Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 46 Hari libur ke dungeon.


Pagi yang cerah, udara hangat, membuat siapapun ingin tidur setelah bangun, namun karena memaksa bangun jadinya bangun dengan malas.


"Oaaagh." Bahkan ketika makan kami sambil mengaup.


"Nee Lilias, apa yang ingin kamu lakukan hari ini." Akira membuka percakapan.


"Tidur lagi, mumpung hari libur." Ucapku dengan malas.


"Lah kok tidur, kalau libur harusnya digunakan untuk bersenang-senang la." Lanjut Akira.


"La terus apa yang mau kamu lakukan."


"Rank petualangku kan sudah B, bawa aku ke labirin dong, ne." Akira mengepulkan tangan.


'M iya, aku juga ada misi naik rank ya.'


"Baiklah."


Sarapan pagi kami lalui dengan cepat, kemudian kami membenahi rumah, setelah berbenah kami berpakaian seperti petualang kemudia pergi menuju guild.


Dari rumah menuju guild kami berjalan seperti biasa agar tidak mencolok.


Tidak sepertiku yang memasang wajah malas, Akira justru terlihat gembira karena ini pertama kalinya dia akan menuju labirin, bahkan dia berjalan sambil melompat seperti anak bego.


Sesampainya di guild, kami akan memberitahukan misi yang akan di ambil, tapi sebelum kami berhadapan dengan Yuli, datang orang yang kukenal seperti biasa.


'Taiga? kenapa dia ada di sini.'


"Ee paman, selamat pagi." Akira yang cepat tanggap melihat taiga.


"Selamat pagi, apa kalian akan melakukan misi." Ucap taiga.


"Iya, bukanya kamu sekarang guru di akademi, kenapa kemari." Ucapku.


"Yaa aku hari ini juga libur, jadi aku mau melakukan misi untuk uang tambahan." Jelas taiga.


"Ooo gitu."


"Kita buat parti aja, jarang-jarang kita bersama lhi, bisa kan Lilias." Akira menoleh ke arahku dengan wajah memelas.


"Iya iya." Ngguku.


Taiga cuma mengangguk dengan senyumnya, dia tanpa banyak bicara cuma mengikuti apa yang di inginkan Akira.


Karena Akira yang mengajak, jadi Akira yang melapor ke yuli untuk mengetahui apa yang bisa kami lakukan untuk misi ke labirin.


Tentu saja butuh laporan, meskipun kami bisa membunuh banyak monster yang tidak ada dalam misi, namun jika melebihi batas nanti guild tidak cukup uang untuk membeli materialnya, jadi daripada sia-sia mending kami melapor, dan juga guild membutuhkan data pencapaian dan kegagalan misi anggota untuk kenaikan rank.


Setelah selesai melapor, kami pergi dari guild, kami berjalan keluar dari wilayah kerajaan, dan setelah melewati penjaga kami sampai di luar kerajaan.


Setelah melihat kanan kiri tidak ada orang yang melihatnya, aku membuka portal dan mengajak Akira dan taiga masuk, mereka cukup terbiasa dengan kemampuanku.


***


Tidak sampai lama, akhirnya kami sampai di depan pintu labirin, Akira yang baru pertama kali melihatnya dia melongo, karena melihat pintu gua yang sanga besar.


Tidak hanya Akira, taiga pun memiliki perasaan yang aneh, terlihat dari raut wajahnya ketika melihat kedalaman labirin.


'Di sini dulu aku pernah hampir membunuh Lilias.' Pikir taiga menatap labirin.


"Ada apa taiga." Aku yang terheran dengan wajah taiga.


"Aa tidak-tidak, ayo kita pergi."


Kami berjalan masuk menuju dalamnya labirin, kami berjalan cukup lama masuk terus menuju kedalaman, namun belum juga melihat monster.


'Deteksi aktif.'


'Aaaa, mereka masih tidur ya.'


"Taiga, kamu temani Akira ya, aku mau langsung menuju bawah." Ucapku.


"Bawah, kemana?"


"Lantai 100." Tanpa menunggu jawaban, aku langsung membuka portal menuju lantai 100.


"Eeeh, padahal dulu aku cuma bisa sampai lantai 50." Taiga yang sudah tidak melihatku.


"Hehe." Akira yang bahagia berdua dengan paman.


'Lilias sangat pengertian.'


Sesampainya di lantai 100 aku disambut oleh satu monster yang besar, ya semakin kebawah semakin sedikit monsternya, namun semakin kuat, dan yang di hadapanku yaitu naga besar berwarna merah.


Melihat kedatanganku yang mendadak, naga ini terkejut, aku tanpa memperdulikanya langsung mengeluarkan sabit kesayanganku yang kuselimuti dengan aura kegelapan, tanpa banyak bermain aku langsung menerjang menuju badan besarnya.


Dengan langkah bayang, gerakanku sulit diprediksi olehnya, mengayunkan sabit dengan kuat, menebas badanya, namun hanya menggores sedikit siripnya, naga melihat celah dan dia menabokku dengan ekor besarnya sampai aku terpental.


"Gwaaaaah." Naga meraung dengan kesal.


"Skill bela diri tidak cocok melawan naga, tapi sihir kecil tidak berguna ya, aku memang harus menggunakan skill ruller."


Aku mengeluarkan gluttony, menyelimuti sabit dengan gluttony, menjadikan sabitku terlihat lebih mengerikan, sabit terlihat seperti menyedot apapun ke dalam dimensi tanpa batas.


Aku bersiap menyerangnya.


"Tunggu tunggu tunggu, hentikan." Naga.


"Oyy ternyata kamu bisa bicara ya." aku menatap heran naga didepanku, dan menunda aksiku.


Tiba tiba tubuh naga memancarkan sinar berwarna merah, sinar itu begitu terang sampai tidak ada yang terlihat kecuali sinar dari tubuhnya, setelah sinar hilang, kini terlihat seorang wanita dengan rambut berwarna merah dan mata bergaris vertikal berwarna merah.


"Woy kenapa kamu datang lagi kemari." Naga yang berbicara itu sedikit kesal.


"Aku cuma butuh teman bermain yang kuat, lagian kamu kan tidak bisa mati, jadi tidak usah protes."


"Meskipun tidak mati tapi aku tetap merasa kesakitan, lagian jika kamu terus-menerus menghajarku nanti tuanku tidak punya cukup sihir untuk memulihkanku." Naga didepanku yang sepertinya semakin kesal.


"Kamu sudah pernah menaklukkan dungeon ini, jadi pergilah, jika ingin teman bertarung yang kuat datanglah ke benua tengah, jangan kemari." Lanjut naga.


"Benua tengah? apa munkin tuanmu ada di sana." Aku yang sedikit mikir.


"Ya munkin ada di sana, karena benua tengah memang tempat makhluk kuat."


"Jadi siapa tuanmu?" Aku lanjut bertanya.


"Aku tidak bisa memberitahumu banyak, tapi kekuatanya mirip denganmu." Jelas sang naga.


"Heee, begitukah, aku jadi tidak punya motivasi untuk melawanmu, terimakasih infonya, aku pergi dulu."


Pertemuan dengan perempuan naga begitu si ngkat, karena aku tidak tertarik dengannya, tanpa ada pertanyaan lanjutan, aku membuka portal dan langsung menuju tempat Akira dan taiga berada.


"Huuuh." Gadis naga menghela nafas.


***


Sesampainya di tempat taiga dan Akira, aku melihat Akira yang sedang berjuang melawan beberapa monster rank C, sedangkan taiga duduk mengawasi Akira.


"Kamu sudah kembali, cepat sekali." Taiga menyambutku.


"Iya, aku masih malas bertarung." Aku berjalan mendekati taiga, dan duduk di sampingnya.


Duduk di tanah dengan lutut menekuk ke atas, tentu dari depan pantsuku tidak terlihat karena tertutup rok, kami hanya duduk berdampingan tanpa sebuah percakapan.


'Mmm, ini membuatku canggung.' Aku mencinakan mataku.


"Nee taiga." Aku meletakkan kedua tangan ke atas lutut


"Iya, ada apa."


"Apa kamu tidak merasa aneh, ketika temanmu menjadi seorang gadis."


.


.


.


"Sudah lama semenjak kematianmu, bahkan wajah aji sudah samar di ingatanku, tapi aku masih mengenang masa-masa itu, aku menyukai masa-masa itu."


"Tapi, setelah aku mengenalmu........ sepertinya aku memang harus merelakan aji, kamu memang Lilias bukan aji."


0_0


Aku terkejut dengan apa yang ia katakan, entah kenapa aku merasa sedih, dan memalingkan wajahku dengan mata berkaca.


"Tapi mau siapapun kamu, mau jadi apapun kamu, aku masih ingin tetap berteman denganmu, aku bisa menerimanya meskipun Lilias itu beda dengan aji." Taiga tersenyum menghadapku.


"..."


'Apa maksud perkataanya, aku tidak paham.'


Aku menoleh ke arahnya, meskipun aku tidak paham apa yang ia ucapkan namun dengan melihatnya tersenyum membuat hatiku merasa tenang.


"Terimakasih."


.


.


.


.


.


Bersambung.......