
Tanpa berpikir panjang lagi, pria tersebut langsung berlari keluar dari ruangannya. Bahkan ia meninggalkan telepon yang masih tersambung dengan Rian. Dia bergegas menuju ke arah lift dan menekan tombol untuk ke lobi.
Dalam hati ia bertanya-tanya, untuk apa Anyelir datang ke kantornya secara mendadak seperti ini? Dia sudah membayangkan hal-hal yang mengkhawatirkan akan menimpa istri mudanya tersebut. Bahkan Dylan pun mengetuk pintu lift seakan tak sabar karena ingin melihat apa yang terjadi pada Anyelir.
Ting.
Pintu lift terbuka tepat di lobi. Pria itu sudah melihat bagaimana para reporter tersebut berkerumun dari jendela kantornya di lantai atas sana, tapi begitu dirinya melihat langsung, hal ini benar-benar membuatnya terkejut.
Ternyata sebanyak ini dan kini semua kamera berpindah mengarah padanya. Cahaya blitz menyerang wajahnya, sehingga ia menutupi dengan menggunakan kedua tangan.
Bagian keamanan yang melihat sang bos ada di sana, langsung berusaha menyelamatkan dan menghalau para wartawan agar tak mengerumuni Dylan.
Tapi pria tersebut malah menyingkirkan para petugas jaga itu dari depannya. “Awas!”
“Pak, Pak Dylan.”
Mereka jadi kebingungan karena sang bos malah memasuki kerumunan.
“Pak Dylan, bisa beri penjelasannya tentang pernikahan Anda dengan Andin?”
“Dylan, apa benar Andin melayangkan gugatan cerai untukmu?”
“Dylan, apa Andin benar kabur karena kau berselingkuh darinya?”
“Dylan ....”
“Dylan ....”
“Dylan ....”
Namanya terdengar dipanggil dari banyak mulut wartawan yang ada di sana. Semua kamera dan perekam suara mengarah kepadanya, tapi Dylan mengabaikan semua. Pria itu berjalan membelah kerumunan, para pengawal yang tadi disingkirkan pun mau tak mau harus membantunya agar sang bos diberi jalan.
Seorang perempuan yang terjebak di tengah kerumunan wartawan itu hanya berdiri sambil merapatkan kedua tangan dan memeluk sebuah kantung bekal berukuran sedang di depan tubuhnya.
“Anyelir.” Begitu terlihat, Dylan tak tanggung langsung memeluk perempuan itu dan melindungi wajahnya dari sorot kamera.
Sontak hal tersebut membuat terkejut para wartawan yang sejak tadi berkerumun di sana. Mereka tak menyangka jika seorang perempuan yang ada di antara mereka dan diabaikan itu adalah perempuan yang seharusnya mereka wawancarai.
“Dylan, siapa perempuan itu?”
“Apa hubunganmu dengannya, Dylan?”
“Apakah dia ibu kandung dari anakmu, Pak Dylan?”
“Apa Andin menggugat cerai padamu karena perempuan ini?”
“Mbak, bisa sebutkan namanya?”
“Mbak istri baru dari Dylan Bagaskara?”
Pertanyaan silih berganti memburu Dylan dan Anyelir. Pria itu melindungi Anyelir dari kerumunan wartawan dengan menggunakan tubuhnya. Para pihak keamanan juga menghalau para reporter itu agar memberi jalan untuk mereka berdua kembali ke dalam gedung kantor.
Sesampainya di depan lift, Dylan segera mengajak Anyelir untuk masuk dan pria tersebut membawa Anyelir ke dalam pelukannya. Setidaknya, biarkan wajahnya saja yang tertangkap kamera atau muncul di berbagai majalah. Tapi jangan Anyelir!
Pintu lift pun tertutup, Anyelir mencoba melepaskan diri dari suaminya.
“Ada apa sebenarnya?” Perempuan itu bertanya, karena pasti dirinya tidak melihat pada ponsel atau TV saat di rumah tadi. Apalagi dia tidak ada teman yang bisa dia ajak untuk mengobrol dan membicarakan tentang gosip. Sudah dipastikan jika Anyelir akan ketinggalan berita, meskipun itu menyangkut dirinya sendiri.
Dylan menatap pada Anyelir dan mendekatkan wajahnya. Pria tersebut membelai pipi Anyelir dan menatap wajah ayu itu dengan seksama.
Anyelir pun mematung karena perlakuan suaminya. Memang kenapa? Ada apa? Apa yang membuat Dylan bertanya seperti itu?
“Memang kenapa?” tanya perempuan tersebut yang malah terlihat belum sadar dengan apa yang terjadi.
Dylan langsung memeluk Anyelir begitu saja, dia tak berkata apa-apa sampai pintu lift kembali terbuka.
“Kalian baik-baik saja?” tanya Tera yang telah berdiri menyambut Anyelir dan Dylan di depan ruangan presdir.
“Pak ...,” panggil Tera sekali lagi dengan wajah yang cemas.
“Siapkan air minum untuk istriku,” ujar pria tersebut pada sang sekretaris berambut pirang.
Seketika Tera mengedipkan matanya berkali-kali. Istri? Benaknya bertanya-tanya. Waktu itu sang bos mengakui Anyelir hanyalah pelayan di rumahnya dan sekarang mendadak jadi istri? Apakah sang bos menikahi pelayannya sendiri?
Tera menggelengkan kepalanya. “Ah, bodo amat!” Wanita itu dengan segera mengambilkan air minum seperti yang diminta oleh sang presdir.
Sementara itu di ruangan presdir, Anyelir masih tak mengerti kenapa Dylan sedang panik. Namun perempuan itu langsung menyimpan kantung bekal di atas meja tamu dan ia menuju ke meja milik Dylan. Layar komputer Dylan masih menyala dan itu menunjukkan bekas artikel yang dibaca oleh suaminya tersebut.
“Ini ...?” Kini Anyelir mengerti dengan wajah panik Dylan dan kerumunan wartawan di lantai satu tadi.
Dylan mengangguk.
“Aku tak masalah dengan berita kemarin, tapi untuk berita kali ini ....” Anyelir menunjukkan wajah sedihnya.
“Kau tak perlu khawatir, aku akan melakukan sesuatu untuk mengurusnya.” Dylan mengusap pipi sang istri yang tampak menawan meski dengan ekspresi penuh kekhawatiran.
“Oh, ya. Aku tak tahu kau akan datang kemari. Ada apa?” tanya Dylan sambil tersenyum dan mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
Anyelir pun menunjuk ke arah kantung bekal yang dia bawa. “Itu,” tunjuknya sambil tersenyum.
Dylan pun menghampiri kantung bekal tersebut. Begitu pula dengan Anyelir yang langsung membukanya dan menyajikan berbagai makanan untuk Dylan.
“Kamu memasak sendiri?” tanya Dylan.
Anyelir tersenyum sambil menggeleng. “Tentu tidak, perlu waktu untuk menyiapkan semua ini. Para pelayan yang membuatnya tadi, aku masukkan saja semua makanan yang ada. Karena ... kamu tadi bilang jika kamu belum sempat makan siang.”
Pria tersebut menatap istrinya yang menggemaskan, lalu dia pun terkekeh. “Terima kasih, ya.”
Meskipun ada badai yang sedang menghantam rumah tangga mereka, tapi Dylan merasa sikap Anyelir selalu membuat ia merasa tenang. Dia menerima makanan yang disodorkan oleh Anyelir untuknya.
“Apa kau terganggu dengan beritanya?” tanya Dylan sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Anyelir menggeleng. “Yang aku pikirkan justru ... kamu dengan Bu Andin. Karena itu akan memberikan reputasi buruk terhadap pernikahan kalian.”
Dylan tersenyum miring. Pria tersebut meletakkan makanannya terlebih dahulu. “Andin tidak sebodoh itu, berita ini justru menguntungkan dirinya.”
“Bagaimana bisa?”
Dylan kembali mengusap kepala Anyelir dengan rambut lembutnya yang membuat nyaman. “Justru itu yang aku khawatirkan adalah dirimu. Karena berita ini justru sedang mengambinghitamkan keluarga kita. Lalu kamu, kamu adalah orang ketiga yang datang dan membuat Andin angkat kaki dari rumahku. Begitu maksud dari berita itu.”
Anyelir masih saja menggeleng. “Aku tak masalah. Karena ....” Wanita itu menggantungkan ucapannya.
Dylan menatap kembali sang istri dengan seksama. “Karena apa?”
“Karena aku memang orang ketiga dalam hubungan kalian.”