke arahku dengan sedikit ketakutan.


Mendengarnya, membuat hatiku loncat, apa aku terlihat sengat berbeda sekarang.


'Apa, kami memang cuma bermain sekali, tapi apakah memang aku menjadi sangat berbeda, dan kenapa dengan wajahnya itu.' Aku menunduk sedih.


Melihatnya, paman Sandi segera mengajak kami semua masuk.


Ketika kami masuk, aku tidak melihat sosok ibunya di manapun, tapi aku tidak mempertanyakannya.


Melepas penat kami ngeteh bersama, disana paman sandi menceritakan apa yang terjadi pada keluargaku sebelumnya, mulai dari petualangannya sampai berniat mampir di rumah sahabatnya, tapi disuguhi sebuah kericuhan.


Dengan sebuah kebetulanya, dia masih bisa menyelamatkan seorang anak dan ibunya.


Dia juga menceritakan identitasku yang seorang vampir.


Mendengar cerita itu, semua di ruangan menjadi sunyi senyap sedih kaget, semoga tenang di alam sana.


"Jadi kamu Lilias, dan kamu adalah vampir?" Ucap Akira dengan wajah terkejut.


"Maaf Akira, aku munkin membuatmu takut, aku...."


Aku bingung apa yang harus kukatakan, sebagai teman pertama yang ku dapatkan di dunia ini, aku sangat mengaggapnya berharga.


Sebelum aku melanjutkan perkataanku, Akira memelukku dengan meneteskan air mata.


"Tidak Lilias, seharusnya aku yang minta maaf, karena menganggapmu lain, padahal kamu sedang terkena musibah."


Akira yang sedih mencoba menenangkanku dengan kata katanya, dari banyaknya percakapan yang tidak bisa kutulis, aku mengetahui bahwa ibunya Akira ternyata sudah meninggal setahun yang lalu.


Munkin adu nasib bukan pilihan yang baik, menyadarinya sandi segera menyiapkan makanan.


"Setelah perjalanan jauh pastinya lapar, aku siapkan makanan dulu ya." Ucap sandi berenjak dari kursinya.


.


"Maaf aku hanya bisa menyiapkan seadanya."


Wajar bagi seorang yang baru satu tahun ditinggal istrinya.


"Tak apa, ini sudah sangat enak, sekali lagi terimakasih untuk bantuanya." Ucap mamaku dengan tersenyum.


Habis makan kami membicarakan apa yang akan kami rencanakan selanjutnya, untuk saat ini mamaku karena tidak ingin terlalu merepotkan orang lain, jadi dia memilih bekerja di kota, sesuai apa yang ia kuasai.


Dan ketika paman Sandi dan mamaku pergi kerja, aku dan Akira bermain di rumah, untuk seorang yang seumur anak satu SD tidak banyak yang bisa dilakukan, kecuali aku yang seorang reinkarnator.


Untuk hari ini, waktu untuk istirahat, tidak baik setelah pindah langsung keluyuran.


"Nee Akira, aku bawa banyak bunga lho, kita bisa menanamnya di halamanmu, daripada kosong." Ucapku menjernihkan suasana.


"Benarkah, yeheee, ayo kita ke halaman." Ucap Akira kegirangan.


Kami berdua segera menuju halaman, aku mengeluarkan tiga bunga dari tiap jenis yang ada banyak, sudah direncanakan sebelumnya, sehingga aku menyimpan bunga itu dengan akar akarnya, agar bisa ditanam kembali.


Melihat Akira yang terlihat seperti orang tanpa masalah, aku pun ikut senang.


'Tapi apa ini, sekarang aku merasa sangat panas ketika terkena sinar matahari langsung,aku merasa kulitku akan gosong, untung tadi siang aku didalam kereta.' Batinku mengingatkan kerah.


"Nee Akira, apa kamu tidak merasa panas." Tanyaku melihat Akira yang masih garuk garuk tanah.


"Tentu panas, ini kan musim panas." Ucapnya tak peduli.


Kesialan menghantamku, bagaimana munkin seorang vampir kecil rumahan nolep di jemur di musim panas, bahkan aku yang dulu pasti merasa panas, tapi sekarang seperti akan menguap.


"Selesai." Ucap Akira setelah garuk garuk dan menyirami bunga.


"Aah Akira, aku sudah tidak kuat, aku masuk ya." Ucapku yang keringatnya mengalir dan kulit matang.


"Ah aku juga."


Kami segera masuk, diruang tamu yang masih ada sandi dan mama Sri, kami mencari air minum yang dingin.


"Lilias Chan, apa kamu tidak apa apa, kamu sampai terlihat mengerikan begitu." Mamaku terlihat khawatir saat melihatku.


"Panas sekali ma, munkin karena aku seorang vampir kecil rumahan." Candaku sambil mengibarkan rok yang ku kenakan.


"Mo~, kamu pikir ini dimana." Mama yang bosan mengingatkan.


"Dinginkan badan kalian di kamar mandi, kalian berdua segeralah mandi, nanti gantian.' Ucap paman.


"Baik paa."


"Baik paman."


Wiya, aku sangat ingin mandi, kalau ada aku ingin air es, aku segera mengikuti Akira, berjalan di belakangnya.


Sesampainya.


"Bajunya taruh sini aja Lilias Chan."


"O oke."


Aku melihat Akira yang tanpa ragu melai melucuti pakaianya.


'wow loli satu ini juga indah, kalau aku yang dulu munkin sudah mengarunginya.'


Sebagai anak yang juga berusia 7 tahunnan, miliknya pasti rata.


Aku disini merasa malu sendiri, bukan karena melihatnya sebagai lawan jenis, tetapi karena suatu yang lain.


Aku pun mulai membuka pakaianku, sambil menutupi daerahku, kami segera mandi.


[Ding, anda memiliki quest yang telah perbarui].


'Eh apa itu, kenapa sekarang, semoga tidak aneh aneh.'


'Quest.'


___________________________________


Quest harian:



Berlatih menggunakan pedang. Rewd: 20 poin


Memasak. Rewd: 20 poin


Mandi sendiri. Rewd: 20 poin


Berpakaian sendiri. Rewd: 20 koin


Tidur dengan orang tua. Rewd: 20 koin



Quest sampingan:


-Cubit dua dataran Akira. Rewd: 1000 koin


Quest utama:


-Menjelajahi hutan bisma.


Rewd: skill pasif, resistensi suhu berlebih.


[Status]. [Quest]. [Shop]


___________________________________


'Quest harian tidak terlalu berubah, tapi apa apaan quest sampingan itu, apa sistem ini tidak waras.'


Di kehidupan dulu, katanya di jepang memegangi gunungan adalah salam dari sesama wanita, aku tidak tau kebenaranya karena di Indonesia tidak ada, tapi apakah tidak apa apa aku memegangnya, aku yang mantan laki laki.


Dulu ya dulu sekarang ya sekarang, lagian dia juga anak polos, aku menatap Akira yang di sebelahku sedang pakai sabun.


"Sini aku bantu gosok badanmu." Langsung nyonyor.


"Oke." Sutnya.


Dengan berkedok menggosok, aku menggosok kesemua badannya, tanpa rasa aneh, kemudia tepat di di brenjilanya, aku mencubit sesuai misi.


"Ee Lilias,apa yang kamu lakukan." Ucapnya kaget.


"Eh maaf, aku kepleset hampir jatuh, untung aja tadi pegangan."


EGM, gimana ini, kemudian Akira minta bergantian posisi, seperti yang biasa kulakukan dengan mamaku, kami bergantian menggosok badan kami, aku yang khawatir dibalas, aku menutupi brinjilanku.


Tapi apa yang terjadi, dia memegangi tempat lain.


"Eeh Lilias, telingamu jadi panjang, aku jadi sangat tertarik." Ucapnya sambil meniup telingaku.


Ugh, kageet, Aku merinding dibuatnya, tanpa sadar tanganku berpindah menutupi telinga.


Melihat peluang, Akira membalas perbuatannya tadi, brinjilanku pun di cubit.


"Aaawwww."


Dah lah mandinya, aku ingin segera hari esok, untuk segera menyelesaikan misi utama, suatu yang paling ku butuhkan.


.


.


.


Bersambung...