Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
41. Panggilan Tak Dikenal


Masuk ke rumah membawa wajah lelah, namun seketika rasa penat itu hilang saat senyuman lebar dari anak kecil yang tampan sedang menyambutnya di depan rumah.


“Mama ...!” Rio berlari kecil menuju ke pelukan sang ibunda yang baru saja turun dari mobil.


“Ada apa, Sayang?” Anyelir menyambut pelukan kecil dari kedua tangan anaknya. “Kau tidak di dalam rumah saja? Di luar ini dingin,” lanjut Anyelir.


“Dari tadi Rio nungguin ibu, katanya mama kenapa belum pulang, padahal baru jam sepuluh tadi itu,” celetuk Bi Ai yang membantu Anyelir untuk membawakan tasnya.


Rio terkekeh mendengar cerita tentang dirinya sendiri. “Habis, aku merasa kesepian bila tidak ada mama,” jawab Rio yang terlihat menggemaskan di mata Anyelir.


Anak itu meletakkan pipinya di pundak sang mama, dia terlihat nyaman dan memeluk Anyelir dengan erat.


Perempuan itu sendiri tampak sangat keibuan saat memeluk sang anak, rasanya setiap jam bersama dengan Rio pun tak dapat menggantikan waktu-waktu mereka yang hilang saat anak itu masih kecil dulu.


“Mama juga selalu merindukan Rio jika sedang bekerja,” jawab Anyelir.


“Kalau begitu, mama tidak boleh bekerja. Bila tidak begitu, Rio ikut saja ke rumah sakit bersama mama,” usul sang bocah yang cukup konyol. Namun karena keluar dari mulut anak kecil, saran bocah itu sendiri terdengar lucu.


Anyelir pun duduk di ruang tengah. “Sebentar lagi mama bisa cuti, kita akan lebih banyak bersama.”


“Benarkah? Kapan itu?” tanya Rio.


Wanita itu menggeleng. “Untuk waktunya, mama juga belum tahu, semoga saja lebih cepat.” Dia menatap sendu pada anak laki-lakinya yang berusia empat tahun tersebut. Anyelir berharap agar sang anak segera mendapatkan obatnya.


“Besok adalah jadwalku untuk transfusi darah, bisakah aku memintamu menemaniku?” tanya Rio.


Sambil mengusap belakang kepala Rio dengan pelan, Anyelir mengangguk. “Tentu saja.” Anyelir menyanggupi hal itu karena besok ia akan berada di shift malam. Sehingga siang hari ia bisa menemani Rio.


“Mama harus mandi, badan mama lengket dan penuh kuman. Rio bisa main di sini bersama Bi Ai atau dengan nenek ya?” ujar Anyelir.


Anak kecil itu mengangguk. “Tapi mama jangan lupa berjanji untuk hari besok, ya?”


Anyelir tersenyum lagi dan mengedipkan mata sekali untuk memberi jawaban ‘Ya’ pada sang anak.


*


Sementara ia menuju ke atas sambil membawa tasnya, Anyelir merasakan ada yang bergetar di dalam tas. Sudah dipastikan itu adalah panggilan untuknya.


Dia mengintip ponsel tersebut dan benar ada nomor baru yang lain menghubunginya lagi. “Padahal aku sudah memblokir nomor yang sebelumnya,” gumam Anyelir yang menggerutu.


Wanita itu mengabaikan panggilan tak jelas tersebut karena ia tahu jika orang-orang ini sebenarnya mengejar Joni, sang ayah tiri yang tak tahu diri.


Dari mana ia punya uang lima ratus juta? Menjual semua aset berharganya pun tak akan terkumpul uang sebanyak itu. Lagi pula, kalaupun dia punya, Anyelir tak akan bersedia membayar hutang si Joni.


Dengan tenang, Anyelir pun membersihkan diri. Dari luar terdengar suara gemercik air setiap wanita itu sedang membasahi tubuhnya menggunakan air dari pancuran. Namun karena suara gemercik itulah yang membuat wanita di dalam kamar mandi tersebut tak dapat mendengar adanya getaran dari ponsel yang ia simpan di atas nakas.


“Hmmm ... hmmm ... hmmm ....” Bahkan ia dengan santai bersenandung saat seusai mandi.


Sambil mengeringkan rambut, wanita itu melepaskan handuk yang membungkus kepala dan menggeraikan helai-helai hitam nan lurus tersebut.


Dia menyisir pelan agar tak ada rambut yang patah lalu rontok. Namun karena ia sudah berada di dalam kamar, kini ia mendengar getaran yang begitu berisik itu di atas nakas.


Saat Anyelir hendak menyisir rambut, Anyelir baru ingat jika yang tadi itu bukan panggilan, melainkan sebuah pesan.


Wanita itu pun meletakkan sisir dari tangan, kemudian berjalan lagi ke nakas untuk melihat pesan tersebut.


Hanya sebuah foto, tapi perasaan Andin menjadi tidak enak. Dia pun membuka pesan tersebut dan melihat ada Rio dalam gambar itu.


Jika kau ingin anak ini selamat saat esok hari dalam perjalanan ke rumah sakit, kau harus serahkan uang itu besok secara tunai!


“Apa maksud orang ini?” tanya Anyelir pada dirinya sendiri.


anita itu menyimpan ponsel tersebut dan menghapus pesannya. Tak lupa ia juga memblokir kontak tersebut agar tak ada lagi wajahnya dalam kontak yang menghubungi Anyelir.


Bisa-bisanya Joni melimpahkan hutang sebanyak itu pada Anyelir. Sebenarnya untuk apa sih utang-utang itu? Apa yang telah dilakukan pria brengsek tersebut sehingga dia punya kenalan seorang kaya yang mau meminjami dia uang. Atau jangan-jangan, dia menipu?


Pikiran Andin pun berspekulasi saat menggunakan pelurus rambut otomatis tersebut. Dia berusaha untuk tak tertidur saat membaca jurnal di malam hari.


“Kenapa mereka bisa-bisanya menggunakan Denis untuk mengancamku?” omel Anyelir.


Wanita itu melanjutkan rutinitas sore sambil menggunakan skin care. Di dalam kamar ini, banyak sekali produk perawatan kulit yang entah siapa telah membelinya. Mungkin itu adalah Lastri yang berinisiatif, untungnya semua produk tersebut cocok di kulit putih nan mulus milik Anyelir. Sehingga perempuan itu tinggal menggunakan saja.


“Mama,” panggil suara cempreng yang menghampiri kamarnya.


Tubuh kecil itu pun muncul di pintu kamar Anyelir.


Perempuan itu langsung tersenyum dan meminta Rio untuk menghampirinya. “Kemari, Sayang. Duduk di ranjang dulu, ya,” ucap Anyelir.


Rio mengangguk dan langsung menuju ke atas ranjang. Anak kecil itu melompat, berguling dan berputar-putar di atas kasur tempat tidur ibunya. “Mama, Rio mau tidur di sini,” ucap bocah mungil tersebut.


Anyelir menoleh, lalu ia mengangguk. “Iya, ayo tidur sini sama mama. Tapi di kamar mama tidak ada optimus prime, bagaimana?” Perempuan itu tersenyum menggoda anaknya.


Tokoh-tokoh dari transformer itu menjadi favorit bagi sang anak, terutama robot biru-merah dengan optimus prime tersebut.


“Aku akan membawa robotnya saja. Mama tak perlu mengubah dekorasi kamar,” jawab Rio dengan cara yang sangat lucu.


Anyelir menggeleng. Pasalnya, di kamar sang anak, selain tersedia robot rakitan optimus dalam berbagai ukuran dan pose, dinding kamar milik Rio pun bergambar optimus prime.


“Baiklah, kalau begitu. Nanti kamu boleh membawa robotnya, lalu menginap di sini. Asal robotnya simpan di nakas saja supaya tidak rusak,” jawab dari wanita berambut agak panjang dengan warna hitam dan lurus tersebut.


“Siap. Aku pegang janjiku.” Rio pun keluar dari kamar tersebut yang diikuti oleh mamanya.


Namun wanita yang telah memakai baju rumahan itu tak jadi keluar terlebih dahulu karena ia menerima telepon lagi.


Lagi dan lagi, nomor baru yang ketiga. Setelah dua nomor sebelumnya diblokir oleh Anyelir.


“Coba, siapa bos kamu! Sini bicara denganku! Seenaknya saja meminta uang sebesar itu padaku. Katakan padanya, aku bukan anak dari Joni!” bentak Anyelir dalam telepon.


“Iya, Bu. Saya Tera, Bos saya adalah Pak Dylan.”