Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
81. Rindu Dalam Sekotak Makanan


“T ... Tera,” panggil Anyelir dengan canggung.


Perempuan yang dipanggil oleh Anyelir itu menoleh dan menunjukkan wajah yang pucat dengan mata sayu, bibir keringnya juga terpaksa diberi perona agar setidaknya ia tidak seperti orang yang kurang darah. “Oh, Bu Anyelir. Selamat sore,” sapanya begitu melihat istri baru dari bosnya datang.


“Pak Dylan sedang ....”


“Oh, tidak apa-apa jika dia tidak ada. Apa kau sedang sangat sibuk?” tanya Anyelir.


“Em ... lumayan,” jawab perempuan berambut pirang tersebut. Ia masih bisa memberikan senyum dengan ketegangan dalam perusahaannya.


“Anu ... ini.” Anyelir menyodorkan tumpukan kotak makanan dalam bungkusan yang lebih besar dari biasanya.


Tera agak kebingungan saat menerima karena tangannya penuh dengan barang.


“Oh, iya. Maaf aku kurang peka. Aku akan simpan di mejamu saja, ya.” Anyelir berjalan pada meja kerja milik Tera yang berada di depan ruangan direktur utama.


Dia mengeluarkan salah satu kotak dan menyimpan di sana. “Aku membuatnya untukmu, Tera. Jangan lupa makan,” ucap Anyelir sambil membungkukkan badan.


Tera termangu melihat istri sang bos yang meletakkan makanan khusus untuknya. Dia mengedip-ngedipkan mata untuk meyakinkan apa yang baru saja dia lihat. Bosnya yang arogan dan jarang sekali memikirkan karyawan, kini menikah dengan perempuan sepolos dan sebaik itu?


Brak.


Salah satu dokumen yang dibawa oleh Tera jatuh. “Aduh!” Dia terkejut sambil langsung membungkuk mengambil barangnya. Namun karena dokumen jatuh itu, dirinya langsung sadar dari lamunan. “Oh, iya, Bu Anyelir. Terima kasih, terima kasih.” Dia terlambat mengucapkannya karena istri bosnya itu sudah berjalan menuju ke ruangan direktur utama.


“Terkadang, aku kesal karena berita tentang istri muda Pak Dylan itu. Tapi ... jika dia selalu baik begini, mana mungkin aku bisa kesal,” gumam gadis itu sambil merengut. “Ah, mau tidak mau, aku yang harus membereskan semuanya. Kenapa sekretaris Pak Dylan ini hanya satu sih?”


Perempuan itu mengacak kepalanya, hingga gelombang-gelombang pada rambut pirang itu terlihat sedikit kusut dan berantakan. “Ah, entahlah. Aku harus buru-buru dulu sekarang.”


Tera pun berlari meninggalkan tempat itu sambil membawa tumpukan dokumen miliknya.


*


Di dalam ruangan milik Dylan, sang pemilik sedang tidak ada di sana. Tapi ada Anyelir yang duduk dan menunggu suaminya. Dia memang tidak diminta untuk datang, tapi entah kenapa rasanya ada yang kurang karena sudah beberapa hari terakhir Dylan tak memintanya untuk membawa bekal.


Pria itu mungkin memikirkan keselamatan sang istri. Seperti kali terakhir Anyelir datang dan kejadian tak menyenangkan terjadi menimpa perempuan tersebut. Mungkin karena alasan itulah ia urung untuk meminta Anyelir selalu datang lagi.


Tapi untuk hari ini, mungkin bisa dikatakan jika wanita itu sendiri sudah rindu. Hal yang menjadi kebiasaan dan kemudian terhenti begitu saja. Ia merasa ada yang hilang.


“Pelat nama ini ... masih baru?” gumam Anyelir sambil memegang pelat yang ada di meja kantor Dylan. Karena saat terakhir dirinya datang ke kantor ini, pelat nama di sana masih memiliki inisial Andin di belakangnya.


Begitu pula dengan foto dan semua hal yang berbau tentang istri pertamanya. Segalanya telah hilang dan dibuang oleh Dylan.


Anyelir tersenyum karenanya. Entah, padahal ia tak meminta Dylan untuk berbuat sejauh ini. Tapi jujur saja dirinya merasa tersanjung karena apa yang dilakukan sang suami di belakangnya.


“Dia benar-benar merombak semuanya,” gumamnya lagi.


Kemudian, suara langkah terdengar dari luar ruangan. Anyelir pun terburu-buru untuk kembali duduk di sofa dan menjauh dari meja kerja milik suaminya.


“Kau ... mendapat kotak bekal?” tanya Dylan di luar sana. Sepertinya pria itu bertanya pada Tera.


Anyelir tersenyum mendengar suara dari sang suami.


“Anu ... iya, Pak. Bu Anyelir memberinya untuk saya,” jawab Tera agak gugup.


“Kau? Diberi olehnya?” Dylan bertanya dengan nada tak percaya.


“Benar, Pak.”


“Kalau begitu ... bagaimana dengan ....”


“Aku juga membuatkan untukmu,” ucap Anyelir sambil menyembulkan kepala dari pintu ruangan. Dia memberikan senyumnya yang lebar pada sang suami.


“Kau datang ternyata,” pungkasnya sambil berjalan mendekat ke arah istrinya.


Saat itu juga, Tera langsung tersenyum lega karena sang bos yang hampir merebut bekal jatah makan malamnya itu sudah masuk kembali ke ruangannya.


Perempuan berambut pirang itu duduk di kursi, lalu melihat bayangan melalui layar komputer. “Astaga, aku sungguh berantakan.” Wanita itu pun mengeluarkan sisir dari loker dan mulai merapikan rambutnya.


“Nah, sekarang waktunya kita buka makanan bekal dari Bu Bos yang baru.” Tera berkata demikian sambil cekikikan.


“Waaaah?” Dia terkejut karena bekalnya begitu cantik. “Bu Anyelir tidak salah memberiku kotak bekal ini? Apa jangan-jangan tertukar dengan milik Pak Dylan?” Wanita itu pun menggeleng. “Ah, entah. Aku tak peduli. Aku akan memakannya.”


Srek, srek.


Dia mengupas bungkus sumpit dan sendok. Lalu memegang salah satunya dan mengarahkan pada makanan. “Aduh, tapi ini terlalu cantik. Sayang untuk dimakan.”


Cekrek, cekrek.


“Sayang bila tidak diabadikan,” ujarnya sambil mengambil gambar dari bekal cantik buatan Anyelir untuknya.


Setelah itu, ia tak peduli lagi dengan bentuk bekal yang cantik tersebut karena perutnya terlalu lapar.


*


Sementara itu di dalam ruangan direktur utama, ada Dylan dan Anyelir yang sedang bersama.


“Kenapa kaudatang lagi kemari?” tanya Dylan sambil menatap istrinya dengan penuh kekhawatiran.


“Memang kenapa?”


“Di sini terlalu berbahaya,” jawab pria tersebut sambil membelai pipi lembut Anyelir menggunakan buku-buku jarinya.


“Semua tempat akan berbahaya bila waktunya musibah terjadi. Lantas, apa kita akan diam saja di rumah untuk menghindari bahaya? Sementara, di sini ....” Perempuan itu menunjuk pada dadanya. “Di sini ada rindu yang menggebu-gebu.”


Dylan tersenyum dan menatap gemas pada sang istri. “Dari mana kamu belajar kata-kata seperti itu?”


Anyelir mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu ia sendiri sadar dengan ucapannya. “Ah!” Dia berteriak dan terburu-buru menutup mulutnya. “Barusan aku bilang apa?”


Tangan pria itu terulur untuk mengusap pucuk kepala istrinya. “Kamu memang menggemaskan," ujarnya.”


“Bisa kita bahas yang lain saja?” pinta Anyelir memohon. Dia masih menutup wajahnya karena malu telah berkata demikian pada suaminya.


“Ngomong-ngomong, kenapa kamu juga memberi bekal untuk Tera?” tanya Dylan sambil merobek plastik yang membungkus sumpitnya.


“Aku hanya ingin berterima kasih, karena dia telah bekerja keras membantumu untuk menyelesaikan berbagai masalah.” Perempuan itu berkata dengan tulus.


Dylan pun terkekeh mendengar ucapan istrinya. “Kautahu, Tera pasti akan terharu sampai menangis jika mendengar kau berkata demikian.”


“Ah, benarkah?”


“Ya, dia cukup sensitif perasaannya. Tapi dia memang pandai mengambil hati orang lain.”


“Lain kali, kau tak perlu memberinya.”


“Kau cemburu, aku memberi bekal untuk Tera?”


“Tidak, bukan seperti itu!”


“Kau keterlaluan.”