Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
26. Tumbangnya Gunadi Bagaskara


“Kamu!” bentak Gunadi sambil melotot ke arah Dylan.


Ia bukan orang yang anti terhadap bayi tabung, hanya saja untuk apa melakukannya jika keduanya sama-sama sehat dan tak memiliki masalah dalam hal kesuburan. Lalu apa yang barusan istrinya itu katakan? Alasan yang digunakan oleh Dylan agar mereka melakukan itu hanyalah karena dia tak mau memberi nafkah batin?


Pernikahan macam apa itu?


“Dan kamu tak keberatan diperlakukan seperti itu oleh anakku?” Kali ini Gunadi bertanya pada Anyelir.


Wanita itu menunduk diam, ia ingin berkata jika dia melakukan itu demi mendapat uang dari Dylan agar ia bisa mengobati mendiang ibunya. Namun hal itu pasti akan memperburuk suasana. Untuk itu, Anyelir diam.


“Aku membayar Anyelir, Pak!” jawab Dylan terus terang.


Gunadi tertegun.


“Bu, Bu!” Pria tua itu menepuk istrinya sambil sebelah tangan mengusap dadanya sendiri.


“Pak, Pak!” Lastri langsung terkejut. Ketika pria tua itu mata terbelalak melihat ke atas sambil terus memegangi dadanya.


“Pak Gunadi!” Anyelir yang ada di sana langsung sigap mendekat dan memeriksa apa yang terjadi pada pria tua itu.


Gunadi masih mengernyit sambil memegangi dadanya tanpa bisa bicara. Suhu tubuhnya mendadak turun drastis dengan telapak tangan yang basah.


“Bu, tolong minumnya.” Anyelir meminta sambil membuka salah satu bungkus obat yang ditinggalkan dokter tadi.


“Pak Dylan, hubungi ambulans. Kita harus membawa bapak ke rumah sakit.”


Anyelir memberi pertolongan pertama.


Padahal baru saja, pria tua ini terjatuh karena shock. Namun kali ini dia harus mengalami sakit lagi karena gagal jantung yang sebenarnya. Kabar poligami Dylan ternyata tidak lebih mengejutkan dibanding kabar pria tersebut yang menolak untuk menyentuh sang istri.


Selama di rumah sakit, Dylan dan Anyelir sama sekali tak bertegur sapa. Mereka semua mengunjungi Tuan Gunadi sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Pria tua itu masih dirawat di ruang VIP rumah sakit tempat Anyelir bekerja yang merupakan rumah sakit milik keluarga Dokter Rian.


Dylan bahkan masih berputus asa untuk mencari kabar dari Andin. Dirinya memberitahu bagaimana keadaan bapaknya, namun tetap saja jika Andin tak menggubris pesan yang diberi oleh Dylan. Bahkan nomornya selalu tidak aktif ketika dihubungi.


*


Dua hari Tuan Gunadi berada di rumah sakit. Hal itu membuat Anyelir semakin tak betah di rumah keluarga Bagaskara, karena dia harus bertemu dengan Dylan tanpa adanya Nyonya Lastri. Entah kenapa suasana rumah ini menjadi lebih tak nyaman dibanding sebelumnya saat masih ada mertuanya.


Tiba saat hari ketiga, Tuan Gunadi pun datang.


Anyelir membantu pria tua itu turun dari mobil untuk masuk ke dalam rumah. Dia bahkan sudah meminta tolong pada Bi Ai untuk membersihkan kamar mertuanya agar mereka nyaman saat masuk dan istirahat lagi ke dalam rumah.


“Terima kasih, Anyelir,” ucap Nyonya Lastri.


Kali ini mereka tak sempat membicarakan apa pun apalagi mengurusi pernikahan Anyelir dengan Dylan. Mereka juga tidak peduli, apakah Dylan akan menceraikan Andin atau tidak. Sementara mereka fokus pada kesembuhan Tuan Gunadi terlebih dahulu.


Akan tetapi, diam-diam Dylan tak memberitahu kepada keluarganya. Jika hari itu adalah hari untuk dirinya Andin melakukan mediasi. Besar harapan untuk Dylan bisa bertemu dengan Andin sebelum persidangan lalu mereka berhasil kembali saat mediasi.


Pria itu sudah terlalu muak melihat perilaku Anyelir yang begitu dielu-elukan keluarganya. Saat Dylan hendak pergi keluar dari kamar Gunadi, pria tua itu pun berkata, “Dylan, tetaplah ada di sini! Temani Anyelir, jika dia membutuhkan sesuatu siapa yang akan dia minta pertolongan selain kamu?”


Anyelir pun mendekat pada Gunadi. "Saya tidak apa-apa, saya ini bisa sendiri." Dia berusaha untuk tak menghalangi Dylan. Sejak tragedi Dylan mencekik Anyelir kemarin, wanita malang itu selalu merasa sesak jika berada di dekat suaminya sendiri.


Namun memang dasarnya, keluarga ini adalah penganut patriarki garis keras, mereka selalu menganggap jika perempuan tak mampu melakukan apa-apa tanpa seorang suami. Otomatis, ungkapan Anyelir barusan ditolak mentah-mentah.


"Bisa apa seorang perempuan tanpa suaminya. Sudahlah, lagi pula bapak yang tak mau Dylan pergi selain urusan pekerjaan." Tuan Gunadi langsung meminta sang istri dan Anyelir untuk mengantarnya kembali ke kamar.


"Sial!" umpat Dylan yang merasa benar-benar kesal. Mulut pria itu tak berhenti mengutuk Anyelir yang dianggap pembawa sial karena terus-menerus menjadi penghalang setiap ia ingin kembali pada Andin.


"Mama," panggil Rio yang berlari ke kamar sang kakek untuk mencari Anyelir.


"Sayang," sapa Anyelir sambil merentangkan kedua tangan untuk menyambut pelukan dari anaknya.


"Kakek sedang sakit, lihatlah," ujar Anyelir sambil menunjuk ke arah ranjang tempat Gunadi terbaring.


Pria tua berwajah angker itu memberikan senyumnya. Senyum yang teduh, meski wajah pria tua itu tak menyenangkan bagi cucunya, namun bila diiringi senyuman, sang anak kecil pun membalas dengan pelukan.


Denis berlari menghampiri sang kakek dan memeluk pria tua yang sedang berbaring itu.


Sementara itu, Dylan yang duduk dan memperhatikan hal itu, mencibir perilaku istri kedua yang seperti biasa akan dianggap sebagai pencitraan untuk mencari perhatian. Pria itu juga seperti tidak nyaman dengan posisinya, dia merasa gelisah karena jadwal untuk mediasi dengan Andin sebentar lagi.


Dylan pun memperhatikan Rio yang kembali pada Anyelir. Dia yang duduk di sana sama sekali tidak digubris oleh anak itu dan dilewati begitu saja. "Rio?" panggilnya.


Saat itu, Rio telah berada dalam pelukan Andin.


"Kenapa?" tanya Rio.


Dylan pun menggeleng. "Tidak apa-apa." Benar saja, Rio sama sekali tak tertarik untuk digendong oleh sang papa. Anak itu lebih memilih bersama sang ibu dan mengabaikan Dylan.


"Ma, ke mana kacamata yang biasa dipakai sama mama?" tanya Rio yang menatap wajah ibunya berbeda dari biasanya.


"Ah, kacamata mama ... pecah," jawab lirih Anyelir. Mana mungkin dia akan mengatakan jika kacamatanya pecah karena papanya Rio.


"Pecah?" Nyonya Lastri terkejut


"Bagaimana jika pandanganmu terganggu, Nak?" tanya wanita paruh baya itu lagi.


Anyelir menggeleng. "Tidak apa-apa, Bu. Besok juga saya akan membeli yang baru."


"Kenapa bisa pecah? Terjatuh apa tertimpa sesuatu?" tanya Lastri lagi.


Wanita yang sedang menggendong anak itu pun hanya diam. Dia tak menjawab alasan kenapa kacamatanya bisa pecah.


"Beli baru saja ke optik langganan keluarga kita," sahut Gunadi.


"Ah tidak perlu." Anyelir menolak dengan halus.


"Dylan, antar istrimu pergi ke optik langganan bapak untuk beli kacamata sekarang!"