Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
59. Kemarahan dan Kecemburuan


Keributan pun terjadi ketika mendengar suara orang berkelahi di depan rumah.


“Pak Dylan!” Anyelir berteriak dan seketika ia berlari kembali keluar. “Dokter!”


“Dylan, Rian!” Begitu pula dengan Lastri yang jadi ikut panik karena mendengar perkelahian tersebut. Seumur mereka berteman, Lastri tak pernah mendengar keduanya bertengkar. Baru kali ini, ia melihat anaknya penuh amarah terhadap kawan sendiri.


Beruntungnya, Rian tak membalas apa yang diperbuat oleh Dylan. Pria tersebut hanya mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah akibat pukulan tadi.


“Dokter kau tidak apa-apa?” tanya Anyelir yang menghampiri mereka.


Lastri pun menitipkan Rio pada Bi Ai karena anak kecil sebaiknya tidak menonton perkelahian ini. Apa lagi yang terlibat perkelahian ini adalah papanya sendiri.


Dylan meradang melihat Anyelir yang menghampiri Rian, untungnya perempuan itu langsung peka saat melirik pada tatapan sang suami padanya.


Anyelir memundurkan langkah dan menjauh dari Dylan, dia bersembunyi di balik tubuh sang ibu mertua karena takut terlibat masalah.


“Saya permisi, Tante.” Rian membungkukkan badannya di depan Lastri sambil tersenyum.


“Kau yakin tidak apa-apa? Apa yang terjadi di antara kalian sebenarnya?” tanya Lastri.


Dylan langsung membuang muka, sementara Rian hanya memberi senyum tipis dengan mulutnya yang berdarah.


“Saya pulang,” ujar Rian sekali lagi tanpa memberi jawaban pada Lastri.


Dylan pun langsung meninggalkan tempat itu begitu Rian pergi. Sontak Lastri pun mengejar pada anaknya untuk meminta penjelasan.


“Dylan, kenapa kau melakukan itu pada Rian?”


Ucapan Lastri benar-benar tak digubris oleh bapak satu anak itu, Dylan terus berjalan menaiki tangga dengan langkah yang lebar dan juga penuh tenaga hingga setiap entakkan kakinya terdengar hingga ke lantai satu.


Anyelir masih berada di ruang tengah bersama sang mertua.


Bahkan Bi Ai yang sedang menggendong Rio, juga pelayan yang lain pun sampai berkumpul dan memperhatikan apa yang terjadi. Mereka semua sama-sama tak tahu penyebab perkelahian tadi, sehingga mereka penasaran dan mencoba mencari tahu jawabannya sambil berspekulasi.


“Anyelir, coba kamu susul Dylan.” Lastri menyarankan pada sang menantu untuk mencari tahu apa yang terjadi pada anaknya tersebut.


Akan tetapi, Anyelir terlalu takut sehingga ia hanya menunduk sambil tetap mematung pada posisinya.


Lastri pun menghela napas seakan mengerti apa yang dipikirkan Anyelir. “Kalau begitu, kamu istirahat saja,” lanjut wanita paruh baya tersebut.


Anyelir pun akhirnya naik ke lantai dua, ia berjalan pelan bahkan cenderung seperti mengendap-endap. Entah apa tujuannya, sepertinya perempuan itu takut pada sang suami. Padahal jarak antara tangga dan juga kamar suaminya itu cukup jauh.


Dengan gerakan yang begitu pelan, Anyelir memegang gagang pintu dan membukanya.


Cklek.


Cahaya perlahan masuk pada kamar tersebut saat Anyelir membuka pintu. Wanita itu melangkah dan ia mengendus aroma tembakau secara samar di sana. Dia pun mengibaskan tangan di depan hidungnya.


Perempuan itu duduk dan menyadari jika lampu dan exhaust fan dalam kamar mandinya menyala. Dia juga melihat sebuah siluet dari seorang pria dari sana.


Klik.


Pintu kamar mandi terbuka.


Anyelir pun meneguk ludah.


Ternyata itu adalah Dylan yang sedang merokok dari kamar mandi. Pria itu membuang puntung rokoknya di wastafel dan kemudian menghampiri Anyelir.


“Kamu dari mana saja?” tanya suara berat itu pada Anyelir.


Meski tak melihat wajahnya, tapi Anyelir dapat merasakan tatapan tajam itu menghunus jantungnya. Alat pemompa darah yang tersimpan di balik tulang rusuk itu pun bekerja dengan sangat keras. Memacu Adrenalin saat ia berada dalam satu ruangan dengan Dylan saat ini.


Sementara pria tersebut, benar-benar dalam kondisi hati yang sangat tidak baik. Setelah Anyelir meninggalkannya kemarin di pagi hari, lalu siang harinya ia bertemu Andin yang mengatakan kata-kata perpisahan, hal itu jelas membuat Dylan semakin terpukul. Lalu sekarang, Anyelir tidak pulang tadi pagi, melainkan sore hari. Istri keduanya itu pulang telat tanpa kabar dan datang sambil diantar oleh pria lain.


Tidak adil memang jika dirinya marah pada Anyelir karena hal ini, apalagi Dylan sendiri sempat bertemu dengan Andin saat kemarin siang. Tapi ... bukan Dylan jika ia sempat memikirkan keadilan.


“Aku ... aku ada tugas tambahan! Aku harus mengerjakannya saat itu juga.”


Dylan membuang muka begitu mendengar jawaban dari Anyelir. “Mana ada rumah sakit yang mempekerjakan dokter muda 24 jam non stop!”


Anyelir tak mau menceritakan kondisinya yang sedang sakit, karena menurut dia itu tak akan ada gunanya. Mungkin Dylan tak akan percaya karena pria itu sudah semarah ini.


Ponsel pun bergetar dari saku pria tersebut. Dia merogoh celananya dan mengeluarkan benda pipih itu.


“Anggap saja aku percaya dengan ucapanmu. Kita bahas ini lain kali!” ujar pria tersebut sambil berjalan pergi.


*


Setelah melalui waktu-waktu menegangkan saat ada Dylan di kamarnya tadi, Anyelir pun mengambil air wudu dan bersiap untuk menunaikan ibadah salat Magrib. Perempuan itu berusaha untuk menenangkan pikiran juga otot-otot di tubuhnya yang terasa kaku. Tapi setidaknya, perawatan di rumah sakit tadi membuat dirinya merasa sedikit lebih baik.


“Bu Anyelir,” panggil Bi Ai dari luar kamar.


“Ya, Bi. Masuk saja,” jawab Anyelir yang sudah memakai mukena.


Bi Ai pun membuka pintu perlahan-lahan dan mengintip pada Anyelir.


“Ada apa, Bi?” tanya Anyelir.


Bi Ai menyodorkan telepon padanya. Telepon itu adalah telepon untuk rumah keluarga Bagaskara. “Ada telepon untuk ibu.”


Anyelir mengerutkan dahinya. “Dari siapa?” tanyanya.


Wanita paruh baya dengan gulungan rambut di kepalanya itu menggeleng.


Tangan Anyelir pun terulur untuk menerima telepon tersebut. “Iya, halo!”


“Heuheuheuheu!” tawa di seberang sana terdengar menyeramkan. Tapi suara itu sungguh akrab di telinga Anyelir.


“Ka ... kau? Ada apa?” Anyelir agak canggung karena ada Bi Ai, tapi sepertinya Bi Ai mengerti dan dirinya pamit terlebih dahulu untuk keluar dari kamar Anyelir.


“Aku hanya ingin memberitahumu, kalau aku berubah pikiran.” Suara di seberang terdengar seperti sedang memainkan orang lain. “Tuan Wira menyuruhku memberitahumu, bahwa kami akan meruntuhkan rumahmu dan meratakannya dengan tanah. Dia ingin tahu mungkin kamu ada sesuatu yang ingin dilakukan terlebih dahulu sebelum kami benar-benar meruntuhkannya.”


“Apa?” Anyelir terkejut.


“Oh, iya. Dan kau harus segera membayar sisa hutang Joni yang tinggal 400 juta itu. Jika tidak, kami akan mengirimkan tagihan ke rumah suamimu ini!”


“Tidak! Jangan!”


Tut tut tut tut


Panggilan telah terputus dan menyisakan Anyelir yang mematung memegang gagang telepon tanpa kabel di tangannya.


Dengan memberanikan diri, perempuan itu pun melepas alat salatnya dan menghampiri orang yang ada di kamar paling depan di lantai dua ini.


Meski agak ragu, dia pun mengetuk pintunya.


Tok ... tok ... tok.


Bahkan ketukannya pun berjeda.


Tak ada sahutan dari dalam, Anyelir pun mengeluarkan suara. “P ... Pak Dylan ini aku.”


Setelah menunggu beberapa saat, pintu kamar itu pun dibukakan oleh Dylan.


“Ada apa?”  ujar Dylan dengan wajah cuek dan ekspresi dinginnya.


Namun belum sempat Anyelir bicara, seorang pria paruh baya yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Dylan pun menghampiri mereka.


“Bapak merasa aneh dengan kalian, kenapa kau masuk kamar suamimu dengan mengetuk pintu dulu. Kalian ini suami istri, apa tak sebaiknya tinggal satu kamar saja?”