
*Padahal selama ini, aku menggunakan sudut pandang Lilias sebagai aku, tapi kalian suka Lilias menderita, hiks hiks, munkin Lilias memang bukan aku, tapi aku siapa?* Ucap sang penulis dengan emot batu.
Setelah hilangnya naga petir, malam kembali menjadi gelap, salah satu pahlawan membuat cahaya yang terang, cahayanya membuat halaman mansion yang berkabut kembali terlihat, namun kabut yang menutupi halaman perlahan menghilang.
"Oyy bro, kamu berlebihan." Ucap pahlawan yang tadi terbang.
"Ahaha." Pahlawan yang tadi semedi mengeluarkan guntur hanya tertawa.
Dari tengah-tengah kabut, terlihat seorang gadis berambut perak yang tergeletak di tanah, pakaiannya sobek, bandana yang ia kenakan di kepala turun ke leher, membuat telinga panjangnya terlihat dan rambut peraknya terurai.
"Apa Lilias bisa bertahan." Taiga yang gelisah melihat Lilias yang tergeletak.
"Ughuk-ughuk, sial, aku tidak kuat lagi." Lilias yang merasa seluruh tubuhnya terasa sakit.
"Lilias, tolong jangan dilanjutkan, aku mohon padamu." Solaya yang meneteskan air matanya terus berteriak.
"Ohoo, ternyata kamu hebat juga bisa bertahan dari seranganku." Ucap dia yang tadi bersemedi.
"Waktunya penghabisan." Salah satu musuh kembali mendekati Lilias dengan pedang di tanganya.
Pedang besar ditempatkan di atas leher Lilias yang sedang berusaha berdiri.
"Tidak, tidak akan kubiarkan." Teriak Akira dengan kencangnya.
Melihat Lilias yang memprihatinkan, Akira dan taiga berlari untuk menyelamatkanya, namun para kesatria dan penyihir kerajaan menghalanginya.
"Minggir!!" Akira dengan murasame ditangannya menebas para kesatria yang menghadang.
Akira hanya butuh menggores sedikit musuhnya, dengan pedang yang luar biasa, itu sudah cukup untuk membunuh musuh dengan cepat.
Sedangkan taiga banyak mengeluarkan mana berwarna emas pada pedang besarnya, meskipun tanpa skill ruller, taiga juga termasuk pahlawan, kekuatanya melebihi para kesatria kerajaan.
Mereka berdua dengan semangat menebas para kesatria dan penyihir yang menghadang dengan brutal, tanpa memperdulikan luka yang diterima, sedikit demi sedikit musuh yang jumlahnya ratusan terbunuh oleh mereka.
Melihat taiga dan Akira yang terus berjuang meskipun terluka, para pahlawan menjadi salah fokus, mereka kagum dengan Akira yang tulangnya baru berusia puluhan.
Namun karena banyaknya musuh dan luka yang diterima, Akira dan taiga kewalahan.
Di sisi lain, Lilias dengan satu kakinya mencoba berdiri kembali, meskipun darah terus mengalir darinya, Lilias terus mencobanya.
"Ughuk-ughuk."
Lilias tidak mampu berdiri, jatuh bangun dan jatuh lagi, hingga dia hanya bisa duduk sambil memuntahkan darah.
"Ughuk."
"Apa kamu tau, kenapa kami memilih tempat ini, karena agar kamu bisa lebih dekat dengan ayahmu di kuburan, berterimakasihlah." Ucap pahlawan yang menatap Lilias.
"Yah, terimakasih." Ucap Lilias dengan pandangan ikan mati.
Sambil duduk, Lilias membeli elemen api dan sebuah benda kecil berwarna putih, kemudian mengeluarkanya dari sistem.
"Apa yang akan kamu lakukan." Pahlawan di samping Lilias masih memperhatikan.
"Ini kemenyan, untuk wewangian." Ucap Lilias.
Lilias meletakkan kemenyan pada sebuah wadah, kemudian membakarnya dengan sihir api yang baru dibelinya, setelah membakar kemenyan, asap yang terbentuk darinya terasa wangi, membuat orang yang menghirupnya merasa tenang.
"Huuft." Lilias mengambil nafas.
"Turun, turun sintren, sintrene widodari, nemu kembang Yun ayunan, nemu kembang Yun ayunan, kembange menyan putih, widodari temuruno."
Ketika Lilias menyanyikanya, datang angin kencang, rambut perak Lilias berkibar, membuat para pahlawan di sekitar merasa merinding.
"Habisi sekarang juga." Ucap pahlawan yang dari jauh.
"Slereek." Rantai suci kembali mengikat Lilias, namun Lilias masih pada ketenanganya.
"Hong Sanghyang Jagat noto Niat ingsun matek aji *** ana wiyat jroning bumi. Surya murub ing bantala, bumi sap pitu anelehi sabuwono rahina tan keno wengi urip tan kenenaning pati yo Ingsun pangawak Jagat mati ora mati. Tlinceng geni tanpa kukus, Ceng-cleceng, Ceng-cleceng kasonggo ibu pertiwi Mustiko lananging jaya yo aku si *** Retune nyowo sakelir." Ucap Lilias dengan mata tertutup.
Kini tiada lagi tenaga yang bisa Lilias lakukan untuk serangan, bahkan untuk berjalan saja tidak bisa, Lilias hanya bisa duduk tenang dengan pasrah.
"Dah, sampaikan salam perpisahanmu pada mamamu." Ucap seorang yang membawa pedang di sebelah Lilias.
Pedang besarnya ia letakkan di atas leher Lilias.
"Tidak, jangan!!" Teriak Solaya yang kacau.
"Maafkan aku ma, aku harap mama dapat melanjutkan hidup dengan bahagia." Air mata Lilias mengalir ketika melihat wajah solaya yang kacau.
"Dasar brengsek, kamu belum minta maaf padaku, apa kamu akan meninggalkanku, kakak bodoh." Akira yang tidak bisa mendekat hanya berteriak dari kejauhan, air mata mengalir deras darinya.
"Hehe." Lilias dengan mata ikan mati, tersenyum kepada Akira.
"Hiks, apa aku harus melihat kematianmu untuk kedua kalinya." Taiga teringat kembali kenangan yang sudah dibuat bersama Lilias.
.
.
.
.
"Haha, apa seenak itu." Salah satu orang di belakang Solaya seringai.
"Heh!" Lilias terkejut melihatnya.
"Jangan harap kamu mati dengan tenang, munkin saja ibumu akan melahirkan iblis yang lain, jadi aku akan membuatmu melihat kematian ibumu dulu." Lanjutnya sambil mengeluarkan pedang.
"Dasar brengsek, apa kalian juga akan membunuh orang tuaku." Mata Lilias menjadi semakin merah, namun dia tidak punya tenaga untuk memberontak.
"Jangan, kumohon." Akira mendengar percakapan dari kejauhan, menyadari kemampuanya yang kurang membuatnya putus asa.
Taiga yang juga melihatnya menjadi semakin ganas dengan seranganya.
Di depan mata Lilias yang lebar, ia melihat Solaya yang pandanganya kosong, orang di belakangnya mengangkat pedang tinggi-tinggi.
"Slesh, slesh."
Pedang dengan cepat menuju leher Solaya dan sandi, kepala dari keduanya terlepas dari leher, dan jatuh menggelinding menuju arah Lilias.
"Mama." Lilias yang melihatnya, hatinya semakin tidak karuan, air mata semakin bercucuran.
"Mama." Lilias ingin berteriak, namun kepala yang terlepas tidak akan kembali ke leher.
Regenerasi Lilias tidak cukup untuk menyembuhkan kakinya yang putus, mata merahnya semakin merah karena darah yang keluar, bandana yang sudah menjadi kalung membuat rambut peraknya berantakan.
"Mamaaa." Dengan kedua tanganya, Lilias mencoba merangkak menuju tempat kepala Solaya berada.
"Tenang saja, kamu akan segera menyusulnya." Ucap dia yang di sebelah Lilias.
'Sepertinya ini terlalu kejam.' Para kesatria heran melihat tingkah pahlawan yang tidak biasa.
Dari beberapa meter, Akira merasa ada sebuah keheningan di seberang, Akira semakin menjadi khawatir, Akira menoleh tempat Lilias dan sandi berada.
"Slesh."
.
.
"Buk."
Dari jauh, Akira terdiam melihat tiga kepala terlepas dari lehernya, Akira menatap tajam dengan matanya yang mengalir air darinya.
"Papa?...ibu?...kakak?...dan adikku yang belum lahir juga?" Ucap Akira dengan pandangan kosong.
Ketika Akira dan taiga terdiam, para kesatria dan penyihir juga berhenti dari seranganya, mereka melihat kematian dengan prihatin.
"Papa yang merawatku sendirian sejak aku kecil."
Tiba-tiba tubuh Akira bersinar merah, luka di tubuhnya menutup, dan para kesatria mundur mengambil jarak.
"Ibu yang kunantikan hadiah darinya."
Mata birunya perlahan menjadi merah, dan pupil bundarnya berubah menjadi garis vertikal.
"Kakak, hiks, bahkan hubungan kami belum membaik."
Tangan putihnya yang kecil mengeluarkan sisik berwarna merah.
"Padahal kami mendambakan seseorang adik laki-laki, hiks."
Di kepalanya tumbuh dua pasang tanduk yang panjang.
"Bunuh, aku pasti akan membunuh kalian yang telah membunuh keluargaku." Ucap Akira dengan suara dalam.
.
.
.
.
.
Bersambung......