
Dengan perasaan gugup dan khawatir, disertai jantung yang berdebar begitu kencang. Anyelir pun keluar dari kamar, berlari dan menuruni tangga.
Ia menatap Rio yang terlihat antusias ketika melihat mamanya datang dari lantai dua. “Mama,” panggil anak itu.
Untungnya, Anyelir menggenggam lem yang diminta Rio. Dia memasang wajah khawatir meski dipaksa tersenyum lebar di depan sang buat hati.
Lastri mengetahui itu bukan ekspresi senyum Anyelir yang biasa. Melihat menantunya itu tadi begitu lama berada di kamar, lalu turun dengan terburu-buru, perempuan paruh baya ini menangkap adanya sesuatu yang terjadi.
“Ini lemnya ya, Sayang. Mama pergi dulu sebentar,” pamit Anyelir sambil mengecup kening Rio.
Lastri mengekor pada Anyelir yang berjalan ke luar dari rumah. “Kaumau ke mana, Anye?” tanya wanita tersebut dengan setengah berlari.
Anyelir berbalik, ia lupa dengan sang mertua yang belum dipamiti. “Maaf, Bu. Saya harus pergi.” Dia tak bisa menjelaskan yang sejujurnya.
“Ada apa? Kamu terlihat khawatir.” Lastri tiba-tiba memiliki firasat tak enak.
Sebuah pesan masuk lagi kepada nomor milik Anyelir.
‘Kau tak perlu buru-buru pergi menyelamatkan suamimu. Cukup kirim uang itu, lalu aku anggap semuanya selesai!’
Pesan yang berisi ancaman itu datang lagi. Anyelir semakin gelisah dan itu tak bisa ia sembunyikan melalui wajahnya, sehingga Lastri pun bisa melihat suasana hati menantunya.
“Apa yang kaukhawatirkan?” tanya Lastri lagi.
“Pak Dylan, Bu.” Anyelir menjawab dengan ragu.
Nomor itu menelepon ke nomor Anyelir. Wanita itu semakin gugup dan dipenuhi oleh kekhawatiran.
“Bu, saya tak bisa lama-lama lagi. Maaf saya harus pergi.”
“Tunggu, Anye! Apa yang terjadi dengan Dylan?” teriak Lastri yang tak digubris lagi dengan Anyelir. Wanita tersebut segera mengendarai mobil yang terparkir.
“Bu Anye! Bu Anye!” Sang sopir pribadi Anyelir sampai terkejut melihat majikannya pergi seorang diri tanpa mengajak dirinya.
“Bu Lastri, sebenarnya Bu Anye mau pergi ke mana?” tanya sopir tersebut.
Lastri menggeleng. Ia hendak pergi, tapi memikirkan Rio dan suaminya yang ditinggal sendiri. “Kamu ikuti Anyelir pakai mobil yang lain. Lihat dia pergi ke mana! Perasaanku menjadi tidak enak begini!” titah Lastri pada sopir tersebut.
Sang sopir pun mengangguk dan segera mencari kontak mobil yang lain untuk pergi bergegas dan menyusul majikan perempuannya tersebut.
*
Antara panik dan akal sehat yang bertentangan, entah bagian mana yang lebih mendominasi Anyelir. Wanita itu sendiri tak tahu sudah berada di mana Suaminya tersebut. Jika ia hubungi sekarang, maka ia takut konsentrasi Dylan terpecah ketika harus mengangkat telepon saat sedang berkendara.
Dirinya mendapatkan panggilan, kali ini nomor yang tak dikenal melakukan panggilan video yang tentu saja membuat Anyelir bingung harus berbuat apa.
Perempuan itu menyimpan ponselnya di dashboard, ia sedikit mengurangi tekanan pada pedal gas dan menggeser layar untuk menerima panggilan. Dengan mata yang masih tertuju pada jalanan, wanita itu mencoba untuk melihat juga siapa orang yang tengah mengancamnya.
Akan tetapi ....
Ciiiiit.
Anyelir menepikan mobil dan menghentikannya. Perempuan itu melihat pada layar ponselnya yang menunjukkan penampakan dalam mobil. Ya, seperti yang dikatakan oleh orang yang mengancamnya.
Dia berada dalam mobil dan tepat dalam mobil itu adalah mobil milik suaminya.
“Hei, kaumau apa?” bentak Anyelir sambil meremas kepalanya. Dia menatap pada layar dengan wajah ayu yang tampak frustasi.
“Itu bukan hutangku! Kenapa kau tidak menagih pada Joni saja!” bentak Anyelir dengan sangat kesal.
Meski ia membenci sang suami, tapi kekhawatirannya begitu besar pada pria tersebut. Apalagi jika Dylan harus celaka karena sesuatu yang berkaitan dengannya. Tentu Anyelir tak akan bisa memaafkan dirinya bila hal itu terjadi.
“Haha, bagaimana ya? Tapi ini adalah hutang lama, lalu Joni juga sudah menjaminkan namamu yang akan menanggungnya.” Suara di sana terdengar berat namun semua kalimat itu begitu ringan mereka ucapkan.
“Tadinya aku mau memakai dirimu untuk bersenang-senang, tapi setelah kuselidiki ternyata kau adalah menantu dari keluarga kaya. Maka kenapa aku tidak meminta uang darimu saja? Ide yang bagus, bukan?”
Anyelir masih mendengarkan perkataan orang di seberang sana dengan penuh kemarahan. Bukan hanya amarah, akan tetapi juga perasaan takut menguasai dirinya. Khawatir akan suaminya yang dicelakai oleh pria tersebut. Perempuan itu masih menatap pada layar video call yang ada di depan sana.
“Ayo ... kamu bisa lari, Dylan ... kenapa kamu tidak mengebut dan tinggalkan mobil itu?” ujar Anyelir dengan lirih. Sambil mulutnya senantiasa berdoa, wanita tersebut berharap Dylan bisa menjauh dari mobil besar milik pria tersebut.
Ia tidak tahu mobil jenis apa yang dikendarai oleh pria yang ada dalam video call nya, tapi jika dilihat dari layar, mobil Dylan berada di bawah, maka semestinya kendaraan tempat pria ini sangatlah besar.
“Bagaimana? Kau masih tak mau memberikan uang untuk membayar kewajibanmu?” Pria tersebut begitu kukuh meminta pada Anyelir.
“Tidak! Minta saja pada Joni.”
“Oh, kau tidak sayang pada suamimu?”
Anyelir menggeleng dan sangat terlihat jika ia begitu mengkhawatirkan Dylan.
“Dia tidak bisa mengebut karena di jalur ini sangat padat oleh kendaraan. Beruntung sekali aku bisa tepat masuk ke dalam jalan ini di belakang suamimu. Jadi jika dia terlalu lambat, mobil torontonku ini akan menggilasnya.” Suara pria itu agak serak karena ia terkekeh sambil batuk-batuk.
“Kenapa? Kenapa tidak kauancam saja si Joni! Dia yang berhutang, kenapa kau berusaha mencelakai keluargaku! Dasar kau memang seperti hewan!” umpat Anyelir sambil menangis.
“Kumohon jangan lakukan apa pun padanya, aku mohon!” pinta Anyelir.
“Tergantung! Kau beri aku uang mukanya dulu. Seratus juta saja bagaimana?”
Anyelir masih menggeleng. Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
“Aku tidak punya uang,” jawab Anyelir dengan lirih.
“Kau bisa meminta pada mereka. Keluarga suamimu adalah konglomerat di Indonesia. Uang satu milyar itu tidak besar!”
Untuk ke sekian kalinya perempuan itu menggeleng. Mana mungkin dia meminta pada keluarga Dylan? Itu sangat tidak mungkin.
“Kau terlalu lama berpikir, lihat di sampingku ini!” Pria tersebut mengarahkan ponselnya ke jendela samping kanan.
Anyelir dapat melihat ada sebuah sepeda motor yang mengebut dari sisi kanan mobil. Dia masih tak mengerti kenapa harus ada motor itu, lalu tak lama kemudian Anyelir tahu apa yang diincar oleh si pengendara motor.
Brak!
“Tidak!” jerit Anyelir saat melihat bagaimana motor tersebut menyenggol bagian mobil tepat di sisi pintu pengendara.
Tok tok tok!
“Bu! Bu Anyelir!” Dari luar jendela mobil Anyelir sendiri ada yang mengetuknya. Anyelir segera mematikan panggilan video dan menyembunyikan ponselnya.
Dia adalah sopir pribadi yang diminta menyusul Anyelir oleh Nyonya Lastri.
“Pak, Pak, Pak Dylan kecelakaan. Kita harus ke sana, Pak Dylan kecelakaan!”