
“Aku pikir kamu harus tahu, bagaimanapun reaksimu, Anyelir berkata sudah siap dengan semuanya.” Rian mengakhiri ceritanya.
Kedua pria tersebut bertemu di ruang pribadi dokter milik Rian saat jam istirahat sesuai dengan janji mereka.
“Aku tak suka dengan cerita dengan kondisi yang seperti ini!”
Brak.
Dylan menghantam permukaan meja, lalu ia berkacak pinggang dan berdiri di depan meja milik Rian. Dia seakan marah setelah usai mendengar cerita tentang Anyelir dari kawannya tersebut.
Sang kawan dokternya itu pun mendongak dan terkejut dengan respons dari Dylan. “Dylan, aku mohon kamu jangan menilai Anyelir seperti itu!”
Dylan kali ini hanya menggelengkan kepala sambil mengusap wajah dengan kasar. Tatapan matanya tajam dan menatap Rian dengan penuh kekesalan.
“Aku juga ... saat itu terkejut ketika pria yang menjadi ayah tiri Anyelir datang kemari. Ini bukan sepenuhnya salah istrimu,” jelas Rian yang masih berusaha untuk meluruskan ceritanya.
Sayang sekali, Dylan seakan tak mau mendengar ucapan dari Rian. Dia langsung berbalik dan memutuskan untuk pergi dari ruangan tersebut dengan wajah yang penuh kekesalan.
Rian tak akan membiarkan hal itu terjadi, dia takut Dylan yang penuh amarah itu melakukan sesuatu yang buruk pada Anyelir.
“Dylan, tunggu!” panggil Rian yang melihat kawannya itu berbelok di ujung lorong.
Tanpa melepas jas putihnya, pria tersebut berusaha mengejar Dylan dan ingin mengajaknya bicara sekali lagi.
Hingga Rian kini melihat Dylan sedang menatap istrinya yang tengah berdiri di pinggir taman.
Dokter tampan itu tak dapat membiarkan jika sampai Dylan marah dan membenci Anyelir karena hal ini. Semua yang terjadi, bukanlah salah Anyelir.
Hutang ratusan juta yang menumpuk, teror dari Wira dan anak buahnya, lalu rumah milik Anyelir yang disita. Semua bukan kesalahan Anyelir, sama sekali bukan!
Sambil berlari Rian memikirkan, jangan-jangan ada yang salah dengan cara penyampaiannya sehingga Dylan salah paham.
Semakin dekat posisinya dengan Dylan, tapi ternyata temannya itu malah berjalan mendahului dan menepis tangan Rian. Pria itu merasa terlambat mencegahnya, karena saat ini Dylan telah berada tepat di depan Anyelir.
Rian hanya bisa mengulurkan tangan sambil menggenggam angin kosong dan tak mampu melakukan apa-apa.
Lalu sekarang, ia hanya bisa menatap apa yang terjadi dengan pasangan suami istri tersebut.
“Anyelir!” panggil Dylan dengan tegas menggunakan suara basnya.
Gadis berwajah ayu dengan mata sayu itu pun menoleh. Dia memberi satu kedipan saat menggerakkan lehernya dengan rambut yang tergerai itu ikut mengayun mengikuti gerakan kepalanya. “Kau sudah mendengar semuanya?” tanya Anyelir dengan suara lembut.
Sementara itu, masih di pinggir taman dekat tiang rumah sakit, Rian menatap mereka dengan hati yang penuh kegelisahan. Mulutnya komat-kamit untuk berdoa agar Dylan tak melakukan sesuatu yang gila, juga tangan dan kakinya telah siap siaga untuk bergerak melompat menolong Anyelir jika sampai kawannya itu melakukan sesuatu yang buruk pada wanita tersebut.
Dylan melangkahkan kaki lebih dekat dengan Anyelir dan itu membuat Rian semakin melebarkan mata untuk waspada.
“Anyelir!” panggil Dylan sekali lagi yang kali ini sambil memeluk istrinya.
Rian pun membuka kepalan tangannya yang sejak tadi telah berurat. Pria tersebut tiba-tiba mengembuskan napas lega dan memundurkan langkahnya. “Kenapa dia selalu tak bisa ditebak?” gumamnya.
Sementara itu, Dylan dan Anyelir yang sedang berpelukan di taman tak peduli dengan sekitar mereka. Meski sebenarnya, Anyelir tak tahu penyebab kenapa suaminya tiba-tiba berperilaku seperti ini.
“Apa kau kasihan padaku setelah mendengar cerita dari Dokter Rian?” tanya wanita itu dalam pelukan Dylan.
“Aku tahu kau pasti ketakutan setiap hari. Maafkan aku yang terlalu sibuk dan tak memperhatikanmu,” ujar Dylan sambil mengecup pucuk kepala Anyelir.
Dokter Rian yang melihat itu pun akhirnya berbalik dan memutuskan untuk meninggalkan mereka. “Aku sebaiknya kembali,” ucapnya sambil jalan perlahan.
“Tapi aku tetap marah padamu!” tegas Dylan sambil melepaskan pelukan Anyelir.
Mendengar ucapan Dylan pada Anyelir yang seperti demikian, Rian pun urung untuk pergi. Dia kembali berbalik dan berusaha untuk mendengar lagi percakapan mereka sambil memasang kuda-kuda.
“Maaf!” Gadis itu mendadak minta maaf. Anyelir yang berwajah polos itu menatap Dylan dengan wajah ketakutan.
Rian yang melihat dari tepi taman itu semakin tak tega melihatnya.
“Aku benar-benar tidak terima! Memang suamimu itu siapa?”
Rian yang berada di tepi taman sedari tadi menahan kekesalannya, mendengar pengakuan Dylan, kini ia menjadi semakin kesal. “Memangnya itu penting?” Meski tambah kesal, tapi pria tersebut hanya bisa tersenyum miring sambil meninggalkan mereka.
“Kau marah karena itu?” tanya Anyelir.
Dylan mengangguk dengan tegas. “Heem!”
“Itu ... karena aku tak bisa menemukan waktu yang pas untuk bicara padamu, maafkan aku, ya?” ungkap Anyelir yang terlihat menyesal.
Laki-laki itu menyadari kesalahannya. Bahkan untuk menemui Anyelir dan bicara dengan Rian saat ini pun dirinya tak memiliki banyak waktu. Tak bisa ia menyalahkan keadaan sepenuhnya dan marah pada Anyelir.
“Aku juga minta maaf,” jawab pria tersebut sambil membelai rambut panjang istrinya.
Jemarinya membelah tiap helai rambut Anyelir, kemudian belaian itu berpindah. Kini buku-buku jari itu mengenai apel pipi sang istri yang terasa lembut. Pria itu semakin merasa bersalah karena sepertinya, ia telah membuat wajah ayu ini sedih berhari-hari.
“Aku mengerti, kau punya banyak pekerjaan. Dan kita sedang ditimpa musibah karena orang tua kita sedang sakit. Aku mengerti keadaanmu. Aku juga salah karena terburu-buru membuka mulut pada pria lain. Maaf.”
Keduanya pun berpelukan di bawah senja, di antara lalu lalang penghuni rumah sakit saat itu.
“Aku akan melakukan sesuatu agar kau tetap merasa nyaman dan tak terganggu. Masalah itu, biar aku saja yang urus!” ujar Dylan sambil menggandeng tangan istrinya saat mereka memutuskan untuk pulang.
“Maaf, aku membebanimu!” Perempuan itu pun meminta maaf sekali lagi.
Dylan memeluk dan membiarkan Anyelir bersandar di lengan atasnya sembari mereka melangkah menuju ke mobil.
“Masalahku adalah masalahmu, masalahmu adalah masalahku.” Perkataan Dylan malam ini membuat Anyelir merasa tenang.
Bukan hanya karena ada orang yang membantunya menyelesaikan masalah, melainkan juga karena ia merasa bahagia memiliki sandaran hidup yang tampak sempurna seperti suaminya.
“Terima kasih.”
“Aku mencintaimu!”
“Aku juga mencintaimu!”
****
Langit sore masuk melalui jendela apartemen.
Andin membiarkan tirai terbuka karena ia ingin menikmati langit jingga dari jendela apartemennya.
Sementara itu, pria yang baru saja bangun tersebut menatapnya dengan begitu sengit.
“Sayang!” panggil Wira pada Andin yang berdiri menghadap jendela.
“Apa?” jawab wanita itu dengan wajah cueknya.
“Ada yang meneleponku tadi?”
“Aku tidak tahu!” Wanita itu berpura-pura dan terlihat meyakinkan.
“Kau pasti mendengar ponselku bergetar tadi!” protes Wira yang merasa kesal.
“Aku baru masuk ke kamar saat kau sudah bangun! Memang itu urusanku?”
“Seharusnya kaubangunkan aku!”
“Kenapa kau marah? Memang siapa yang meneleponmu?”
“Itu ... bukan urusanmu! Kau benar-benar mencurigakan!”