Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
24. Siksaan Untuk Anyelir


“Apa Anyelir yang menyuruh ibu berkata demikian?”


Pertanyaan Dylan spontan membuat Lastri ikut meradang. “Disuruh atau tidak disuruh, kenyataannya seperti itu! Lagi pula, dari mana Anyelir tahu tentang Andin? Kalaupun Anyelir tahu, yang dia katakan itu pasti adalah hal yang sejujurnya. Dan yang sejujurnya itu persis dengan apa yang ibu bilang barusan!”


Dylan kali ini tidak memiliki bahan untuk membantah ucapan ibunya. Meski ia masih tak percaya jika Andin telah meninggalkan dirinya, namun ia tak memiliki bukti yang kuat. Satu-satunya yang bisa ia andalkan untuk menyokong pendapatnya adalah keyakinannya sendiri.


Pria itu masih yakin di dalam hatinya, jika Andin hanya dipengaruhi oleh seseorang dan terhasut amarah karena perkataan ibunya sebelum sang istri itu pergi.


“Kenapa diam? Benar, kan, omongan ibu?” tantang Lastri sambil mengangkat dagu dan berkacak pinggang di depan anaknya.


“Uhuk, uhuk.” Tuan Gunadi pun lebih menegakkan tubuhnya untuk menengahi pertengkaran antara istri dan anaknya itu. “Sudah, sudah! Dylan, bapak tanya keputusan kamu. Kamu harus memilih Anyelir atau Andin. Tidak ada yang namanya poligami apalagi pernikahan kontrak dalam keluarga ini, tidak boleh ada atau kaulangkahi dulu mayat bapak jika memaksa ingin melakukannya!”


Jika Nyonya Lastri memaksa untuk memilih Anyelir, maka Gunadi tidak condong pada salah satu pun. Ia hanya ingin agar putranya ini tidak melakukan poligami dan harus tegas untuk memilih seorang istri.


“Beri aku waktu, Pak. Andin masih di luar kota. Mungkin besok dia baru akan datang,” ucap Dylan yang mencoba untuk menghindar dari hal ini. Bagi Dylan, jika terpaksa untuk memilih salah satu, mungkin dia akan memilih Andin. Namun setidaknya dia harus memiliki alasan yang kuat di depan ibunya karena sang ibu memilih Anyelir.


Lantas, untuk obat bagi Rio? Dylan akan memikirkannya nanti.


“Jadi ... Andin tidak memenuhi panggilanku?” geram Gunadi.


“Ini tidak seperti yang bapak pikirkan, Andin bukannya tak mau. Tapi dia memang sedang memiliki jadwal padat di luar kota.” Dylan mengemukakan pendapatnya.


“Halah!” cibir Lastri yang selalu saja skeptis terhadap masalah menantunya.


“Ibu ini kenapa sih, tak pernah bisa adil pada Anyelir atau Andin? Padahal ibu baru saja kenal dengan Anyelir, kenapa ibu lebih percaya padanya. Bisa saja dia hanya berniat untuk menipu dan menginginkan harta kita saja?” protes Dylan pada Lastri.


“Aku ini perempuan, Dylan. Bisa melihat sendiri mana perempuan yang tulus dan yang tidak. Mana yang benar-benar mata duitan sama mana yang mencari duit untuk menyelamatkan orang lain,” timpal Lastri yang jelas tak mau kalah.


Wanita itu berdebat dengan sang anak yang masih saja bersikukuh membela Andin. Padahal sudah jelas jika Andin adalah wanita yang saat ini sudah tak mau lagi bersama dengan anaknya.


“Ibu menyarankan hal ini juga untuk kebaikanmu! Karena ibu khawatir jika kamu patah hati lebih dalam apabila masih meneruskan hubunganmu dengan Andin,” lanjut wanita paruh baya tersebut.


Dylan masih diam saja dan tak mau lagi berdebat dengan ibunya. Sehebat apa pun kemampuannya berbicara di depan kolega bisnis, Dylan tetap akan kalah jika melawan nasihat ibunya. Maka dari itu, benar atau salah, Dylan memilih untuk diam.


“Saran ibumu ada benarnya, lebih kau bersama Anyelir daripada memilih Andin. Bapak melihat dari aura perempuan itu, dia jauh lebih keibuan dibandingkan dengan istri pertamamu.” Tuan Gunadi ikut memihak Anyelir seperti Lastri.


Mengembuskan napas dengan kasar, pria itu pun langsung berdiri dan pergi dari kamar bapaknya.


“Dylan, kamu mau pergi ke mana? Kita belum selesai bicara,” panggil Lastri pada anaknya.


“Sudah, Bu. Biarkan saja!” ujar Gunadi meminta istrinya untuk mengabaikan Dylan.


Lastri pun menutup pintu kamar.


“Kemarilah, lebih baik kau temani aku berbaring di sini. Biarkan saja Dylan mengurusi urusannya sendiri sekarang.”


Di kamarnya, Anyelir sedang membaca beberapa jurnal kesehatan melalui laptop. Perempuan itu, membolak-balik kertas untuk mempelajari kasus-kasus kesehatan yang terjadi selama ini agar wawasannya lebih luas.


Jika sudah berkaitan dengan membaca topik yang ia suka, Anyelir selalu lupa dengan sekitarnya. Bahkan dengan masalah yang sedang ia hadapi, seperti masalah tentang Dylan yang terang-terangan memilih Andin di hadapannya.


Saat ia sudah berhasil untuk lupa, wajah pria itu pun malah muncul di celah pintu yang tiba-tiba saja dibuka.


Wajah itu tak pernah ramah bila menatapnya. Alisnya selalu bertaut dengan sorot mata yang tajam seakan menghunus ke jantung Anyelir.


Pria itu masuk ke dalam Anye lalu bersandar di balik pintu sambil melipat tangan.


“Puas, kau?” tanya Dylan dengan nada sangat sinis.


Anyelir pun meletakkan jurnal yang sedang ia baca kembali ke atas meja. Wanita berkacamata itu segera menatap Dylan sambil bertanya-tanya. “Apa maksud Anda, Pak?” gugupnya sambil memelintir pulpen di tangan.


“Kau berhasil mempengaruhi ibuku! Selamat, ya! Drama queen!” sindir Dylan sambil mengumpat tepat di depan wajah Anye.


Pria itu langsung mendekat pada Anyelir dan ia merebut pulpen yang dibawa oleh istrinya itu. Dengan serta merta ia mematahkan pulpen dan melempar ke sembarang arah.


Tanpa perlu menunggu lama, Dylan langsung menarik kerah leher Anyelir sampai perempuan itu kesulitan untuk bernapas karena merasa tercekik.


Pria itu tak peduli dengan Anyelir yang meronta, tangan perempuan tersebut mencengkeram pergelangan Dylan sambil menarik-narik agar pria itu menjauhkan tangan dari sana. “Le ... pas ... kan,” pintanya sampai wajahnya sedikit memucat.


Pergelangan tangan Dylan pun diremas dengan kencang oleh Anyelir, namun tenaga wanita itu tak cukup untuk membuat suaminya melepaskan tangan.


“Kau yang sudah menghancurkan rumah tanggaku! Kenapa kau datang lagi di saat kau seharusnya tak perlu datang!” bentak Dylan pada Anyelir.


Wanita itu, telah membuka mulut sampai lidahnya sedikit keluar. Kulit wajahnya memucat dan cengkeramannya di lengan Dylan melemah.


“Kau memang wanita tak tahu diri!” umpat Dylan sambil melepaskan cekikannya di kerah leher Anyelir. Pria itu melepaskan Anyelir sambil sedikit membanting istrinya itu.


Anyelir tersungkur ke atas lantai hingga kacamatanya terlepas. Sebelum dia mencari kacamata, dia terlebih dahulu menghirup udara sebanyak-banyaknya sebagai ganti saat ia tak bisa bernapas selagi tangan Dylan mencekik lehernya.


Wanita itu terengah-engah dengan mulut terbuka. Setelah agak stabil, barulah ia mencari kacamata yang tergeletak di sudut ruangan dengan kaca yang pecah.


Sementara itu, Dylan menarik dasi hingga terlepas. Ia sama sekali tak merasa bersalah setelah mencekik Anyelir seperti itu. Pria tersebut menganggap jika apa yang ia lakukan tadi adalah hukuman bagi pendosa seperti Anyelir.


Saat mereka berdua berusaha mengontrol situasi, saat itu juga Bi Ai datang mengetuk pintu dari luar.


“Pak Dylan sama Bu Anye dipanggil bapak kali ini. Bedua,” ujar sang bibi sambil beranjak pergi.


“Apa yang beliau mau kali ini?”