
“Coba, siapa bos kamu! Sini bicara denganku! Seenaknya saja meminta uang sebesar itu padaku. Katakan padanya, aku bukan anak dari Joni!” bentak Anyelir dalam telepon.
“Iya, Bu. Saya Tera, Bos saya adalah Pak Dylan.”
Mendadak Anyelir langsung menutup mulutnya karena ia telah salah bicara. “Anu ... emm maaf, Mbak, saya salah orang. Saya pikir orang lain. Kenapa, Mbak? Ada apa?” tanyanya.
Karena suaranya yang lembut, Tera pun melupakan bagaimana respons Anyelir saat menerima telepon darinya. “Jadi, begini, Bu. Ibu pelayan yang bekerja di rumah Pak Dylan, kan?”
Apa? Pelayan?
Suka-suka dia lah! Menyebalkan memang! Anyelir tak bisa mengumpat, akan tetapi dalam hatinya sumpah serapah itu masih terus berpacu.
“Iya, benar! Ada apa ya, Mbak Tera?” tanya Anyelir dengan suara yang tetap lembut, meski ada sedikit kekesalan pada volumenya.
“Apakah, Ibu bisa mengirim sup iga dan juga kopi jahe untuk Pak Dylan?” pinta Tera dengan ramah.
Sementara itu, Anyelir mematung. Apa sekretarisnya ini tidak salah?
“Itu ... yang berkata seperti itu Pak Dylan langsung? Kau yakin tidak salah dengar?” tanya Anyelir lagi.
Tera pun menjawab dengan sangat yakin. “Saya yakin, Bu. Tadi ... saya mendengar langsung dari Pak Dylan.”
“Baiklah, aku akan segera membungkus dan meminta ojol untuk mengantarnya,” jawab Anyelir yang ingin mengakhiri pembicaraan.
“Anu, Bu! Tidak bisa seperti itu! Pak Dylan berpesan, ibu sendiri yang harus datang dan memastikan kondisi makanannya masih hangat. Terutama minuman jahenya, ya?”
Anyelir pun menelan ludah. Apa-apaan?
“Jadi ... saya harus ke sana sekarang juga?” tanya Anyelir memastikan lagi.
Wanita dengan baju tidur berwarna biru telur asin tersebut menerima telepon sambil mondar-mandir di kamarnya.
“Iya, betul. Karena Pak Dylan sedang menunggu Anda, Bu.”
“Haha, iya.” Anyelir tertawa kesal.
Anyelir menyimpan ponselnya lagi di atas nakas. Wanita itu pun menggerutu karena tingkah Dylan yang selalu seenaknya.
Tadi pagi dia berkata, kalau ia tak butuh perhatian Anyelir. Namun sekarang malah meminta Anyelir untuk mengantarkan makanan padanya.
“Selalu seenaknya dan aku yang berakhir harus mengalah lalu menuruti keinginannya. Memang menyebalkan!”
Walaupun menggerutu, ia tetap menuju ke lantai satu, berjalan ke arah dapur dan menghangatkan sup iga.
Namun sayang, tak ada yang tersisa.
“Hmmmm.” Anyelir menggumam.
Akhirnya ia terpaksa membuat sup itu terlebih dahulu, menggunakan stok bumbu yang ia buat tadi pagi. Sisa iga sapi masih ada beberapa potong lagi, ini cukup untuk memenuhi keinginan Dylan saat makan di kantornya nanti.
*
Di kantor perusahaan properti milik Dylan, pria tersebut sedang memijat kening sambil membaca berbagai dokumen.
Tangan tersebut pun mengambil telepon yang ada di samping dan menekan tombol panggilan cepat untuk segera tersambung pada sang sekretaris. “Halo, Tera. Ke ruanganku sekarang!”
Ia langsung melayangkan perintah begitu telepon diangkat, tanpa menunggu balasan dari lawan bicara.
Tak lama kemudian, ketukan pintu pun terdengar. “Anda memanggil saya, Pak?” tanya wanita dengan sepatu berhak tinggi itu.
“Apa sudah kau telepon Anyelir?” tanyanya secara tidak sabar.
“Sudah, Pak. Beliau mau datang kemari sebentar lagi,” jawab Tera.
Dylan menggelengkan kepala. “Panggil lagi, suruh dia cepat-cepat!” titah Dylan gusar.
Tera pun hanya mengangguk sambil menggerutu setelah keluar dari ruangan sang bos. “Padahal pelayan di rumahnya sendiri, kenapa nggak ditelepon sendiri, sih, Pak? Biasanya kalau menelepon Bu Ai atau Bu Lastri nggak pernah tuh nyuruh-nyuruh aku. Aneh!”