Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
30. Bekas Di Leher


Dengkuran halus itu terdengar di telinga Anyelir. Perempuan itu menutupi mulutnya dan menahan diri agar tidak mengeluarkan suara saat ia sedang menangis. Selebar-lebarnya ia membuka mulut, ia akan berusaha membuat suasana kamar itu sesunyi mungkin.


Sambil memungut handuk yang tergeletak di lantai, dia berjalan terseok dengan lilitan kain putih itu di sekujur tubuhnya. Rambut yang sebelumnya ia rapikan tadi, kini telah berantakan lagi. Wanita itu berdiri di depan cermin dan mencoba menatap wajahnya.


Dinyalakannya keran air dan kemudian ia membasuh muka. Terlihat bekas merah kebiru-biruan di bagian leher, dada, perut, dan juga kakinya. Mendadak dia ingat momen itu lagi saat Dylan berusaha untuk memasukinya. Gadis itu kembali berjongkok dan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan.


Ia pun memeluk kain handuk itu dengan rapat sambil menggelengkan kepala seakan menolak kenangan buruk tadi dalam pikirannya. Segera ia berjalan masuk ke area pancuran di kamar mandi, Anyelir menyalakan keran itu dan berusaha membersihkan dirinya lagi. Dia mengusap seluruh tubuhnya menggunakan sabun cair yang ia tuangkan sebanyak-banyaknya.


Dirinya merasa kotor karena sentuhan suaminya sendiri. Anyelir merasa Dylan telah melecehkan dan menjatuhkan harga dirinya. Wanita itu berharap kejadian tadi tak pernah terulang.


Padahal dirinya datang ke sini untuk melakukan program bayi tabung dan lebih dekat dengan Rio. Namun apa yang terjadi, dia malah terkesan menjadi perusak hubungan orang dan kini dia dinodai oleh suaminya sendiri.


Kenyataan memang sering terjadi tak sesuai dengan rencana. Namun Anyelir bertanya-tanya, perlukah dia melakukan ini untuk Rio? Agar Rio bisa tetap hidup, agar Rio bisa tetap sehat, dia harus rela dilecehkan oleh suaminya sendiri?


Anyelir menangis sambil duduk di atas lantai kamar mandi dan memeluk lututnya. Busa-busa itu memenuhi tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Dengan menggunakan tangan yang dipenuhi oleh koloid berwarna putih tersebut, dia meraih keran air dan kembali menyalakan pancuran. Dia biarkan air hangat itu melarutkan busa-busa dari tubuhnya. Namun Anyelir tak ada hentinya menangis di kamar mandi sana.


Mungkin karena gemericik suara air ditambah tangisan Anyelir, hal itu membangunkan pria yang sedang tertidur dengan pulas.


Hanya menggunakan celana pendek, pria itu datang dan melihat Anyelir sedang menangis di sana.


“Sedang apa kau? Pergi!” usir Anyelir sambil menutup tubuhnya sendiri.


Dylan melihat wanita yang menurutnya sedang berpura-pura sedih itu dengan tatapan mengejek. “Kau benar? Mungkin kau sangat ingin mengusir Andin dari hidupku dan kemudian kau juga ingin menjadi penggantinya.”


Anyelir menggeleng. “Terserah kaumau bilang aku ini wanita yang seperti apa, yang jelas pergi dari kamar ini? Pergi!” teriak Anyelir sambil bercucuran air mata. Dia duduk sambil memeluk lututnya di sudut kamar mandi.


“Hei, Liar! Ayo, jika kau ingin menjadi pengganti istriku, maka terus layani aku malam ini, karena Andin juga sering melakukan hal ini denganku.” Dylan tersenyum licik.


Sementara itu, Anyelir berteriak dan mencoba meronta sekali lagi. “Tolong, jangan!”


*


Kejadian malam kemarin benar-benar membuat Anyelir trauma. Dia rasanya ingin menangis seharian karena masalah tersebut yang menimpanya. Namun apa pun yang terjadi dia harus tegar, karena ini demi Rio.


Dengan mata sembab, Anyelir mencoba menutupi bekas-bekas keunguan itu pada lehernya. Namun lama-lama frustasi juga karena bekas itu terlalu banyak. Sungguh lucu bila seorang dokter datang ke rumah sakit dengan leher yang tertutup plester seperti ini. Akhirnya ia mencari syal dan berusaha menutupi leher tersebut.


.


.


Tuk, tuk, tuk ....


Anyelir mendengar suara menuruni tangga saat ia baru keluar dari kamarnya. Dia berdiri di ujung tangga dan melihat suaminya sudah dalam keadaan rapi juga hendak pergi bekerja. Perempuan itu masih menunggu di atas. Ia tak mau berpapasan dengan pria tersebut.


“Anyelir, kenapa diam saja?” tanya Nyonya Lastri yang memanggilnya dari bawah.


“Mama, ayo turun. Kita sarapan dengan gulai telur buatan Bi Ai,” panggil Rio dengan wajah yang cerah.


Perempuan dengan syal biru di leher itu pun berusaha untuk berjalan dengan pelan. Tidak dapat dipungkiri, jika pangkal kakinya itu terasa sakit karena perbuatan Dylan yang menggempurnya saat di atas ranjang dan juga di kamar mandi.


Anyelir menahan diri dan berusaha untuk tak menatap pada wajah Dylan. Pria itu kali ini terlalu menakutkan baginya. Kejadian semalam menyisakan rasa sakit yang teramat sangat dalam hati wanita itu.


“Ibu sakit, Bu?” tanya Bi Ai.


“Kamu sakit, Nak?” Kali ini Lastri yang turut bertanya.


Anyelir menggeleng.


“Bener, Bu? Biasanya ibu bangunnya suka pagi-pagi banget, bantuin bibi. Hari ini tumben Bu Anyelir gak kedengeran suaranya.” Bi Ai menjelaskan keanehan yang terjadi pada Anyelir.


Dylan diam saja dan pura-pura tak mendengar ucapan orang-orang yang berada di sana.


“Ayo duduk sini, Ma,” paksa Rio.


Anyelir pun melangkah dari tangga menuju meja makan. Dia berusaha agar tak terlihat aneh saat berjalan, meski ia merasa menahan rasa sakit di pusat tubuhnya.


“Kamu beneran nggak apa-apa, Sayang? Ibu khawatir melihatmu seperti ini.” Lastri pun mengusap rambut Anyelir yang terlihat cantik namun sayu hari ini.


“Saya tidak apa-apa, hanya sedikit kedinginan saja.”


“Kalau begitu kamu pakai jaket, ya.”


“Tidak perlu, Bu.”


Perempuan itu sarapan secukupnya sambil menyuapi Rio juga. Anak itu selalu senang setiap ibunya ada di sisinya.


“Mama, kenapa mama terlihat bersedih?” tanya Rio dengan suara polosnya.


Anyelir dengan segera menggelengkan kepala. “Bersedih? Mama tidak sedih, mama sedang bahagia karena bisa menyuapi Rio,” jawab Anyelir sambil mencoba untuk senyum.


“Tapi ... mata mama sembab,” ucap anak itu lagi.


“Oh, apakah iya? Mungkin karena mama belum memakai krim mata, jadi terlihat sembab.” Anyelir hanya beralasan saja, ia malah sungkan karena Rio mengeluarkan pertanyaan itu di depan orang dewasa lainnya.


Namun Rio menggeleng lagi. “Bukan, bukan itu! Mama terlihat seperti habis menangis.”


Lastri yang mengerti jika Anyelir mulai kesulitan dengan pertanyaan anaknya sendiri pun mengambil alih. “Sayang, ayo habiskan makanannya. Jangan banyak bicara terus, ya!” Dia memperingatkan cucunya.


“Biar nenek yang suapi kamu, mau?” tawar nenek-nenek yang awet muda tersebut.


“Tidak, aku hanya mau disuapi oleh mama.” Rio jelas saja menolak.


Namun bukan Rio jika langsung diam ketika diminta. Anak itu tetap mengajukan pertanyaan lain meski ia hanya sekedar mengganti topiknya.


“Mama, kenapa mama tidak menemani Rio tidur?” tanya Rio.


Anyelir diam sejenak. “Nanti malam mama akan menemani Rio.”


“Sama papa juga, ya? Soalnya aku melihat dalam film kartun, anak-anak tidur ditemani mama papanya.”


Dylan pun berdiri seolah tak mendengar pertanyaan anaknya sendiri.


Akhirnya Lastri yang menimpali.


“Iya, nanti mama sama papa akan tidur bersama dengan Rio.” Dia juga segera merebut piring dari tangan Anyelir.


“Dylan, coba berangkat bersama dengan Anyelir!”