
(Alur dipercepat sampai aku jadi vampir ya, biar sesuai judul.)
Hari berlalu semenjak kejadian yang melelahkan itu, aku sekarang sudah sangat baik untuk keadaan tubuhku.
'Uh lain kali aku akan lebih memperhatikan Stamina Poinku.' Batinku ucap sambil menghela nafas panjang.
Entah apa karena kami sama sama kesepian, Akira dan aku menjadi teman dekat, meskipun Akira dari kerajaan sebelah, tapi dia berkata ingin sering mengunjungiku, munkin jiwa petualangnya nurun dari ayahnya,haha.
Hari ini aku telah selesai makan siang, aku ingin melatih staminaku dengan berlatih pedang, aku mengambil pedang kayuku yang kusimpan di kamar.
'Andai saja sistem punya tempat penyimpanan, aku tidak harus kerepotan menyimpan barang, sepertinya sistem ini payah, bahkan sistem para reinkarnator lain memiliki banyak fitur.' Batinku penuh sindiran.
Tiba-tiba terdengar suara seperti suara orang terpukul.
'Sistem ini mengikuti kemampuan master, jadi bertambah kuatlah supaya sistem bisa berevolusi, munkin ada fitur yang di inginkan master.' Hanya terdengar suara, tetapi Lilias merasa ada sebuah suara kerutan kepala mengikuti.
'Ooh jadi apa saja fitur ketika suda berevolusi.' Batinku penasaran.
'Sistem saat ini belum mengetahuinya, perlu upgrade.'
'Ciiih.'
Aku berjalan keluar dengan membawa pedangku.
Dengan perasaan malas, aku mengayunkan pedangku, karena tidak ada samsak yang menarik.
Aku cuma memukuli pohon diluar rumah sambil dijaga beberapa orang, munkin orang tuaku takut aku kabur.
Melihat aku menebang pohon, sepertinya mereka sudah tidak terlalu terkejut, mengingat mereka pernah melihatku berlatih dengan paman dulu.
Karena tidak ada kerjaan aku mencoba membuat sebuah patung dengan pohon, menggunakan skill pedangku yang sudah aku asah, aku mencoba mengukir pohon itu menjadi bentuk dua burung Garuda yang gagah.
Melihat hal tersebut, penjaga yang melihatnya tertegun.
"Waah, karya yang anda buat sangat bagus nona." Ucap salah satu menjaga dengan wajah cerah.
"Iya kah, makasih." Ucapku malas.
Aku meminta penjaga untuk memasangnya di kedua sisi gerbang rumahku.
Melihat dari kejauhan, aku bangga dengan karyaku, tiba tiba aku berpikir.
Hari membosankan terus berlanjut, aku mau mencoba melihat papaku, apa yang dia kerjakan.
Aku pergi ke ruang kerja papaku.
"Tok ..tok.." Pintu menjerit.
"Paa, apa aku boleh masuk."
"Tidak apa, masuklah." Suara orang didalam menyaut.
Aku membuka pintu dan melihat papaku sedang berperang dengan dokumen di meja.
"Ada apa, kenapa tiba-tiba Lilias ingin menemui papa." Tanyanga dengan lega setelah melihat anaknya.
"Nee, apa yang membuat papa sibuk, apa yang papa kerjakan setiap hari?" Tanyaku penasaran.
"Yaaa, papa adalah bos pedagang, jadi cuma mengerjakan dokumen yang dikirim dari anak buahku, dan mengirimkan perintah." Jawabnya sambil membelai janggut tanpa bulunya.
"Eeeeh, sepertinya mudah, lalu apa yang ayah perdagangkan." Tanyaku tanpa ragu.
"Eeh, anak papa tau tentang perdagangan, kamu masih berumur 7 tahun lhoo, kalau memikirkan bisnis nati botak." Ucapnya dengan tawa ringan.
"Paapaaaaa!!!" Kesalku dibuatnya.
"Hehe, tidak tidak, papa bercanda, kamu kan anak yang cerdas kan." Ucapnya tersenyum.
Aku hanya membusungkan dadaku, dan kedua tanganku di atas pinggangg.
"Jadii, sejak dulu mamamu itu adalah seorang desainer pakaian, dan aku adalah seorang pedagang, pekerjaan kami membuat kami kerja sama."
"Jadi itu awal kalian bertemu." Ucapku dengan muka berpikir.
"Iya, kami terus bersama sampai menikah, datanglah kamu yang membuat kami sangat senang." Ucapnya sambil mengenang masa lalu.
Melihatnya menginjak ranjau, aku jadi berpikir nakal.
'Hehe.'
"Eeeeh, kenapa aku tiba tiba datang, emang Lilias datang dari mana paa." Ucapku dengan wajah Sok polos.
"Tentu kamu datang dari kasih sayang kami."
"Kasih sayang? tapi Lilias kan juga sangat menyayangi papa mama, kok Lilias tidak punya anak." Aku membuat banyak kedipan mata sambil menolehnya.
"Ee, kalau Lilias sudah besar nanti juga punya kok." Ucapnya mulai panik.
"Karena adek itu harus tumbuh dulu di perut, kalau Lilias masih kecil nanti perutmu meledak, duarr begitu." Ucapnya tidak terkontrol karena bingung menjawab.
"Waaah, kowaiii."
"Terus, kalo bayi itu ada di perut, keluarnya bagaimana paa, keluarnya lewat mana?"
"Sudah sudah, kamu tanya sama mama saja ya, papa masih mau kerja." Ucap papa sambil memaksaku keluar ruangan.
"Ba, baiklah."
Aku kasian padanya yang terlihat bingung, jadi aku pergi meninggalkan ruangan papaku.
'Jadi mama seorang desainer ya, aku ingin membuat pakaian yang berasal dari bumi, munkin mamaku bisa mendesainya, tapi untuk seorang anak berusia 7 tahun menjadi desainer akan mencurigakan, munkin aku aku pergi untuk berpura pura belajar dulu.'
Aku pergi ke ruangan mamaku.
"Tok..tok.. tok "
Aku masuk menemuinya yang sedang mengerjakan kertas di atas meja.
Dengan ijinnya, aku mempelajari apa yang dikerjakan oleh mamaku, sampai dia selesai.
"Apa kamu menikmatinya Lilias Chan."
"Iya, aku ingin jago seperti mama." Ucapku dengan semangat.
"Aaaa, mama senang kalau kamu tertarik, tapi kita lanjut besok saja y, karena pekerjaan mama sudah selesai, kita mandi yok." Ajak mamaku yang berdiri dari kursinya.
"Ayooo."
Aku pun melakukan misiku selanjutnya seperti biasa.
Kami saling menggosok badan, karena tingkat feminimku sudah 80%, aku merasa sudah biasa dengan tubuhku, tapi hanya sebatas itu, aku belum merasakan apa yang dirasakan wanita umumnya, sehingga masih saja 80%.
Setelah mandi dan berpakaian, kami melanjutkan memasak bersama, makin hari aku makin jago memasak, munkin jika aku memberikan masakanku kepada pacarku dia akan mengatakan enak.
'Siapa juga pacarku, hah.' Batinku mengingat masa lalu jomblo abadi.
Kami menyiapkan makanan, kemudian aku memanggil papaku untuk makan bersama.
Ketika dia melihat masakan kami, terpancar kebahagiaan di wajahnya, tetapi itu hanya sementara, sampai datang sebuah teriakan.
"Tuan !! Nyonya !!"
Ketika teriakan itu berhenti, tiba tiba datang beberapa orang yang dipimpin oleh orang yang berpakaian serba hitam dan memegangi tongkat, ada juga orang berpakaian armor berwarna emas lengkap dengan helmnya.
"Maaf atas ketidak sopanan ini, tetapi anak anda adalah aib bagi kerajaan Sambac, jadi dia harus dibunuh." Ucap peria serba hitam itu.
"Apa!! seenaknya saja kalian, memang kalian siapa berani membunuh anakku." Ucap seorang papa yang berdiri melindungi anaknya.
"Ini adalah keputusan kerajaan, jadi jika ada yang melindunginya, kami terpaksa membunuhnya." Lanjut pria serba hitam itu.
"Kalian pergilah dulu, aku munkin tidak bisa melindungi kalian".
Menyadari kekuatanya tidak cukup untuk melindungi keluarganya, Agus Coksumbar memerintahkan istrinya pergi membawa Lilias.
"Ta tapi sayang, kamu tidak munkin sanggup melawan mereka." Ucap mama khawatir.
Aku yang terkejut melihatnya pun tak tinggal diam.
"Siapa kalian ha, berani beraninya mengganggu keluarga kami." Kataku marah.
"Dasar makhluk sialan."
"Bunuh dia." Perintah orang hitam itu.
Mengingat pedangku masih di kamar, aku hanya bisa mengandalkan sihirku.
Aku memasang kuda kuda bela diriku.
.
.
.
.
.
.
.
bersambung........