Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
74. Olahraga Pagi


“Kamu tidak salah?” Lastri langsung menghampiri anaknya karena dia mendengar apa yang diucapkan oleh sang putra.


Dylan menatap sang ibu. Dia pun berkata, “Memangnya aku terlihat bercanda?”


Pria itu pun langsung berjalan kembali ke lantai dua. Dalam keadaan masih memakai baju tidur dan juga slipper berwarna putih hijau, Dylan tetap saja menunjukkan wajah arogannya. Bukan wajah pria bangun tidur pada umumnya.


Melihat sang suami sudah naik ke lantai dua, Anyelir pun segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Perempuan itu enggan berpapasan dengan pria menyebalkan yang pasti akan mengajaknya bicara dengan cara yang penuh intimidasi itu.


Tok tok tok!


“Aduuuh ...,” Anyelir merasa geram. “Kenapa dia pakai ketuk-ketuk pintu segala sih?” gumamnya yang merasa kesal.


Tok tok tok!


“Apa dia tidak bisa tinggal melewati kamarku begitu saja tanpa harus mampir dulu?” gumamnya lagi dalam hati.


Anyelir masih tak mau menyahut, karena itu pasti adalah Dylan yang ingin masuk dan entah mau apa yang dia bicarakan. Yang pasti berbicara dengan pria itu tak akan pernah terasa menyenangkan baginya.


“Ma ... mama!” Suara cempreng itu pun terdengar.


Seketika Anyelir mengembuskan napas lega. Untung itu ternyata bukan sang suami. Akhirnya, perempuan tersebut pun membuka pintunya dengan memasang senyum yang lebar.


“Ri ... O!” Senyumnya luntur.


Seorang pria berdiri di belakang  Rio dan melipat kedua tangan sambil menatap padanya.


Anak kecil itu pun berbalik sambil melambaikan tangan pada sang papa. “Mama, aku mau pamit untuk main sama kakek dan nenek. Dah, Papa. Dah, Mama.”


“Dadah, Rio! Jangan nakal, ya, kalau main sama Kakek dan Nenek!” Dylan melambaikan tangan sambil tersenyum lepas.


“Rio pamit, Ma.” Anak kecil dengan topi biru bergambar dinosaurus itu melambaikan tangan sambil berjalan. Di bagian tangga sudah ada Gunadi Bagaskara yang menyambut sang cucu dan hendak menggendongnya.


“Iya ... sayang,” timpal Anyelir dengan nada lemas.


Dengan sebuah gerakan yang cepat, perempuan itu segera masuk kembali ke kamarnya dan menutup pintu.


Sedikit lagi!


Ya, sedikit lagi pintu akan tertutup. Tapi sayang, tangan kekar dan juga telapak kaki yang lebar itu mengganjal di antara pintu dan kusennya.


Apa lagi ini?


Anyelir merasa kesal karena Dylan memaksa masuk ke dalam kamarnya.


“Kamu, tidak melihatku ada di depan kamar? Main tutup pintu sembarangan saja!” gerutu Dylan yang merasa kesal.


Anyelir menunduk sambil membuang pandangannya. Dia benar-benar tak ingin ada Dylan di dalam kamar ini bersamanya.


“Oh, kauingin segera masuk ke dalam kamarmu dan mengunci kamar. Seperti ini?”


Cklek.


Dylan pun memutar pengunci pintu sambil tersenyum lebar pada istrinya.


“Eh, eh, mau apa?” Anyelir hendak membuka kembali pintunya, tapi sayang tangannya dicekal oleh Dylan.


“Mau apa lagi memangnya?” jawab Dylan dengan tatapan yang lurus pada wajah Anyelir lalu senyum menyeringai yang terlihat sangat mencurigakan dan tak dipandang.


“Nanti saja, aku ingin berkeringat dulu denganmu. Baru nanti kita mandi bersama,” jawab Dylan sambil berusaha menyudutkan Anyelir dan membuat kaki mereka membentur ranjang.


Namun Anyelir tak mau kalah. Dia mendorong Dylan dan berusaha menghindar. “Kalau makan? Kamu belum makan,” ujar Anyelir lagi.


Dylan menggeleng dan menahan lengan istrinya. Pria itu membuat wanita itu berbaring dan ia pun berada di atasnya.


Anyelir mengerutkan dahi sambil memasang wajah takut. Dia memalingkan wajah karena kini pipinya telah memerah bagai yang matang dari pohonnya.


“Aku ingin memakan kamu,” ucap Dylan di samping telinga Anyelir. Dia mencoba menatap istrinya yang menggemaskan itu lalu menjepit dagu Anyelir agar wajah mereka berhadapan.


“Tolong,” kata Anyelir yang masih tak berani melihat mata suaminya. Dia hanya dapat merasakan jika hidung mereka kini telah bersentuhan satu sama lain. Aroma pasta gigi kini memenuhi indra penciumannya, perempuan itu memejamkan mata karena merasa belum siap dengan adegan yang selanjutnya.


“Aku benar-benar tidak tahan lagi, Anyelir. Apa kau akan terus menyiksaku seperti ini?” tanya Dylan dengan wajah memelas.


Perempuan itu pun memberanikan diri membuka matanya.


Dylan pun memberanikan diri untuk menyentuh bibir sakura milik Anyelir yang sangat menggoda. Dengan gerakan perlahan dia menautkan benda lembut nan kenyal itu dengan miliknya.


Tak ada penolakan dari Anyelir, perempuan itu terdiam sambil mencoba merasakan sentuhan dari suaminya. Sentuhan kali ini berbeda dengan sebelumnya, ada yang menggelitik dalam setiap gerakan yang diberikan oleh Dylan. Lebih lembut, lebih sensual dan lebih terasa penuh kasih sayang.


Ada yang berdebar di dalam rongga dada Anyelir. Tanpa ia sadari, perempuan itu membuka mulutnya dan menyambut ciuman dari Dylan. Suara-suara sensual mulai memenuhi ruangan dan kini Dylan pun memastikan jika kali ini ia akan memasuki istrinya tanpa pemaksaan.


*


Tersenyum sambil terengah-engah. Dylan menatap pada wajah Anyelir yang begitu memerah dan penuh keringat di bawahnya. Bahkan deru napas dari wanita ini begitu menggoda dan sangat seksi di matanya.


Dylan tersenyum sambil mengusap surai milik perempuan tersebut. “Terima kasih.”


Anyelir membuang muka, ada rasa bahagia bercampur dengan sedih yang menggelenyar dalam hatinya. Kenapa Dylan harus memperlakukannya dengan sangat lembut seperti ini?


Ketika Dylan telah melepas tautan mereka, pria itu pun berbaring di samping Anyelir. Namun perempuan itu membelakanginya dan memberikan pemandangan punggung yang indah untuk dipeluk oleh sang suami.


“Kenapa kau membelakangiku?” tanya Dylan sambil memeluk Anyelir. Tangan pria itu tak bisa diam dan masih saja mencari bagian yang menyenangkan untuk ia sentuh dari tubuh istrinya.


Anyelir diam saja, dia bahkan agak menyingkirkan tangan milik Dylan yang mencoba menyentuhnya lagi.


“Apa ada sesuatu yang kaupikirkan?” tanya Dylan lagi.


Anyelir pun mengeluarkan suara. “Emmm.” Begitu jawabnya.


“Apa?” Dylan semakin penasaran.


“Apa kau akan menjawabnya jika aku bertanya?” ujar Anyelir yang ragu. Karena pertanyaannya kali ini berkaitan dengan perasaannya. Ia ragu, Dylan berkenan menjawab dengan jawaban yang diinginkan oleh hatinya.


“Tanyakan saja!” Pria itu tersenyum, seakan sudah mengerti dengan apa yang akan ditanyakan oleh Anyelir.


“Kenapa kau membuang seluruh barang milik Bu Andin? Apa semata-mata karena kauingin tidur denganku? Lalu ... bagaimana perasaanmu padanya?” tanya Anyelir yang memberikan pertanyaan beruntun bagi sang suami.


Dylan tak terkejut dengan pertanyaan tersebut. Dia bahkan semakin erat memeluk Anyelir dan mencium pucuk kepala perempuan itu.


“Aku hanya akan menjawab pertanyaan terakhir darimu,” ujar Dylan.


Seketika Anyelir pun berbalik dan mendongakkan kepala untuk menatap wajah suaminya.


Dylan akhirnya mengeluarkan suara. “Aku terluka karena Andin dan ... kini aku merasa terperosok dalam pesonamu.”