
Dengan rangkaian bunga melati di kepala yang menjuntai hingga ke area pundak. Riasan minimalis yang mempercantik wajah Anyelir, ditambah dengan kebaya putih yang menjadikan wanita itu terlihat semakin anggun.
“Bagaimana saksi, sah?”
“Sah!”
Ijab kabul telah usai dan penghulu menyatakan jika pernikahan tersebut telah sah.
Bersama dengan Bi Ai dan pengiring pengantin perempuan yang lain, Anyelir pun keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu tempat akad nikah telah dilaksanakan.
Di sana juga terlihat Dylan yang baru saja mengucap akad dan kini resmi menjadi suaminya. Pria itu sebenarnya tak ada pilihan lain selain mengikuti ucapan ibunya. Sekali lagi, dia masih sangat menyayangi seluruh aset dan juga sahamnya. Oleh karena itu, mau tidak mau dia harus mengikuti ucapan sang ibunda.
Adegan bersalaman dan mencium punggung tangan suami pun terjadi, lalu dilanjut dengan adegan cium kening istri dan diiringi oleh riuh para orang yang menyaksikan pernikahan tersebut. Beruntungnya, tak banyak orang yang datang di pesta pernikahan mereka.
Bukan ekspresi canggung layaknya pengantin baru, namun ekspresi sama-sama terpaksa dan saling menunjukkan kekesalan saat mereka bertemu.
“Rencanamu untuk mendapatkan hartaku tak akan berhasil, kau juga tak akan bisa merebut hati Rio,” bisik Dylan setelah ia mencium kening istrinya tersebut.
Sementara itu, Anyelir langsung memalingkan wajah dan tak peduli dengan apa yang Dylan baru saja katakan.
Dia bukannya menyukai pernikahan ini atau bersyukur karena berhasil menjadi istri dari pria yang ia sukai, sama sekali tidak. Satu-satunya hal yang membuat Anyelir bertahan meski sikap Dylan sama sekali tak menyenangkan adalah Rio. Karena Rio membutuhkan obat, juga karena Rio membutuhkan kasih sayang dari seorang mama.
*
Tak ada pesta yang diselenggarakan, hanya jamuan makan sederhana yang dihadiri kerabat dekat saja. Hanya dalam dua hari Nyonya Lastri mempersiapkan ini semua. Wanita itu benar-benar terburu-buru menikahkan anaknya demi obat untuk sang cucu tersayang.
Seusai acara sakral tersebut, Anyelir dengan segera mengganti baju dan melepas riasannya. Ia tak berkumpul dengan keluarga Nyonya Lastri untuk sekedar mengobrol. Apalagi harus menemui Dylan yang nantinya dikira ia haus perhatian.
Wanita itu dengan segera menghampiri Rio yang ternyata telah ditidurkan di kamarnya. Ia pun berbaring saja di kamar anak itu, tanpa peduli jika nanti Dylan protes karena ia selalu berusaha mendekati Rio.
Sementara itu, Dylan sendiri sedang merenungi nasib pernikahannya bersama Andin. Pria itu masih berbaik sangka dengan berpikir jika wanita yang ia cintai itu terkena pengaruh dari pria lain sehingga ingin bercerai dengannya.
Dalam kamar mewah milik Dylan dan Andin, pria itu berbaring sendirian. Ia juga telah mengganti baju dan memutuskan untuk tidak berkumpul dengan keluarga besarnya. Karena sang ibu saat ini pasti sedang menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Mungkin dimulai dari pertengkaran Dylan dengan sang istri, lalu berlanjut dengan pengakuan Andin jika Rio bukanlah anaknya dan berakhir dengan bertemunya Anyelir sebagai ibu kandung Rio.
Tidak!
Dylan menggeleng dengan keras dan bangkit dari tidurnya.
“Andin adalah ibu kandung Rio!” Pria itu masih berusaha keras menyangkal fakta, meski ia tahu sendiri kejadiannya.
Rahangnya mengeras dengan gigi saling berbenturan satu sama lain. Tangannya mengepal penuh kemarahan di malam itu.
“Andin ...?” Dia memanggil-manggil nama sang istri yang jelas tidak akan didengar.
Dengan terhuyung, pria itu pun berdiri dan menuju ke tempat ponselnya sedang diisi ulang. Dylan mencabut kabel isi ulang yang masih terhubung ke arus listrik, pria itu langsung mengambil dompet dan kunci mobil, lalu memakai jaketnya dan keluar.
“Tak bisa begini terus, aku harus menemui Andin.”
Hal tersebut menimbulkan kecurigaan dari Nyonya Lastri.
“Dylan! Dylan! Kamu mau ke mana?” Sang ibu tentu saja harus mengetahui ke mana anaknya yang baru saja menjadi pengantin baru ini akan pergi.
Dylan tak menjawab, pria itu hanya menghentikan langkah dan berdiri tanpa menatap sang ibunda.
“Jawab, Ibu! Kamu mau pergi ke mana?” ulang Nyonya Lastri.
“Aku sedang ada urusan, harus pergi sekarang juga!” jawab Dylan yang langsung saja melanjutkan langkah cepatnya untuk keluar dari rumah.
"Dylan! Dylan!" Tentu saja Nyonya Lastri tak terima jika anaknya pergi begitu saja tanpa berpamitan dan menyebutkan tujuan kepergiannya.
Pria itu tak mendengar seruan ibunya. Ia sudah gelap mata dan harus menemukan Andin sekarang juga. Ia sama sekali tak peduli dengan pernikahannya bersama Anyelir. Itu hanya pernikahan siri dan tak berarti apa-apa bagi Dylan.
Nyonya Lastri berhenti di teras depan rumah dan melihat mobil Dylan pun melaju untuk pergi meninggalkan rumah.
Segera saat itu juga, wanita paruh baya tersebut meminta seseorang untuk membuntutinya.
“Pak, saya bisa minta tolong?” ujar Nyonya Lastri pada sopir pribadi keluarganya. “Bisa kejar Dylan sekarang juga?”
Sopir itu tentu saja tak menawar ucapan sang majikan, ia langsung bangkit meski saat itu sedang menikmati secangkir kopi. Mengambil kontak mobil dan segera menyusul kendaraan yang baru saja keluar dari gerbang tersebut.
Firasat seorang ibu benar-benar tajam, Nyonya Lastri tengah berpikir jika Dylan pasti sedang pergi untuk mencari dan menemui Andin. Meski ia tak tahu keberadaan wanita tersebut, namun ia yakin jika putranya pasti masih mengejar istri pertamanya itu.
Selagi Nyonya Lastri gelisah melihat kepergian anaknya, Dylan sendiri tak memikirkan bagaimana perasaan sang ibu.
Ia merasa bahwa dirinya masih menjadi suami yang sah untuk Andin dan berhak atas wanita itu di mana pun dirinya berada.
Malam yang sunyi ditambah dengan hujan yang masih turun sejak sore tadi, membuat pandangan Dylan agak kabur karena embun di kaca mobilnya.
Berulang kali pria itu berusaha untuk menghubungi Andin, namun nomor dari wanita tersebut sama sekali tak aktif.
Dylan memegangi lengan kanannya. Bagian bahu masih terasa sakit karena pertengkarannya bersama Leon dan Farel kemarin. Namun ia tak menyerah untuk tetap memegang kemudi dan mencari ke mana Andin berada meski tak tahu di mana wanita itu saat ini.
Satu per satu teman Andin ia cari.
Bahkan kantor agensi model tempat Andin bernaung pun ia datangi. “Apa hari ini Andin kemari?" tanya Dylan pada sang satpam.
“Mbak Andin, ya, Mas? Saya kurang tahu, kebetulan saya sift malam.” Satpam tersebut memberi jawabannya.
“Tapi selama empat hari ke belakang, apa bapak pernah melihatnya kemari?” tanya Dylan lagi.
“Kurang tahu, Mas. Minggu ini saya sift malam terus. Lagian, ini sudah larut malam, Mas. Mana mungkin ada model yang datang ke sini malam-malam.”
Dylan pun tak lagi memaksa. Ia kembali masuk mobil, matanya juga melirik dengan tajam pada mobil hitam yang berhenti tepat di belakangnya. Namun dirinya tak mempermasalahkan, meski ia tahu jika mobil tersebut sedang mengikutinya.