
Di malam yang mencekam, mama dan ayah terikat dan dijaga empat pahlawan biasa, taiga dan Akira terbatas gerakannya karena dikelilingi para kesatria, sedangkan aku dikelilingi oleh enam pahlawan pengguna skill kebajikan yang ingin membunuhku.
'Uh, mereka terlihat kuat, apa aku bisa menyelamatkan mama'. Keringat keluar dari tubuhku.
"Lilias, pergilah, jangan hiraukan mama!" Solaya terus berteriak, sandi yang ada di sampingnya mulai membuka mata.
"Hehe, maaf ma, setidaknya jika aku mati kalian akan selamat." Ucapku yang sebenarnya merasa merinding.
"Apa yang kamu katakan bodoh." Lanjut mama Solaya.
Aku tidak lagi menghiraukan mama, kini tinggal fokus untuk melawan musuh yang mengepungku.
"Jika kamu memutuskan untuk menyerahkan nyawamu, kami akan langsung melepaskan mereka kok." Ucap salah satu yang mengepungku.
"Yah, tapi jika aku membunuh kalian, kami semua akan selamat."
Aku mengeluarkan sabit kesayangan, dengan cepat aku menuju target di depanku sambil mengayunkan sabit dengan keras.
"Ting." Suara dentuman terdengar keras, hantaman dari sabitku mengenai barier yang kuat.
"Oy oy oy, bukanya barier itu dimiliki skill kesucian." Ucapku.
"Ya, yang kumiliki memang bukan barier absolute." Ucapnya.
"Aku kembali mengayunkan sabit dengan cepat, dan banyaknya hantaman sabit hanya mengenai barier, kemudian aku mengeluarkan gluttony.
"Gluttony!" Teriakku.
Barier dengan cepat hancur, namun sebelum aku melanjutkan serangan, pahlawan di belakangku menembakkan sihirnya, aku hanya bisa menghindarinya.
Mereka melanjutkan seranganya dengan pedang bersama-sama, aku tanpa skill barier hanya bisa menangkisnya dengan sabit, aku memutarkan sabit dengan kuat, namun kekuatanku masih belum cukup menangkisnya, membuatku terluka dengan serangan mereka.
Serangan masih terus berlanjut, setiap beradu kekuatan hanya membuatku terluka, meskipun aku memiliki regenerasi namun masih membuat lelah.
Aku mengeluarkan sayap, dan terbang untuk mengambil jarak.
"Ayo lust."
Aku menggunakan skill nafsu, untuk mencuci otak salah satu dari mereka, dan menggerakkannya sesukaku untuk menyerang.
"Hiyaa!!"
Tiba-tiba salah satu pahlawan menyerang temanya sendiri, membuat orang lain bingung, dan aku bisa mengurangi jumlah musuh.
"Hey, apa yang kamu lakukan padanya." Dia yang diserang oleh temanya sendiri.
"Yah, nikmati temanmu sendiri." Lanjutku.
Kini aku bisa lebih fokus pada empat orang lainya.
Kebanyakan skillku yang kuat ada pada skill serangan jarak pendek, jadi aku lebih fokus pada serangan sabitku sambil mengeluarkan gluttony.
Skill gluttony dapat menyerap mana orang lain, dan mananya terkirim padaku, membuatku menjadi lebih kuat.
"Sial, gluttony miliknya menyusahkan, tarik dia kebawah." Teriak salah satu dari empat yang kuserang.
Aku yang terbang, diserang menggunakan rantai putih dari bawah, hawa dari rantai terasa tidak biasa.
"Ini?" Aku terkejut merasakannya.
Aku dengan cepat menghindar dengan langkah bayang.
"Huuh."
Aku mengeluarkan banyak mana ke dalam sabit, tidak seperti biasa, aku menggunakan separuh dari banyaknya manaku hingga sabit bergetar keras.
"Buat pertahanan." Teriak musuh di bawah.
Kuayunkan sabit dengan keras menuju musuh di bawah.
"Dummm!"
Serangan dariku membuat tanah terbelah, namun musuh yang terkena hanya mendapat luka ringan.
"Eh kenapa belum cukup." Aku terheran.
"Apa kamu tidak tau, salah satu skill kebajikan dapat membuat kami semakin kuat jika kami berkelompok." Ucap musuh di bawah.
"Cih."
Musuh di bawah kembali menembakkan banyak sihir mengarah padaku, aku terus menghindarinya dan menangkisnya.
"Merepotkan."
Bola api yang mengenaiku meledak, asap terbentuk darinya membuat pandanganku terbatasi, namun serangan masih terus berlanjut.
Tanpa sadar, aku terkejut dengan kedatangan orang di belakangku, dia mengayunkan pedang dengan keras, aku dengan cepat menghindarinya, namun seranganya masih mengenai sayapku hingga terpotong.
"Sial."
Karena tidak bisa menyeimbangkan badan di udara, aku terjatuh ke tanah.
"Apa kamu pikir cuma kamu yang bisa terbang, hahaha." Ucapnya.
"Kenapa manusia bisa terbang, apa ini skill kebajikan yang lain." Aku terheran dibuatnya.
"Yeah, tapi bukan hanya itu kemampuanya."
Setelah dia mengatakannya, tiba-tiba dia berada di hadapanku dan mengayunkan pedang besarnya.
"Ughuk-ughuk."
Halaman mansion sangat luas, namun untuk pertempuran kami terasa sempit, orang lain yang menonton perlahan mengambil jarak, begitu pula taiga dan Akira yang tidak punya pilihan lain selain menonton.
Serangan berlanjut, setiap dia menyerang aku selalu menangkisnya, bahkan hanya satu orang saja membuatku kewalahan.
Ketika dia sedang semangat menyerangku, tiba-tiba dia mengambil jarak dengan cepat.
"Lakukan!" Teriaknya.
"Eh."
Tiba-tiba datang rantai putih dari belakangku, rantai melilit tubuhku dengan kuat.
"Rantai apa ini." Aku terlalu lemah untuk melepaskannya.
"Ini adalah salah satu dari skill kebajikan, rantai suci ini dibuat khusus untuk menangkap iblis sepertimu, dan dapat menyerap energimu, pikir sendiri saja ini skill apa." Ucap dia di belakangku.
Karena skill ruller hanya bisa diatasi dengan skill ruller lainya, aku mengeluarkan gluttony dan menyerang rantai yang melilitku.
"Prak!" Rantai hancur berkeping-keping.
"Masih belum." Ucapanya dibarengi dengan datangnya rantai kedua, rantai kembali melilitku, namun kali ini lebih kuat.
"Gluttony!" Teriakku, namun rantai belum juga hancur.
"Apa kamu sadar, bertemu dengan sesama skill dewa, pemenangnya tergantung pada kemampuan penggunanya." Ucap dia yang merantaiku.
"Sial, harusnya aku tidak terburu-buru melepas kesucianku."
Penyesalan datang di akhir, kalau di awal namanya pendaftaran, ketika aku sedang susahnya melepas ikatan rantai, datang kembali serangan pedang, kali ini ia menju kakiku.
"Sheess."
Aku yang kesusahan menghindarinya, kakiku terkena serangan hingga putus sebelah, darah keluar deras darinya.
"Jangan, jangan sakiti anakku!" Wajah Solaya semakin pucat melihatnya.
"Sakit, ini sakit."
Aku terus berusaha melepas rantai yang melilit, namun dengan banyaknya darah yang keluar dari kaki yang terputus, tenagaku semakin berkurang, dan susah untuk bergerak.
Tiba-tiba langit malam menjadi terang, aku melihat ke atas dan tepat di atasku terdapat awan yang berputar, awan terus berputar sambil mengeluarkan kilat listrik.
"Apa lagi ini."
Aku melihat sekeliling, terlihat salah satu pahlawan sedang duduk semedi, dia seperti sedang mengeluarkan suatu mantra.
Dari awan yang berputar di langit, keluar petir berbentuk naga yang besar, semua orang di bawah yang melihatnya dibuat melongo.
"Berakhir, kita sudah berakhir."
Aku melihat naga guntur di atas membuat punggungku bergidik, pusaran angin yang terbentuk darinya semakin membuat buluku berdiri.
Aku mencoba melepaskan dari rantai namun sangat susah, apalagi dia menyerap staminaku.
"Lilias awas."
Teriakan orang lain tidak masuk ke telingaku, aku yang merinding semakin pasrah dengan keadaan.
"Ini adalah salah satu skill kebajikan milikku, aku bisa membuat kekuatan serangan berkali-kali lipat meskipun butuh waktu, nikmatilah!" Ucap dia yang sedang duduk semedi.
'Apa yang harus kulakukan, aku sudah kehabisan cara, apa aku akan mati di sini.'
Petir berbentuk naga di atas berputar-putar, sengatan listriknya membuat listrik di rumah semua padam, namun cahaya petir membuat malam terlihat hampir seperti siang.
Dengan cepat naga turun menuju arahku.
"Duar!!" Petir berbentuk naga yang besar, turun menghantamku dan meledak.
"Liliaaas!!"
Getaran darinya sampai berjarak beberapa kilometer, angin menghempaskan semua orang di sekitar, tidak terkecuali para kesatria yang mengepung Akira, juga mamaku yang sedang di sekap, semua terpental dibuatnya.
Bahkan mansion yang berdiri kokoh menjadi rusak.
"Ughuk-ughuk!" Solaya terpental menabrak dinding mansion, darah keluar dari mulut dan rawanya.
Sandi yang dari awal sudah dihajar habis-habisan kembali hilang kesadaranya.
"Lilias, anakku, hiks." Wajah Solaya terlihat sangat kacau.
Di sisi lain, Akira dan taiga yang terpental juga membuat wajah kacau, mereka melihat arah serangan yang tertutup oleh kabut tebal.
"Apa Lilias bisa bertahan."
.
.
.
.
.
Bersambung.....