
Di atas istana kerajaan Sambac, terdapat dua makhluk yang sedang bertarung, yaitu naga merah kecil dan Vampir Imut, ya itu aku.
Sambac, nama kerajaan diambil dari banyaknya bunga melati putih yang tertanam di kerajaan ini, melati putih atau jasminum Sambac.
Kami berdua terus bertarung sambil menghancurkan istana, membuat para penghuni istana berlarian ketakutan, ada yang mencari pengungsian, ada pula yang mati tertindih bangunan atau terkena serangan dariku.
"Awas, awas, hancur, istana hancur." Teriak para penghuni istana memeriahkan suasana.
"Graa!" Sedangkan naga terus mengaum sambil menembakkan sihir api kearahku.
"Hahaha." Aku tidak banyak menyerang, hanya menerima serangan dari naga, dan melemparkan bola seranganya kepada istana, membuat istana porak poranda, dan juga beberapa menuju rumah penduduk.
"Hahaha." Aku terus tertawa kencang, namun di dalam mata, tidak terlihat kegembiraan maupun kelucuan, justru mataku terus mengeluarkan air.
'Rumit, ini sungguh rumit, apa yang sebenarnya aku inginkan.'
Serangan dari naga terus berlanjut, beberapa serangan kuterima dan ada juga yang kulemparkan ke istana, saat itu aku menoleh ke bawah dan melihat seseorang yang mencolok.
"Sepertinya dia rajanya." Ucapku ketika melihat seseorang pria yang memakai jubah besar dan mahkota di atas kepalanya yang sedang berlarian.
aku turun menghampirinya dengan cepat, tidak sampai satu detik seketika aku berada di depannya yang sedang berlari, seketika dia berhenti dengan terkejut.
"Si siapa kamu!" Ucap raja yang terbata.
"Hallo raja, namaku Lilias." Ucapku dengan senyum manis.
"Apa yang kamu inginkan, kenapa kamu menghancurkan istanaku!" Lanjut raja dengan kemarahanya.
"Bukanya kalian yang menginginkannya, kalian kan yang menyuruhku untuk menghancurkan kerajaan Sambac, sampai-sampai kalian membunuh semua keluargaku, jadi berterimakasihlah." Aku masih dengan senyum manis.
"Iblis sialan, aku sendiri yang akan membunuhmu."
Raja mengeluarkan pedang yang tersarung di tanganya, dia bersiap untuk menyerangku, terlihat sepertinya raja memiliki kekuatan setara petualang rank S belum sampai legenda.
"Benci, aku benci orang bodoh." Aku membuka mata lebar-lebar, dan aura kematian keluar dari tubuhku.
Raja dengan pedangnya menyerangku, dia mengarahkan seranganya di kepalaku, namun dengan cepat aku berpindah ke belakang raja tanpa dia sadari.
"Eh." Raja yang terkejut karena aku menghilang dari hadapannya.
"Di sini." Ucapku sambil menangkap leher raja dan mencekiknya.
"E, lepaskan aku." Raja merasa kesakitan.
"Coba kamu pahami rasa ini, raja." Ucapku sambil meneteskan air mata.
Aku terus mencekiknya keras dan semakin keras, air mataku pun semakin deras, mata raja semakin melotot dan tanpa ucapan apapun.
"Drr." Leher raja terputus, dan memuncratkan darah merah yang banyak.
"Aku akan membuatmu lebih berguna."
Aku mengangkat kepala raja di atasku, darah yang keluar dari kepala mengalir ke mulutku.
"Glk glk." Darah raja mengalir di tenggorokanku.
Setelah darah habis, aku melempar kepala yang sudah tidak berguna.
"Duar!!" Naga di atas kembali menyerangku yang di bawah.
Seranganya terus berkelanjutan, dan aku terus melempar seranganya ke sekitar.
.
.
.
Malam terlewat, kini matahari mulai menampakkan sinarnya, dan pagi yang cerah ini kami disambut oleh sebuah istana yang dulunya gagah berdiri, namun kini tinggal puingnya.
Ketika aku yang dibawah sedang bersiap menerima serangan dari naga, tiba-tiba naga berhenti dari seranganya dan terjatuh di atas tumpukan puing-puing istana.
"Hay." Aku berjalan menghampiri naga itu.
Ketika aku mendekatinya, aku melihat tubuh naga merah itu perlahan mengecil, dari yang panjangnya 5 meter kini memendek, tubuhnya semakin mengecil namun tidak dalam bentuk naga, kini terlihat seorang gadis berambut merah yang berbaring tanpa sadar diatas tumpukan puing-puing.
"Akira." Ucapku yang melihatnya dengan wajah sedih.
Pertarungan kami berakhir, aku tidak tau kedepanya bagaimana, aku sungguh tidak ingin bertengkar dengan orang yang ku sayangi.
"Huuft." Aku menghadap ke langit yang mulai cerah, menarik nafas panjang, dan air mata mengalir dariku.
Aku menoleh sekitar, tanpa sadar ternyata sudah banyak orang yang melihat kami dari jauh, ada juga orang yang kukenal mendekat, seperti Taiga, Yuli dan Kazuya mereka berdiri di jarak 20 meter dariku.
Taiga membuat wajah rumit ketika melihatku yang compang camping dan banyak darah di wajahku.
Keheningan terjadi, tidak ada satupun di antara kami yang membuka suara, membuat dadaku semakin sesak.
Aku mengambil duduk di samping akira yang tanpa sadar, kemudian mengeluarkan gitar akustik yang sering kumainkan.
"Jreng." Petikan pertama terdengar.
Aku memainkan lagu dengan chord intro, am e am e, am g dm am, f e am...
Kemudian aku bernyanyi dengan tenang, aku cuma ingin menenagkan perasaanku.
Aku terus bernyanyi sampai pada bait.
Kita terpaksa berpisah untuk mencari arah
Kita dipukul ombak hidup alam yang nyata
Aku yang bernayi dengan tenang tanpa memperhatikan orang lain.
Yang menjanjikan hidup sempurna
Tapi aku hanya tunduk ke bumi, hidup tertekan.
Angin silir mengibarkan rambutku yang terurai berantakan, membuat wajahku yang memiliki bercak darah dan telinga panjangku menjadi terlihat jelas.
Jika kau bertemu aku begini
Berlumpur tubuh dan keringat membasah bumi.
Kekuatan di tubuhku menjadi tidak beraturan, aura kematian dariku terpancar menyengat orang di sekitarku, dan membuat semua bunga melati putih di sekitar kerajaan berubah menjadi bunga spider Lili berwarna merah.
Di penjara, terkurung, terhukum
Hanya bertemankan sepi.
Bisakah kau menghargai
Cintaku yang suci ini.
Sekian, Tiara dari M Nasir cover Lilias.
Setelah aku selesai bernyanyi, kami kembali dalam keheningan, aku menyadari munkin aku harus lebih paham dengan diriku sendiri, aku harus lebih mengenal diriku.
Sambil memangku gitar aku menyilangkan kaki, kaki kanan di atas kaki kiri.
"Yuli, kemarilah." Panggilku dengan tanpa ekspresi.
"Baik, tuan." Yuli dengan senyumannya berjalan mendekatiku.
Aku mengeluarkan beda dari sistem, yaitu dua buah ikat rambut berwarna merah, yang ujungnya terdapat miniatur bunga Lili merah.
"Pakaikan ini padaku." Aku memberikan dua buah ikat rambut pada Yuli.
"Baik." Yuli menerimanya.
Dengan dua buah ikat rambut, Yuli paham dengan apa yang kuminta, Yuli membuat rambutku menjadi kuncir twintail, ya itu adalah ikat rambut yang dulu sering kugunakan.
"Kemudian ini." Aku memberikan dua buah anting, yang memiliki bentuk bunga spider Lili.
Setelah mereka terpasang, telinga yang dulu selalu tertutup kini mendapatkan kebebasan, Dengan penampilan baru, aku sedikit merasa lega.
"Huuh."
Aku kembali memasukkan gitar ke dalam sistem, kemudian berdiri.
"Choughh! ughuk-ughuk." Tiba-tiba aku tebatuk dan mengeluarkan banyak darah dari mulut, seketika aku mematikan mode bertarung dan membuat tubuhku yang sebelumnya bersinar kini menjadi redup.
"Hah, sepertinya tubuhku sudah tidak kuat."
Pandanganku menjadi kabur, dan perlahan mulai menghitam, aku yang berdiri pun tidak dapat menyeimbangkan badan.
"Bruk." Kesadaranku menghilang dan jatuh pingsan disamping Akira yang belum sadar.
.
.
.
.
.
Bersambung.....