
“Dylan?” Nyonya Lastri bertanya-tanya seraya ia menghampiri anaknya.
Dia meletakkan mainan milik sang cucu di lantai, kemudian berjalan dengan kacamata tebal yang terpasang dan bertengger di hidungnya. “Apa maksudmu berkata demikian? Kau mencurigai para pelayan akan mengganggu Anyelir?”
Dylan menghela napas dengan keras, sepertinya sang ibu belum tahu mengenai foto yang tersebar kemarin. Dia juga menggelengkan kepala karena merasa aneh, bagaimana mungkin bisa, orang seisi rumah tak ada yang tahu mengenai potret-potret tentang Anyelir yang tersebar di internet? Apa tak ada satu pun orang yang membuka ponsel hari kemarin?
“Bu, Pak,” ujar Dylan.
Pria tersebut meletakkan sendok dan garpu dari tangannya. Kemudian meraih sapu tangan dan mengelap ujung-ujung bibirnya.
“Ada beberapa potret Anyelir yang tersebar di media. Sekarang, orang-orang di luar sana sudah mengetahui siapa Anyelir dan juga wajahnya. Apa yang harus kita lakukan?” Dylan akhirnya menceritakan apa yang terjadi kemarin.
Lastri dan Gunadi langsung memasang wajah terkejut atas apa yang ia dengar mengenai Anyelir. Bahkan perempuan berbibir sakura itu juga langsung memasang ekspresi yang ketika menyadari potret dirinya telah tersebut di luar sana.
“Jadi ini yang dimaksud oleh Dokter Rian kemarin?” gumamnya. Ia ingat dengan apa yang dibicarakan oleh sang dokter senior kemarin saat meneleponnya.
“Kalau seperti itu, mengapa kau harus mencurigai mereka? Apa ada hubungannya dengan para karyawan yang bekerja dengan kita?” tanya Lastri khawatir.
Dylan memasang wajah dingin lalu menjawab pertanyaan ibunya. “Aku bukan menuduh mereka, tapi potret Anyelir yang tersebar di media, kebanyakan memiliki latar belakang di rumah ini atau sekitarnya. Maka dari itu, aku berpikir jika bukan para orang yang bekerja di rumah ini. Lantas siapa lagi?” Pria tersebut melirik sinis pada para pelayan.
Seketika, semua pegawai yang haha hihi langsung membungkam mulut mereka dan menunduk takut. Ada hawa dingin yang meniup ke arah pelayan tersebut, merambat dari ujung kaki menuju ke ubun-ubun. Mereka saling merapatkan diri berimpitan satu sama lain.
“Sudah! Sudah!” Gunadi pun menengahi. “Belum tentu terbukti juga, kamu jangan asal tuduh!” Pria tersebut menatap pada anaknya dengan mata yang cukup lebar.
“Untuk itu, kalian tak perlu khawatir. Jika tidak merasa bersalah, tak perlu takut. Tapi ... sekalinya ada dari kalian yang terbukti melakukan hal tersebut, aku akan turun tangan sendiri untuk memberikan hukuman.” Gunadi tak terlihat main-main dengan ucapannya.
Setelah hawa dingin yang menancap di belakang tengkuk para pelayan tersebut, kini tombak api dihunuskan tepat di depan jantung mereka.
“Bagaimana ini? Pak Dylan dan Pak Gunadi semuanya mencurigai kita?” Mereka berbisik-bisik.
“Apa kautahu siapa pelakunya?”
“Aku tidak tahu.”
“Siapa di antara kita yang tega melakukan hal sekeji itu pada Bu Anyelir yang begitu baik?”
Para pelayan itu berbisik-bisik membicarakan hal ini. Tak ada satu pun dari yang mengaku telah melakukan hal tersebut. Bagi para pelayan, kedatangan Anyelir adalah suatu berkah, jadi mana mungkin ada satu dari mereka yang berkhianat dan berani melakukan itu pada sang majikan baru mereka.
Pagi itu, mereka pun membubarkan diri dan masing-masing kembali bekerja. Dylan telah berangkat dan pergi ke kantor. Anyelir bermain bersama Rio seperti biasa, selain mereka berdua juga ada Lastri yang menemani.
“Bapak mau pergi ke kantor juga, Bu?” tanya Anyelir yang melihat sang bapak mertua berdandan rapi.”
“Mana pernah dia ke kantor kalau tidak ada situasi genting?” ujar Lastri sambil terkekeh. “Dia itu ... sedang hendak pergi ke Singapura. Ada perjalanan bisnis 3 hari.”
“Bapak ingin membawa ibu, tapi dia bilang khawatir terjadi sesuatu pada Rio,” timpal Gunadi dengan nada yang dingin. “Padahal ....” Pria itu pun bergerak menuju ke arah anak kecil yang sedang menyusun legonya.
“Padahal apa?” tukas Lastri.
“Oh, tidak! Tolong aku! Tolong! Kakek adalah monster jahat! Tolong!” Rio memberontak saat sang kakek menghujani ciuman pada pipinya.
“Turunkan aku, Kek!”
“Tidak bisa! Hyaaa ....” Pria tua itu terus mencium dan menggelitik pada Rio sambil sedikit mengangkat anak itu.
“Bapak, sudah cukup!” tegur Lastri yang melihat Rio dengan tak tega.
Pria tua itu terkekeh sambil terengah-engah karena setelah menggoda cucunya. “Rio, kakek mau berangkat kerja dulu. Selama beberapa hari, kakek tidak akan bisa menemuimu. Kau, tidak apa-apa, kan?” tanya pria tua tersebut.
Rio mengangguk. “Aku tak apa, ada mama dan papa. Semalam Rio tidur di kamar papa dan mama juga menemani Rio,” ujar Rio menceritakan kebersamaan mereka semalam.
Lastri tersenyum mengembang, dia tak menyangka jika sang anak pada akhirnya bisa melupakan Andin dan menerima keluarganya yang sesungguhnya.
“Rio memang sebelumnya belum pernah tidur di sana?” tanya Anyelir.
Anak kecil itu menggeleng.
Kemudian Lastri menjelaskan pada Anyelir. “Sejak masih bayi, Rio sudah tidur terpisah dari ayah dan ibunya. Maka dari itu, dia bahagia sekali mendengar kau akan menemaninya,” ujarnya sambil menatap Rio dengan tatapan kasihan.
Begitu pula dengan Anyelir, perempuan itu mendadak iba sekaligus merasa bersalah pada sang anak. Jika ia mau sedikit egois, mungkin dulu dia tak peduli dengan kontrak yang mereka tanda-tangani, lalu ia tak akan mengorbankan sang anak demi keinginannya.
“Maafkan mama,” ucap Anyelir sambil memeluk Rio.
Tapi Rio tak peduli dengan apa yang diucapkan oleh sang ibu. Anak kecil itu masih saja fokus dengan mainannya dan ia tak mendengar apa yang sang ibu katakan. Seakan ia tak peduli dan lebih mementingkan mainannya. Begitulah anak kecil.
“Kalau begitu, bapak pamit.”
Gunadi pun pergi meninggalkan rumah tersebut. Beberapa pengawal mengikutinya dari belakang, langkah mereka bagai pasukan berbaris di dalam rumah yang terdengar serentak.
*
Sementara itu di kantor, Dylan sedang disibukkan dengan run down acaranya. Kali ini ada perayaan hari jadi salah satu anak cabang, dia menjadi salah satu orang yang wajib hadir sebagai perwakilan dari perusahaan induknya.
Namun di tengah acara, ada sebuah telepon dari orang yang paling ia tak ingin ajak mengobrol. Dia ingin mengabaikan telepon tak penting tersebut, tapi perasaannya tak enak.
“Tera, aku permisi dulu, katakan aku sedang menerima telepon jika ada yang mencariku,” ucap Dylan sambil berlalu.
“Baik, Pak,” jawab Tera yang berbicara dengan punggung Dylan karena pria tersebut telah pergi meninggalkannya.
“Hei, Rian! Kenapa kau menggangguku?” ketus Dylan. Padahal, pria itu bisa saja mengabaikan panggilan dari Rian jika tak ingin mengangkatnya. Tapi, entah karena rasa penasaran, entah karna apa, dia tetap menjawab panggilan dari Rian.
“Jika ada waktu, bisakah kita bertemu nanti sore?”